Permen Kapas

Permen Kapas
Mengganggu Kesayangan


__ADS_3

Sore hari di kantor A.J. Lea yang berdiri dan Kevin membuka sebuah lemari.


Jreeng, jreeng.


"Tara...ini semua buat kamu."



"Bang Kevin mau nyogok aku??"


Kevin kembali menutup lemari itu. Lea mendekat, Kevin semakin waspada. Meski Lea tampak biasa, tendangan kaki Lea sangat mematikan.


Kali ini bukan lagi tendangan, melainkan sentuhan.


Kedua tanganya membenahi dasi Kevin. Menariknya dengan pelan, perlahan dan sampai mencekik leher Kevin.


"Sepertinya, Bang Kevin membutuhkan AC baru."


"Lea."


Lea mundur selangkah, menatap dengan senyuman. Kevin memalingkan wajahnya dan merasa gelisah.


"Nanti aku belikan AC yang super dingin. Biar ruangan Bang Kevin semakin sejuk. Terus, Bang Kevin tidak kepanasan lagi."


"Aku tadi cuma ngobrol biasa. Itu, semua majalah ada di meja. Kita sedang mengulas berita baru."


"Berita barunya saja. Bisa bikin gerah. Apalagi, pelukan yang menghangatkan sekujur badan ya."


Meski suara Lea itu terdengar pelan, tapi mematikan.


"Bang Kevin, kamu Kakakku. Yunaku, sahabat hidupku. Aku bingung harus bagaimana dengan kalian berdua??"


"Lea. Aku bisa jelasin sama kamu. Aku tadi sama Micheel. Hanya bisnis. Kita nggak seperti yang kamu bayangkan." Jawab Kevin.


"Aku mengerti. Yunaku sudah terbawa arus deras. Aku harus menariknya kembali. Aku takut, kalau Yunaku sampai hanyut." Ucapan Lea yang nyelekit.


"Lea, apa maksud kamu?" Kevin yang mengerti, pura-pura tampang oon, di depan Lea.


Lea mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan memasukan card ke dalam saku jasnya Kevin. "Ini kunci apartemen milik Bang Kevin. Kesayanganku, cuma milikku, tidak untuk Bang Kevin yang hanya bermain-main. Bang Kevin, sudah mengerti?"


Kevin berkata "Lea, kamu salah paham."


"Kalau aku salah paham. Aku tidak akan kemari." Balasnya.


Kevin meraih tangannya "Tunggu, aku bisa jelasin sama kamu."


"Lepaskan tanganku. Aku tidak akan bilang sama Papa dan Om Jimmy. Tetaplah bekerja keras, untuk bintang terangmu."


"Lea, aku mencintai Yuna. Tapi Micheel ada masalah. Aku sebagai atasannya. Hanya menyemangati."


Lea berkata "Tidak perlu menjelaskan sama aku. Aku hanya tidak suka dengan sikap Bang Kevin untuk Yunaku."


"Micheel sedang menata perasaannya. Ada proyek film baru yang harus dia bintangi, tapi dia masih ada masalah pribadi. Aku cuma memenangkan dia."


"Terserah Bang Kevin."


Lea yang hendak beranjak pergi, Kevin berkata "Aku tahu, siapa mantan kekasih Micheel."


Degh!


Lea berhenti sesaat. Lalu ia berkata "Kerja bagus."


"Dia suamimu."


Lea tetap berjalan pergi.


"Siaaal!"


Kevin yang geram, seolah ingin memukul-mukul sesuatu. Sayangnya, tidak bisa ia lakukan.


Ruangan tidur Kevin, yang tampak minimalis. Meski hanya sejenak, sekedar beristirahat, ketika sibuk di kantor.


Kevin menatap ke arah pintu. Masih menatap Lea yang pergi.

__ADS_1


"Lea."


"Lea."


"Aaah, sial. Lea selalu saja datang tiba-tiba, tanpa menghubungi aku dulu. Kenapa aku yang disalahkan, hiissh." Geramnya.


"Aku sudah menjelaskan kebenaran yang ada. Aku yakin, Yuna percaya sama aku." Tegasnya, dalam lubuk hatinya.


Kevin lalu pergi meninggalkan ruang istirahatnya itu.


Lea yang sudah kembali ke ruang kerja.


Melihat Yuna dan Micheel duduk di satu sofa. Tapi mereka berdua tampak diam saja. Tidak terlihat tegur sapa maupun obrolan. Yuna fokus pada ponselnya.


"Yunaku sayang. Ayo pulang." Ajakan Lea dan Yuna menatapnya.


"Kevin mana?" Tanya Yuna dan sebenarnya ia gelisah.


Lea tidak pandang bulu kalau sudah marah. Padahal, itu sudah sering Yuna lihat semenjak pertama jalan bersama Kevin. Awalnya memang kesal, perlahan Yuna terbiasa atas kelakuan Kevin.


"Yunaku sayang. Kamu masih merindukannya?"


"Iya." Jawab Yuna.


Micheel yang hanya diam tanpa kata.


Kevin kembali ke ruang kerjanya, ia berkata "Yuna, ternyata kamu masih nungguin aku."


"Pergilah. 5 menit." Ucap Lea.


Yuna dengan senang, ia menarik tangan Kevin begitu saja dan pergi meninggalkan Lea.


Lea yang berdiri, dia berjalan di sekitar ruangan Kevin. Melihat ke dinding ada lukisan besar dan ia beralih ke meja kerja. Micheel terus saja menatap ke arah Lea.


"Apa hubungannya dengan Setya?" Batin Micheel.


Lea yang duduk di kursi bos Kevin. Tatapan santai dan melihat ke isian meja kerja. Menarik-narik laci kecil.


"Eh, Om Jimmy sama Bang Kevin." Lea memegang bingkai foto.


Papa Jimmy dulunya menikah, tapi di usia 5 tahun pernikahan, istrinya telah menggugat cerai. Karena, Papa Jimmy divonis mandul. Akhirnya, Papa Jimmy hidup sendirian. Setelah itu, ada bayi tampan. Papa Jimmy semakin semangat untuk bekerja.


Bagi seorang Kevin. Hanya pria tidak normal saja, yang berani mendekati putrinya Papa Arjuna.


Bang Varell saja, kalau tidak ditarik Lea. Pastinya juga akan tetap menjomblo, meski dalam hatinya, juga terpikat akan sosok tuan putri Nada.


Sekilas cerita jaman Lea SMP. Ada dua remaja tampan yang hendak mengerjai Lea. Sampai mengempeskan dua ban sepeda milliknya.


"Oeh, ternyata kalian berdua." Lea yang menatap tajam, sosok anak SMA yang dikenalnya.


"Boyz buruan maju." Kevin yang hanya dibelakangnya saja.


"Eh, Bangkee. Dia itu Kakak sepupuku."


"Apa?? dia, Allea sepupu kamu?"


"Iya Annjing." BoyZ si begajulan dan berlagak sok jagoan. Padahal, sama Lea tetap bakalan kalah. Kecuali mereka adu mulut, Boyz akan lebih menyebalkan.


"Bang Boyz." Lea memanggilnya, dengan senyuman tengil nan menggoda.


Meski Lea Kakaknya sepupu Boyz. Bagi Boyz, Lea sosok adek manis dari semua sepupu tampan. Sayangnya, sikap Lea tidak pernah semanis permen kapas, yang Lea sukai.


"Lea, sorry."


"Oowh, Bang BoyZ sama Bang Kevin mau ngerjain aku? Iya??" Setelah Lea ganti sepeda, mereka berdua salah sasaran. Akhirnya kedua orang itu, malah dipergoki Lea.


BoyZ membela diri "Sorry Kakakku sayang. Aku nggak tahu kalau yang dimaksud Kevin itu, kamu."


Kevin menepuk bahu Boyz "Kenapa aku jadi temengmu?"


"Eh, kamu yang ajak aku kesini."


"Kamu nggak bilang, kalau sepupu kamu itu Lea."

__ADS_1


"Aku udah bilang, Allea. Ya dia, Lea."


Lea yang sudah memasang taring dan ia berkata "Pergi, atau aku akan tendang kalian."


"Kevin ayo pergi."


"Boyz."


"Kita jangan buat masalah sama dia."


Mereka berdua lari terbirit-birit dan langsung masuk ke mobil. Boyz tancap gas, dengan secepat mungkin pergi dari hadapan Lea.


Meski Kevin mengenal Lea, di setiap pertemuan tentang pekerjaan Papanya. Tapi, setelah tahu dari Boyz, tentang Lea dan keluarga besarnya Lea. Kevin tidak lagi mengganggu dan membalas keusilan Lea. Tapi saat ini, Kevin mengganggu kesayangannya.


Lea memandangi foto Kevin "Untung saja Abang sendiri, coba kalau orang lain, aku tendang beneran dari sini."


Micheel hanya terdiam, meskipun dari tadi sudah menatap Lea. Dia tidak ingin bertanya atau sekedar basa basi saja.


Yuna kembali ke ruangan dan Kevin tampak menggandeng tangan Yuna.



Lea melihat itu. Sudah ada cincin indah, yang melingkari jari manis Yuna.


Lea dengan santai berkata, "Meski kalian sudah meresmikan. Tapi aku masih tidak senang."


"Lea ayo pulang. Suami kamu sudah mencari kamu." Yuna tidak ingin menyebut nama Setya, di depan Micheel.


Panggilan suami sudah biasa. Banyak para gadis yang berkata suami, meski itu pacar atau idola yang di gemari.


"Ini, aku juga mau pulang."


Lea bangkit dari kursi dan Kevin jadi tersenyum. Lea mendekati kedua orang itu dan ia juga tidak berniat menyapa Micheel.


"Bang Kevin. Aku minta maaf. Sudah mengganggu hubungan kalian berdua."


Masih terasa aneh, saat Lea meminta maaf padanya. Kevin membalas "Lea, aku juga minta maaf. Aku sudah mengganggu kesayangan kamu."


"Siapapun orangnya. Aku tidak peduli. Bila ada orang, yang berani menyakiti kesayanganku, aku akan menendangnya sejauh mungkin." Ucap Lea, tapi sedikit menoleh ke arah Micheel.


Kevin berkata "Aku akan mengantar kalian."


"Tidak perlu. Bang Kevin harus kerja, lebih keras lagi."


Lea memisahkan tangan Yuna dan Kevin. Lea tanpa pamit, langsung membawa Yuna pergi begitu saja.


Kevin jadi merasa heran "Aku pikir, setelah dia menikah bakalan berubah. Kenapa malah semakin kejam?"


"Kevin."


"Micheel. Sorry, tadi itu gangguan dari alam." Gesreknya kumat.


"Apa, dia saudara kamu?"


"Iya, dia adikku. Dia emang rada-rada. Maklumi saja. Kalau bertemu dia, kamu harus mengabaikannya, jangan buat masalah sama dia."


"Aku juga tidak ingin mengganggu dia."


"Baguslah."


Dalam hati Kevin merasa lega. Kevin jadi berharap. Agar Micheel tidak tahu dulu. Tentang Setya, yang sudah menikahi Lea.


"Kevin, aku juga harus pergi."


"Oke."


"Terima kasih. Sudah mau mendengarkan kisah cintaku."


"Aku malahan jadi tahu apa masalah kamu. Lain kali, aku tidak akan memarahi kamu."


"Tidak apa-apa. Aku permisi."


"Pergilah liburan."

__ADS_1


"Baik."


__ADS_2