
Setya jadi melihat sisi sensitif seorang Lea. Ternyata, lebih mengerikan dari dugaannya. Lea bahkan tidak berhenti nyerocos, mengungkit janji-janji Omnya.
Apalagi, Kakak sepupunya jadi ikutan dilarang untuk hadir di akad nikahnya. Sebab, waktu pernikahan Nada, tanpa diberitahu lebih dulu, disatukan ruang khusus keluarga Oma Darra.
Om Ziel jadi kecewa pada Papa Arjuna. Setelah itu, Papa Arjuna mengabari kalau Lea akan akad nikah, tapi Papa Arjuna tidak memberi tahu, sosok besan dan menantunya.
Lea yang sering bertingkah konyol, aneh dan suka heboh sendiri. Bahkan, seolah tidak mengerti sopan santun, dengan segala perilaku, tengil dan ngegemesin.
Sosok Lea, saat ini membawa hal manis, dalam hubungan keluarganya. Semanis, permen kapas. Sayangnya, Lea tidak tahu kalau Om dan Tantenya tadi, segera pergi ke Mansion.
Setya yang berusaha untuk mencairkan suasana, ia berkata "Aku jadi mengerti. Selama aku mengenal Jojo. Dia tidak pernah mau dipanggil Jonathan."
Lea membalasnya dengan datar "Iya. Soalnya, Bang Jojo sering dikira non muslim. Padahal sekolahnya di islamic school, sama seperti Mas Setya."
Setya, sekilas menoleh ke wajah sang istri "Jojo juga jarang cerita, tentang keluarga besarnya."
"Ya begitu, Bang Jojo. Karena didikan orang tuanya. Om Ziel sama Tante Aisyah juga begitu. Padahal setiap lebaran, mereka berkumpul sama keluarga besar kita. Tapi, tidak mau ke rumah Oma Darra, meski sekedar menjenguknya."
"Jojo, pernah cerita. Dia punya Kakak sepupu cewek yang manja. Apa itu kamu??"
"Manja?? Iya, sih. Aku memang sering manja sama dia. Kalau dia pulang, aku langsung ngumpulin semuanya di satu ruangan khusus. Lagian, yang cewek cuma aku sama Mbak Nada. Aku jadinya, manja sama sepupuku." Ungkapnya santai.
Perasaan tegang tadi, sudah membuat capek badannya, Lea berkata "Mas Setya, jangan bilang sama Papa, kalau aku tadi marah sama Om Ziel."
"Memangnya kenapa?
"Papa bakalan ceramahin aku. Aku malas mendengarnya."
"Papanya Jojo, juga diam saja. Bisa jadi mendengarkan perkataan kamu."
"Mas Setya, orang yang lain aja nggak pernah didengarin. Apalagi aku, Mas."
"Memangnya, yang lainnya gimana? Padahal udah tua loh. Aku saja, pergi dari rumah, tapi masih kepikiran Ayah."
Lea melirik suaminya. Setya sadar diri, takut keceplosan soal sang mantan.
Lea menggeleng melihat gerak-gerik suaminya. Lea berkata "Oma, Opa, Kakek, Nenek, terus Eyang. Nasehat mereka nggak ada yang didengerin. Sampai mereka males buat ngingetin Om Ziel. Kadang saja, Papa juga di diemin kalau tiba-tiba bahas soal Oma Darra. Bang Jojo juga sama begitu. Dia sensian, tapi aku sayang."
Suaminya bingung sendiri. Malah mikirin soal sang mantan. Lalu ia berkata "Sayang, kamu jangan bilang dulu ya, soal kita ke Jojo."
"Memangnya kenapa? Karena Micheel?"
Setya terdiam dan Lea berkata "Aku tahu. Bang Kevin juga mengatakan seperti itu. Aku akan diam, selama Micheel tidak mengusik hidupku. Kecuali, dia mengusik kesayanganku."
Blleess!!
Lirikan mata Lea, telah menusuk hatinya Setya.
'Perih-perih sedap, takut salah ucap saja kalau di depan istrinya.'
Setya terdiam, membuat Lea semakin kesal.
Lea menyampingkan badannya dan tampak membelakangi sang suami.
Tangan kiri Setya, mengelus rambutnya "Sayang, kamu ngapain duduk begitu?"
"Suka-sukaku." Ketus Lea dan masih kesal.
Tadi sangat marah kepada Omnya dan sekarang kesal sama suaminya. Untung saja sayang, kalau tidak kesayangan Lea. Entah apa yang akan Lea lakukan kepada suaminya.
Setya kembali mengelus rambut Lea. "Sayang, kita jadi nonton nggak?"
"Tahulah." Sensinya kumat. Padahal, Lea juga sensian, apalagi kalau lagi marah begini. Perasaannya susah dikondisikan.
Setya memikirkan cara, ia berkata "Ayok, nonton ke bioskop lagi."
__ADS_1
"Malas." Jawab Lea dan perlahan ia duduk menghadap sang suami.
"Aku tahu, kenapa Mas Setya setuju sama perjodohan kita."
"Sayang, jangan dibahas." Pinta Setya.
Lea membalas "Aku tidak apa-apa."
"Kamu bilang, kamu mencintai aku? Mulai kapan kamu mencintai aku?"
"Semenjak hari ini." Jawab Lea.
Setya yang terheran "Hari ini?"
"Iya. Aku merasa punya suami ya hari ini. Setelah Mas Setya tidur pagi, peluk aku."
"Kenapa aku merasa kecewa?" Batin Setya yang memikirkan perasaannya sendiri.
"Kalau, waktu kita selingkuhin Zio?"
"Aku cuma respect saja, aku merasa nyaman. Apalagi, semenjak Zio bisa ciuman sama cewek lain. Ya, aku jadi terpancing buat selingkuh dari Zio." Jawabnya polos.
Setya tersenyum, ia berkata "Baguslah."
"Aku tadi sudah telephone Papa. Aku nggak mau di poligami."
Uhuk, uhuk.
Mendengar ucapan istrinya, Setya jadi terbatuk-batuk, meraih botol air mineral di sampingnya.
Sesegera mungkin meneguk minuman dan Lea hanya menatap sang suami.
Hening
Setelah itu, Setya berkata "Aku juga tidak suka dengan poligami. Aku ini, korban poligami."
"Sayang, kalau aku salah. Ceraikan aku. Aku tidak akan poligami." Ucap Setya dengan tegas.
Lea jadi menunduk saja. Tangannya, hanya sibuk bermain dashboard mobil.
"Sayang."
"Emh."
"Jangan ngambek, aku bingung."
Lea menoleh ke wajah sang suami. "Bingung kenapa?"
"Aku memang, sudah banyak tahu tentang kamu dari Papa, Yuna sama Zio. Tapi, aku belum mengenal kamu. Aku masih bingung, gimana bikin bahagia."
"Owh, aku ya begini saja. Aku cuma lagi kesal."
"Ya sudah, terserah kamu mau gimana. Aku akan kasih semua, yang kamu minta."
"Mau bobok di kost." Pinta Lea.
"Haah??" Tatapan Setya bukan hanya terkejut. Ada rasa yang sulit untuk dimengerti.
Ada-ada saja, perempuan gemas satu ini. Karena tadi di kost, Lea melihat papan tulisan larangan. Jadinya, malah penasaran dan nantinya bakal ketagihan.
"Sayang. Kita nggak boleh tidur disana. Itu, khusus cowok."
"Mas Setya, aku sama Yuna pernah tidur di asrama cowok. Coba Mas Setya tanya Zio. Buktinya, aku nggak kenapa-napa. Mereka nggak ada berani nyetuh aku."
Ampun deh Lea, kalau ada yang berani macem-macem sama kamu, berarti sudah menyerahkan nyawanya. Bukan, karena tuan putri dari Papa Arjuna sang konglomerat. Melainkan, takut sama kesadisan Allea Gita Madaharsa.
__ADS_1
"Bukan begitu sayang. Kamar itu, khusus para cowok-cowok. Kalau aku nekat, ajak kamu tidur disana. Nantinya, mereka jadi pada niruin. Terus, dibilang kos-kosan pasangan. Itu tidak baik."
"Aku bakalan ijin, sama Tante Aisyah."
Setya tahu, kalau Lea dilarang bakalan lebih nekat lagi. Tahu-tahu malah pergi ke kost sendirian dan tidur disana.
"Iya sayang. Nanti ya. Aku saja yang bilang sama Ibuk."
"Nah, gitu dong. Aku beneran tidur pulas. Jadi kepingin bobok disana."
Waaah,, jangan-jangan Lea kepelet minyak wanginya Riko.
Opps, bau keringat lebih tepatnya. Apa mungkin, aroma parfum Setya masih meninggalkan jejak wangi di sprei. Karena seminggu ini, spreinya belum diganti lagi sama Ibu kost.
"Sini deket aku." Untung saja, jalanan arah ke rumah sedang macet.
"Kenapa?"
Mmuach
Lea merasakan kecupan gemas dari sang suami. Eh, pipinya saja yang di kecup. Sekarang, pegang-pegang tangannya.
"Tapi, aku masih kesal loh."
"Iya, iya sayang. Hemms."
Batin Setya juga sangat gemas sekali. "Untungnya istriku sendiri. Tapi, aku jadi tergemas-gemas sama Lea."
Sesampainya di rumah. Setya yang keluar lebih dulu. Lea masih duduk saja di kursi. Padahal sudah melepas sabuk pengaman. Sang suami mendekat, membuka pintu samping.
"Silakan istriku sayang."
"Mas, gendong." Suara itu, terdengar manis manja.
"Siap." Setya berusaha untuk mengangkatnya.
Lea berkata lebih dulu, "Gendong punggung Mas. Bukan diangkat begitu."
"Yaah, aku mana tahu. Aku pikir kayak di film-film."
Setelah di punggung Setya, Lea tampak menyadarkan kepalanya, ke bahu Setya.
"Mas Setya, aku bukan Micheel. Aku tidak seperti dia."
Degh!
Setya jadi mendesah pelan, tidak membalas perkataan sang istri.
Setibanya di ruang tengah, Lea yang langsung terduduk di sofa. Sang suami kembali ke depan, untuk memarkirkan mobil gantengnya, yang tampak hitam garang.
"Kenapa aku jadi sebal sama Mas Setya? Perasaan, tadi aku masih cinta?" Pikiran Lea sepertinya sudah tertular sang suami. Setelah menikah dan bertemu, lalu tinggal satu atap malah error.
Padahal, setiap chatting dan telephone, mereka berdua sudah manis manja. Bahkan, sampai tersayang-sayang.
Teng, teng, teng.
Jam 00.00 teng.
Dari tadi hanya diam tanpa kata, saat menonton film horor bersama-sama. Lea duduk di sebelah suaminya dan asyik menyemil popcorn. Sang suami juga tidak pandai merayu, hanya memakai bahasa kalbu.
"Kamu belum ngantuk?" Tanya Setya.
"Belum. Tadi sore, tidur lama." Jawab Lea.
"Sini, peluk aku." Pinta suaminya.
__ADS_1
Lea menatap kesal, wajah suaminya.