
Yang tidak suka ceritanya di bab ini. Silakan lompati. Sedikit membawa ke gairah manjaa, 21+
Suara itu, membuat Yuna merinding. Tanpa menoleh ke belakang, Yuna gelisah.
Zio yang menatap ke arah belakang.
"Mama. Yuna cuma bercanda." Ucap Zio dan tampak tenang. Meski batinnya bergeming "Semoga Mama tidak mencari tahu faktanya."
Mama Jenny, bertanya Tidak hamil?"
"Iya." Yuna jujur dan ia ingin terlepas dari omongan jahat ibu mertuanya.
Mama Jenny, dari semalam memang mengawasi putranya. Bahkan, kemana saja perginya Zio. Mama Jenny masih mengikuti putranya itu.
Sampai saat ini, di mobil putranya dan duduk di belakang. Yuna lupa, kalau ibu mertuanya, bisa saja bersama mereka berdua.
"Kamu beneran tidak hamil?" Suara Mama Jenny semakin meninggi dan tatapan matanya sudah mengerikan.
Zio berkata "Mama, sudahlah. Yuna memang sedang bad mood. Dia hanya bercanda saja." Zio mencubit gemas Yuna, berkata "Iya-kan Darling?!"
"Tante Jenny, saya tidak hamil." Ungkapnya tegas. Yuna berharap, semoga semuanya berakhir hari ini juga.
Mama Jenny berkata "Zio, pulang. Ayo kita pulang."
Yuna dalam hatinya tersenyum, "Yes! Aku bebas."
Zio berkata "Mama tenang. Nanti aku juga akan pulang."
"Sekarang!! Pulang ke rumah kalian berdua. Mama ingin tinggal bersama kalian berdua."
Duaaarr!
Yuna merasakan hawa dingin merasuk ke dalam tubuhnya dan Zio perlahan mengemudikan mobilnya.
"Mama mau tinggal dengan kita??" Tanya Zio dan tampak penasaran.
"Iya, Mama mau tinggal sama kalian berdua."
"Kalau dia beneran tidak hamil, bisa gawat! Pantas saja, Papa mengulur waktu pemindahan kekuasaan atas nama Zio. Pasti, ini rencana busuknya Papa. Baik, aku siap melawannya dan membuat gadis ini beneran hamil, anaknya Zio." Batinnya sudah gila.
Zio berkata "Mama yakin?"
Mamanya berkata dengan suara kemayu. "Iya. Papamu pergi ke luar kota. Mama nggak ada teman di rumah."
Yuna menoleh ke wajah Zio, "Duh, apa yang Lea bilang, terbukti. Aku beneran punya Mama mertua. Mana jahat begitu, kalau ngomong nggak lihat sikon. Huft."
Zio menoleh ke wajah Yuna, dan Yuna jadi salah tingkah di buatnya.
"Darling, kamu kenapa?"
"Aku tidak apa-apa." Jawabnya.
Mama Jenny bertanya "Kenapa bisa keguguran?"
Zio berkata "Yuna stress."
"Besok buat lagi, kamu tidak perlu cemas. Mama akan meracikan ramuan tokcer." Ucap Mama Jenny.
Yuna berkata "Tidak Tante. Saya juga masih kuliah. Tidak perlu buru-buru."
Zio mengelus rambutnya, ia berkata "Darling, jangan begitu. Mamaku sudah berusaha menjadi mertua yang baik. Kamu jangan menolaknya."
"Zio, tapi. Aku." Yuna gelisah.
Saat ini, yang ada dalam benak Zio hanyalah memenuhi harapan mantan kekasihnya. Begitupun dengan Yuna, hanya menuruti perintah Tuan Besarnya.
"Yunaku sayang, Darling. Kamu harus terbiasa sama Mamaku. Panggil Mama juga, demi aku. Oke." Ucap Zio dan Yuna hanya mengangguk.
Mama Jenny duduk bersandar dan merasa hal aneh tentang kehamilan Yuna. Meskipun, dirinya tidak menyukai Yuna, kesempatan emas untuk meraih perusahaan suaminya, tidak boleh di sia-siakan. Saatnya, membuat Yuna benar-benar hamil anaknya Zio.
Di tempat lain, Lea dan Setya yang telah tiba di kamar hotel pribadinya.
Berteman senja yang akan tenggelam dalam kegelapan malam.
"Mas, aku mau bersamamu." Ucap Lea.
Setya berkata "Kamu bersamaku. Saat ini dan sampai nanti."
Lea kurang puas akan perkataan sang suami. Merangkulkan kedua tangan di atas bahu suaminya.
__ADS_1
Lea berkata "Aku ingin honeymoon."
Setya tersenyum, memberikan kecupan di keningnya. Kemudian ia berkata "Baik, aku akan membawamu bulan madu."
"Aku mau ke disini saja."
"Disini??" Tanya Setya yang bingung.
Lea berkata "Iya, malam pertama kita disini. Bukannya bulan madu hanya bercinta dengan segenap cinta. Disini lebih hemat biaya, terus nggak perlu jauh-jauh, yang penting seminggu ini kita berduaan."
Setya semakin senang, ia berkata "Baik, mulai malam ini. Kita berbulan madu di kamar ini."
Lea naik ke atas pinggang suaminya dan Setya menopang paha istrinya. Keduanya mengucup lembut bibirnya.
"Tahan, sudah mau maghrib."
"Iya."
Setya mendudukan istrinya di sofa dan berjalan pergi ke meninggalkannya.
Lea gemas, ia meremas boneka kesayangannya. "Yes! Aku ingin bersamamu."
Setya di ruang ganti. Mencari kotak special untuk istrinya. "Tapi kalau disini, tiba-tiba ada yang datang bagaimana? Apa aku harus mengajaknya pergi ke rumah? Apa ke hotel lain saja?"
Setya kembali ke tempat istrinya bersantai. "Sayang, ini buat kamu. Kamu harus memakai pemberianku ini."
"Apa ini?" Lea semakin penasaran.
Tanpa bersabar, Lea membuka kotak itu dengan cepatnya dan terkagum saat melihatnya. Menjejeng di depan sang suami tercinta.
"Uuh, suamiku."
"Aku tidak tahu, apa yang kamu suka. Aku hanya mengira-ngira saja." Ucap Setya polos.
Lea berkata "Kalau begitu, kita harus pergi dari sini. Aku mau berduaan saja. Kita berdua."
Malam bertabur bintang di sebuah hotel berbintang. Luxury room, telah dipesan special untuk istri tercinta.
"Wow." Lea terpesona, ia masih memegang lengan tangan kiri suaminya.
"Emh, Mas Setya berusaha romantis."
"Tidak, aku hanya memesan kamar bulan madu." Balasnya datar sekali.
Lea perlahan berjalan ke atas ranjang dan pemandangan malam ini, begitu menakjubkan mata. Gemerlap malam ibukota dengan lampu-lampu bagaikan bintang.
Lea telah menggelapan ruangan kamar ini. Sambil menatap ke luar.
"Sayang, jangan buru-buru."
Lea melepaskan jas sang suami. Lea berkata "Aku hanya melepaskan jas. Biar Mas Setya nggak kegerahan."
Bilangnya saja begitu, tapi tangan Lea sibuk melepaskan kancing kemeja suaminya. Setya tampak tenang, atas sikap Lea yang telah menjajahnya.
Sentuhan lembut tangan istrinya dan Lea sudah berada di atas pangkuan Setya.
Kedua tangan sudah bertopang bahu suaminya, memandang manis dalam keheningan.
Perlahan, tangan kirinya meraih kepala suaminya, sedikit menjabak lembut rambut Setya.
Lea mendekatkan wajahnya dan berbisik "Mas Setya sayang, bolehkah aku memulainya?"
Setya tanpa membalasnya meraih pinggul Lea dengan hentakan. Semakin lekat, sampai menempel ke bagian Junossnya.
"Kamu memang nggak sabaran." Balas Setya, dalam hatinya berdesir mesra.
Pergulatan malam di atas ranjang sampai mengeraang merdu.
Hawa panas semakin menganga mencecap dan terus mencumbu.
Bermain sampai ke pusat inti dan semakin ingin memacu.
Paras indah bergoyang sexxy di permainan ronde kesatu.
"Mas." Desssahnya.
Baru jam 11 malam. Terasa masih sore.
__ADS_1
Kedua insan yang sedang berada di dalam kamar mandi mewah, tampak saling menggoda.
"Aaa, geli Mas." Keluh Lea.
"Katanya mau bulan madu." Balas Setya, yang tidak melepaskan istrinya.
Suaminya memang sudah berubah nakal, kedua tangannya masih sibuk memillin dua bukit kembar, yang selalu ia sebut dengan My Sweetie.
"Emmmh,..." Lea yang tidak bisa menahan, saat bibir suaminya menempel dan mencencepi lehernya. Buluu halusnya kembali bangkit. Meski sebagian tubuhnya, sudah basah karena percikan air shower.
"Tenanglah."
"Mas,.." Suaranya begitu manja dan perlahan membalikan badannya.
"Kenapa menatapku seperti itu??" Setya melihat wajah istrinya sudah berbinar dan bibir istrinya seolah meminta.
Setya kembali melahab bibir imut itu, melummatnya dengan gairah lembut.
Setya perlahan melepas tali lingerie istrinya, Lea berkata "Emmhh, diingin."
"Aku akan menghangatkanmu." Bisiknya menggoda.
Menuntunnya dalam permainan di bath tub. Merebahkan istrinya ke dalam air hangat dan membuatnya bergairah.
Aromaterapy dengan wangi bunga mawar.
Lea memejamkan kedua matanya, Setya mengecup keningnya, begitu lembut kecupannya, sampai Lea perlahan membuka matanya.
Lea tersenyum, perlahan ia berkata "Suamiku, cuma milikku."
Setya membalasnya, "Kamu istriku. Kamu hanya milikku."
Kedua bibir semanis permen kapas. Saling melummat dengan memainkan linddahnya. Goyangan liddah yang lembut, selembut memakan permen kapasnya. Saling membellit gemas dan tak ingin terlepas.
Saat tangan mereka dengan jari-jemari saling menyatu. Ciuman mesra sampai menggunggah hasrat gairah manja.
"...Mas!" Desssahan lembut dari bibir tipisnya Lea. Saat tangan Setya sudah bermain-main di bagian intinya.
Bibir Setya begitu pandai, saat mencecaap bagian leherrnya.
Liddahnya tak berhenti menari. Menggigit gemas pucuk Sweetie.
"Oh.. My Sweetie." Batin Setya, saat menikmati kesayangannya.
Si Junnoss juga sudah merajuk dan ingin segera masuk ke dalam sangkaarnya.
"Mas..." Dessahnya dan menggigit kecil bibir bawahnya.
"Sayang, ini pelan."
"Mas!!" Baru maju mundur, belum di hentakkan, udah aahh uh ahh.
Bilangnya doang pelan-pelan. Untungnya, bath tub itu nggak ikut goyang-goying.
Semakin meliuk indah, meraih pinggulnya. Lea semakin bersemangat, mencecappi leher, hingga dada kekar suami tampannya.
"Mass..!!!" Jeriitnya.
"Saaayang!! Dengan gerakan semakin memaccu.
,,menjerit!!
,,Menggelincaang!!
Yuuhuu, Setya menyembuurkan kehangatan untuk istrinya.
Meraih tubuh istrinya, dalam dekapan manja, Setya berbisik "I Love You."
"I Love You too."
Di kamar Zio, melihat istrinya berubah erootiss.
"Apa Mama beneran kasih ramuan gilaa sama Yunna?"
"Imuut, kenapa kamu semakin tampan?!
__ADS_1