
Lea yang sendu, menatap wajah itu. Lea berkata "Papa, aku ingin bicara berdua sama Papa."
Papa Arjuna yang sudah mendekat dan melihat wajah sendu putrinya "Sayang, kamu kenapa?"
"Ayo Papa." Lea menarik tangan sang Papa dan diajaknya pergi begitu saja. Tanpa menyapa Kevin atau menegurnya.
Kevin bergumam "Ada apa lagi dengan Lea?" Kevin yang berfikir, kalau Lea selalu membawa masalah.
Lea memegang lengan tangan Papanya. Papa Arjuna terlihat tenang. Sesampai di luar. Ada sepasang mata yang terus melihat mereka berdua.
"Bukannya itu, Mr. Arjuna. Mantan aktor lama yang sering menemui Kevin." Batin Micheel. Micheel dari ruang khususnya bisa melihat ke luar dan ia menatap Lea.
"Apa hubungan Lea dengan Mr. Arjuna?" Gumam Micheel yang penasaran.
Lea menatap Papa, Lea berkata lembut "Papa duduk di samping. Aku yang akan menyetir mobilnya."
"Iya." Sang Papa hanya menurut.
Papa Arjuna sudah bisa membaca raut wajah putrinya. Beliau berfikir kalau Lea sudah mengetahui masalahnya.
Lea yang sudah melajukan mobilnya, ia tidak basa basi langsung berkata. "Yuna sangat berarti untukku."
Papa Arjuna hanya terdiam. Menatap wajah putrinya dan hanya mendengar keluh kesah putrinya.
Sekilas, Lea menoleh ke arah Papanya, dan bertanya "Kenapa Papa bisa tega sama Yunaku? Kenapa Papa begitu?"
Lea yang tidak bisa mencercah pikiran tenangnya dan sudah menangis. Papa Arjuna memandangi wajah putrinya.
"Papa, harusnya cerita sama aku. Bukannya membuat perkara seperti ini."
Lea menangis tersedu-sedu, tapi dia masih fokus pada kemudinya.
"Tentang perasaan. Apa Papa tidak melukai perasaan Yuna dan Zio? Lalu, bagaimana dengan mahasiswa tersangka?" Tatapan Lea begitu mencebik Papanya.
Papanya begitu tenang, dan tidak membalas semua perkataan putrinya ini.
"Papa, kenapa bisa senekat itu? Papa bahkan menikahkan mereka berdua. Cukup aku saja, cukup aku yang harus menuruti keinginan Papa."
Lea perlahan memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran ruko, terlihat sepi dan setelah mobil berhenti.
Lea menopangkan kepalanya pada tangannya di atas setiran. Menangis tersedu-sedu.
"Papa kenapa bisa berbuat ini?"
Papa Arjuna mengelus rambut Lea, ia berkata "Kalau Papa tidak berbuat itu. Zio mungkin tidak akan menikahi Yuna. Yang jelas, Yuna sudah hancur di malam itu. Papa membuat hasil itu, agar Zio bisa menikahi Yuna. Tapi, tidak semudah itu alurnya."
"Seharusnya, Papa bisa cerita sama aku." Ucap Lea tersengal-sengal.
"Papa minta maaf. Papa salah." Ucap Papa Arjuna begitu tenang.
"Aku bisa menjaga Yuna, tanpa harus menikahkan dengan Zio. Aku bisa menjaga Yunaku sendiri." Ucapnya dan terus menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
"Kamu sudah bersuami. Tidak pantas kamu akan membawa Yuna dalam hidupmu." Ucap Papa Arjuna sabar.
Lea berkata "Terserah Papa. Semua ini memang hanya kehendak Papa."
Lea menangis menganggap semua hal yang ada dalam hidupnya, hanya aturan dan kehendak Papanya ini.
Papa melepas seat belt, meraih putrinya dalam pelukannya. "Papa minta maaf. Papa memang membohongi kamu."
"Aku nggak mau maafin Papa."
Papa menyernyitkan dahi, bilangnya nggak mau memaafkan Papanya. Tapi tangannya memeluk erat Papanya.
"Sudah menangisnya?"
"Belum, aku masih ingin menangis."
Papa Arjuna tersenyum, melihat putrinya yang tidak berubah sedikitpun, meski suami bersuami, tetap saja manja.
"Papa nggak ada kerjaan. Papa juga mau kalau di ajak jalan-jalan. Masa cuma Yuna saja, yang sering diajak jalan berdua. Papa malah belum pernah."
Perlahan, perasaan Lea luluh juga, kembali memakai sabuk pengaman dan tancap gas sesuai kemauannya. Entah, mau mengajak Papanya pergi kemana.
"Papa tahu, kalau Soniya yang memberikan minuman kepada Yuna itu, adiknya Ruben?" Tanya Lea dan menoleh ke wajah Papa Arjuna.
"Papa tidak tahu. Mungkin, Mama kamu yang tahu. Mama kamu yang mengurus para tersangka itu. Mereka pasti susah untuk melanjutkan pendidikan mereka." Jawab Papa Arjuna.
"Tapi, Ruben tidak terima kalau adiknya sampai putus pendidikan. Apalagi, Papanya Soniya, kerja di parkiran I.A. Aku juga sempat mengobrol. Akhirnya aku jadi tahu dari Ruben, soal kehamilan Yuna yang ternyata palsu." Ucap Lea.
Papa berkata "Nanti, coba tanya sama Mama. Papa hanya mendekatkan Hendri sama Baskoro, agar mau menerima pernikahan putra putri mereka."
"Papa sudah menjelaskan lebih dulu. Itu, malah idenya Hendri. Dia sangat tahu, kalau Jenny pasti akan menolak perjodohan ini. Kalau Yuna sudah terdengar hamil, Jenny akan menerima dengan terpaksa. Tapi, sampai sekarang belum ada tanda-tanda penerimaannya, seperti samalam itu."
"Makanya itu, Papa harusnya bilang sama aku. Kalau begini, aku nggak sudi Zio menikahi kesayanganku. Amit-amit punya mertua begitu."
Papanya menegur "Sayang, dia ibu mertua kamu. Jangan bilang begitu."
"Ibu mertuaku sudah tiada, hanya ada ibu tirinya Mas Setya. Lagian, Mas Setya tidak menyuruh aku untuk menjadikannya ibu mertuaku."
Papa Arjuna tersenyum, mengelus rambut Lea, Papa berkata "Papa minta maaf. Papa menyesal, sudah berbohong."
"Aku sudah bilang. Aku nggak mau maafin Papa." Balasnya Lea begitu sebal, dengan suara manja.
Wwusss!
"Lalu gimana dengan rumor kehamilan Yuna?? Apa kata orang, bila itu hanya kepalsuan saja? Pasti, orang-orang akan menuduh Yunaku, dan memandang jelek Yunaku." Ucap Lea dengan kesal sekali.
"Papa akan mengurusnya. Lagian, ini kesempatan Yuna dengan Jenny untuk menjadi dekat. Kamu harus bantuin Papa. Agar mereka berdua akur."
"Ogah, ulah Papa, ya Papa sendiri yang bertanggung jawab. Kenapa malah menyuruh aku." Balas Lea.
"Kalian sudah jadi keluarga. Yunamu sudah jadi iparmu dan Jenny ibu mertua kalian. Pasti kamu bisa mengatur jalan mereka berdua."
__ADS_1
"Nggak mau. Kemarin saja sudah bikin aku capek. Untung saja cuma kecoak." Ucap Lea sebal.
"Jenny mengerjai kamu?" Papa Arjuna tersenyum gemas melihat ekspresi putrinya.
"Iya, Papa. Aku sama dia seperti Tom and Jerry. Dari dulu kita dekat, tapi aku sudah paham sama sifatnya Tante Jenny."
"Ayolah bantuin Papa. Jangan sampai Jenny tahu, kalau Yuna tidak hamil. Pasti, dia akan menyeret putranya kembali ke rumah."
"Ya sudah biarkan saja begitu."
"Sayang. Masa iya, Yunamu harus menjadi janda muda. Apa kamu akan tega dengan pernikahan Yunamu??"
"Huh, Papa malah ngomporin aku."
"Sayang, kamu selalu bisa menasehati Yuna. Seharusnya, kamu juga bisa membawa Yuna ke sisi Jenny."
"Papa. Nggak semudah itu alurnya."
"Kenapa?? Lebih baik mengenal dekat, dari pada bermusuhan." Ucapnya mudah.
Lea membalasnya "Coba Papa jadi seorang istri dan hidup dengan Ibu mertua. Papa akan tahu sendiri, kekejaman ibu mertua itu."
"Ya mana Papa tahu. Mama kamu nggak pernah hidup sama Oma. Sekalinya ketemuan, mereka baik-baik saja. Malah, Oma selalu membela Mama kamu. Kalau sama Papa, Oma galaknya minta ampun."
"Syukurin, makanya jangan begitu. Aku mau ngaduin Papa sama Oma. Kalau Papa sudah nakalin aku. Papa juga berbuat ulah, sampai bikin aku nangis." Ucap Lea.
"Jangan, nanti Oma jadi sakit."
"Habisnya, Papa sudah keterlaluan, jadi suka jodoh-jodohin. Padahal, dulu Papa sama Mama nggak dijodohin."
"Sayang, Papa berbuat ini juga demi kamu. Bukannya, kamu meminta Yunamu untuk menjaga Zio." Ucap Papa yang membawa kunci rahasia.
Lea merasa terpojokan, Lea berkata "Terserah Papa saja, aku nggak ikut campur. Mau Yuna hamil atau tidak, semuanya terserah Papa."
Papa Arjuna menggeleng saja, melihat sikap putri tengilnya ini, lalu berkata "Sayang, apa seharusnya, Papa laporkan mereka ke kantor polisi?"
Lea menoleh ke arah sang Papa, Lea berkata "Papa, sudahlah. Masalah D. O. pasti sudah memberatkan Yunaku dan yang lainnya, apalagi Clarissa sangat berprestasi. Clarissa juga sudah mau skripsi, aku jadi kasian sama mereka semua."
"Kamu masih bisa kasian, sama orang yang menghacurkan masa depan Yunamu??" Papanya Lea sampai terheran. Bisa-bisanya putrinya itu, masih menaruh perhatian kepada orang-orang, yang menghancurkan masa depan kesayangannya.
"Aku hanya melihat dari sisi manusiawi." Balas Lea secepat kilat.
Papa Arjuna menyelidik, dan bertanya "Apa Setya yang mengajari kamu?"
"Bukan, tapi dari Bapak tua tadi. Beliau hanya tahu, kalau anaknya dapat beasiswa dan bisa kuliah di Glory. Aku tahu, mahasiswa mana yang dapat beasiswa. Tapi, bapak itu terlihat membanggakan putrinya. Meski putrinya berbuat ulah, beliau tidak tahu sama sekali. Aku yakin, Ruben yang mengurus adiknya, sampai dia juga menyelidiki sendiri, masalah yang menyeret adiknya."
Papa berkata "Hitam putih kehidupan itu selalu ada. Papa tidak mengenal dekat Ruben. Yang Papa tahu, Ruben itu pengawal profesional."
Di sebuah hotel mewah. Ruben menemui adiknya, yang terlihat asyik dengan Tommy.
"Jadi ini, keseharian kamu?"
__ADS_1
"A-abang." Soniya terperanjat.