
"Bunda." Kai memeluk sang Bunda dan tampak bermanja.
Setelah acara selesai dan Kai memilih kembali ke rumah pribadi orang tuanya.
"Iya sayang. Sini bobok sama Bunda." Ucap sang Bunda.
Saat ini, sang Bunda tampak mengusap lembut wajahnya dari sisa make-up yang masih menempel di wajah cantiknya.
Kai mengalungkan kedua tangannya, dan menyandarkan kepalanya di bahu sang kanan sang Bunda.
"Bunda, aku ingin tinggal disini."
"Kamu ingin tinggal disini?" Sang Bunda memastikan hal itu, dan menatap dari cermin meja riasnya.
"Iya, aku mau disini sama Bunda. Lagian, sekolahku juga online."
"Bagaimana dengan Eyang? Apa Eyang sudah setuju?" Tanya untuk memastikan.
"Aku akan bilang sama Eyang. Kalau Bundaku, sudah mengijinkan aku pulang ke rumah." Ucap Kai.
Sang Bunda tersenyum, kemudian Bunda Berkata lembut. "Bunda pasti mengijinkan kamu pulang. Ini juga rumahmu sayang."
"Bunda. Emh, itu Bunda. Kan, Mas Raja sudah tidak tinggal disini lagi. Aku mau tidur di kamar Mas Raja." Ucap Kai yang tampak manis.
"Jangan dong sayang. Kamu ada kamar, kamu harus tidur di kamar kamu sendiri." Balasan Bunda.
"Emh, aku nggak suka tinggal di kamar atas. Disana sepi. Lean sama Zyan juga tinggal di kamar bawah. Apalagi, Mbak Aull nantinya menikah. Pasti, kamar Mbak Aull juga bakalan kosong. Aku jadi takut tidur sendiran." Ucap Kai, yang terdengar manja.
"Iya, coba tanya dulu sama Masmu. Kalau dia mengijinkan kamu pindah ke kamarnya. Bunda akan menyuruh Mella merapikan kamarnya Masmu."
Mella, asisten utama rumah ini.
"Iya. Nanti, aku bilang sama Mas Raja. Sekarang, aku mau bobok disini sama Bunda."
Sang Bunda yang masih duduk, tampak menatap putrinya dari cermin. Tangan kanan sang Bunda, sudah mengusap gemas rambut putrinya tercinta.
"Sana, bobok. Bunda mau ganti baju."
"Oke." Ucap Kai dan ia beranjak ke kasur sang Bunda.
Ayah Setya keluar dari ruang gantinya. Melihat putrinya, yang tampak memeluk guling.
"Kamu mau bobok disini?" Tanya sang Ayah, sudah mendekati putrinya.
Kai yang memeluk guling, menjawab "Iya, aku mau bobok sama Bunda."
"Tumben, kamu tidak pulang kesana?"
"Iih, Ayah mulai deh. Aku serius mau tinggal disini sama Ayah."
"Baguslah."
Sang Ayah turut berbaring di sebelahnya dan tampak memegang ponsel.
"Kai, kamu pacaran sama Calvin?"
"Emh, entahlah." Jawabnya pelan.
Sang Ayah menatap layar ponselnya dan hendak menghubungi putra pertamanya.
"Ayah. Kalau aku pacaran sama Calvin, apa Ayah akan keberatan?" Tanyanya dan masih menatap wajah Ayahnya.
"Ayah tidak akan melarang kamu."
"Beneran? Ayah tidak akan melarangku?"
"Percuma juga Ayah ngelarang kamu. Kamu pastinya malah nekat." Jawabnya.
"Semua setuju. Aku malah tidak suka. Harusnya, mereka tidak merestui aku. Biar aku tertantang. Membosankan."
Kai memejamkan matanya dan sang Ayah tampak berbicara dengan Kakaknya.
"Kai di rumah?" Suara Raja terkaget dan merasakan hal aneh.
"Iya, adikmu ingin tinggal di rumah." Ucap sang Ayah.
__ADS_1
"Ayah. Tapi, Ayah jangan ijinkan Kai masuk ke kamarku. Sebisa mungkin, kamarku harus selalu terkunci." Ucapnya Raja, seakan memperketat kamar pribadinya.
"Iya, nanti Ayah akan bilang sama Bundamu."
"Pokoknya, aku nggak mau kalau Kai sampai menginjakkan kakinya ke kamarku." Ucapnya Jelas.
"Kamu tenang saja, Kai tidak akan usil. Lagian, adikmu sudah remaja, dia juga sudah punya pacar. Jangan terlalu keras sama adikmu." Ucap sang Ayah lembut.
"Pacar? Kai punya pacar? Siapa?" Raja terdengar penasaran.
Ayah menjawab "Iya, tadi Kai datang bersama Calvin."
"Calvin? Calvin Omnya Ratu?"
"Iya, adik sepupu Mama mertuamu. Ayah juga bingung, tapi kamu tahu sendiri, gimana adikmu. Ini, adikmu di sebelah Ayah." Jawab sang Ayah, tangan sang Ayah juga sudah mengelus rambutnya Kai.
"Aku nggak setuju." Ucap Raja.
"Sayang, kamu jangan begitu. Kai hanya pacaran biasa." Balas Ayahnya.
"Pokoknya, aku nggak setuju Kai masuk di keluarga Ratu. Titik."
Perang antara kakak beradik, sepertinya akan segera terjadi. Kai dengan mata terpejam, memeluk Ayahnya dan ia sudah menguping percakapan Ayahnya.
"Emh, Mas Raja tidak suka. Baiklah, aku akan mengajak guru tampanku kencan manis dihadapannya." Batinnya.
"Raja, kamu tenang saja. Ayah mengerti. Kamu tidak perlu memarahi Adikmu. Jangan luapkan emosi kamu."
"Iya, maaf. Aku tidak bermaksud begitu sama Ayah." Ucapnya luluh.
Tidak lama, panggilan telephone itu sudah terputus dan Kai membuka mata dengan bibir cemberut gemas.
"Ayah, Mas Raja selalu begitu sama aku." Keluhnya yang manja.
"Masmu hanya ingin menjaga kamu."
"Menjaga apaan. Bilang saja, dia tidak mau menjadi keponakan aku."
Kai punya jurus jitu, dan ia sudah membayangkan. Kalau nanti lebaran, dan Kai sudah menjadi istrinya Calvin.
Kai tersadar akan lamunan manisnya, saat sang Bunda mendekat dan mencubit gemas pipi bakpaonya itu.
"Aaa.. Bunda gitu deh. Selalu cemburu."
"Bunda tidak cemburu. Kamu saja yang melamun. Itu, bibir kamu senyam senyum tidak jelas."
"Aku cuma nyaman di peluk Ayah. Aku tidak melamun." Kilahnya.
Kai perlahan memeluk gulingnya dan Ayah mengecup pucuk keningnya.
Ayah berkata "Tidurlah yang nyenyak. Ayah mau ke kamar Zyan."
"Oke Ayah." Balas Kai dan tersenyum.
Sang Bunda berkata "Kamu bobok duluan. Bunda mau lihat adik kecilmu."
"Iya, Bunda sayang. Tapi, Bunda cepat kembali."
Bunda pergi bersama Ayah dan mereka berjalan terpisah. Ayah ke arah kanan, sedangkan Bunda ke arah kiri.
Zyan yang terbaring menyamping, masih tampak on dengan ponsel di tangannya.
"Tidur!!"
"Ayah, gangguin aja."
"Sudah malam. Besok sekolah."
"Sebentar doang. Ini lagi mastiin Ayankku sudah tidur apa belum."
"Ayank, Ayank. Bangun pagi saja susah, sudah Ayank-Ayangan. Ayah sampai bingung, Cassandra mau-maunya jadian sama kamu."
"Aku ganteng, pastilah Cassandra suka sama aku."
Ayahnya melepas sandal lantai, dan berbaring di sebelah Zyan. Menarik selimut dan mematikan lampu tidur di meja sebelahnya.
__ADS_1
"Ayah, jangan tidur disini." Zyan merasa terganggu.
"Kasur Ayah, sudah ditempati Kakakmu."
"Huh, Kak Kai kenapa nggak mau tidur di kamarnya sendiri?"
"Sudah, biarkan saja. Ayo letakan ponselmu, cepat bobok."
"Iya iya. Sebentar."
Sang Ayah tak lagi mempedulikan putranya ini, sudah lelah seharian dan besok pagi ada pertemuan penting dengan relasi bisnis property.
Di kamar Lean, putra bungsu itu sudah tidur anteng, setelah tadi menghabiskan segelas susu hangat. Dua orang suster sudah menidurkan di atas ranjang dan dua suster itu, masih menjaga Lean.
"Kalian tidurlah. Besok pagi, tidak perlu ke sekolah. Lean pasti capek. Seharian bermain dengan sepupunya."
"Baik Madam." Ucap dari mereka.
Sang Bunda mengelus rambut putra bungsunya ini dan mengecup dahinya.
Lean, putra yang menggemaskan dan murah senyum. Keluarga Rangga juga sangat menyukai Lean yang tampak lucu dan suka berceloteh gemas. Ada seorang Tante dan menginginkan Lean untuk jadi putra menantu.
Masih kecil sudah menjadi incaran, gimana nanti besarnya. Sayangnya, Bunda Lea tidak mau ada perjodohan untuk putra bungsunya ini.
Apalagi, putra bungsunya punya riwayat alergi yang tidak biasa. Kelak, setelah Lean dewasa. Bunda Lea hanya ingin melihat putranya sehat dan alerginya tidak akan kambuh lagi.
"Bobok yang nyenyak. Bunda sayang kamu." Ucap sang Bunda dan tampak mencium kedua tangan Lean.
Setelah beberapa menit kemudian, sang Bunda yang kembali ke kamar tidurnya. Melihat putrinya sudah terlelap dalam ketenangan.
"Kai sudah beranjak dewasa. Satu persatu, kalian semua akan menikah dan meninggalkan Bunda."
Sang Bunda turut berbaring menyamping dan mengelus rambut putri cantiknya.
Di rumah Raja. Tadi sore, Raja sudah membawa Ratu kembali.
Rumah sepi dan tidak ada yang pulang ke rumah. Semua pengawal juga sudah di tugaskan. Hanya ada Raja dan Ratu.
"Tidurlah." Ucap Raja kepada Ratu.
"Nanggung, filmnya belum selesai." Balasnya.
"Kamu mau tidur di kamarmu?"
Ratu menoleh ke wajah suaminya, berkata "Emh, iya. Memangnya kenapa?"
Raja yang duduk di sebelahnya dan mereka berdua menonton film di ruang tengah. Tampak lebih dekat dan Ratu sudah mulai bermanja pada suami tampannya ini.
"Aku tidak keberatan kalau kamu mau tidur di kamarku." Balasnya.
Ratu bertanya, "Terus, kenapa Kai tidak boleh memasuki kamarmu?"
"Aku tidak menyukainya. Kai sering mengambil hak milikku." Jawaban Raja.
"Owh, aku juga begitu kalau sama adikku." Balasan Ratu dan kembali fokus pada filmnya.
"Ayo tidur. Ini sudah tengah malam."
"Sebentar lagi. Sana, kamu tidur duluan. Nanti aku menyusulmu." Balas Ratu.
"Nyusulin aku, ke kamarku?"
Mendengar hal itu, Ratu berkata "Aku tahu niatmu mengajak aku kemari."
Raja merangkul bahu Ratu, ia berkata "Kamu istriku. Kamu harus tinggal bersamaku."
"Iya, iya. Aku istrimu. Aku akan patuh." Ratu mematikan TVnya dan tampak cemberut.
"Jangan ngambek dong. Ayok, aku gendong."
"Aku bisa jalan sendiri."
Ratu bangkit dari sofa.
"Istriku."
__ADS_1