
Hallo para pembaca.Yuk, sapa othor di komentar. Biar othor semangat lagi saat nulis ceritanya.
Pagi dikejutkan oleh Riko, yang hanya berpura-pura kejang dan seolah sudah kesurupan makhluk penunggu hotel.
Padahal, Setya dan Riko hanya ingin ngeprank Lea. Eh, alhasil kena semburan dari Yuna.
"Mas Setya bener-bener deh. Suka bikin aku panik." Ujar Lea.
"Maaf sayang. Habisnya, kamu kadang juga suka usil." Balasnya, dengan wajah tersenyum manis.
Lea berkata "Ya itu dulu. Sekarang aku sudah menikah. Aku tidak begitu lagi. Tapi, aku nggak pernah nyuruh orang buat kayak begitu tadi. Bang Riko kejang, matanya melirik ke atas, menakutkan."
"Riko aktingnya bagus." Seloroh Setya, yang masih saja tersenyum manis
Lea mencubit lengan tangannya "Aaa, ngeselin. Suamiku hobby ngreprank aku."
"Iya, iya ampun sayang. Biar kamu nggak jenuh sama aku."
Lea juga jadi senyam-senyum gemas, dan Setya meraih tangannya mengecup pungung halus mulus itu.
Lea melihat jalan, ke luar kota, "Mas, kita mau kemana?"
Tatapan Lea itu, penuh cinta dan makin tersayang-sayang, sama suaminya yang menurutnya jadi ngeselin.
Setya yang tampak mengendarai mobil gantengnya, ia berkata "Kita mau ke pesta, hari ini ada undangan pesta di Calilla Hotel."
"Jauh banget kesana. Aku serasa pulang kampung. Pantas saja, Mas Setya pakai jas." Gumamnya, dan Lea jadi menoleh ke arah penampilannya sendiri.
Lea melihat penampilan Setya yang terkesan formal, sedangkan dirinya biasa saja.
"Mas Setya harusnya bilang kalau kita mau ke pesta." Tatapan Lea tampak tidak senang dan matanya melotot.
"Sayang, aku juga baru ingat. Kalau acara pestanya siang ini. Mumpung tanggal merah, kamu nggak ada kuliah, dan kebetulan ada undangan untuk kita berdua. Ya sudah, kita harus datang kesana." Jawaban suami ini, malah membuat pusing sang istri.
Bukan itu masalah yang ada dalam benak Lea saat ini, meski fashion yang dikenakannya masih tampak serasi, dengan penampilan sang suami.
Pikiran Lea, seharusnya tampil lebih menawan, apalagi membawa nama baik suaminya. Lea yang harus mendampingi suaminya dan akan dipanggil Nyonya Setya.
"Sudah dong cemberutnya. Kita sudah sampai dan mau berpesta." Ucap Setya, saat mereka tiba di parkiran hotel.
"Aku jadi malas."
Sepanjang perjalanan Lea ngambek. Setya jadi semakin heran. Katanya Zio, Lea itu bukan tipe gadis yang ambekan. Malahan, Lea selalu bisa nenangin Zio. Giliran sama Setya, manis manjanya nggak ketulungan.
Setya memegang kedua tangan istrinya. Menatap wajah istrinya dengan penuh perasaan, Setya berusaha untuk menjadi suami yang sabar dihadapan Allea Gita Madaharsa.
Setya berkata dengan lembut, "Sayang, ini lihat undangannya. Dresscode bebas sopan. Kamu udah tampil sopan. Tidak memakai dress terbuka. Aku juga suka penampilan kamu yang selalu ceria begini."
"Mas Setya, tapi ini acara pesta. Aku berpakaian begini. Nantinya, ada banyak orang yang akan menatap ke arahku, aku malu. Biasanya, kalau aku menemani Papa, ke acara pesta. Aku pakai gaun malam yang mewah, semua tamu tidak ada yang menatapku."
Ya..iyalah, meski Lea memakai gaun malam terbuka. Siapa yang akan berani melirikan matanya, ke arah putri cantiknya Papa Arjuna.
"Biasanya kamu pakai gaun mewah yang seperti apa?" Tanya suaminya. Tatapan suaminya sudah mengalahkan ego dan kekesalan Lea saat ini.
Lea menunjukan fotonya yang aduhai, terlihat bagian punggung terbuka. Itu, baru satu foto saja, belum foto yang lainnya, masih banyak.
__ADS_1
"Sayang, aku paham. Aku suka kamu yang begini. Yang sekarang ini. Bukan kamu yang seperti sundel bolong." Ucapan pedasnya. Kalem, sekalinya ngomong tajem. Itulah kenapa, Yuna selalu malas bila harus bertukar kabar tentang Lea. Pedaasss!!
"Mas Setya malah miripin aku sama sundel bolong." Lea yang tidak terima akan ucapan suaminya.
"Nah, itu punggung kamu kelihatan. Aku tidak suka. Aku suka kamu yang berpakaian seperti sekarang ini. Aku tidak suka, tubuh kamu dilihatin orang lain, apalagi cowok yang punya imajinasi mesum."
Lea tampak terdiam, sudah banyak yang menasehatinya soal gaya berpakaian Lea. Baik orang tua sendiri, maupun dari keluarga besarnya. Baru sekarang ini, Lea mau mendengarkan nasehat dari sang suami tercinta.
"Iya. Aku mau ke acara pesta itu. Tapi, jangan jauh-jauh dari aku." Ucapnya dengan wajah berseri.
"Aku tidak akan jauh-jauh dari kamu." Balas Setya dan ia semakin kegemasan. Mencium bibir istrinya dengan gemas.
Setelah keluar dari mobil dan berjalan dengan bergandengan mesra. Ada sosok mata yang melihat mereka.
"Setya." Ucap dia dan masih berada di dalam mobil.
Dia melihat Setya yang menggandeng tangan Lea. Terlihat akrab dan saling melempar canda saat berjalan di depannya. Setya kembali mencium istrinya, dibagian pipi kanan yang menggemaskan.
"Apa mereka pacaran?" Tatapan itu terlihat tajam dan ia merasa gelisah.
Setya dan Lea tidak tahu kalau di pesta ini nanti, juga ada sosok sang mantan.
Setya dan Lea berdiri di depan pintu lift. Micheel datang mendekat ke arah mereka.
Mereka berdua lebih dulu, menaiki lift itu masih tampak mesra.
"Gemees!" Setya kembali mencium istrinya dan sekita menoleh ke arah lain.
Micheel yang masuk ke dalam lift itu. Lea menatapnya dan tanpa ada rasa gelisah, tapi cukup berdebar karena cemburu.
Setya minggir ke sisi istrinya dan masih terus memegang tangan Lea.
"Apa yang mereka lakukan?" Micheel yang sangat penasaran, tapi dia tidak ingin menoleh ke belakang. Lagian dia sudah putus, dan saat ini ada acara keluarga. Setidaknya, dia harus tampil manis dan tidak ingin lagi menangis.
Apakah Micheel sudah menyesali keputusannya? Tidak. Karena dia memang memilih karirnya. Dari dulu, cita-citanya ingin menjadi bintang film.
Tapi,
Micheel belum bisa melupakan Setya.
"Mas Setya, geli." Ucapnya Lea.
Tangan Setya memang jahil, dan tidak henti menggoda istrinya.
"Sayang, aku cuma kegemasan sama kamu." Setya yang meninggikan suara merdunya.
Sepertinya, yang tidak bisa dewasa itu Setya. Eittz, tapi Micheel juga suka mencari masalah dengan Setya, saat kondisinya di bawah. Micheel malah mengganggu dirinya.
Ingat acara pesta Nada dan Varell. Micheel datang sebagai bintang yang menyanyikan lagu romantis untuk pengantin.
Waktu itu, Micheel melihat Setya yang bekerja sebagai pelayan, membuat dirinya gelisah dan akhirnya bikin ulah, seolah-olah Setya menumpahkan minuman sampai mengenai gaun yang dia kenakan. Karena masalah itu juga, Setya di tegur oleh pimpinan The Queen's Hotel.
"Mas, hentikan." Pinta Lea.
Setya berkata "Oke. Tapi nanti malam, aku tidak akan melepaskan kamu."
Deegh!
__ADS_1
"Apa maksudnya dengan itu?" Batin Micheel.
Micheel belum bisa move on. Selama libur syuting, Micheel malah teringat terus akan sosok Setya. Sampai, akhirnya dia menangis sejadi-jadinya. Baru merasa lega dan berusaha tidak mengingatnya. Saat ini, malah bertemu dan Setya bermesraan dengan perempuan lain.
Setelah pintu lift terbuka, Micheel buru-buru pergi ke kamar, yang sudah dia pesan sebelumnya.
Lea menatapnya yang berlari. Ntah kenapa, Lea malah turut merasakan hatinya yang seperti tertusuk duri.
"Mas Setya." Tatapan Lea menegurnya. Setya berpura-pura tidak mengerti.
Lea memegang lengan tangan kiri suaminya. Kedua orang itu, berjalan ke arah ruang VIP. Ternyata sebuah acara pesta ulang tahun.
"Ulang tahun anak-anak. Kenapa Mas Setya nggak bilang kalau acara pesta anak-anak, aku nggak bawa kado."
Lea saat melihat pintu masuk ruangan, yang dipenuhi rangkaian balon warna pastel.
"Sayang, itu undang juga cuma begitu saja. Pesta VIP. Aku pikir, teman Mama mengadakan acara pesta sosiallita seperti Mama Jenny."
"Jadi, yang kasih undangan itu. Mamaku?" Tatapan Lea yang syok.
"Iya. Mama mertuaku. Mama Beby."
"Huh, aku jadi punya firasat nggak enak. Apalagi, tadi ada Micheel. Apa Mama memang sengaja?" Batin Lea jadi gegana sendiri.
"Gimana? Aku terserah kamu saja."
Tapi, dirinya tadi sudah terlanjur basah. Bahkan, di hadapan Micheel, sang suami malah menggodanya terus menerus.
"Ya sudah, ayo masuk. Aku suka acara pesta." Lea yang kembali dengan gaya tengilnya.
Begitu masuk, mereka sudah disambut oleh tuan rumah acara pesta.
"Lea." Suara manis dari seorang ibu muda. Yang tidak lain, ialah guru matematika di SMA Lea.
"Bu Sindi." Lea jadi bersemangat, saat bertemu kembali dengan sang guru.
"Apa kabarmu, sayang?" Tanya Sindi.
"Baik Bu Sindi."
"Lama sekali kita tidak bertemu."
Saling tersenyum dan Sindi masih saja memegang tangan Lea.
"Bu Sindi, aku sudah menikah." Bisiknya. Sindi jadi melirikan mata indahnya ke arah Setya.
"Bagaimana dengan Zio?" Tanya Sindi, yang sangat mengetahui hal itu.
"Aku sama Zio, sudah seperti saudara." Jawab Lea dan memang itu kenyataannya.
Micheel datang setelah melepaskan amukannya di kamar hotel. Ia lebih lebay kalau sedang marah. Ya, tidak berbeda jauh dengan Lea. Hanya saja, penampilan luarnya selalu kalem, tidak seperti Lea yang suka heboh dan sesuka hati.
Setelah mengenalkan suaminya, Lea mengajak Setya untuk bergabung dengan tamu lainnya. Yang tidak lain, para anak-anak berusia 9 tahun.
"Cherry, selamat ulang tahun."
__ADS_1
"Kak Lea kenapa terlambat? Padahal hadiahnya sudah datang dari pagi."
Lea mengerti, ini ulah Mamanya. Lea berkata "Kakak tadi kena macet."