Permen Kapas

Permen Kapas
Pengantin Baru


__ADS_3

^^^Dua bulan kemudian.^^^


Saat ini, tahun telah berganti baru. Kuliah Lea, juga sudah menginjak semester 6.


Meski masih seorang mahasiswa, Lea sudah berstatus istri. Lea, yang duduk di depan Zio dan Yuna. Tetap pada hal biasa, tidak ada yang berubah.


Zio dengan tatapan imut. Berkata, "Lea, demi kamu. Aku akan tetap menjadi pacarmu."


Lea yang duduk dihadapannya, sudah menatap Zio dengan tampak santai, "Kamu, tidak perlu mencemaskan aku."


Yuna tampak memegang tangan Lea, ia berkata "Aku juga akan selalu menjaga imeg kamu."


"Sudahlah. Biarkan saja mereka begitu. Pastinya, mereka bahagia." Ujar Lea. Yang sudah kesal.


Zio berkata "Kamu tidak bahagia?"


Zio dan Lea sudah putus hubungan, kala perjodohan tetap dilangsungkan. Saat ini, ada ikatan keluarga di antara mereka berdua. Mau terheran, tapi ini tentang romansa cinta, Allea Gita Madaharsa.


Mereka sudah mulai terbiasa, tapi ada berita hot di kampus, kalau Zio sudah mencampakan Lea dan menggaet seorang artis papan atas.


"Bagaimana aku bahagia? Masmu masih di seberang benua." Jawab Lea dan tampak ketus. Lea meraih minuman yang ada di meja. Mereka saat ini, telah berada di sebuah kafe, yang tidak jauh kampus Glory.


Zio menyengir, ia berkata "Syukurlah, kalau kalian bahagia. Nanti aku akan bilang sama Mas Setya, kalau kamu sudah merindukannya."


"Iya, bilang saja sekalian. Kalau aku selingkuh sama Presdir." Gemas Lea. Setelah menikah dan baru sehari menjadi pengantin baru, suaminya pergi.


Yuna yang menawan dengan dandanan ala CEO perempuan, ia ingin menggoda Lea "Ya iyalah. Tentunya, Presdir Setya Yuda Wardhana."


"Kamu ngeselin." Lea gemas dan dia tidak lagi mempedulikan apapun tentang suaminya, maupun Zio yang sudah digosipkan, sampai-sampai menyeret nama dirinya lagi.


Padahal, mereka putus secara baik-baik, tapi gosip itu sudah menjatuhkan nama Lea dan membandingkan Lea dengan gadis cantik lainnya.


"Eh, bentar ya. Ada panggilan." Baru saja diobrolin, suaminya sudah menghubungi lewat panggilan telephone.


Sampai saat ini, warga kampus Glory tidak ada yang tahu, kalau Lea sudah menikah dengan Setya. Apalagi, si artis mantan kekasih Setya. Dia juga tidak mengetahui, soal Setya yang sudah menikah.


Pernikahan mereka itu, digelar secara sederhana. Hanya mengundang anggota keluarga saja, itupun sudah memenuhi masjid tempat akad nikah mereka.


Nantinya, setelah Setya sudah pulang dari menyelesaikan magisternya, baru mengadakan pesta resepsi pernikahan.


Setelah kembali ke meja dan langsung nerocos di hadapan Zio, "Kamu lihat sendiri, betapa posesifnya Masmu. Aku mana bisa pergi sesuka hati."


"Mas Setya memang begitu. Gayanya doang yang sok kalem. Tapi, lihat saja nanti, dia lebih sensian dari pada aku." Ungkap Zio, yang lebih mengenal Kakaknya.


Yuna menyenggol lengan Zio, "Imut. Bukannya, kamu ada kelas Bahasa Jerman."


Zio melihat ke layar ponselnya, "Iya. Aku sampai lupa."


Zio langsung ngacir dan Yuna sangat tidak tahan melihatnya. Yuna merasa kasian pada si imut, yang berusaha untuk menjaga imeg baik Lea.


Setelah Zio pergi, Lea bertanya "Yuna. Apa, Zio beneran kencan sama si itu?"


"Tidak." Jawab Yuna, yang menutupi Zio.


"Syukurlah. Aku harap, Zio bisa lebih dewasa. Aku jadi cemas, karena aku dia jadi begitu." Lea merasa tidak nyaman akan masalah Zio. Dia sudah yakin akan keputusannya menikah dengan Setya. Tetapi, masih kepikiran tentang Zio.


Yuna yang penasaran, ia bertanya "Kamu menyesal?"


"Tidak. Hanya saja, waktunya Zio bersenang-senang. Malahan sibuk ngintilin kemana aku pergi. Aku sudah meninggalkannya. Zio harus bahagia."


"Kamu tenang saja. Aku selalu ngawasin dia." Balas Yuna.

__ADS_1


Lea berkata "Berjanjilah. Kamu selalu ada untuk Zio."


"Siap. Meskipun, aku harus ribut sama Kevin." Ujar Yuna, yang begitu adanya.


Lea berkata "Yunaku sayang, tapi aku dengar dari Tante Jenny. Zio kapan itu, nggak pulang ke rumah."


Yuna dalam hatinya "Lea, Lea, namanya juga masih cinta. Bilangnya aja rela tapi batinnya sudah berdarah-darah."


Flashback On


"Papa, tidak punya perasaan. Zio juga putra kandungmu."


"Kalau aku punya perasaan, aku tidak akan menikah denganmu. Pasti, tidak akan ada putramu. Didiklah dia menjadi putra yang hebat. Jangan bisanya bertindak semaunya sendiri." Ujar Presdir Hendri. Kala Zio, masih marah kepada Papanya.


Presdir Hendri berkata lagi, "Mengurus dirinya sendiri saja tidak becus. Apalagi mengurus kehidupan putrinya Arjuna. Kamu tahu sendiri, kalau Arjuna menginginkan Setya."


"Harusnya Papa tidak memberitahunya begitu. Pasti, Zio tidak bisa menerima keputusan sepihak ini."


"Lea dan Setya sudah menjalin kasih di belakang Zio. Berarti, putramu itu bodoh."


"Papa keterlaluan."


"Apa kamu tidak keterlaluan?? Aku pria beristri tapi kamu masih sanggup untuk menggoda aku. Aku pria normal dan sudah bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat."


"Owh, Papa mengungkit masa lalu kita. Baik, aku akan pergi bersama kedua anakku."


"Pergilah semaumu. Selama ini, aku sudah bekerja keras untuk kalian semua."


Jenny merasa kesal dan terduduk di sebuah sofa. Memang, apa yang dikatakan suaminya benar adanya.


"Kamu bujuk putramu. Agar segera merelakan Lea. Arjuna sendiri yang menyiapkan semuanya. Dalam hidupku ini, hanyalah bisnis. Urusan perasaan, Zio akan bisa melupakan. Dia juga masih muda, apa yang bisa diperbuat selama tidak ada orang tua. Apa dia sanggup hidup keras di luar sana?!"


Tanpa di sadari kedua orang tua itu, Zio sudah mendengarkan pembicaraan mereka.


"Lea, aku akan merelakan kamu." Zio yang sudah menangis dalam hatinya. Dia juga tidak ingin Mamanya terluka. Malasah ini, malah jadi membuka hal yang lalu.


Flashback Off


Saat ini, kedua perempuan tadi sudah masuk ke ruangan untuk mengikuti perkulihan jam siang.


Sudah jam 2 siang. Lea dan Yuna terlihat fokus pada kuliahnya, tapi pikirannya Lea melayang jauh.


Yuna berbisik, "Lea. Aku mau ke toilet."


"Oke."


Yuna pergi meninggalkan ruangan itu, dan ia merasa kebelet pipis. Berlari ke toilet perempuan dan langsung masuk ke toilet duduk.


"Aah. Lega." Yuna yang masih menikmati sensasi melegakan.


Ada dua gadis yang masuk ke toilet wanita itu. Mereka tampak mengobrol.


"Kamu yakin, kalau dia itu Zio?"


"Aku yakin. Aku melihat dengan kedua mataku ini."


"Apa kamu punya bukti fotonya?"


"Mana aku sempat. Dia masuk begitu saja ke dalam hotel."


"Bukannya Lea juga tinggal di hotel."

__ADS_1


"Eh, tapi itu bukan hotelnya Lea. Beneran, sumpah deh."


"Apa Zio beneran mencapakan Lea? Waktu itu Clarissa, terus Yuna juga. Sekarang malah artis cantik."


Yuna geram dan meremas kesal tisue yang dia pegang. Ternyata ada yang melihat Zio, saat bersama seorang perempuan.


"Aku harus menyumpal mulut mereka. Lea tidak dicampakan. Malahan, Lea yang mencapakan Zio."


Daassh!


Yuna membuka pintu toilet itu, dengan hempasan tenaga super.


Mereka berdua, tampak terdiam dan berpura-pura tidak melihat Yuna.


Yuna berjalan mendekati mereka, langsung mencuci tangan di wastafel.


"Kalian membicarakan Lea?"


"Tidak begitu." Jawabnya.


"Kita hanya ngobrol soal berita."


"Berita??" Tatapan Yuna sudah mencekam.


"Maaf, kita hanya membaca dari grup dan dia melihat Zio yang pergi ke hotel." Jawaban dari salah satu dari mereka.


"Dengarkan aku baik-baik. Zio dan Lea tidak seperti yang kalian pikirkan. Apa kalian mau tahu??"


"Tidak." Jawab si biang kepo maksimal.


Yuna tampak tersenyum, tapi sudah membuat mereka berdua ketakukan. Sampai mereka mundur dan terbentur dinding, Yuna berkata pelan, "Kalian berdua, tertipu."


Yuna ngakak sendiri dan pergi dari toilet. Kedua gadis tadi mengikutinya, sampai ke pintu dan menoleh ke arah Yuna yang berjalan pergi.


"Apa jangan-jangan, Zio pacaran dengan Yuna di belakang Lea?"


"Bisa jadi begitu."


"Aku penasaran."


Yuna berhasil mengasut mereka berdua. "Kalian tidak tahu saja, kalau Lea sudah menikah dengan Setya."


Lea tidak mau menganggap kalau ia menikah karena perjodohan. Lea yang memilih sendiri jodohnya. Selalu saja bilang begitu. Tetapi, dia tetap salah dalam hal ini. Karena Papanya yang salah paham, jadinya menyeret hubungannya dengan Zio.


Tuk tik Tuk tik, Lea yang menggoyang pulpen dan menatap fokus ke arah dosen, tapi pikirannya gelisah.


"Sayang, selesai kuliah. Kamu harus segera pulang." Ucapan sang suami, saat tadi menghubunginya.


"Lea."


"Lea."


"Lea!!" Yuna yang menyadarkan dari lamunan, dan Yuna sudah siap untuk pergi.


Yuna yang menggeleng melihat sang sahabat hidupnya ini, "Aku heran sama kamu. Kamu sudah menikah, tapi malah makin error begini."


Lea menatap Yuna dan tangannya telah bergerak merapikan alat tulis yang berserakan di atas meja.


"Yunaku sayang. Aku ini pengantin baru. Tapi baru sehari, sudah ditinggal pergi." Keluhnya, dengan suara manja.


__ADS_1


__ADS_2