
^^^Dua bulan kemudian^^^
"Semoga, kita berdua hamil." Ucap Lea kepada Yuna.
"Jangan bilang begitu. Aku tetap takut." Balas Yuna.
Keduanya, sedang memeriksakan diri ke rumah sakit khusus ibu hamil. Mereka berdua pergi, tanpa suami mereka.
Tampak bergandengan tangan. Mereka juga daftarnya bareng, kalau Lea yang di periksa duluan, nanti Yuna menemani. Begitu pula sebaliknya, mereka akan saling menemani.
"Lea, aku cemas." Ucap Yuna, ia merasa gelisah sendiri.
"Kamu tenang saja. Bukannya bagus, Kalau kamu hamil. Mama mertuamu tidak akan menyuruh kamu meminum ramuannya lagi." Balas Lea dan masih memegangi tangannya.
Yuna berkata "Bukan itu masalahnya. Kalau kita hamilnya bareng. Aku nggak bisa jagain kamu sayang."
Lea jadi mingkem cantik. Meski mereka sudah berpisah, tapi tetap saja sering bertemu. Lea sering mendatangi dan mengajak kesayangannya pergi sesuka hati, tanpa meminta ijin. Baik suami Lea sendiri, maupun suami Yuna. Lea tetap berkuasa atas Yuna.
Eittz, meskipun Mamanya Zio, selalu saja berniat mengasut keduanya. Sayangnya, itu tidak mempan untuk mereka berdua.
Duduk di ruang tunggu dan Lea yang pertama di periksa oleh dokter.
Dokter perempuan dan seorang suster. Lea juga sudah melakukan test urin, dan hasilnya telah berada di tangan dokter cantik ini.
"Selamat Bunda Lea. Anda dinyatakan positif hamil." Ucap dokter itu.
Lea dan Yuna saling berpegang tangan, keduanya begitu bersemangat. Apalagi, saat mendengar kabar bahagia itu.
"Jadi, saya beneran hamil Bu dokter? Tapi, saya tidak mual-mual." Tanya Lea yang penasaran.
Dokter menjawab, "Untuk pemeriksaan detailnya. Kita bisa melihat dari USG."
"USG Bu dokter?" Tanya Lea bersemangat.
"Iya Bunda Lea. Bunda Lea bisa melihat kandungan Bunda, terlihat janin yang masih imut. Kita bisa melihat kesehatan janin anda, lalu kita bisa melihat dimana letak kehamilan Bunda. Soalnya, ada beberapa masalah dalam kehamilan di usia muda, biasanya ada juga yang hamil anggur. Lebih baik, kita memastikan keadaan kandungan anda."
"Baik Bu dokter, saya mau. Mau banget malah." Ucap Lea dan setelahnya Lea sudah berbaring cantik.
Tampak berbaring di atas ranjang pasien, pemeriksaan USG telah dilakukan. Lea dan Yuna, bisa melihat dari layar monitor yang besar.
Meski Lea hanya melihat layar USG. Dokter mengatakan, kalau janin dalam kandungan Lea, sangat sehat.
"Bu dokter, terima kasih. Terima kasih banyak." Ucap Lea saat menerima foto USG pertamannya itu.
Yuna menoleh ke arah Lea, dan memeluknya dengan perasaan haru.
"Sayang, selamat ya. Kamu akan jadi Mommy." Ucap Yuna.
Lea mengangguk dan tangannya masih memegang gambar hasil USG. Lea jadi menangis dan sangat bahagia.
"Yunaku sayang. Sekarang giliran kamu." Ucap Lea.
"Pasien Yuna?" Tanya seorang suster.
"Iya suster. Saya." Jawab Yuna.
Dokter berkata "Jadi, kalian berdua ini saudara? Atau teman dekat?"
"Kita saudara, Bu dokter. Ini, adik ipar saya." Ucap Lea bersemangat.
Lea masih memegang tangan Yuna dan dokter juga turut merasakan ikatan yang erat dari keduanya.
"Bunda Yuna." Panggilan dari dokter.
"Iya Bu dokter." Balas Yuna gelisah.
Dokter perempuan yang berusia 45 tahun ini, menatap Yuna dengan wajah menegangkan.
"Bunda Yuna, dari hasil test urin. Bunda Yuna, telah dinyatakan." Bu dokter cantik menatap kedua orang yang gelisah.
Lea dan Yuna, sudah menantikan hasil test urinnya Yuna itu
__ADS_1
"Bunda Yuna, dinyatakan hamil." Ucapnya.
Lea tersenyum lega dan Yuna terdiam tanpa ekspresi. Lea meraihnya dan memeluk hangat kesayangannya itu.
"Sayang, selamat. Aku sangat bahagia."
"Sama seperti Bunda Lea. Bunda Yuna harus menjalani pemeriksaan USG."
Lea berkata dengan gemas "Ayo sayang, aku sudah nggak sabar."
"Iya, aku akan USG." Balasnya.
Setelah melakukan USG, kehamilan Yuna juga baik dan sehat. Bahkan, usia kandungan mereka hanya selisih dua minggu.
Usia kandungan Lea, sudah menginjak minggu ke 7 dan usia kehamilan Yuna baru 5 minggu. Tetap saja, mereka akan sama-sama mengidam dan sampai nanti melahirkan.
Bisa jadi, Yuna melahirkan lebih dulu. Atau mereka melahirkan di hari yang sama.
Lea dan Yuna sudah selesai periksa. Keduanya tampak mengantri obat. Ada vitamin yang harus mereka minum. Meski mereka tampak baik-baik saja dan tidak mula, tapi dalam resep obat. Ada juga obat pereda mual.
"Apa mungkin, Zio yang mengidam?" Tanya Yuna dan Lea menatapnya.
"Yunaku sayang, apa maksud kamu?" Lea yang tidak mengerti akan hal ini.
"Zio sepertinya mengidam. Dari kemarin, dia jadi hobby makan rujak." Jawab Yuna.
"Zio makan rujak? Memangnya bisa? Cowok mengidam?" Tanya Lea, tidak mengerti.
"Iya, kata Mama Jenny begitu. Bisa saja, Zio yang mengidam."
"Owh, kalau aku. Mas Setya nggak makan rujak. Aku yakin, suamiku baik-bakk saja." Ucapnya dengan semangat. Tapi, Lea mengingat ulang dan membatin "Eh, tapi dari kemarin. Dia bilang pusing."
Hoooek, Hoeek!!
Setya yang saat ini sedang di A.J dan tampak mengeluarkan isi perutnya.
Di toilet pria dan Kevin menunggunya.
Kevin bersandar pintu toilet. Setelah meminum kopi pagi, Setya merasa mual sekali dan segera ke toilet.
Hooeek!
Hoooeeeek!
"Apa dia beneran sakit? Bisa gawat kalau sampai pingsan disini, Lea bisa ngamuk sama aku." Gumam Kevin.
Tok tok tok
"Setya." Panggilan Kevin.
"Iya." Setya yang membuka pintu dan tatapannya seperti melemas.
Kevin menatapnya dan bertanya "Setya, kamu sakit?"
"Entah, dari kemarin aku memang pusing." Jawab Setya.
"Aku antar ke dokter." Ucap Kevin.
"Tidak perlu, aku hanya mual setelah minum kopi tadi."
Kevin membatin "Apa yang salah dengan kopinya? Apa ada racun? Bisa gawat kalau Lea mencurigai aku."
"Ayo, aku antar ke rumah sakit. Biar jelas."
"Tidak usah."
"Ayolah, dari pada aku di tuduh istrimu."
"Dituduh istriku?"
"Iya, takutnya nanti, Lea menuduh aku meracuni kamu. Lebih baik, aku antar kamu ke dokter."
__ADS_1
Kedua orang ini, masih berada di pintu toilet. Setya yang lemes, ia berjalan ke luar.
Dari dulu jarang sekali sakit, apalagi muntah-muntah. Setya selalu menjaga kesehatan dan stamina tubuhnya. Meski sakit, biasanya hanya demam dan bapil. Itupun, jarang sekali.
Dari kemarin, bawaan kepala berat dan ingin rebahan saja.
Padahal, hari ini ada meeting penting di A. J. Meski Setya tidak turut andil dalam pembuatan film ini. Tapi dia tetap harus melihat kinerja mereka semua.
Setya kembali ke ruang meeting dan Micheel juga ada di tempat itu. Ada dua aktor tampan, Kevin dan sutrada, serta para perencana pembuat film tersebut.
"Silakan dilanjutkan lagi." Ucap Setya.
Setya duduk di kuris paling ujung dan tampak sendirian. Yang lainnya, kembali membahas tentang filmnya.
Setelah 30 menit kemudian, rapat selesai dan Kevin masih menemani Setya.
"Gimana? Sudah enakan belum?"
"Jauh lebih baik." Ucap Setya.
Mengeemut permen saja, dan Micheel mendekatinya.
"Tuan Muda kenapa? Apa sedang sakit?" Tanya Micheel.
"Tidak. Saya tidak sakit." Jawab Setya.
Kevin berkata "Kita sudah selesai rapat, lebih baik kamu pulang. Dari pada pingsan disini. Aku bisa di amuk sama istrimu."
"Owh, istriku lagi keluar kota. Mana bisa mengamuk di depanmu."
"Ke luar kota?" Tanya Kevin dan Micheel juga masih di ruangan itu.
"Iya, Lea ke rumah kesayangannya. Pagi-pagi sudah berangkat, palingan sore baru pulang." Jawab Setya yang begitu jujur.
"Owh, ke rumah Yuna." Ucap Kevin dan sudah lama mereka tidak bertemu lagi. Apalagi, setelah putus hubungan dan Yuna tidak mau menegurnya, meski bertemu lagi.
"Iya. Padahal kemarin sudah bertemu di I. A. Tetap saja nggak mau pisah sama dia."
"I.A? Yuna sudah mulai kerja?" Tanya Kevin tampak penasaran.
"Sudah, hanya sesekali berkunjung saja. Yuna tetap sibuk kuliah dan sering di rumah saja." Jawabnya.
Micheel menepuk bahu Kevin "Bos, aku keluar dulu. Aku masih ada jadwal iklan."
"Oke. Silakan."
Kevin dan Micheel tetap profesional pekerjaan, malahan Kevin di datangi Clarissa terus. Bilangnya, nggak mau bertemu Kevin. Tapi, beberapa hari ini bersikap ramah dan mengirim masakan untuk Kevin.
"Aku pergi dulu. Aku masih ada pekerjaan lain." Ucap Setya.
Kevin berkata "Hati-hati."
Setya merasa jauh lebih enakan, setelah mendapatkan permen dari Micheel.
Kevin yang mendapatkan dari Micheel dan diberikan kepada Setya. Jadi, tetap melalui tangan Kevin. Bukan dari tangannya Micheel.
"Setya." Panggilan dari Micheel.
Setelah menoleh ke arah yang memanggilnya, "Iya, ada apa?"
Micheel mendekat dan berkata "Kita sudah sering bertemu. Aku harap, kita bisa berteman seperti dulu."
"Aku hanya bekerja. Aku tidak mau berteman. Aku hanya teman, semasa kita SMA dulu."
"Baik, aku mengerti." Micheel merasa kecewa.
"Bekerjalah dengan baik. Raihlah impianmu." Ucap Setya, yang seolah memberikan dukungan padanya.
Micheel membatin "Aku tidak tahu lagi, apa impianku?? Apalagi, kamu sering muncul dihadapanku."
"Iya. Terima kasih atas dukungannya."
__ADS_1
"Mas Setya."