Permen Kapas

Permen Kapas
Melupakan Pacar


__ADS_3

Suasana pesta tampak romantis, tapi tidak untuk Allea Gita Madaharsa. Lea malah pergi berlari, saat Setya meminta dia untuk menciumnya.


"Huh, hampir saja." Desah Lea.


Lea tadi sempat tergoda akan tatapan Setya. Dia berfikir kalau dirinya saat ini sudah bersalah.


"Aku harus tenang."


Lea tadinya sempat pasrah, saat menatap sorot mata Setya, yang sepertinya tidak main-main, saat memintanya untuk menciumnya.


Lea memegang dada dan merasakan debaran jantungnya. Hal itu, sudah membuatnya deg-degan. Bisa saja Setya hanya memanfaatkan situasinya.


"Aku harus telfon Yuna."


Setelah mendapat kabar tentang Yuna, Lea pergi ke rumah sakit.


Setya sendiri masih berada di aula pesta. Setya tetap berdiri dan sudah tampak bersedekap, menatap sang mantan kekasih dengan senyuman manisnya.



Senyuman yang masih sama seperti dulu. Dikala bertemu Micheel untuk pertama kalinya. Siswi pindahan yang sangat cantik dan Setya langsung menyukainya dari padangan pertama.


"Micheel."


Saat ini, Micheel yang berperan sebagai Cinderella. Ada satu adegan, yang mengharuskan dia pergi berlari dan meninggalkan acara pesta pangeran.



Seorang gadis berkacamata bulat, "Eh, cowok itu siapa?"


"Tadi dia datang bersama Lea." Jawab sebelahnya.


Mereka masih melihat ke arah Setya dan saling berbisik. Ada seorang gadis berkata, "Dia ganteng."


Setya meski tersenyum, dia sadar kalau hubungan dirinya dengan Micheel sudah berakhir. Tidak ada lagi, istilah pacaran dan status hubungan manis dari kedua insan itu. Setya masih menatap Micheel, sampai membuat Micheel salah tingkah dan terjatuh ke dalam dekapan pangeran.


"Micheel, fokus." Batin lawan main Micheel. Dia tidak bisa berlama-lama memeluk Micheel.


Setelah sadar dari lamunannya, Micheel pergi dan berlari sampai meninggalkan sepatu kacanya.


Padahal, belum waktnya pergi. Masih ada beberapa dialog yang harus Micheel ucapkan. Sayangnya, Micheel tidak kuat lagi akan perasaan pribadinya.


"Setya." Batin Micheel dan ia sudah berlari dari panggung acara.


Setya berkata "Masih sama saja."


Setya menilai kalau Micheel tidak pandai berakting. Sudah berulang kali, Setya menegurnya agar melepaskan karirnya, tetapi Micheel masih ingin menjadi artis papan atas.


Setya lantas pergi, setelah Micheel melarikan diri dari atas panggung.


Di sebuah lorong, Micheel menangis, Kevin yang mengetahui hal itu, dia segera mendekat dan hendak mengajak bintangnya pergi dari pesta kampus Glory.


"Micheel, ayo kita pulang."


Kevin dengan cepat mengajak Micheel pergi. Cinderella itu sudah telanjang kaki, dan menjinjing sisi petikut yang masih mengembang pada gaun indahnya.


Seorang manager dan asisten yang sigap membantu Micheel mengangkat sisi gaunnya dan seorang sopir sudah siap dengan mobil mewahnya berada di depan gedung aula pesta.


Setya melihat hal itu, ia tersenyum "Dia benar-benar jadi Cinderella."


Entah apa yang Setya pikirkan, tapi dia merasa sudah terhibur. Sampai lupa, kalau Lea juga sudah pergi meninggalkan dirinya.


"Aaa. Setya! Bereengsek!" Geramnya dan sang asisten masih tetap disisinya saat mereka berada di mobil.


"Nona Micheel kenapa?" Batin asisten dan masih merapikan gaun Micheel.


Mobil itu perhalan pergi meninggalkan area gedung pesta malam ini.


"Aku akan membalas dia." Ujar Micheel dan kedua tangan itu tampak meremas sisi gaun yang masih melekat pada paras indahnya.


Di rumah sakit yang tidak jauh dari kampus, Lea yang berlari mencari kesayangannya.

__ADS_1


"Yunaku sayang." Lea yang telah tiba dan melihat Yuna terbaring di atas ranjang pasien.


Lea memeluknya, dan berkata "Kamu pasti sangat menderita saat memakai highheels."


"Aaa.. Lea. Sepatu kaca itu, sudah menyakiti kakiku."


Lea mengangguk, lalu berkata "Aku akan merusak sepatu sialan itu." Lea mencari sepatunya dan hanya menemukan satu sepatu yang masih melekat di kaki Yuna.


Lea yang menatap kaki kiri Yuna yang terbalut medicrepe elastis. Ia bertanya "Lari kemana sepatunya?"


"Sudah aku buang di jalan."


"Owwh, baguslah. Aku akan menghancurkan yang ini."


"Jangan!!"


"Kok jangan?"


Keduanya saling menatap, Yuna bangkit dari tempat tidur dan tampak duduk bersandar, Lea menatap Yuna.


"Siapa tahu, ada pangeran tampan yang mengambilnya."


"Owh, kamu berharap ada sosok pangeran yang mencarimu."


Tepat sekali, seorang pemuda telah menemukan itu, saat dia berjalan melewati gerbang utama kampus Glory.


"Aku salah, harusnya aku melarangmu." Ucap Lea dan kembali memeluk Yuna.


"Tidak apa-apa. Aku malahan bisa cun pacar kamu." Yuna menggoda dan Lea melepaskan pelukannya.


"Aku anggap itu hanya hiburan kamu. Aku nggak kasih kesempatan lebih." Ujar Lea dan menatap Yuna dengan tatapan serius.


Yuna berkata "Lea, Lea. Masa iya, aku menyukai pacarmu.".


"Bisa saja begitu. Clarissa saja juga sudah tergoda sama pacar imutku."


Zio yang kembali dan membawakan obat dari resep dokter untuk Yuna. Zio sempat mendengar obrolan mereka berdua.


"Honey, kamu sudah datang."


Zio meletakan obatnya di atas meja, sisi ranjang pasien. "Yuna, kamu sudah boleh pulang. Aku akan mengantar kalian berdua."


Lea berkata "Zio, aku bisa pulang sendiri sama Yuna."


"Kamu bisa memapah Yuna?? Dia berat banget." Ujar Zio. Tadi, Zio mengangkat Yuna dari mobil dan sampai ruang IGD.


Yuna yang membalas Zio, "Disini ada kursi roda. Aku tidak butuh bantuan kamu."


"Di hotel, gimana? Pacarku pasti akan kesusahan." Tatapan Zio kekanakan.


Lea memegang bahu Zio, ia berkata "Kamu tenang saja, disana banyak orang. Ada kursi roda juga. Ada juga trolly barang. Aku tinggal menyuruh pelayan mengambil barang mewahku ini."


Lea terkekeh dan sudah membayangkan kalau Yuna duduk di trolly pengangkut koper tamu hotel. Pastinya, menjadi tontonan.


"Aku apes, kamu senang."


"Yunaku sayang. Aku malam ini sudah terkejut. Sekarang, aku tidak mau sedih."


"Ada berita apa? Sampai kamu terkejut?"


Lea menatap ke dua orang itu, ia berkata "Ya ada. Pertemuan dua keluarga."


Zio menebak "Honey, kamu beneran dijodohin?"


Yuna yang tadinya suka omong kosong soal perjodohan, ia semakin penasaran. Apalagi, melihat sorot mata Lea.


"Iya, aku dijodohin. Tapi aku sudah menolaknya."


"Yes." Zio yang langsung memeluk Lea.


Yuna bertanya "Lea, kamu dijodohin sama siapa? Apa aku mengenalnya?"

__ADS_1


Yuna juga gelisah, dia cemas kalau Lea sampai dijodohin sama Kevin. Pastinya akan beneran putus bila hal itu benar terjadi.


"Ya ada, seseorang. Aku menolak saja. Soalnya aku nggak mau kalau ada acara perjodohan begitu."


Melihat itu, Zio curiga "Honey."


"Iya. Apa? Kenapa?" Tanya Lea.


Zio berkata "Aku merasa. Kalau kamu suka sama orang itu."


"Zio."


"Kalau kamu akan menikah dengan pria lain. Aku akan melajang seumur hidup."


Lea menepuk mulut Zio, "Kamu ini ngomongnya ngelantur."


Yuna berkata "Lebih baik, kita pergi dulu dari sini."


Lea dan Zio melihat ke sekitar.


Beberapa orang telah menatap mereka. Ada suster yang mendekat, mendorong kursi roda untuk Yuna.


Mereka pergi, sudah terpisah arah dan tujuan. Zio langsung pulang ke rumah. Sedangkan Lea, membawa Yuna pulang bersamanya, tentunya ke The Queen's Hotel.


Siapa yang tiba lebih dulu? Lea dan Yuna tentunya.


Yuna yang penasaran, tapi sepanjang perjalanan tadi, Yuna tampak diam dan hanya memandangi wajah Lea.


Setibanya di kamar dan sudah berganti pakaian tidur. Yuna terbaring di atas tempat tidur, menoleh ke wajah Lea lagi.


Yuna yang memeluk boneka pisang, ia bertanya "Lea, siapa orang itu?"


"Maksud kamu?"


"Orang yang dijodohin sama kamu."


"Owh, itu." Cuma begitu saja balasnya dan Lea terlihat fokus pada layar ponselnya. Untuk memastikan keadaan pacar imutnya dan Setya.


"Lea, siapa orangnya?"


"Mas Setya."


"Apa?!" Yuna terkejut.


"Iya, dia orangnya."


Yuna mendekat dan duduk bersandar di sebelah Lea. Memegang tangan Lea, "Lea, apa orang tua kamu tidak tahu tentang mereka berdua? Maksud aku. Kamu pacaran sama Zio, terus malah dijodohin sama Kakaknya Zio."


"Mereka tahu. Mereka saling mengenal dekat. Makanya, aku menolak perjodohan itu."


Yuna merasa kalau hal itu, akan menyakiti perasaan Zio.


"Kasian Zio."


Saat ini, di rumah Zio.


"Dari mana saja kamu?" Tanya Papanya Zio.


"Dari pesta kampus." Jawab Zio dan ia langsung berjalan pergi melewati sang Papa.


"Zio."


"Iya, ada apa?" Zio yang hendak membuka pintu kamarnya, jadi menoleh ke arah sang Papa.


"Kamu masih pacaran sama Lea?"


"Iya. Tumben, Papa tanya soal Lea. Papa sudah siap melamar Lea untuk aku?" Zio yang sangat antusias saat sang Papa menanyakan kabar pacarnya.


Mama Jenny mendekat, berkata "Papa, ini sudah malam. Sebaiknya kita tidur."


"Besok pagi aku sudah berangkat kerja, putramu sulit untuk aku temui."

__ADS_1


Zio malas mendengarkan, membuka pintu kamar. Belum sampai melangkahkan kakinya, sang Papa berkata "Lupakan pacarmu. Papa sudah menjodohkan Setya dengan putrinya Arjuna."


"Lea??"


__ADS_2