
Pagi kembali dengan senyuman manisnya.
Secerah mentari yang menyinari paginya.
Tampil menawan dengan blazer putihnya.
Menatap keseluruh para karyawan kantornya.
"Aku tidak suka. Aku sudah bilang. Kalau aku tidak suka. Aku lebih suka menjadi asisten."
Sang mantan asisten pribadi, pagi ini survei kantor. Sekalian perkenalan, selama nanti dirinya kuliah, akan berkunjung setiap sebulan sekali saja.
Mumpung masih di Ibukota, tidak ada salahnya mengunjungi kantor yang akan dia pimpin nantinya.
"Selamat pagi semuanya. Ini, disebelah saya. Ada CEO baru kita. Bos Yuna." Ucap asisten perempuan nyentrik.
Dia asisten, yang akan mengerjakan semua tanggung jawab Yuna. Selama, Yuna masih menyelesaikan kuliahnya.
"Aku malah bingung." Batin Yuna.
Pagi ini, Lea hanya sebagai sopir yang mengantarkan Bos baru ini, yang datang mengunjungi kantor.
"Kamu siapa?" Tanya Yuna, kepada asisten perempuan yang tampil nyentrik dan berusia 27 tahun.
"Perkenalkan. Saya Jejen. Jeniper Jaenab." Balasnya dan memang begitu adanya. Sosok humble, pekerja keras, cerewet dan centil.
Yuna membalas "Saya Yuna. Panggil saya Mrs. Yuna. Bukan Bos."
"Baik Mrs. Yuna." Balas Jejen.
Yuna terkesan cuek dan tampak dingin dimata semua staffnya. Berjalan dengan pancaran aura cool-cool.
Melihat ke seluruh ruangan kantor. Perusahaan advertising, semacam periklanan dan masih bekerja sama dengan A.J.
Sebut saja perusahaan I.A. Iklan Arjuna. Yuna melihat ke ruang kerjanya, tampak nuansa putih. Gedung kantor 3 lantai dan terkesan minimalis. Tapi, ruang kerjanya ini, tipe Yuna sekali.
"Lumayan." Gumam Yuna dan mencoba duduk di kursinya.
Jeje menatap Yuna dengan senyuman sedikit menyengir aneh. Tetapi, Jeje tidak berfikir kalau Yuna ini hanya aji mumpung. Jejen mengira, kalau Yuna putrinya pemilik perusahaan A. I.
"Mrs. Yuna, kalau butuh apa-apa. Bisa panggil saya. Saya duduk di ruang sebelah." Ucapnya dengan begitu santai dan tidak merasa canggung, meski baru bertemu.
"Baik Jejen." Balas Yuna tenang.
Jejen berkata "Saya, mendapat informasi dari pengacara kantor pusat. Makanya, saya pagi tadi memberikan sambutan kecil-kecilan untuk Mrs. Yuna."
"Baik, saya terima sambutan kamu." Ucap Yuna dengan tatapan dingin.
Jejen yang tampak berdiri dihadapannya, berkata "Mrs. Yuna, saya permisi."
"Iya, silakan." Balas Yuna santai.
Yuna memasang senyuman datar dan Jejen merasakan kalau Yuna sosok yang kaku dan tidak ramah.
"Dia masih sangat muda?? Semoga saja, dia tidak menyusahkan aku." Batin Jeje dan ia menghubungi sang pengacara tampan dari kantor A.M Group.
"Uu, aku makin kesemsem sama Mr. tampan." Tangannya mengetik cepat dan mulutnya bergerak-gerak sesuai ketikan. "Tugas sudah saya laksanakan dengan baik."
Jejen memang rada-rada, tapi otaknya encer dan tanpa harus di perintah atasannya, ia bergerak cepat. Lulusan S1 dan melanjutkan kuliah S2, di sabtu minggu.
Di depan, Lea yang bingung mau ngapain. Malah nongki dan duduk di post keamanan, yang ada di parkiran.
"Semua sibuk kerja. Aku nganggur. Apa, aku harus minta pekerjaan sama Papa?" Batin Lea yang berubah aneh.
Seorang staff keamanan, yang sudah beruban dan Lea tampak mengamatinya.
"Papa kenapa mempekerjakan Bapak tua, apa hanya ingin membantunya saja?"
Lea hanya berkenalan dengan pria berusia 60an. Lalu duduk di post keamanan.
__ADS_1
Pria tua itu, tampak sibuk di jam begini. Apalagi mengatur tempat parkiran. Ada beberapa staff yang baru tiba.
Setelah kembali ke post, Lea tersenyum.
"Mbak, mau kopi?" Tanya Pak Tua.
"Owh, tidak Pak. Saya jarang ngopi." Jawab Lea.
"Mbak sukanya apa? Teh manis?" Tanya lagi dan Lea tersenyum.
"Sebentar, saya akan ke dalam. Minta teh sama OB." Ucapnya.
Lea berkata "Pak, saya sudah bawa minum. Ini, saya bawa."
Lea memperlihatkan botol minumannya. Staff keamanan itu tampak duduk di sebelahnya.
"Owh, saya tidak melihatnya. Saya pikir, Mbaknya mau ngopi. Nunggu bosnya pasti lama." Ucapnya dan mengira kalau Lea sopir pribadi dari seorang bos baru.
Lea bertanya "Kenapa Bapak masih bekerja?"
"Saya dari dulu sudah bekerja disini. Saya betah disini." Ucap Pak Tua dengan semangat.
"Owh, mungkin tempat ini kenangan." Batin Lea.
"Memangnya, Bapak tidak berniat pensiun?" Tanya Lea penasaran.
"Saya tadinya berniat pensiun. Tapi, setiap hari libur, di rumah malah pusing. Nggak punya kesibukan malah berasa nggak enak badan. Kalau disini, setiap hari bisa melihat banyak orang. Bertemu banyak orang dan melihat keramaian kendaraan. Apalagi, saya sering bertemu orang baru, seperti sekarang ini. Saya bertemu Mbak sopir yang cantik." Ucapnya dan memang begitu adanya.
"Emh, Bapak bisa saja. Berarti Bapak sudah lama kerja disini?"
"Saya kerja di post ini, sudah 30 tahun."
"Wah, saya belum lahir Pak. Itu seusia Kakak saya." Ucap Lea bangga.
"Memangnya, Mbak berusia berapa?" Tanya Pak Tua begitu ramah padanya.
"Saya baru 20 tahun Pak."
"Wow, Glory??" Lea jadi penasaran.
"Memangnya, nama anak Bapak siapa? Soalnya, saya juga kuliah disana."
"Anak saya, Soniya. Kuliahnya, karena beasiswa." Ucap Pak Tua.
Lea menoleh dan seketika terkaget "Apa Bapak ini, beneran Papanya Soniya? Kuliahnya karena Beasiswa. Kalau sampai di D. O. Apa Mama tahu, asal usul keluarganya?? Terus, dia pindah ke kampus mana?"
Soniya, teman dekat Clarissa, dia yang memberikan minuman kepada Yuna.
Lea masih mendengarkan cerita orang tua itu, hanya tinggal ayah dan Ibunya pergi entah kemana. Sudah 15 tahun ibunya pergi. Soniya, anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya, menjadi pengawal di perusahaan besar yang ada di Ibukota.
"Pengawal? Siapa?" Tanya Lea.
Lea membalikan badan saat ada yang memanggil orang tua itu.
"Ruben." Lea terperanjat dan syok.
Wah, gila. Orang itu pengawal Mamanya dan begitu setia dengan Lea. Apapun, informasi yang Lea dapatkan dari dia.
Lea berpura-pura tidak melihatnya dan pria itu juga tahu kalau Lea dari tadi duduk di kursi post kemanan itu.
Tidak lama, ada satpam yang masih muda dan tampak gagah. Masuk ke ruangan minimalis itu.
"Maaf, saya cuma menumpang sebentar." Ucap Lea.
Lea beranjak pergi dan Ruben melihat ke arahnya. Perasaan Lea, semakin tidak nyaman.
"Clarissa, Zio, Yuna dan Soniya. Lalu, Ruben." Batin Lea semakin tidak enak.
Lea buru-buru masuk ke mobil, ia mengirim pesan kepada Yuna. Yang mengatakan, kalau dirinya harus pergi, nanti akan ada sopir yang menjemput Yuna.
Wuuss!!
__ADS_1
"Ada apa ini?" Batinnya bertanya.
Lea segera pergi dan berniat ke kampus. Lea juga belum mendapat konfirmasi resmi tentang semuanya.
Semisal Yuna dan Zio juga di D. O. Pastinya ada surat yang masuk ke email Yuna. Lea sudah melihat, tidak ada informasi apapun di dalamnya.
Seett!!
Mobil Ruben menghalang mobilnya. Tetap di sebuah jalan raya dan mobil Ruben bisa menerobos mobil lainnya.
Lea sudah memasang taring dan tatapannya begitu garang.
Tok tok tok
"Nona." Panggilnya.
Perlahan, Lea membuka kaca mobilnya.
"Kamu berani menghalangi jalanku?" Tatapan Lea sudah sangat marah padanya.
Ruben menatapnya, ia berkata "Nona, saya bisa menjelaskan kepada Nona."
Lea bertanya "Apa maksud kamu?"
"Nona Yuna, tidak hamil." Jawabnya.
"Apa??!" Lea terlihat sangat syok.
"Benar Nona Lea. Nona Yuna, hanya memeriksakan dirinya, apakah dia masih perawan atau tidak." Ucapnya.
"Jangan bohong." Ucap Lea tegas.
"Tuan besar, sudah memalsukan hasilnya."
"Papa??"
"Nona, saya hanya menyelidiki. Demi adik saya." Jawab Ruben.
"Ruben, kamu jangan macam-macam."
"Nona Yuna, sudah tahu. Tuan Zio juga mengikuti arahan Tuan Besar."
"Papa?!, Nggak mungkin!!" Gertaknya.
Setelah ada celah, untuk mobilnya lewat. Lea kembali tancap gas.
Wusss!
Ruben tetap berdiri dan menatap mobil yang berjalan pergi. Lea semakin frustasi akan keadaan.
"Papa? Kenapa Papa tega sama Yuna?" Batin Lea dan ia sudah menangis tersedu-sedu.
"Apa Papa juga yang mengatur Bang Kevin, agar selalu dekat dengan Micheel?" Batin Lea semakin resah.
"Mereka tidak di D. O.?"
"Papa, apa mau Papa??"
Lea semakin kesal dengan dirinya sendiri. Lea menghubungi seseorang untuk menanyakan keberadaan sang Papa. Lea ingin mendengar sendiri dari mulut Papanya.
Setelah 30 menit perjalanan, Lea tiba di A. J. Ternyata, Papanya sedang melihat proyek film yang di produseri oleh Kevin.
"Hebat, bagus filmnya. Om suka." Ucap Papa Arjuna kepada Kevin.
Kevin berkata "Ini semua, juga berkat Om Arjuna. Mana bisa, saya sampai dititik ini, kalau tidak belajar dari ahlinya."
"Kamu punya bakat sendiri. Meski kamu menirukan Om, konsep yang kamu ambil akan tetap berbeda. Om bisa melihatnya. Om yakin, film kamu akan laris di pasaran."
Lea membuka pintu, "Papa."
"Sayang."
__ADS_1