
Setelah malam itu, Lea yang seolah mendapat lampu hijau dari Setya.
Lea berpura-pura saja, tidak mengerti bahasa Setya. Dia menganggap ini hanya sebuah permainan manis.
"Lea, kamu sudah tidak waras."
"Sudah, rapikan besok saja."
"Heh, aku ngeluh bukan karena bajumu yang berantakan. Tapi soal kalian bertiga. Kamu, Zio dan Setya." Yuna yang sudah mendumel sambil menata pakaian Lea, yang berserakan di lantai dan juga tempat di atas tidur. Ada pula, daleman pinky manis terbang melayang sampai ke sudut sofa.
Untungnya saja, sang desiner ternama tadi, bertemunya di ruangan khusus, coba kalau sampai melihat kamar mewah itu, bisa-bisa putar balik.
Soalnya, sang desainer itu sangat suka kebersihan dan kerapian. Desainer itu pria setengah matang nan kemayu, tapi sangat mengerti fashionnya Lea. Dia merasa aneh, saat melihat Lea yang ingin mengenakan pakaian lengan panjang.
"Mau gimana lagi, Mas Setya sendiri yang menawarkan diri. Terus, aku bilang saja. Aku nggak bisa putus dari Zio. Dia tetap ingin jadi pria brengseek yang berniat merebut kekasih adiknya sendiri."
Yuna melemparkan semua baju yang ada di lengan tangannya tadi. "Lea, sudah cukup. Sepertinya, kontrak kerja kita putus sampai disini. Aku nggak mau capek, apalagi harus ngurus kalian bertiga."
Lea mendekat dan memegang tangan Yuna "Yunaku sayang. Jangan tinggalin aku. Aku lebih baik memutuskan mereka berdua, dibanding harus putus dari kamu."
"Bagus. Sana, putusin mereka berdua."
Lea berkata "Kesayanganku. Besok ya. Malam ini. Biarkan aku merasakan kehangatan kisah kasih ala Lea. Malam ini, biar kasurku berasa manis, seperti aku tidur di atas permen kapas."
"Gila." Yuna menghempas tangan Lea dan Yuna menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur.
Lea perlahan mendekat dan menatap dengan wajah manis "Yuna, aku sayang Zio. Tapi, perasaanku semakin nyata bila bersama Mas Setya. Aku jadi lebih sopan dan patuh. Kamu bukannya suka, aku yang kalem begini?"
"Lea, kamu ini umur berapa sih? Masih saja main-main sama Zio. Kalau kalian memang sudah nggak ada perasaan mendingan putus saja. Terus, jadian lagi sama yang lainnya."
"Aku sudah janji sama Zio. Kalau aku bilang putus. Kita akan putus selamanya. Aku nggak mau begitu."
Yuna mengayak rambutnya sendiri, seharian dia lelah, ternyata Kevin juga sibuk dengan dunia kerjanya. Percuma juga jadian sama Kevin, yang akhirnya malah Yuna seperti piguran. Kevin sibuk menemani Micheel sang Bintang utama.
"Oke, aku akan mengatur jadwal kencan kalian bertiga." Yuna merasa kalau ia selamanya harus selalu menemani Lea.
"Nah, gitu dong kesayanganku." Lea gemas mencium pipi Yuna.
Yuna cemberut, berkata "Aku kesal sama Kevin."
"Bang Kevin kenapa? Kalian baru jadian, kamunya kesal."
"Dia sibuk sama Micheel."
"Owh, soal Micheel gampang. Aku bisa bermain manis sama Mas Setya di depan Micheel."
"Lea, jangan macam-mecam. Nanti kalau ketahuan Zio gimana?!"
"Aku nggak peduli. Lagian, Zio sendiri ciuman sama Clarissa." Jawabnya, yang memang begitu adanya.
Lea merasa kalau selamanya sama Setya juga nggak mungkin. Lea tidak bisa kalau harus berubah, dia tetap dirinya yang apa adanya, meskipun terlihat kalem dan lebih sopan, tapi baginya, ini hanya sesaat saja.
"Yuna, tolong hubungi Zio. Aku cemas. Dia seharian nggak keluar kamar."
__ADS_1
"Aku harus bilang gimana?"
"Bilang saja, kalau Lea sudah buatin permen kapas khusus buat dia. Besok pagi-pagi, harus jemput Lea ke hotel."
"Lea, kamu tega mainin perasaan Setya?"
"Yee, dia juga nggak cinta sama aku. Aku tahu. Lagian, dia baru putus sama Micheel. Pastinya, aku juga hanya hiburannya saja."
"Kalian semua, memang sudah tidak waras." Cebik Yuna, dengan segera meraih ponselnya.
Sudah ada beberapa pesan masuk di ponselnya, terutama dari Kevin. Yuna malas membalasnya dan ia langsung menghubungi nomor ponsel Zio.
Di rumah mewah bak istana, sang Mama dan Papa juga berdebat sendiri, tentang tuan putri yang kedua ini.
"Papa jangan terburu-buru begitu. Lea masih anak-anak. Biarkan dia sesuka hatinya."
"Mama, Papa sangat yakin. Kalau Setya bisa menjaga Lea dengan baik."
"Kalau Mama, lebih setuju sama Zio. Soalnya selama sama Zio, Lea nggak pernah nangis. Mereka sama-sama asyik dan Lea tetap jadi dirinya sendiri. Kalau Setya, meski dia dewasa. Tapi perasaan Mama, Lea akan tetap memilih Zio."
Papa dengan suara manis, "Mama kenapa? Mama takut seperti Mama dulu, yang lari dari perjodohan?"
"Papa malah mengungkit masa lalu Mama."
"Terus kenapa, Mama bersikap begitu? Kalau Papa jodohin Lea sama Setya. Zio juga akan melepaskan Lea."
"Papa, tidak semudah itu. Dulu kenapa Mama bisa pergi. Papa nggak tahu saja, gimana perasaan Mama." Sang Mama beranjak pergi meninggalkan tempat tidurny.
"Aku tahu. Aku mengerti."
"Biarkan Lea memilih kehidupannya sendiri. Jangan lagi ada perjodohan."
"Mama, Papa hanya ingin, melihat Lea seperti Nada dan Varell."
"Papa, Lea menikah atau hanya bermain-main. Mama tetap akan mendukung Lea."
"Mama, Papa hanya cemas."
"Papa ingat tidak? Dulu masa kecilnya Nada dan Lea. Nada kecilnya lebih sensitif dan Lea malah nekatan bila dilarang, sampai menghilang di hutan. Mama juga cemas, kalau kita nantinya ternyata berbuat salah. Lebih baik, kita awasi keseharian Lea. Soal asmaranya, kita tidak perlu ikut mengaturnya."
"Papa mengerti, tapi dari tatapan Lea, sepertinya sudah mengharapkan cinta dari Setya."
Sang Mama tersenyum, meski harus mengingat lagi masa lalunya, sang istri tercinta berkata "Papa, Mama dulu juga begitu. Tapi, apa yang Mama lakukan, Mama lebih memilih pergi sebelum akad nikah."
"Iya."
"Padangan Mama tentang cinta, bukan apa yang kita rasakan bersamanya, tapi lebih dari apa yang dia berikan untuk kita. Dulu, pria itu juga mencintai Mama, tapi Mama tidak bisa merasakan apa yang sudah dia berikan untuk Mama. Tapi, Mama merasa cinta sejati dari Papa. Papa yang membuat Mama jatuh hati, setelah sekian tahun lamanya, padahal dulu Mama tidak pernah menganggap Papa seperti kekasih, tapi Mama sadar, kalau cinta Papa begitu tulus untuk Mama."
Sang suami tampan ini semakin memeluk erat dan mengecup pipi istrinya. "Papa sangat mencintai Mama."
Karena dulunya, sang Mama pergi dari acara pernikahannya dan memilih untuk tinggal bersama sang Arjuna si aktor tampan, sampai akhirnya menikah dan banyak hal yang telah mereka lalui setelah pernikahan.
Asam manisnya cinta yang bersemi dan pernah terpisah jarak. Mereka bisa lalui masa-masa itu. Ada air mata, ada suka cita dan ada canda tawa, saat di awal pernikahan mereka.
__ADS_1
Papa Arjuna dan Mama Beby, meski hanya orang tua biasa. Mereka tetap berusaha, untuk membahagiakan kedua putrinya.
Lepas sudah tanggung jawab mereka atas Nada Gista Madaharsa, dan masih ada Allea Gita Madaharsa yang mereka pikirkan. Apalagi, soal asmara Lea yang sulit dimengerti oleh kedua orang tua ini. Bahkan, bukan hanya kedua orang tua Lea.
Sang Kakek dan Nenek yang tinggal di rumah itu, mereka juga punya pendapat sendiri mengenai Zio dan Setya. Bahkan, si Nenek yang masuk keluarga besar itu. Telah meminta anak cucu dan semua anggota keluarga besar Jisung, keluarga besar Mahatma, dan keluarga besar Prasetya Wardana. Agar keluarganya melakukan vote untuk dua pemuda tampan yang dekat dengan Lea.
Hasilnya, banyak yang memihak ke Zio dan tetap ada yang mendukung Setya. Perubahan sikap kalem Lea, malah membuat takut para sepupu tampannya Lea.
Nada dan Lea, mereka tuan putri yang tidak ada saingan di antara para sepupu tampan. Semuanya cowok, kecuali mereka berdua. Lea termasuk paling kecil sendiri, diantara yang lainnya.
Semisal dalam satu bingkai foto, Lea sang tua putri biasa ini, dikelilingi para Tuan Muda tampan nan menawan. Bayangkan saja, 13 pria tampan dan 1 gadis ngeselin tapi termanjakan.
Intip sedikit yuk, ketika berkumpul bersama pria menawan, yang berusia 23 sampai 32 tahun.
"Lea tidur?" Sang kakak tertua yang baru tiba dan langsung melepas jasnya, menutupi bagian rok mininya Lea. Pria menawan ini, seorang dokter.
Lea bersandar kepada sepupu tampan dari keluarga Jisung.
"Lea, Lea, kapan dia akan jadi gadis manis??"
"Dia manisnya, kalau lagi tidur saja." Ujar dari sepupu yang agoran, sama saja seperti Lea. Dia ini Tuan Muda dari Mahatma.
Tidak lama ada yang datang lagi, dan ia Tuan Muda blasteran, "Tumben, Kak Lea tidur."
Dia langsung duduk di sebelah Lea.
"Habis dimarahin Boyz, langsung keok."
"Kenapa?"
"Lea gangguin Boyz kencan."
"Ada-ada saja."
"Tadinya pura-pura nangis. Eh, Boyz tahu dia pura-pura. Mereka ribut lagi, sampai ketiduran."
Lalu, Oppa Korea kembar datang "Adikku kenapa? Beneran kena jambret?"
"Lea cuma iseng."
Dimana tempat untuk bertemu, saat ini? Di kantor polisi. Biar para Kakak dan adik sepupu tampan itu, berkumpul semua.
Siapa pelaku dan korbannya? Tidak ada yang tahu, tapi Lea memang begitu. Membuat laporan yang tidak penting.
Pernah juga waktu di rumah sakit, dan mereka semua jadi kalang kabut. Tapi, Lea tidak berpura-pura, Lea beneran tertabrak gerobak dorong.
"Emmh, Bang Boyz." Rengeknya.
"Tuan putri akhirnya bangun juga." Semua menatap Lea.
__ADS_1