
Suasana pagi yang menyenangkan bagi beberapa pria menawan, ia datang menyatakan cinta kepada Lea.
"Minggir. Aku duluan." Ucapnya kepada teman.
Pemuda manis dan paling tampan diantara teman lainnya.
Sebut saja ketua geng dari alumni SMA. Sahabat Lea dan Zio juga sangat mengenal pemuda ini.
Zio menatap dari kejauhan. "Cepat juga datangnya. Dia tidak pernah berubah." Batin Zio. Ia hanya menatapnya.
Karena ketua genk itu menyukai Lea. Berulang kali di tolak Lea, dia tetap menyatakannya.
Zio selalu dijadikan tameng oleh Lea. Sayangnya, sekarang berita jomblo sudah menyebar keseluruh warga kampus Glory, sampai terdengar ke telinga pemuda tampan satu ini.
Tadinya, dia sendiri yang ingin berkata I Love You kepada Lea, tapi dia juga masih malu kalau ditolak. Dia yang menjaga imeg, akhirnya membawa rombongan untuk ikut serta menemaninya.
Pria tampan yang bernama Rainer, "Istriku, apa kabar?"
"Kabarku baik." Jawab Lea.
Lea yang tampak bersedekap dan tidak merasa gelisah sedikitpun. Perasaannya terhadap Rainer, hanya sebatas sahabat biasa. Dulunya, Rainer yang selalu ada dan berteman dekat, layaknya remaja putra-putri di lingkungan SMA.
^^^Foto Rainer di masa SMA.^^^
Rainer, sama seperti Lea. Sok jagoan dan dia itu playboy. Karena dia, yang membuat Zio bertanding basket dengan Lea. Rainer, selalu mengatakan kalau Zio itu, pria cemen dan bernyali ciut.
"Rainer. Uwuwu pasti kangen sama aku." Yuna yang mendahului, agar tidak kebablasan.
Apalagi, Rainer hanya mendengar kalau Lea sudah jomblo. Semalam langsung meluncur dari negeri singa dan pagi ini menemuinya.
"Yunaku sayang." Ucapnya dan hanya sekedar menyapa.
Lea hanya menatap Rainer, dalam hatinya sudah merasa kelabu. Rainer bisa saja membawa masalah ke dalam rumah tangganya.
Yuna tampak menghalangi. Soalnya, pria satu ini kalau dekat Lea, bawaannya langsung kepingin nyosor Lea.
"Rain, mau ngapain kemari?" Tanya Yuna lebih dulu.
"Aku kangen istriku." Jawabnya dan sangat tidak tahu diri. Tapi, itu sudah terbiasa dia ucapkan kala di masa SMA.
"Rainer. Aku akan menyambut kamu." Ucap Yuna, agar Setya tidak tahu masalah ini.
"Yunaku. Aku mau bicara berduaan sama istriku. Dia sudah membuat keputusan yang bagus. Berpisah dari Zio. Saatnya istriku kembali padaku." Rainer memang tidak pernah berubah, dan ia sosok nekatan, hanya Lea yang ia dengarkan.
Sampai saat ini, Rainer masih punya kekasih cantik. Dia tidak seperti Zio yang terfokus pada satu gadis saja. Selama Lea membutuhkannya, ia juga harus melepaskan kakasihnya.
Itu dulu, sewaktu Lea ingin memanasi Zio di masa SMA. Sayangnya, Lea tidak suka sama Rainer yang keganjenan, tangannya nggak bisa diem. Lea menganggap kalau Rainer itu, termasuk playboy mesum.
Wajah cakep dan kuping di tindik. Senyuman menawan dan memang begitu tampangnya. Mata tampan itu, hanya tertuju kepada sosok Lea.
"Lea, aku datang. Kenapa tidak menyambutku?" Rainer dengan wajah yang sangat berharap, kalau Lea akan segera memeluk dirinya.
Lea membantin, "Baiklah, aku akan menyambut kedatanganmu." Wajah Lea mulai berseri-seri.
"Rain, aku mau ada kelas. 10 menit lagi akan dimulai. Kamu pulang saja sana." Suruh Lea dan ia tidak beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.
"Aku pulang demi kamu. Yuk, kita jalan berdua." Ajaknya dan itu harus.
"Aku malas." Tatapan Lea membuat Rainer semakin gemas.
"Kita berduaan, aku dan kamu." Hish, ngomongnya gaya. Semakin menggoda aja itu mulut, dan Rainer memang tidak suka basa-basi.
"Oke, tapi disini saja ya."
"Siip. Malahan, banyak saksi mata yang akan melihat kita." Ucapnya dan Rainer sudah senyam-senyum.
Yuna memegang tangan Lea dan berbisik "Lea, jangan mau berduaan."
__ADS_1
"Kamu tenang saja." Balasnya berbisik.
Lea melepaskan tangan Yuna dengan penuh keyakinan, kalau dia tidak akan terpikat mulut manisnya Rainer.
Lea berjalan melewati Yuna dan ia sudah mendekat ke arah Rainer.
Rainer merentangkan kedua tangannya, dan berharap kalau Lea akan segera memeluknya. Sayangnya, Lea tidak memeluknya, malahan hanya melewatinya saja.
"Hai, mau kemana?"
"Ke mobil kamu."
"Kamu beneran, ingin berduaan?"
"Aku ingin mencoba mobil kamu."
"Baik. Dengan senang hati, aku akan menemani."
Rainer berjalan lebih dulu dan ia sangat terlihat senang. Seolah mendapat angin sejuk yang menghembus mesra ke wajahnya.
Semerbak aroma parfum Lea sudah memikat perasaannya. Rainer memang menyukai Lea dan selalu ingin memiliki Lea. Sepertinya, masa jomblo Lea tidak akan ada saingan untuknya. Itulah, yang ada dalam pikirannya.
"Silakan masuk." Ucapnya, saat membuka pintu dan Rainer juga langsung meluncur untuk duduk disebelah Lea.
Kedua orang itu sudah di dalam mobil, Yuna yang cemas kalau Lea akan dapat masalah. Ia memanggil Zio dari ponselnya. Tetapi, Zio tidak kunjung mendekat.
Beberapa mahasiswa semakin riuh dan mereka semua jadi penasaran, akan sosok tampan yang bersama Lea.
Clarissa yang baru tiba, ia mendekat ke arah Revan dan Tommy.
"Ada apa?"
"Ada hiburan."
Clarissa bertanya kepada temannya "Revan, mereka itu siapa?" Melihat akan spanduk, yang bertuliskan kalau mereka mencintai Lea.
"Mereka temannya Zio." Jawab Revan.
"Kenapa? Apa kamu tertarik sama dia?" Tanya Revan, yang menoleh ke Clarissa.
"Aku hanya penasaran."
Lea yang bertanya dan seolah dia tidak mengerti tentang mobil sport. Rainer telah menjelaskan, cara mengemudikan mobil keren miliknya itu.
"Ini, begini?"
"Iya benar."
"Aku takut." Lea yang gemas dengan suara manja. Semakin membuat Rainer ingin segera mengecup bibirnya Lea.
Tangan Rainer memegang punggung tangan Lea "Pelan-pelan saja."
"Oke."
Lea berpura-pura gerogi dan perlahan Lea semakin menginjak gas.
Wusss!!!
"Lea!"
"Lea!
"Lea!!!!"
"Aaaa.." Teriakan yang di luar, sampai Clarissa menyembunyikan wajahnya ke dada Revan.
"Lea! Awas!!!!!" Teriakan dengan rasa berdebar.
Mobil itu seperti melayang dan di hadapan banyak orang.
__ADS_1
Seettt!
Lea bisa mengendalikannya, meski Lea sebenarnya juga takut kalau sampai menabrak kerumunan mahasiswa.
"Lea, kamu ini bikin jantungan." Batin Yuna dan masih menatapnya.
"Le-a." Rainer gemetar. Meski dirinya selalu kebut-kebutan, tapi kali ini sudah bagaikan diambang ajal.
"Lea."
"Hampir, saja." Rainer sangat berbedar dan ia tampak duduk bersandar. Terlihat keringat mengalir lembut di pelipis alis matanya.
"Rainer. Hampir saja aku membunuhmu."
Lea melepaskan seatbelt dan ia menoleh ke Rainer, "Rain, berhentilah mengganggu aku atau aku yang akan melahab kamu hidup-hidup."
"Aku cuma kangen." Ucapnya pelan.
Lea meraih wajah Rainer dan dengan tatapan serius Lea berkata "Rain, dengarkan aku baik-baik."
Rainer hanya memandangi wajah Lea. Lea kembali berkata "Rainer. Aku sudah menikah. Aku sudah bersuami."
Sayangnya, Rainer tidak menghiraukan perkataannya, wajah Rainer semakin mendekati Lea.
Lea dengan cepat mendorong wajah Rainer, "Hish, masih mendingan Zio."
"Hai, apa yang barusan kamu bilang??Aku tidak mendengarnya." Rainer memang tidak mendengarkan perkataan Lea.
"Aku sudah menikah. Aku sudah punya suami. Kamu jangan gangguin aku." Ucap Lea dengan tegas.
"Kamu menikah?" Rainer yang tidak percaya, akan perkataan Lea barusan.
"Iya. Aku sudah menikah. Makanya aku putus dari Zio. Aku sudah menikah seminggu yang lalu."
"Kenapa tidak mengundangku?" Tanya Rainer.
"Tidak ada acara pesta. Hanya keluarga saja. Lagian, suamiku juga masih melanjutkan kuliahnya." Jawab Lea.
Rainer mendengar itu, jadi merasa aneh. Ia berkata "Aku gagal lagi mendapatkan kamu."
"Kamu tidak gagal. Pikiranmu saja yang masih konyol." Ucap Lea dengan gemas.
"Apa Zio baik-baik saja?" Tanya Rainer.
"Aku tidak tahu." Jawab Lea, yang apa adanya.
"Aku mengerti. Maafkan aku. Aku selalu sibuk dengan diriku. Tidak tahu apapun soal kalian berdua." Ucap Rainer dan tampak senyuman, meski dalam perasaan lainnya, dia merasa kalau hal ini menyakitkan.
"Aku sama Zio, sudah putus sebelum aku tunangan. Tetapi, orang lain menganggap aku dan Zio itu masih pacaran, akhrinya tetap ada kata pacaran. Karena, Zio ingin menjaga imeg baikku saja. Baru kemarin itu, kita putus di depan umum." Ucap Lea.
Reiner jadi menyunggingkan bibirnya ke kanan, ada rasa yang tidak dimengerti. Tapi, ia berusaha untuk memahami ini. Dulunya, dia juga bersahabat dengan Lea dan Yuna.
"Kamu mau tahu, siapa suamiku?" Lea dengan semburat senyuman manis.
"Memangnya, siapa suami kamu?" Tanya Rainer, yang masih menatap Lea.
"Suamiku, Kakak tirinya Zio." Jawabnya.
Rainer semakin bingung, tapi dia sedikit mengerti akan pernikahan Lea.
"Kamu dijodohin?"
"Tidak."
"Jangan bilang, kamu selingkuh dibelakang Zio?!"
"Yaaa, awalnya seperti itu." Lea dengan tengil dan Rainer jadi menggeleng.
"Ckckck, kamu masih saja memainkan perasaan Zio." Rainer tahunya, dulu Lea hanya kasian sama Zio.
__ADS_1
"Enak saja. Aku menyayangi Zio. Salah sendiri, Zio mencium gadis lain. Aku juga bisa berpaling."
"Kakaknya Zio??" Rainer semakin heran.