Permen Kapas

Permen Kapas
Kakaknya Atau Adiknya


__ADS_3

"Sumpah demi apa Lea sayang. Cowok yang itu tadi, Kakaknya Zio?!"


Yuna juga sempat melihatnya, saat Setya mengantar Lea kembali ke hotel. Meskipun, tetap dalam pengawasan sang Papa.


Lea yang sudah berada di kamarnya, duduk bersandar dan memeluk boneka hati warna pinky.


"Jadi, kamu tadi kencan sama Kakaknya pacar kamu. Woey, Lea. Aku nggak bisa mikir ini. Aku sepertinya kena gejala kaget." Yuna yang duduk di sofa dan menatap wajah Lea. Perlahan Yuna mulai merebahkan badan di sebelah Lea.


Lea tak ada respon akan perkatan Yuna kepadanya. Saat Setya berada di lobby dan Yuna juga menatap Setya dengan rasa heran. Menurut padangan mata Yuna, Setya itu cowok cool dan tipe pemberani, tidak seperti Zio yang imut dan cemen.


"Aku memang lebih suka, kamu sama Kakaknya Zio. Tapi, ya gimana ya. Mereka itu saudara, terus kamu ada di antara mereka berdua. Lea, lebih baik aku pensiun dari pekerjaanku ini."


"Yuna."


"Aku nggak mau terlibat sama hubungan kalian bertiga. Aku nggak bisa bantuin kamu lagi. Aku takut kena karma." Ucap Yuna dan memeluk boneka pisang.


"Aku nggak selingkuh seperti dalam bayangan kamu."


Yuna yang tadinya merapatkan mata, jadi berbaring menyamping dan menatap wajah Lea.


"Aku melihat, kamu sangat menyukai Kakaknya Zio."


"Benarkah?" Tatapan Lea hanya tertuju pada ponsel yang dia pegang. Berharap kalau Setya akan memberikan kabar, bahwa ia sudah sampai di tempat tinggalnya.


"Aku melihatnya begitu. Pantas saja Tuan Besar mengikuti kalian berdua. Orang tua pasti lebih perasa." Ucap Yuna.


"Tadi kamu gagal melaksanakan tugas dari aku."


"Aku mana bisa berbohong di depan Papa kamu. Aku juga sangat takut, apalagi kemarin."


"Kemarin apa?" Lea menoleh ke arah Yuna. Sepertinya, Yuna juga sedang dilanda asmara. Yuna tersenyum, tapi masih tidak berniat untuk cerita kepada Lea.


"Aku tahu, kamu terpesona sama Bang Kevin."


Yuna terkekeh dan berkata "Hanya suka. Apa aku tidak boleh mendekatinya?"


"Terserah kamu saja. Aku tidak akan mengganggu asmara kamu."


"Lea sayang, terima kasih." Ucap Yuna, dan ia tampak wajah berseri-seri.


"Tapi, kamu harus tetap bantuin aku. Tutup mulut kamu di depan Zio."


"Oke, kalau urusan Zio gampang. Dia memang cemen. Aku akan dukung kamu sama Kakaknya saja."


"Jangan bilang begitu. Zio masih jadi pacarku. Aku hanya respect saja sama Mas Setya."


"Kamu masih mengelak, padahal kamu terang-terangan berkencan dengannya."


"Tadi itu, masalah lain. Aku tidak berniat untuk kencan. Hanya saja," Lea mengulum senyum dan Yuna sudah bisa memahaminya.


"Sudah malam. Ayo kita tidur." Ucap Yuna, dan langsung mematikan lampu yang di ruangan tidur itu.


"Tidurlah duluan. Aku nanti juga akan tidur." Balasnya, setelah Yuna berbaring lagi dan benar-benar sudah memeluk hangat boneka pisang kesayangannya.


Setya telah membalas pesan dari Lea. Setelah mendapat kabar dari Setya, Lea menjadi tersipu malu. Meletakan ponsel di atas meja dan langsung berbaring menyamping memeluk boneka hati.

__ADS_1


Saat ini sudah jam 11 malam dan Lea terlelap dalam ketenangan. Lea yang merasa sudah dimaafkan oleh Setya, seakan ingin bermimpi manis pada tidurnya malam ini. Seperti mimpi sedang berjalan berdua di tempat wisata. Bersama sosok manis dan membeli permen kapas yang rasanya manis.


Pagi kembali dengan damai di hati. Mentari pagi sudah menyinari dunianya. Lea duduk di mobil dan sedang bercermin memulas bibir imutnya dengan lip gloss warna dusty pink.


Yuna yang saat ini mengendarai mobil dan mereka menuju kampus tercinta.


"Zio sakit?" Lea jadi menatap layar ponsel saat ada pesan masuk dari sang pacar tampannya.


"Sakit?" Yuna yang terheran, kenapa bisa bersamaan saat Lea menebar aroma manis untuk pria yang lainnya. Tapi, Yuna tidak berfikir begitu. Dia hanya sekilas menoleh ke wajah Lea dan kembali fokus pada jalan.


"Yuna, nanti pulang kuliah. Kita ke rumah Zio ya."


"Kenapa ajak aku kesana?"


"Aku tidak nyaman kalau pergi sendirian. Biasanya, Zio yang ajakin aku kesana. Aku mau jenguk pacarku, jadinya kamu harus temani Nonamu."


"Hish, mulai kapan dirimu menyebut Nona dihadapanku. Hanya karena, mau menjenguk Tuan Muda Zio." Gurauannya dan Lea mencubitnya dengan gemas.


"Sakit tahu."


"Jangan bilang begitu. Aku masih jadi pacar Zio."


"Apa kalian mau lanjut sampai ke jenjang pernikahan?"


"Ya, nggak tahu juga. Mana bisa aku menebak siapa jodohku nanti." Jawabnya dan masih mengetik di layar pintarnya. Bukannya membalas pesan dari Zio, tapi Lea mengucapkan selamat pagi kepada Setya.


"Kenapa senyam-senyum begitu? Apa Zio sudah menyiapkan jamuan untuk kita berdua?"


"Bukan. Aku lagi sibuk dengan yang lainnya." Betapa senangnya perasaan Lea saat ini.


"Jangan bilang, itu Kakaknya Zio."


"Lea. Aku menyerah. Aku harus segera pensiun mengurus kehidupan kamu." Ujarnya dan merasa gemas.


"Aku nanti nggak punya teman lagi." Wajah itu seolah tampak sendu dan kekakanakan "Nanti aku kesepian."


"Kamu udah punya Kakaknya Zio."


Lea yang tadinya happy, dia jadi ingat kalau Setya berbeda dengan Zio. Sampai membuat dirinya menjaga imeg dan tidak seperti biasanya, padahal di hadapan Zio, dia selalu ceria dan apa adanya. Sepertinya, akan sulit bila Lea tidak bisa seheboh biasanya.


"Apa aku sudah berubah?" Tanyanya kepada Yuna.


"Tidak."


"Tapi Papa bilang, aku sudah berbeda semenjak mengenal Mas Setya."


"Ya mungkin, kamu memakai perasaan. Jadinya kamu jaim di depan dia, kamu bersikap feminine begitu. Aku melihat cuma begitu, tapi kamu tidak berubah. Masih sama saja." Balas Yuna dan itu pendapat dari pemikiran Yuna sendiri, saat melihat sosok Lea yang saat ini.


"Apa nanti kalau aku menikah, harus seperti Mbak Nada?" Tanyanya sendiri dan Yuna mendengarkan saja.


"Mbak Nada sangat perhatian sama Bang Varell, dari nyiapain pakaian dan semuanya. Kemarin sore, aku melihat sendiri, Mbak Nada yang packing baju Bang Varell. Aku merasa, kalau sudah menikah, pasti akan berusaha menjadi istri yang baik. Aku malah jadi takut menikah, aku takut tidak bisa menjadi diriku sendiri."


"Memangnya, kamu mau menikah dengan Kakaknya Zio??"


"Bukan begitu Yunaku sayang. Aku hanya melihat situasi saja. Mbak Nada orangnya cuek, tapi bisa perhatian. Itu maksud aku." Kilah Lea dan Yuna sudah tampak menggeleng.

__ADS_1


Di rumah Zio. Cowok tampan nan imut itu, masih berselimut tebal. Terlihat sangat kekanakan setelah mendapat kabar dari orang suruhannya, tentang perjodohan Lea.


Orang suruhan mengatakan, kalau semalam Lea bersama pria dan ada Papanya Lea. Zio jadi beranggapan, kalau dia sudah kalah dengan perjodohan Lea.


Pagi-pagi sekali, sebelum Papanya pergi ke luar kota. Zio telah meminta sang Papa agar mau melamarkan ke rumah pacarnya.


Tapi, jawaban sang Papa hanyalah makian kepada putra keduanya. "Punya anak laki-laki sama saja. Wanita saja yang dalam otaknya."


Padahal, Papanya juga yang ngajarin, sampai punya dua istri, dan akhirnya istri pertama meninggal dunia.


"Zio, makan sayang."


"Nggak mau."


"Ayolah, jangan seperti anak kecil."


Zio yang bangkit dari tempat tidur dan ia berkata "Aku mau ke kampus."


Sang Mama merasa heran, "Sayang, kamu sudah sehat??"


Tadi bilangnya sakit, tapi malah mau pergi ke kampus.


"Anak ini. Apa hebatnya pacarnya sampai berani merengek di depan Papanya." Sang Mama kesal sendiri.


Meraih ponsel putranya yang ada di meja, "Owh, sama Lea lagi. Bukannya waktu itu sudah putus. Kenapa bisa balikan lagi?"


"Aku harus cari ide, agar Zio bisa fokus kuliah dan dia harus bisa memimpin VC."


3 jam kemudian.


Di kantin kampus, Zio telah memasuki kantin bersama dua temannya.


"Katanya sakit, tapi masih nampak disini." Gumam Yuna yang melihatnya lebih dulu.


Lea menoleh ke samping kanan, ia berkata "Baguslah, kalau dia sehat."


Yuna melihat senyuman dari Lea, dia merasa semakin bingung.


"Kamu pilih Kakaknya apa adiknya?"


Lea menjawab "Yunaku sayang."


Lea yang telah selesai makan siang, ia merapikan alat makannya dan siap meletakan ke tempat yang di sediakan.


Saat Lea beranjak pergi, Zio yang baru saja membawa mengambil makanan, mereka bertemu dan saling menatap.


"Temani aku." Pinta Zio, dengan tatapan serius.


"Iya. Tapi aku beresin ini dulu." Balas Lea dan merasa aneh.


"Aku tunggu di meja."


"Oke." Lea tersenyum.


Zio merasa aneh, dan ia juga harus bersikap tegas. Padahal, Zio sendiri lebih suka bermanja kepada Lea. Ketimbang menjadi sosok pria yang terlihat cool dan dewasa.

__ADS_1


Zio menantinya dan Lea merasa kalau Zio sudah mengetahui tentang dirinya.



__ADS_2