Permen Kapas

Permen Kapas
Trio RL


__ADS_3

El terkulai lemah dalam dekapan Lionel. Detak jantung Lionel berdetak cepat, tangannya yang menopang El semakin gemetar. Raja secepatnya merengkuh El.


"El, sadar. El bangunlah. El."


Raja yang tidak pikir panjang, membawa El bersamanya dan kedua pengawal memasuki ruangan. Mengambil tas El dan melihat ke arah meja makan.


"Apa Nona El menyantap ini?" Tanya pengawal utama.


Bos itu hanya terdiam dan teman sebelah El berkata "Ii-iya. El memakan itu."


"Sudah berapa lama Nona menikmati ini?"


"Belum ada satu jam." Jawabnya lagi dan tampak gelisah.


Bos berdiri dan mendekati pengawal utama, dan tampak cemas. Bertanya "Apa yang terjadi dengan El?"


"Nona kami alergi seafood. Tidak seharusnya Nona kami mengonsumsi lobster."


"Dia alergi, tapi diam saja. Kenapa tidak bilang?" Batin Bos.


Yang sebenarnya, ini bukan kali pertama Bos bertemu El. Pantas saja, Bos kejam ini berlaku manis kepada seluruh kelompok El.


Namun, Bos itu tidak tahu kalau El sosok tuan putri. Seluruh teman kelompok El yang berjumlah 5 orang itu, terlihat diam dengan wajah gelisah.


"Maaf, saya tidak tahu kalau El alergi lobster." Ucap Bos itu.


"Semoga saja, Nona kami baik-baik saja." Ucap pengawal utama, dengan tatapan yang tidak senang.


"Saya akan bertanggung jawab, atas kesalahan ini. Karena saya, yang mengajaknya kemari." Ucap Bos itu.


Keduanya saling memancarkan aura garang. Siapa yang salah, Bos atau pengawal ini yang salah. El sendiri, juga tidak menolak ajakan makan malam ini, padahal dia alergi seafod, tetapi nekat menyantapnya.


1 jam kemudian.


Di sebuah rumah sakit dan tidak jauh dari hotel Chang Ho.


"Raja." Lirihnya.


"Kamu sudah sadar." Raja dan Lionel masih menjaga El.


Lionel menatapnya dan berkata "Kamu bikin aku jantungan."


"Selama ada kalian, aku tidak akan mati." Balasnya pelan dan terbaring lemas.


"Iya, untungnya kita datang." Ucap Lionel dan masih menatap wajahnya.


El tersenyum tipis, ia berkata "Aku hanya ingin, kalian tidak melupakan aku."


El menoleh ke wajah Raja, ia berkata "Terutama pengantin baru ini. Aku cemas, dia akan melupakan aku."


"Aku? Kamu benar. Aku sudah melupakan kamu." Balas Raja dan menunduk.


Lionel menatap Raja, "Mas, kamu jadi menikahi Ratu?"


"Berhentilah memanggil aku Mas. Aku risih." Jawabnya dan seolah mengelak atas pertanyaannya.


"Brother, aku serius. Kamu jadi menikahi tunangan kamu itu?" Tatapan Lionel begitu serius dan El juga masih menatap Raja yang duduk di sisi kanannya.


"Iya."


Hanya itu, yang Raja katakan. Kemudian, berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Lionel, kamu lihat sendiri. Raja sudah melupakan aku. Dia tidak akan lagi memperhatikan aku."


"Ayank El. Aku tidak akan seperti dia. Yang tega kepada kita berdua. Dia menikah juga tidak mau memberitahu kita berdua. Aku tidak akan memaafkan dia."


Lionel jadi cemberut dan El menatap Lionel. "Kondisikan bibirmu. Kalau tidak, aku akan menggigit bibirmu."


"Aku patah hati." Keluhnya.


El berkata "Itu, yang tadi aku rasakan. Kamu tidak tahu, betapa sakitnya hatiku. Raja sudah berpaling."


"Ayank El, ayo kita pelukan." Lionel yang sudah menangis memeluk El.

__ADS_1


"Diamlah, jangan merengek begitu. Aku jadi geli." Ucap El.


"Dia sudah melupakan aku." Hiks.


Hohoho.


Lebay sekali, El merasa gerah karena Lionel yang memeluknya. Bos tampan masuk ke ruangan itu, atas izin dari Raja.


"Lionel, sudahlah. Jangan menangis terus." El mendorongnya dan Lionel menunduk.


Lionel sadar, ada yang mendekat. Ia menyeka air matanya sendiri.


"Hai, kamu baik-baik saja."


El dengan wajah tersenyum berkata "Iya, saya baik-baik saja."


"Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja."


"Iya, hanya alergi. Saya sudah biasa seperti ini." Balasnya.


El yang sudah duduk bersandar dan tampak canggung akan situasinya.


Meskipun, dengan Bos ini, El biasa saja. Karena kesal kepada Raja, El membawa Bos ini, masuk ke dalam masalah pribadinya.


"Maaf, aku tidak tidak tahu kalau kamu alergi seafood." Ucapnya dan masih menatap wajah El.


El membalas dengan sopan, "Bos, saya juga bersalah. Hanya karena merasa sungkan. Saya tetap memakan lobster itu. Maafkan, saya. Terima kasih, atas undangan makan malamnya."


Lionel menatap wajah Bos itu, sepertinya memang familiar.


"Istirahatlah. Aku masih ada urusan yang lain. Teman-temanmu juga sudah pulang."


El hanya tersenyum dan Bos itu pergi meninggalkan ruangan itu.


Raja yang berada di ruang tunggu depan kamar inap itu. Melihat ke arah Bos dengan tatapan tidak senang.


"Tuan Muda. Nona sudah boleh di bawa pulang." Ucap pengawal utama.


"Antar El ke rumah Eyang. Aku akan kembali ke asrama."


"Baik Tuan Muda."


"Dia baik-baik saja. Kalau ada masalah lain. Saya akan bertanggung jawab." Ucap Bos itu kepada Raja.


"Aku harap. Kamu tidak muncul lagi dihadapanku." Balasnya Raja dan ia memang tidak senang kepada Bos itu.


"Mungkin, El akan tetap bertemu saya."


"Masih berani kamu bilang begitu."


"Sepertinya, El tidak akan keberatan."


Raja bangkit dari kursinya dan meraih kerah lehernya. Tatapannya garang dan ingin sekali menghajar Bos.


"Apa yang salah dengan perkataanku?"


"Jauhi El, atau aku akan menjatuhkanmu."


"Silakan saja." Balasnya manis.


Singa mendekat dan Raja melepaskannya.


"Permisi, saya masih ada urusan." Bos dengan gaya menawan pergi.


Singa saat bertatapan dengan Bos, "Dia, bukan pria biasa. Bagaimana Nona El bisa mengenal dia?"


Singa sama garangnya dan tidak mau kalah saat menatap Bos.


"Singa, tugasmu sekarang melindungi El. Jangan biarkan pria itu mendekati El. Atau, aku akan membunuhmu."


"Baik Tuan Muda." Balasnya dan Raja pergi.


Raja merasa kalau itu lebih baik. Dirinya sekarang, harus bisa memperhatikan Ratu. Urusan El dan Lionel. Ada para pengawal yang akan melindungi mereka.

__ADS_1


"Lionel, aku harus bagaimana? Aku nggak suka. Kalau Raja yang mementingkan Ratunya."


"Sama. Aku juga tidak suka." Balasnya yang cemburu.


Pengawal utama masuk ke kamar itu, Lionel dan El menatap ke arah Singa yang berjalan mendekat.


"Nona El, saya akan mengantar Nona ke kediaman Tuan Besar."


"Siapa yang memerintahkan kamu?" Tatapan El tidak suka. Apalagi, kalau harus pulang ke rumah. Sama saja, El pasrah akan keadaannya dan nantinya semua serba di atur Eyang Beby. Dari bangun tidur, sampai mau tidur, dia harus menjadi tuan putri.


"Aku mau pulang ke asrama."


"Tuan Muda sudah menugaskan saya."


"Selama Raja di asrama. Aku juga mau tinggal di asrama." Ucapnya tegas.


"Nona El, masih dalam perawatan. Lebih baik, Nona tinggal di kediaman Tuan Besar."


"Aku tidak mau. Aku mau ke asrama."


"Kalau Nona memaksa. Saya juga akan memaksa Nona."


"Kamu berani menyentuh aku?"


"Maafkan saya Nona."


Singa sudah menggendong El dan El tampak terdiam. Percuma memberontak. Kali ini, tenaganya tak cukup untuk melawan pengawalnya.


Lionel mengikuti El, ia berkata "El, aku akan menemani kamu."


"Singa, antar aku ke rumah Raja. Aku tidak mau tinggal di rumah Eyang."


"Nona, saya hanya memenuhi tugas. Tuan Muda tidak akan tinggal di rumahnya. Saya harap Nona El mengerti."


El kesal dan dia tidak bisa melawan Singa maupun Raja.


Raja sudah pergi lebih dulu, dengan dua pengawal pribadinya.


El dan Lionel, sudah patah hati. Sempat menangis karena tangisan Raja malam itu. Tapi, kali ini. Mereka berdua kembali menangis, karena sudah dilupakan Raja.


"Aku tidak akan memaafkan kamu." Batin El.


"Raja sudah berubah. Dia sudah melupakan aku. Awas saja nanti." Batinnya Lionel juga menggebu-gebu.


Singa mengatur perjalanan mereka berdua dan akan mengantar mereka ke rumah Raja.


El tidak mau, kalau Eyangnya sampai tahu. Atas kejadian yang menimpanya malam ini.


Setelah 3 jam kemudian, El terbaring di kasur kamarnya. Dia sudah sampai di rumah Raja.


"El, tidurlah. Aku tidak akan meninggalkanmu seperti Raja."


"Kamu marah sama Masmu?"


"Iya, aku marah."


El yang memeluk guling, ia berkata "Aku juga sangat marah padanya. Karena dia sudah melupakan aku. Tapi, aku juga lega. Raja tidak jadi dilangkahi Aull."


Lionel duduk dk sebelah El, "Dia sangat kejam. Harusnya, dia memberitahu kita berdua. Aku terlanjur kecewa padanya."


"Aku juga, Mama tadi menghubungi aku. Aku sampai terkejut. Aku jadi kesal banget. Seandainya aku tidak sakit, aku akan meninjunya sampai babak belur."


"Aku malas bertemu dengan dia."


"Iya, kita harus marah padanya."


"Aku harus bisa menjaga jarak dengannya."


"Benar. Jangan mau dirayu Raja."


Singa menghisap rok*knya, duduk di halaman luar. Ada yang mengintainya dari kejauhan.


"Raja."

__ADS_1



__ADS_2