Permen Kapas

Permen Kapas
Masih Sakit


__ADS_3

Singa yang mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Ada dua pengendara motor dan tampak menodongkan pistol ke arah mobil.


"Singa, awas!!"


Dorrr!


El yang menundukan kepalanya dan Singa terdiam dalam keadaan melajukan mobilnya.


El menoleh ke arah Raja yang duduk di belakang. "Raja, kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja."


"Ini, barusan. Ada yang_" El melihat ke arah kaca mobil, tidak ada yang retak. Singa terdiam dan tak banyak bicara.


"Apa yang terjadi padaku?? Apa aku hanya berhalusinasi?" Batin El.


El jadi terdiam, Raja berkata "Sayang, kamu ingin pulang kemana? Kamu masih ingin bersama Budhe Nada?"


"Aku ikut ke rumahmu. Aku ingin bersama kamu." Jawab El dan ia gemetar.


El yang berubah muram dan kedua tangannya menjadi terasa dingin.


"Aku masih berhalusinasi. Tapi, tadi Calvin? Aku merasakan darah hangatnya." Batinya El. Dia melihat ke sekujur tangan dan dress yang dipakainya.


Memang ada noda merah gelap, karena dress yang dikenakan warna hitam. Lalu yang ditangannya, tidak ada. Mungkin, barusan dirinya tertidur dan Singa telah membersihkan noda darah yang ada di tangannya.


"Sayang, kamu baik-baik saja??" Tanya Raja dan kepalanya sudah ke depan, menoleh ke wajah El.


El menjawab "Aku tidak apa-apa. Aku hanya mencemaskan kamu. Aku cemas, kalau kamu sampai terluka."


"Aku baik-baik saja. Berkat kamu, aku selamat."


"Raja, apa tadi itu beneran? Apa Calvin yang terluka, itu nyata?" Tanya El dan ingin memastikan keadaannya sendiri.


"Iya, tadi memang nyata. Kamu dan Singa datang tepat waktu. Kalau tidak, aku pasti sudah dilenyapkan Revan."


"Revan? Revan teman asrama kamu?"


"Bukan. Dia orang dewasa. Dia memang tidak menyukai aku." Jawabnya dan Raja tidak ingin mengungkap masa lalu, soal Revan itu.


Setibanya di rumah Raja yang ada di luar kota. Sudah larut malam dan Raja benar-benar terlihat letih.


Wajah itu, bukan hanya muram. Ada hal, yang sepertinya sudah disembunyikan Raja, kepada orang lain.


Raja langsung berjalan ke kamarnya dan El juga merasa bingung dengan dirinya sendiri.


"Singa. Apa aku tadi hanya bermimpi? Apa aku halusinasi?" Tanya El.


Singa yang duduk di sofa, hanya menjawab "Nona hanya bermimpi. Tadi, Nona tidur."


"Benarkah?!"


"Iya."


"Aku melihat dua orang pengendara motor menodongkan pistolnya. Apa itu, hanya mimpi burukku saja?"


"Nona El hanya bermimpi buruk."


El duduk di sebelah Singa dan tampak memegang lengan tangan pria kaku nan menawan itu. El bertanya "Singa, apa tadi Calvin terluka? Apa kamu juga melihatnya?"


"Calvin memang terluka. Tapi, saya tidak melihatnya. Jin sama Jun membawa Calvin pergi."


"Berarti, aku tidak berhalusinasi. Syukurlah, aku tidak sakit lagi." Gumamnya.


Singa perlahan memegang tangan El, ia berkata "Tidurlah. Saya akan menemani Nona."

__ADS_1


"Beneran? Kamu mau menemani aku?"


"Iya Nona."


El tersenyum, ia sudah mengirim pesan kepada Mamanya, kalau dia sudah tiba di rumah Raja.


Dari tadi pagi, El sudah kembali seperti sedia kala. Tidak lagi menangis dan tidak merasa takut. Padahal, selama El masih sakit, dia tidur bersama Mama Nada.


El menunduk, dengan suara lembut, ia berkata "Singa, temani aku."


"Baik."


El perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu Singa. Perasaan apa yang menarik El agar bersikap manja kepada Singa. Yang jelas, El merasa nyaman, bila bersama pengawal tampannya ini.


"Apa kamu benar-benar ingin melamar aku?" Tanya El.


Semua sudah di atur Eyang Arjuna. Saat, El mendapatkan perawatan di rumah Eyang Arjuna dan Mama Nada yang menemani putrinya. Mama Nada juga setuju, akan keputusan Eyang Arjuna, untuk menikahkan El dengan Singa.


"Benar Nona." Jawaban Singa, kaku.


"Buktikan sekarang. Aku ingin merasakan cintamu. Terus, kalau kita berduaan, jangan panggil aku Nona, kecuali kamu bertugas di tempat umum."


"Baik. Saya mengerti." Balas Singa.


"Jangan bicara formal kepadaku. Aku jauh lebih muda darimu. Aku juga tidak punya pengalaman soal pacaran."


Bibir manis Singa jadi tersenyum tipis, dan El semakin menyandarkan kepala ke dada pengawalnya.


Perlahan, Singa meraih tangan sang tuan putri ini dan memegangnya.


Perasaan malu-malu, Singa mencium punggung tangan El. Tuan putri yang satu ini, mejadi baper.


"Aku lelah, gendong aku ke kamar."


"Baik."


El sudah senyam-senyum, bak kucing genit, yang mengeong memanggil pasangannya.


"Aku akan menjagamu." Ucap Singa.


Singa meraih El dalam dekapannya dan menggendong dengan kedua tangan kekarnya itu. El tampak terdiam saja, tangannya juga tidak bergerak sedikitpun.


Aroma keringat yang bercampur dengan parfum. El malah semakin menyukainya.


Singa yang dari tadi sudah melepas jas hitamnya. Hanya tampak kemeja putih yang ketat, sehingga terlihat begitu macho.


Tangan kanan El, perlahan meraba dada kekar milik pengawal tampannya itu. El jadi merasakan debaran jantung Singa.


"Dia juga berdebar." Batin El, dia jadi senang.


Singa berjalan dengan tegap dan tetap terlihat datar tanpa ekspresi.


Setibanya di kamar El, yang ada di rumah Raja. Singa membaringkan El ke tempat tidur. Singa juga melepaskan highheels El.


"Tidurlah, aku akan menjaga kamu."


"Kamu akan tetap di kamarku?"


"Iya, aku akan tetap disini."


El tersenyum, dia berkata "Kemarilah."


Singa datang mendekat dan duduk di atas tempat tidur. Menatap wajah El dengan senyuman tipis.


El meraih wajah Singa. Tanpa permisi, El mengecup bibir luar Singa. Kedua tangan El semakin gemas saat memegang sisi pipi.

__ADS_1


Singa yang mengerti akan kode El, ia memegang kepala El dan mencium El. Saat ini, El merasa kalau Singa akan membalas kecupannya.


Singa mencium bibir luarnya El dengan lembut. Perasaan menggiringnya untuk mellummat bibir El. Bibir manis itu, perlahan memasuki mulutnya dan El membalas permainan liddahnya Singa.


Rasanya manis dan lembut, El semakin terbawa perasaan.


Singa menatap El dengan lembut, ia berkata "Tidurlah. Aku akan menjagamu."


"Peluk aku."


Singa meraih tubuh El dan memeluknya hangat. Tangan kanannya tampak mengelus rambut El.


El yang tersenyum, berkata "Aku senang."


"Iya. Aku juga." Balasan Singa, yang terdengar datar.


El semakin merasa nyaman, saat bersama pengawal tampan ini.


"Aku mau membersihkan wajahku dan berganti baju. Kamu boleh keluar. Tapi, jangan pergi jauh-jauh. Kamu harus tidur di sofa depan. Kalau aku mencarimu, aku bisa menemukan kamu yang tidur disana."


Singa tersenyum tipis, ia mengelus rambut El. Entah, perasaan apa yang dia rasakan. Singa juga merasa nyaman saat bersama El.


Singa kembali mengecup bibir El, lalu berkata. "Aku akan tetap disini. Aku tidak akan meninggalkanmu."


"Tapi, kita belum menikah. Aku juga malu kalau kamu menatap aku begitu." Balas El, dan sekarang punya rasa malu. Biasanya sudah seperti anak kecil yang sesuka hati. Bahkan, pernah melepas kaos dan berganti dress di mobil Singa. Singa yang mengendarai mobil juga tampak santai saja. El secepatnya memakai pakaian gantinya, tanpa ada rasa malu dan risih terhadap Singa.


"Emh, jangan begitu. Aku nanti terbawa suasana. Aku beneran malu." Ucap El.


Singa tersenyum, ia berkata "Baiklah."


"Tapi, kalau aku takut. Aku akan mencarimu di sofa ruang TV."


"Iya." Balas Singa.


Percuma juga menyuruhnya pergi, tapi nanti tetap dicari dan minta ditemani.


Singa keluar dari kamar El dan ruang TV itu tidak jauh dari kamar El. Singa, yang telah melihat ke arah pintu kamar El.


"Aku nyaman bersamanya." Batin El dan tersenyum.


Di tempat Calvin berada, dan seorang dokter sudah selesai mengobati luka akibat tusukan sejata tajam.


"Dokter, bagaimana keadaannya?" Tanya pengawal kepada dokter tampan yang berusia 48 tahun.


"Lukanya sudah aman. Namun, dia bisa mengalami demam dan menggigil. Obat biusnya, hanya bertahan sebentar. Jadi, kalian harus menjaganya."


"Baik dokter.".


Dokter kembali berkata, "Ini obatnya pasien. Besok pagi, saya akan segera kemari."


Dokter keluarga Bunda Lea dan khusus untuk merawat Raja, bila sakit.


Raja hanya bisa memanggilnya. Kebetulan, beliau tadi sudah keluar dari ruang pesta dan hendak kembali ke rumah sakit miliknya. Tetapi, Raja memintanya ke rumah, karena ada masalah penting.


Calvin, dibawa ke rumah Bunda Lea. Saat ini, Calvin tinggal di kamar Raja. Dua pengawal bersiaga menjaga Calvin.


Pengawal yang bernama Jun, bingung "Kalau infus ini bermasalah bagaimana?"


"Aku bisa. Aku pernah berlatih dari suster yang merawat Tuan Muda." Jawab pengawal yang bernama Jin.


Sang dokter tersenyum, beliau berkata "Luka tusuknya sudah aman. Tadi, Raja tidak mengijinkan suster datang kemari. Jadi, kalian berdua yang harus menjaga pasien saya."


"Dokter. Apa ini bahaya? Kalau dia mati bagaimana?"


Jin menggeleng, Jun itu memang tidak menyenyam ilmu pendidikan. Tapi, Jun sangat jago bela diri. Apalagi, kalau ditugaskan untuk memata-matai, Jun lebih jago, dari pada Jin yang pandai teori.

__ADS_1



__ADS_2