Permen Kapas

Permen Kapas
Pertukaran Pasangan Konyol


__ADS_3

Menatap pantulan cermin rias, dengan wajah berseri dan penuh keyakinan.


"Kamu siap?" Sang pria yang sudah mengulurkan tangannya dan tampak penampilan menawan.


"Iya." Jawab Yuna. Tampak pancaran mata berkilau, perlahan menoleh ke samping. Meraih tangan itu dengan percaya diri.


Pria imut nan manis senyumnya, sudah tampak menawan dengan setelan jas warna putih, senada warna gaun indahnya Yuna.


"Apa aku harus mencium kamu juga?" Tatapan heran dan bingung sendiri.


"Kenapa? Kamu bisa mencium Clarissa apa tidak bisa mencium aku meski kita hanya bersandiwara."


"Aku harus bisa melakukannya" Batin Zio dan Yuna sudah memegang lengan tangannya bak cinderella.


"Zio, fokuslah. Demi pacar kamu."


"Iya. Aku lakukan ini, demi Lea."


Yuna tersenyum, dalam hatinya gemas dan senang. Yuna yang ingin mengerjai Zio, membawa bawang. Pastinya, Zio bakalan syok saat adegan ciuman.


Si imut, sudah menjadi pangeran yang siap menuju istana bersama Yuna si putri cinderella.


"Silakan." Zio yang membuka pintu mobilnya.


Yuna memberikan penghormatan ala putri istana kepada pangeran tampan.


"Terima kasih."


Mereka berdua lantas pergi ke pesta kampus malam ini. Mereka berdua yang sudah mengenal dekat, tapi Zio tetap merasa gelisah, seharian ini tidak mendapat kabar dari sang pacar.


"Aku kangen Lea."


"Sabar napa. Dia juga butuh waktu sendiri."


"Apa dia sudah menemukan pria itu?"


"Aku mana tahu. Aku seharian juga latihan sama kamu." Jawab Yuna.


Meskipun, Yuna sebenarnya sudah tahu. Kalau Lea akan mengajak Setya, untuk hadir bersamanya.


Mobil Zio melaju dengan kecepatan sedang. Kedua orang ini, memiliki tujuan yang sama. Mengembalikan imeg manis couple imut, terutama nama Lea.


Dua hari yang lalu, berita itu mengguncang kampus Glory.


"Yuna, apa Lea akan meninggalkan aku untuk pria lain?"


"Aku tidak tahu. Tergantung hati kamu. Kalau kamu memang mencintainya, kejar terus saja, sampai kamu mendapatkannya."


"Kalau Lea tidak mencintaiku, mana bisa aku kejar terus menerus."


"Itu, kamu sadar. Kenapa masih bisa membuat masalah untuk Lea? Ciuman sama yang lain kan bisa, kenapa harus sama Clarissa?"


"Yuna, aku juga tidak tahu. Kalau Revan sudah mengundang genknya Clarissa. Aku kalah dalam permainan, aku jadinya harus mencium Clarissa."


"Hish, karena masalah kamu. Aku juga bakalan diputusin sama Kevin." Yuna yang sebenarnya memanfaatkan keadaan Zio.


Perasaan Yuna sudah berseri-seri. Tampil bersama Zio akan membuat masalah dirinya dengan Kevin dan nantinya akan ada kata putus.


Ternyata, pacaran tidak seindah bayangan Yuna. Tetap saja, pacaran itu membawa rasa gelisah. Setidaknya, Kevin juga harus mengerti kekasihnya. Atau, Micheel memang dengan sengaja membuat Kevin sibuk. Padahal, waktu itu masih tampak manis, begitu sudah datang sang artis papan atas itu, Yuna seolah hanya piguran yang berada di sekitarnya.


"Zio, kamu yang rileks dong."


"Iya, iya, bawel amat sih."


"Ingat! Jangan salah dialog. Nanti kamu panggil namaku bukan Lea."


"Hemm, iya, iya, iya. Yunaku sayang. Aku tidak akan lupa sama dialog kita." Balas Zio dan tampak mengikuti gaya Lea saat memanggil Yuna.


Yuna menoleh ke wajah Zio, ia berkata "Zio, Lea sangat menyayangi kamu."

__ADS_1


"Aku tahu." Zio makin bersemangat.


Aula gedung perhelatan di kampus Glory, sudah di sulap bak negeri dongeng. Sesuai tema malam ini, pangeran kampus mencari cinderella kampus.


Para pasangan mahasiswa yang ingin memberikan pertunjukan sudah siap di ruangan khusus.


Lalu, untuk tamu undangan dan para penonton berada di aula.


Panggung acara dengan dekorasi bak istana dongeng dengan nuansa putih kebiruan.


Panggung acara yang megah dan mewah. Para tamu undangan satu persatu memenuhi kursi yang telah disiapkan.


Ada pula kursi untuk para mahasiswa yang ingin menonton saja. Nantinya, ada beberapa artis sebagai bintang tamu yang turut memeriahkan acara pesta malam ini.


"Yuna."


"Saatnya, kita berpesta."


Sepasang insan yang memiliki tujuan sendiri. Mereka yang baru saja tiba dan Yuna sudah tampak memegang lengan tangan Zio.


Beberapa mahasiswa yang baru tiba, mereka juga bisa melihat keserasian Yuna dan Zio.


"Apa mereka berpasangan?"


"Sepertinya, Zio ingin mengalihkan gosipnya."


"Tapi aku suka dengan penampilan mereka berdua. Sangat serasi."


"Lebih cocok begitu, dibanding dengan Lea."


"Eh, Yuna itu bukannya sohib Lea. Kok bisa mau sama Zio."


"Palingan cuma sandiwara."


"Kita lihat saja nanti, Lea akan bersama siapa."


"Iya. Aku ingin lihat Lea. Apa dia akan menggandeng pria lain?"


Segerombolan para mahasiswa dan mahasiswi itu, lalu pergi ke dalam aula pesta.


Zio dan Yuna, sudah berada di depan pintu ruangan khusus.


Jreeng!


Saat pintu terbuka dan beberapa orang sudah berada di dalam ruangan itu. Mereka jadi menatap ke arah Zio dan Yuna.


"Apa mereka juga akan tampil?" Bisik seorang gadis.


"Sepertinya begitu." Balasan dari pasangannya.


Zio dan Yuna mencari nomor kursi yang sudah terdaftar. Yuna membuat begitu, ia mendaftar atas nama Cinderella.


"Duduklah."


"Terima kasih."


Zio tampak memperhatikan Yuna. Hal itu membuat para mahasiswa lain jadi penasaran.


Tidak lama, Micheel sang bintang utama yang memegang lengan tangan Kevin, tiba di ruangan khusus itu. Seketika, Yuna menatap ke arah Kevin.


"Kevin." Batin Yuna semakin tidak senang saat melihatnya.


Kevin masih sibuk bersama Micheel, dia tidak memperhatikan yang lainnya. Lalu di belakang Kevin, ada grup idola 4 gadis remaja anggota girlband dan 6 pria anggota boyband.


"Kevin, terima kasih." Ucap Micheel. Wajah itu begitu cantik, meski tidak tampak senyuman manisnya Micheel.


"Untuk apa?" Tanya Kevin.


Tatapan Kevin ke Micheel dan hal itu membuat perasaan Yuna semakin tidak suka.

__ADS_1


"Untuk semuanya." Jawab Micheel.


"Sudah menjadi tugasku." Pungkas Kevin dan ia perlahan duduk di sebelah Micheel untuk mendampingi bintang utamanya.


Setelah menatap ke seberang barisan dan Kevin terkaget melihat tatapan Yuna yang seakan mencekik dirinya.


"Yuna juga mau tampil? Kenapa tidak bilang sama aku?" Perasaan Kevin yang gelisah.


"Kamu berani mempermainkan aku." Batin Yuna yang masih menatap Kevin, dan hal itu membuat Zio jadi bingung.


Zio meraih wajah Yuna, untuk menatap ke arahnya. "Hai, kamu harus fokus sama aku."


Yuna tersenyum dan ia meraih wajah Zio, "Emh, si imut. Kamu semakin pintar menggoda."


Zio mendekat ke samping wajahnya, dan berbisik "Kamu jangan terbawa perasaan. Aku lakukan ini, hanya demi kekasihku."


"Aku juga. Ayo lakukan hal yang manis." Balasnya.


Kevin menatap Yuna dan Zio, perasaan aneh yang terserat di wajah tampannya.


Kevin menoleh ke arah Micheel, ia berkata "Micheel, aku pergi dulu."


"Iya."


"Kamu pasti bisa."


"Aku akan berusaha."


Dua hari ini, Micheel memang tidak fokus pada pekerjaannya. Ia semakin memikirkan Setya. Ada rasa yang tidak bisa dimengerti. Meski hubungan mereka sudah berakhir, tetapi Micheel masih ada perasaan cinta untuk Setya.


Kevin sebagai sang bos agensi, ia bersikap layaknya pimpinan yang harus bisa memahami kondisi para bintangnya. Sayangnya, hal itu membuat Yuna semakin tidak suka padanya.


"Zio, aku ke toilet dulu."


"Silakan."


Yuna melihat Kevin berjalan pergi dan ia juga mengerti. Bagaimanapun, mereka baru saja jadian, tidak bisa dipungkiri bahwa Yuna juga masih ingin bersamanya.


Kevin di balik pintu meraih tangannya dan membuat Yuna berdebar.


Tatapan Kevin benar-benar meruntuhkan rasa kesalnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Suara itu terdengar pelan tapi sudah menjerat perasaan Yuna.


"Aku hanya menggantikan Lea." Jawabnya dan sudah tampak luluh.


"Kali ini, aku masih membiarkan kamu bersama pria lain. Tapi selanjutnya, aku tidak ingin melihatnya."


Yuna bertanya "Lalu kamu? Apa yang kamu lakukan dengan Micheel?"


"Yuna, aku sudah menjelaskan sama kamu." Tatapan Kevin, sekali lagi sudah meruntuhkan tembok penghalang kekesalannya.


Kevin memegang tangan Yuna, perlahan mencium punggung tangan kanan Yuna dengan manis. Tatapan mata Kevin hanya tertuju pada wajahnya.


"Nanti, pulanglah bersamaku."


"Aku tidak bisa." Yuna memalingkan wajahnya, hal itu semakin membuat Kevin lebih bersemangat.


"Pertahankan sikapmu ini. Yunaku sayang." Kevin tersenyum dan ia pergi begitu saja. Yuna merasa kalah dengan sikap Kevin. Bagaimanapun, Kevin sudah lebih dewasa darinya. Apalagi, pekerjaan Kevin yang mengharuskannya dikelilingi para perempuan cantik dan sexy.


"Yuna, sadar. Sebentar lagi, pesta akan dimulai." Yuna mengingat akan Lea, ia kembali ke ruangan khusus.


Tommy, Revan dan genknya Clarissa juga sudah masuk ke ruangan itu. Tapi, mereka hanya melihat Zio yang tampak seorang diri.


Yuna datang mendekat dan Zio meraih tangannya. Mereka semua jadi menatap ke arah Zio.


"Kenapa Zio bisa berpasangan dengan Yuna?" Batin Clarissa.


Revan dan Tommy tersenyum cerah.

__ADS_1


Yuna mendekat dan berbisik "Zio, cium aku."



__ADS_2