Permen Kapas

Permen Kapas
Dada Montok


__ADS_3

Suasana tengah malam, di rumah yang lama tak berpenghuni. Selagi nonton film horor dan suami minta di peluk.


Lea tanpa basa-basi, duduk di atas pangkuan sang suami dan memeluk suaminya.


Seperti anak kecil yang bersandar dada, dan menikmati malamnya ini dengan manis manja.


"Mas Setya, ayo bobok."


"Katanya belum ngantuk?"


"Iya sih. Tapi, aku malas nontonnya. Bobok di kasur aja. Kayak tadi waktu di kost." Jawab Lea dengan manja.


Setya semakin gemas, ia tanpa berfikir mengencup gemas pipinya Lea.


"Gendong lagi?" Tanya sang suami.


"Emh, boleh juga." Jawab Lea.


Mainnya gendong-gendongan dulu. Lea yang sangat telihat manis, berada di gendongan punggung suaminya. Saat ini menuju ke kamar, yang ada di lantai dua.


Lea menganggap kalau Setya pria yang kuat fisik dan tenaganya. Buktinya, saat berjalan menaiki anak tangga dan tetap menggendong dirinya, sang suami ini tidak tampak ngos-ngosan. Malahan, terlihat begitu santai dan cukup menyenangkan batin Lea.


"Mas Setya. Aku bobok sendiri aja ya. Mas Setya tidurnya di kamarnya Mas Setya sendiri."


Setya tersenyum tipis dan ia berkata "Sayang, ini kamarku sendiri. Kamu memilih kamar tidurku. Bukan yang sebelah." Ucap Setya dan Lea jadi bingung.


Sepertinya, Zio sudah mengelabuhi dirinya, saat menunjuk ruangan atas. Bahkan, pembantunya sudah benar, meletakan kopernya di kamar utama, malahan Lea menarik kopernya sendiri ke kamar yang tidak ada nuansa cowoknya. Kamar yang serba putih dan tidak ada kesan maskulin, malahan seperti kamar pribadinya, yang di rumah Mama.


"Ini kamar Mas Setya?" Lea menatap ke seluruh ruangan, bahkan ada meja rias warna putih dan terlalu manis untuk seorang cowok seperti Setya Yuda Wardhana.


Bisa saja, pria kaku dan tampak dingin itu, menyukai warna putih dan membuat perasaannya nyaman.


"Mas Setya, jangan mengada-ngada. Pasti cuma bikin aku malu. Iya kan Mas?" Lea gerogi dan masih menatap wajah suaminya.


Setya menatap lembut dan kedua tangannya sedang mengunci badan istrinya.


Lea sudah berbaring, wajah sang suami berada diatasnya. Tidak ada suara dan hanya saling menatap.


Lea semakin gelisah dan ia berkata "Mas Setya, aku mau ambil ponsel. Aku lupa, kalau tadi baterainya habis."


"Nanti aku yang ambilkan." Balasan Setya lancar.


"Sekarang Mas. Siapa tahu, ada kabar penting. Nanti aku jadi nggak tahu apa-apa gimana?" Ekspresi gemas Lea saat berbicara membuat Setya luluh dan tak berdaya.


Akhirnya, Setya melepaskan istrinya begitu saja. Lea tadinya sangat gelisah, akan tatapan Setya dan ia juga menutup kedua gundukannya. Tidak seperti Lea yang nekatan, bahkan bisa menciumnya duluan.


Waktu menikah saja, dengan kocaknya Lea mencium pipi sang suami lebih dulu. Lea dengan PDnya mengecup gemas pipi suaminya, dan dihadapan banyak saksi yang melihatnya.


Sorakan dari para sepupu tampan, malahan membuatnya semakin tertantang. Dengan gaya tengilnya, tangannya menarik dasi sang suami, sampai kedua wajah itu begitu dekat, membuat Setya agar segera mencium keningnya. Bahkan, Zio juga sempat mengabadikan moment itu.


"Ini ponsel kamu." Ucap Setya.


"Mas Setya, aku mau sendirian."


Sayangnya, Setya juga bisa nekat dan tidak mempedulikan ucapan Lea. Setya juga langsung berbaring di sebelahnya.


"Iih, Mas Setya nyebelin."


"Kamu sebal sama aku??" Setya tiduran menyamping dan menyangga kepala dengan tangan kanannya.

__ADS_1


"Iya." Jawabnya.


Lea pergi untuk mengecas ponselnya dan ia juga mengaktifkan lagi. Ternyata ponselnya sampai sekarat.


"Hah??" Lea yang terkejut saat melihat layar ponselnya. Ternyata grup keluarga sudah sangat ramai. Lea jadi bersemangat saat membaca semua pesannya.


Setya hanya menatap dari kejauhan, ia juga sempat lupa "Aku juga belum matiin TV bawah."


Setya bergegas pergi dan tidak lagi memikirkan, kalau nantinya dilarang masuk kamar oleh istri gemasnya.


"Mas Setya kemana? Emh, dia sudah menyerah." Lea merasa senang sekali.


Setelah tadi sempat ada rasa kesal dan sekarang berubah senang. Seperti yang dikatakan Setya padanya.


Om Ziel beneran ke rumah Oma Darra. Jadinya, Para sepupu tampan memberikan ciuman dan pelukan sayang untuk kesayangan mereka.


"Emh, aku jadi kepingin bobok."


Lea yang sudah berganti piyama dan rambut yang dia gerai begitu saja. Wajah juga sudah terlihat segar, tanpa polesan make-up.


Berjalan ke tempat tidur dan ia terkaget saat sang suami tampannya sudah memeluk guling. Tidur menyamping dan begitu tenang.


"Dia pasti lelah. Pagi baru sampai dan seharian tadi kita di luar." Gumam Lea.


Lea mematikan lampu kamar dan hanya menyalakan lampu tidur di sisi meja, sebelah tempat tidurnya. Sinar kuning menyala redup dan Lea naik ke atas tempat tidur.


"Mas bojoku, selamat bobok ganteng." Lea, mengecup pipi sang suami.


Sepertinya, sang suami benar-benar sudah terlelap. Lea masih merasa aneh, ketika harus tidur satu ranjang dengan seorang pria. Meskipun, Lea sudah terbiasa tidur seranjang berdua, tetap saja berbeda rasa.


Lea sudah tampak terpejam. Seketika merasa aneh, saat tangan sang suami sudah beralih memeluknya, sampai mengenai bagian dada.


Lea cemberut dan menoleh ke wajah sang suami. Kedua tangannya dengan pelan menggeser tangan sang suami.


Lea membuat batas dengan guling dan bantal. Sang suami yang terlelap itu, tidak tahu apa yang dilakukan Lea padanya.


"Itu akibatnya. Kalau nekat nyentuh dadaku tanpa permisi." Ucap Lea dengan suara lembut dan tengil.


Saat terbaring ke sisi tempat tidurnya, ia kembali menoleh ke wajah Setya "Awas kalau macam-macam lagi. Tangannya, harus dikondisikan dulu."


Tangan suaminya sudah diborgol. Lea juga memakaikan lipstik merah, ke bibir sang suami. Ia menganggap kalau Setya sudah nakal dan harus diberi hukuman manis.


Setelah pagi tiba dan Setya terkaget saat melihat tangannya sudah diborgol. Ia jadi menoleh ke wajah istrinya.


"Sayang, kamu tega menganiaya suami kamu sendiri."


Lea masih tidur nyenyak dan sebisa mungkin Setya berusaha melepasnya.


Tralalala


Triilii lliii Lea Lea


Lea terbangun karena mendengar suara alarm ponselnya yang manggilnya merdu.


"Emh, aku masih ngantuk." Rengeknya. Jelas mengantuk, tengah malam saja masih asyik menonton film.


Sudah jam 5 pagi dan tangannya bergerak untuk meraba teman tidurnya.


"Yuna, matikan ponselku. Berissiik." Pintanya.

__ADS_1


Setya dengan merdu, berkata "Lea, cepat bangun. Sudah jam 5."


Lea menoleh ke wajah sang suami. Ia kembali mengingat, kalau sekarang tinggal bersama suami tampannya.


"Mas Setya, gendong aku." Manjanya.


"Gimana mau gendong, tangganku masih diborgol begini." Setya menunjukan tangannya.


Lea meraih kunci borgol yang ada di meja samping tidurnya dan membuka borgol itu tanpa rasa bersalah. Untungnya Setya tidak kenapa-napa.


^^^Jam menunjukan, pukul 7 pagi.^^^


Sang mentari menyambut pagi dengan senyuman indah nan mengagumkan di hati.


Sayangnya, perasaan gundah dengan rasa kesal masih terbersit dalam benaknya.


"Mas Setya masih memikirkan Micheel. Aku ini siapanya? Sudah berani menikahi, tidak berani menghamili."


Lea, Lea. Apa mau kamu sayang?? Bilangnya nggak mau ada hubungan suami istri yang vulgar dan terkesan dewasa. Hemm, sekarang malah ingin dihamili sang suami.


Ya, begitulah Lea kalau sedang bad mood, ada-ada saja pikiran konyolnya. Untuk menantang kehidupannya sendiri, dengan orang di sekitarnya.


Semoga saja, suaminya juga sadar. Kalau dia sudah beristri. Bukan hanya perkataan dan tanggung jawab secara luarnya. Suaminya juga harus segera belajar, memahami perasaan istrinya.


Eitz, Setya hanya menunggu waktu yang tepat. Dia belum mengenal Lea. Kalau nekat, nantinya bisa digreprek. Tidak sengaja memegang gundukannya saja, langsung diborgol, gimana kalau nekat meremasnya, pasti dilalap habis.


Lea sedang berjemur, sang suami hanya melihatnya dari jendela.


"Apa yang harus aku perbuat? Aku mana sadar sudah memegang dadanya. Aku jadi dikatain pria mesum dan tak bermoral." Gumam Setya.


Tadi, Setya juga salah mengucap. Bahwa dia tidak berniat begitu. Apalagi, menyinggung perasaan Lea, soal dada datar yang belum menonjol.


"Masih datar begitu, aku nggak berasa apa-apa. Beneran, sumpah!" Ucapan itu masih terngiang-ngiang.


Membuat Lea sangat kecewa, saat melihat dadanya sendiri. Lea selalu, menganggap kalau parasnya bernilai standar. Tidak sesexy paras wanita lainnya.


Karena dibilang begitu, Lea kembali memakai pakaian dengan lengan terbuka.


"Dada besar itu, Yuna. Aku harus tanya dia, apa resepnya?" Batin Lea yang semakin hareudang.


Apalagi kalau mengingat akan suaminya, yang mecintai Micheel. Lea sangat tidak terima, pada ucapan suaminya.



"Pagi, Yunaku sayang." Lea yang langsung menelfon sang asisten pribadinya.


Setya hanya memantaunya, dari kejauhan.


"Iya sayang. Ada apa?" Tanya Yuna dan ia sudah berfikir kalau Lea pasti membutuhkan dirinya. Kemarin saja, waktu di kost. Lea juga langsung cerita sama Yuna. Sang suami mengajaknya, ke kos-kosan khusus cowok.


"Yunaku, aku lagi dilema." Keluhnya.


"Dilema? Bilang sama aku, apa masalah kamu." Suara Yuna, terdengar bersemangat.


"Apa rahasiamu, sampai punya dada montok?"


"Hah?? Montok?" Yuna terkaget.


__ADS_1


Kok bisa sih, Papa Arjuna punya putri yang unik begitu?


__ADS_2