
Di rumah mewah bak istana, Mama Jenny sudah berapi-api. Kala putranya kabur dan tidak ditemukan oleh para bodyguard sewaannya.
"Kalian semua tidak becus."
"Maaf Madam. Kita semua sudah berusaha."
Mama Jenny mengepalkan tangan kanannya, ia membatin "Pasti Hendri dan Arjuna akan segera menikahkan putraku dengan pembantu itu. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Ayo kita kembali ke Jakarta."
"Baik Madam."
Swiing!
Terbang lagi ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta. Mama Jenny juga tidak bisa menemukan putra imutnya itu.
"Siial! Mereka pasti sudah mengatur semuanya. Bila itu terjadi, aku akan menuntut mereka semua."
Mama Jenny yang sudah stress sendiri, dan ia membayangkan kalau putranya akan menikah dengan Yuna.
"Tiiidddaaakk!!" Teriaknya.
Di sebuah kota dan jauh dari hiruk pikuk ibukota. Papa Arjuna dan Mama Beby, tampak menatap wajah Zio.
"Zio, bagaimana keadaan kamu?" Tanya Mama Beby.
"Saya baik-baik saja." Jawabnya dan raut wajah Zio tampak begitu pucat.
Papa Arjuna bertanya "Apa Mama kamu yang mengajak kamu pergi?"
Papa Arjuna sebenarnya sudah tahu, tapi hanya ingin memastikan, apa Zio akan menutupi perbuatan Mamanya kepada dirinya itu.
"Iya Om Arjuna. Mama membawaku pergi." Jawab Zio tampak menyakinkan.
Mama Beby berkata "Tante sudah menerima laporan dari kampus. Kamu dan Yuna, sudah di D. O. Bukan hanya kalian berdua. Tapi dua sahabat kamu dan yang lainnya juga. Kalau untuk masalah kehamilan Yuna, Tante yang akan bertanggung jawab, karena Lea."
Zio berkata "Lea tidak bersalah. Saya yang salah. Saya yang harus bertanggung jawab. Bukan Tante."
Papa Arjuna memegang tangan Mama Beby, dan tampak menggeleng dengan tatapan wajah yang telihat sendu.
Papa Arjuna bertanya pelan, "Zio. Apa kamu ingin menikahi Yuna?"
Zio menjawab, bergetar "Saya memang ingin menikahi Yuna. Karena perbuatan saya, Yuna sampai hamil. Saya juga sudah menerima kenyataan ini.
"Lalu, bagaimana dengan Mama kamu?" Tanya Mama Beby yang gelisah.
Zio berkata "Saya bisa meyakinkannya."
"Mama kamu sepertinya, tidak akan semudah itu, memberikan restunya."
"Saya bisa menikah diam-diam. Yang terpenting. Bayi saya, bisa memiliki Ayah kandungnya." Balasan Zio serius.
Papa Arjuna berkata "Pernikahan bisa saja terjadi, tapi."
Zio menatapnya saja dan tampak mendengarkan mereka.
"Tapi, Yuna dibawa pergi sama Lea. Kita, belum menemukan mereka."
"Pergi? Lea pergi? Mas Setya?"
"Setya juga, ikut bersama mereka."
"Saya laki-laki, saya bisa menikahinya atas ijin Ayah kandungnya Yuna. Saya akan segera menikahinya. Kalau perlu disiarkan langsung oleh Media. Yuna pasti bisa melihat saya." Ucap Zio dengan yakin.
Mama Beby berkata "Jangan terburu-buru. Kita harus bisa menunggunya."
"Tante, pasti Mama akan segera mencari saya. Mama tidak akan membiarkan saya menikahi Yuna." Ucapnya dengan penuh perasaan.
__ADS_1
Papa Arjuna berkata, "Bisa saja kamu menikah. Om yang akan mengaturnya."
"Papa, jangan libatkan media. Mama juga mencemaskan Lea." Ucap Mama Beby.
"Papa hanya mau menikahkan di depan Ayahnya Yuna dan sesuai catatan sipil. Tidak, seperti yang Mama bayangkan." Ulas Papa Arjuna.
"Bisa saja, Mama sudah menuju ke rumahnya Yuna." Ucap Zio.
"Kamu tidak perlu cemas. Ayahnya Yuna sudah bersama kita disini."
"Disini?" Zio menoleh ke arah pintu, dua orang pria mendekat.
Zio bangkit dari kursinya, dan berdebar. Menatap ke arah mereka.
"Papa." Ucapnya saat melihat Papanya.
Zio mendekat dan memeluk Papanya "Papa, maafin aku. Aku sudah salah. Aku membuat kesalahan besar."
"Zio, kita sudah mendengarnya. Kamu harusnya meminta maaf kepada Ayahnya Yuna. Bukan sama Papa kamu."
Zio menangis, dan memang terlihat wajah kekanakan. Papanya, juga tampak berkaca-kaca. Sudah bertahun-tahun mengabaikan putra imutnya ini, sampai salah pergaulan.
"Papa, minta maaf. Papa terlalu sibuk dengan urusan Papa. Sampai tidak memperhatikan kamu."
Keduanya jadi berpelukan lagi, Presdir Hendri, mengakui dirinya juga bersalah dalam mendidik putra imut ini.
Ayahnya Yuna, sampai ikut terharu. Ayahnya Yuna juga merasa terluka, saat mendengar kehamilan Yuna dari Lea. Sampai beliau tidak bisa berkata apapun dan hanya terucap kata yang diberikan pada Lea saat pertemuan siang itu. "Aku serahkan Yuna padamu. Dari dulu, Yuna sudah memilih tinggal bersamamu."
"Mendengar ucapanmu. Aku merestui, kamu menikahi putriku." Ucap Ayahnya Yuna.
Pria berbadan kekar, jago bela diri dan tinju. Beliau ini, juga guru khusus yang mengajari Lea. Malahan, putrinya sendiri selalu enggan untuk berlatih bela diri.
"Saya minta maaf Om." Ucap Zio dan berlutut di depan Ayahnya Yuna.
Seandainya saja, Yuna melihatnya. Tapi, ruangan itu sudah di rekam oleh Mama Beby. Sewaktu-waktu, putrinya kembali. Akan segera memberikan rekaman percakapan mereka.
"Lea, Mama akan bertanggung jawab atas ulahmu." Batinnya.
Di tempat lain, ada Lea, Yuna dan Setya yang telah bersantai di menatap layar kaca.
Lea yang duduk di tengah-tengah, ia merasa bahagia saat menonton film komedi.
Tawanya memenuhi ruangan itu, Yuna juga jadi lupa akan masalahnya. Lagian, dirinya sama sekali tidak menyesal. Demi Lea, apapun Yuna relakan untuknya.
"Untungnya suamiku tidak begitu." Merasa kegelian dan tertawa lagi.
"Kalau aku begitu gimana?" Tanya sang suami pada Lea. Tangan Setya dari tadi juga memegang tangan kiri istrinya.
Yuna yang duduk di sebelah kanan, ia yang menjawab "Nonaku tidak akan mau menikahi pria hidung belang." Yuna melirik ke Setya.
Setya merasa dua perempuan ini sudah menjatuhkannya.
"Sayang, Yunamu menggoda aku." Ucap Setya, tampak menggadu pada istrinya.
"Apaan sih Mas?! Yunaku, memang begitu."
Yuna meledek dan menjulurkan lidahnya, Setya berkata "Kamu bukannya membela suamimu, malah membela dia."
"Suamiku sayang, kamu juga cemburu sama Yunaku." Mata indah dengan bulu mata lentik itu menggodanya.
"Waah, kamu sama saja. Kamu juga menggoda aku." Ucap Setya, ia lanjut berkata "Kalau kamu membela Yuna lagi, aku pergi."
Yuna menarik tangan Lea, ia berkata "Lea milikku. Weeek! Weeek!"
Lea sudah duduk bergeser ke arah Yuna, dan mendekap Yuna dengan kasih sayangnya.
"Oke, aku akan pulang. Biar Zio membawa kamu pergi bersamanya." Ucap Setya kemudian beranjak pergi.
__ADS_1
Yuna mengintip dari celah lengan tangan Lea dan Setya beneran berjalan pergi.
Lea masih fokus pada filmnya, Yuna menjauh, ia berkata "Lea, itu suami kamu sensian banget."
"Memang begitu." Balas Lea santai.
"Pantas saja, Zio bilang sama aku. Kalau Setya lebih sensian dari dia. Ternyata beneran. Padahal aku cuma bercanda." Ujar Yuna.
Lea berkata "Sudah biarkan saja. Nanti juga luluh sendiri kalau kangen aku."
"Beneran begitu?" Tanya Yuna dan ia kembali menatap pintu kamar Lea. Yuna semakin penasaran, ternyata Zio dan Setya memang sama sifatnya, hanya casingnya saja yang tampak berbeda rupa.
"Hitung saja sampai 10. Pasti panggil aku, bilangnya kangen banget."
"Hah? Cuma bentar doang?" Yuna semakin penasaran.
"Iya, kalau Zio bertahan lama. Kalau dia tidak. Cuma bentar doang. Tapi, kalau sekalinya keluar rumah marahnya lama, bisa seharian baru balik." Jawabnya.
"Seharian kalau di luar? Kamu nggak curiga?" Yuna merasa aneh.
"Ngapain curiga, orangnya Papa pasti ngintilin dia." Jawab Lea santai.
"Kalau disini, apa ada yang ngikutin kita??"
"Iya, tapi aku sudah mengancamnya." Jawaban Lea tengil. Ia meraih keripik pisang yang ada di dalam toples.
Krriuk
Benar, Setya sudah kembali dan meraih Lea ke dalam dekapannya.
"Aku kangen sama My Sweetie."
Yuna merasa aneh, ia tidak bisa membayangkan bila nantinya sudah bersuami.
"Lea, aku mau ke kamar dulu. Pinggangku pegal linu."
Lea yang berada dalam dada suaminya, dia menoleh ke arah Yuna yang bersiap pergi. Lea membalaikan tangan kanan, "Iya Yunaku sayang. Kamu harus banyak istirahat."
Yuna berjalan pergi ke kamarnya, ia merasa kegelian saat Setya bermanja kepada istrinya.
"Semoga saja, suamiku tidak begitu. Hiii." Gumamnya dan menutup pintu kamarnya.
"Huh, mereka tidak tahu tempat. Apa aku ini, hanya patung bagi mereka?" Dessahnya dan ia jadi mengingat akan Zio. Yuna memegang perutnya, ia berkata "Apa kamu ingin bertemu Papa kandung kamu?"
Setya mendekap istrinya yang masih fokus pada layar kaca. Setya tetap memegang erat My Sweetie miliknya. Tidak boleh terlupa olehnya.
"Mas Setya. Kamu ingin pulang?"
"Aku hanya ingin bersama kamu."
Lea tersenyum, dengan gemas menciumi tangan suaminya.
Muuach. Muuaach. Muaach.
"Kalau Mas Setya bosen. Aku bisa belikan mainan."
"Mainku sudah disini." Setya yang tergila-gila dan masih memegangi dua gundukan Lea.
"Mas Setya aku serius."
"Aku juga serius." Balasnya gemas.
Lea tahu, suaminya hobby bermain PS. Pernah, seharian tidak pulang. Ternyata asyik main PS dengan si ganteng Riko di kosan. Karena itu, Lea bisa bebas pergi ke rumah Ayahnya Yuna.
"Aaa,ah udah dong. Geli."
Setya melummat mulut bawel istrinya.
__ADS_1