Permen Kapas

Permen Kapas
Di kantor A.J.


__ADS_3

Suasana di sore hari, Lea yang terkaget saat melihat Setya ternyata sudah bekerja di A.J. dan menjadi cleaning service.


Setya yang tampak mengepel lantai dan Lea masih menatap dari pintu masuk A.J.


Yuna yang pergi lebih dulu, karena Lea menyuruhnya pergi. Lea yang tampak bersedekap dan masih menatap wajah itu. Lea juga tidak mendekati dan tidak menghindarinya.


Setya berlalu pergi dari lobby A.J. Lea lantas mengikutinya. Entah, Setya tadi melihat Lea atau tidak. Yang jelas, dia sedang bekerja bersama teman kerjanya. Orang itu pula yang mengajak Setya untuk bekerja di kantor ini.


"Setya. Aku mau ke toilet." Ucapnya dan Setya berada di ruang istirahat. Ada dua pekerja lain yang sedang membersihkan ruangan staff.


Karena sang Bos ada tamu special, para staff yang ada di kantor sudah pulang lebih awal. Sedangkan para pelatih dan manager artis masih tinggal di gedung sebelahnya. Ada pula, si cantik Micheel dan ia sangat kesal saat melihat Setya bekerja di kantor ini, apalagi sebagai cleaning service. Bagi seorang Micheel, pekerjaan Setya ini sangat rendahan dan tidak lagi sepadan dengannya.


"Mas Setya."


"Lea. Kamu bisa ada disini?"


Lea tersenyum tipis, lalu menjawab "Aku sama temanku lagi ada urusan di kantor ini."


"Owh." Setya yang apa adanya dan tidak menduga-duga. Dia juga tidak merasa kalau Lea telah mengikutinya.


"Mas Setya kenapa bisa kerja disini?" Tanya Lea.


"Dari ajakan teman kost. Dia bilang disini ada kerjaan."


"Mas Setya, kenapa harus jadi cleaning service?"


"Memangnya kenapa dengan cleaning service?" Sudah dua kali, ia merasa sudah direndahkan.


"Maaf Mas Setya. Bukan maksud aku buat menyinggung pekerjaan Mas Setya. Hanya saja aku masih kepikiran soal obrolan kita semalam itu. Aku bisa carikan pekerjaan yang cocok buat Mas Setya."


Setya tersenyum tipis, ia berkata "Lea. Pekerjaan apa yang cocok untuk aku yang tidak ada ijazah?"


"Maaf Mas Setya. Aku tidak bermaksud bicara begitu." Lea yang menunduk dan ia merasa telah bersalah mengatakan hal ini kepada Setya.


"Aku nyaman dengan pekerjaan aku. Meski Micheel mengacuhkan aku."


Lea terdiam, dia tidak berfikiran kalau Setya akan tetap mengejar Micheel.


"Iya Mas Setya. Aku mengerti."


Tatapan Setya membuat dirinya semakin gelisah.


"Lea, aku harus kembali kerja."


"Silakan."


Saat ini rasanya sangat menegangkan, Lea jadi menghembuskan nafasnya, perlahan terasa lega.


Belum sampai Lea pergi, Micheel juga menemui Setya di lorong itu. Ruangan yang sepi dan tidak ada cctv. Micheel telah menatap Setya dengan tatapan tajam.


"Setya, aku sudah peringatkan. Tapi kamu tidak pergi juga." Ucapan itu begitu pelan, tapi sudah mengiris perasaan Setya.


Lea yang bersembunyi dan ia jadi melihat lagi, perseteruan antara Micheel dan Setya.


"Micheel. Aku hanya bekerja. Aku juga tidak mengganggu kamu."


"Tapi aku sangat terganggu. Kamu sengaja muncul dihadapanku. Kamu sangat tahu, aku bintangnya A.J. Tapi kamu nekat datang kemari."


"Micheel. Aku tahu kamu bintangnya A.J. Tapi aku tidak berniat menghantui kamu. Kita sudah putus, untuk apa saling peduli."


"Setya." Tatapan Micheel dan mata cantiknya berkaca-kaca.


Lea yang berada di balik sebuah pot besar dan takut ketahuan Micheel.


"Hubungan kita sudah berakhir. Aku akan melupakan kamu." Ucap Setya dengan pelan, tetapi mematahkan hati sang mantan kekasih. Micheel sangat mengharapkan kalau ini tidak terjadi pada hubungannya.

__ADS_1


"Setya, kamu sudah keterlaluan. Kamu menghancurkan harapanku. Tapi kamu malah menghantui aku. Kamu sengaja bekerja disini. Untuk menghancurkan karirku." Micheel yang sudah menangis.


Setya berkata "Baik. Aku akan pergi. Kita tidak perlu bertemu lagi."


Setya pergi dan Micheel mengepalkan kedua tangannya di sisi dress yang ia kenakan saat ini. Micheel melihat ke sekitar tidak ada siapapun. Lantas ia pergi dengan perasaan terluka di hati.


"Kenapa aku harus mendengarkan obrolan mereka berdua? Kenapa hatiku jadi ikutan sakit saat mendengarnya?" Batin Lea.


Lea yang beranjak pergi dengan rasa tidak nyaman, saat hendak keluar dari ruangan itu, Setya ternyata masih berada di balik dinding, Setya meraih tangan Lea dan menariknya.


Keduanya saling menatap, Lea sudah terjepit dan tidak bisa menghindar.


"Mas Setya." Lea merasa tidak nyaman akan tatapan Setya saat ini.


Setya masih menatap Lea, ia berkata "Lupakan semua hal yang kamu dengar barusan."


"Iya."


"Nanti malam, aku akan menemui kamu di hotel."


"Iya."


Setya pergi dan Lea masih merasa aneh. Kenapa saat pasangan itu kembali bertengkar dan memperjelas hubungan putus mereka itu. Malah membuat Lea merasa sakit hati.


"Apa Micheel masih mencintai Mas Setya?" Batin Lea gelisah.


Micheel kembali ke ruangan khususnya. Terletak di gedung para bintang. Ada kantor di sebelah gedung para talent berkumpul, untuk belatih peran, tarian, dan juga vocal. Ada pula gedung khusus para team produksi film.



Lea pergi ke ruang mushola, karena ini sudah sangat sore. Dia lupa kalau tadi belum sholat ashar. Sang Mama sudah calling dan memerintahnya agar segera sholat. Meski Lea gadis yang heboh, aktif dan suka membatah nasehat orang tua, tapi untuk hal ibadah, Lea sangat mendengarkan nasehat orang tuanya.


"Mama, aku jadi ingin curhat." Batin Lea setelah selesai sholat.


Lea jadi menangis sendiri dan ada satu orang petugas kebersihan yang melewati mushola.


"Ada yang menangis." Dia merasa merinding dan penasaran.


Berjalan mundur dan melihat ke ruang mushola. Ada yang duduk dan masih memakai mukena warna putih.


"Dia siapa? Bukannya para staff sudah pulang dari tadi." Ia semakin bingung dan merinding.


"Apa jangan-jangan dia." Orang itu jadi ketakutan sendiri dan pergi belari.


Sampai di ruangan bertemu Setya dan ia menceritakan keanehan itu. Setya hanya mendengarkan saja.


Setelah beberapa saat kemudian, Lea yang sudah berada di ruangan Kevin.


"Sudah cukup pertemuan kalian berdua, Yuna ayo kita pulang." Ujarnya dan Kevin tersenyum.


Yuna menatapnya dengan tidak senang.


Lea jadi duduk di sebelah Kevin dan ia bertanya "Bang Kevin butuh staff baru tidak?"


"Tidak."


"Emh, aku pikir ada lowongan kerja."


"Untuk siapa?" Tatapan Kevin membuat Lea tersenyum.


"Ya ada seseorang yang sedang butuh pekerjaan."


"Owh, pastinya special."


"Bukan begitu." Tatapan Lea yang imut, seperti kucing mengeong dan Kevin tampaknya sudah mengerti.

__ADS_1


"Nanti aku lihat dulu. Aku butuh staff apa."


Yuna menyela "Lea, ayo kita pulang."


"Bukannya kamu masih ingin disini?"


"Sudah selesai."


Lea berkata "Bang Kevin, Yunaku sudah cemburu. Aku pulang dulu ya."


"Kamu baru datang."


"Tuh, lihat Yunaku. Dia nggak rela kalau aku sama yang lainnya. Makanya aku harus bersama Yunaku tersayang."


Tatapan Yuna menjerat Lea, dan Lea semakin senang, "Emh, tapi Bang Kevin boleh membawa pasanganku ini pergi. Ya sekedar jalan ke mal, makan malam berdua, nonton film, atau ke pantai. Aku akan kasih kesempatan."


Kevin bertanya "Apa Yuna kamu mau meninggalkan kamu sendirian?"


"Owh, soal itu. Nanti aku bujuk dia. Kalau aku tidak masalah, aku bisa kembali ke rumah sana. Apalagi, sebentar lagi ada pesta tahunan."


"Baik, besok aku pinjam Yuna kamu. Aku juga mau cek lokasi pembuatan film barunya Micheel."


"Kebetulan, besok juga nggak ada jadwal kuliah." Betapa hebohnya Lea.


"Yunaku sayang. Ayo kita pulang."


Yuna menggeleng dengan tatapan malu dan Kevin semakin senang dibuatnya.


Lea berkata lagi "Bang Kevin, harus bisa jagaian Yunaku tersayang."


"Pasti, aku jagain kesayangan kamu."


"Aku pamit dulu."


Lea mengambil botol minuman yang ada di meja "Terima kasih untuk jamuannya."


Lea berlari keluar dan Yuna salah tingkah. Kevin menemani Yuna yang keluar dari ruang kerjanya.


"Besok pagi, aku akan jemput kamu."


"Iya."


Lea sudah ngacir lebih dulu dan tidak mau mengganggu. Yuna yang sudah berdebar penuh rasa asmara. Kevin sudah lebih dewasa dan mengerti keadaan.


Kevin meraih tangan Yuna, ia berkata "Lea sudah memberi kamu kesempatan."


"Iya."


"Terus, kapan kita akan meresmikan tanggal jadian kita?"


Yuna jadi tersipu malu dengan iringan senyuman manisnya. Tatapan Kevin membuat denyut jantungnya bergetar mesra.


"Lihat besok." Jawabnya dan setelahnya pergi begitu saja.


"Yuna, Yuna." Kevin merasa gemas dan masih menatap Yuna yang berjalan pergi.


Lea yang menantinya di parkiran dan ia kembali melihat Setya. Hanya menatap dan tidak menyapa.


"Aku tidak mengerti, kenapa Mas Setya bersikap begitu sama Micheel?" Batin Lea.


"Ayo kita pulang."



__ADS_1


__ADS_2