
"Lea sayang, kamu kenapa nak?" Sang Mama yang telah datang mendekat dan menghampiri tuan putri ini.
"Mama." Lea yang masih sendu dan langsung memeluk sang Mama.
Papa dan Mama saling menatap dengan perasaan heran. Tidak seperti biasanya, Lea berubah bertingkah manja seperti ini. Untuk kesekian lamanya, pelukan manis telah tercipta diantara anak dan ibu.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya sang Mama dan melihat rona wajah sendu dari putrinya yang satu ini.
"Mama. Aku sudah berbuat salah."
"Berbuat salah?" Tatapan sang Mama heran dan mengelus rambut putrinya dengan sabar.
Lea yang mengangguk dengan bibir berubah imut. Seketika seperti gadis kecil yang dulu sering bermanja, begitu menggemaskan.
"Ayo kita masuk ke kamar dulu. Kamu harus cerita sama Mama." Begitu manis ajakan sang Mama.
"Nggak mau, aku mau mandi. Aku juga belum sholat. Aku cuma mau bilang itu tadi. Aku sudah salah."
"Sayang, kamu salah apa?" Sang Mama semakin penasaran dibuatnya.
Papa juga masih terus menatap ke wajah putri usilnya ini.
Lea berkata dengan gerakan bibir yang tampak imut "Aku, sudah merusak kue pengantin Mbak Nada dan Bang Varell."
Sang Mama tersenyum dan Papa juga masih merasa heran melihat tingkahnya saat ini. Berani mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya.
"Aku mau ke kamar dulu." Lea yang pergi dengan berlari dan langsung masuk ke kamarnya.
Sang Mama dan Papa saling menatap dengan wajah heran, ada rasa curiga yang tidak dimengerti oleh kedua orang tua ini. Namun, putrinya tidak mau berterus terang akan masalahnya itu.
"Papa, apa yang Lea makan hari ini?" Tanya sang Mama dan menatap wajah sang suami tampannya.
"Mama, Papa juga bingung. Tadi, Lea sempat menangis dalam pelukan Papa." Jawabnya begitu lembut dan nyaman.
"Iya. Mama tadi sempat melihat kalian yang begitu manis."
"Anak kita menangis. Malah dibilang manis."
"Papa, sudah lama kita tidak melihat Lea seperti ini."
"Benar juga."
Sang Mama semakin senang, hari ini putri pertamanya sudah melangkah ke pelaminan dan melihat si putri kedua ini bersikap manis.
Sang Mama merangkul lengan tangan suaminya, dan berkata "Papa, ayo kita pulang."
"Sayang, terus Lea gimana?"
"Biarkan saja. Mungkin Lea sedang patah hati."
Sang Papa menatap serius wajah istri cantiknya ini, bertanya "Apa yang Mama bilang barusan? Lea patah hati?"
"Mama kira begitu. Apa Papa lupa gimana masa muda kita berdua?"
"Mama, tapi Lea pacaran biasa saja."
"Selama sama Zio, Lea memang tidak seperti ini. Mereka hanya pacaran iseng. Mama bisa melihat gaya pacaran Lea seperti Papa dulu. Lalu, siapa yang membuat Lea patah hati?"
"Mama, jangan bikin Papa semakin mikir."
"Papa, biarkan Lea merasakan cintanya sendiri. Ayo kita pulang saja."
__ADS_1
"Mama, bilang begitu. Papa jadi semakin kepikiran."
Wajah sang Papa dengan rasa penasaran dan tidak terima bila putrinya telah disakiti lelaki. Padahal, sang Papa sendiri dulunya juga playboy dan hasilnya putri keduanya ini juga sama. Sering pacaran iseng dan hanya bermain-main.
"Papa dulunya juga begitu. Biarkan Lea menikmati masa mudanya. Yuna nanti juga akan mengadu sama kita."
"Mama."
"Papa."
Saling menatap lembut, suaminya sudah kalah dengan tatapan mata istrinya.
"Baik, Papa nggak akan ikut campur masalah Lea sama Zio."
Sang istri memegang dada suaminya, berkata "Lea, sama persisnya dengan Papa."
"Aku?"
"Iya. Coba Papa ingat-ingat sendiri."
Kedua orang tua ini, berjalan pergi meninggalkan koridor kamar hotel itu.
Putrinya sudah berada di kamar dan masih dalam kegelisahan.
Mau heran, tapi ini Allea Gita Madaharsa. Tinggal di kamar mendingan Nenek buyutnya.
The Queen's Hotel dulunya terkesan mewah dan menunjukan kekuatan seorang wanita. Hotel yang berusia hampir 50 tahun ini. Ya, seusai dengan karakter sang pemilik terdahulu, layaknya wanita kuat dan hebat.
Tampak beberapa ruangan dan kamar sudah di rubah interiornya, menjadi lebih modern. Tapi untuk kamar yang satu ini, Lea meminta tetap dengan nuansa klasik nan agung. Meskipun, terkesan seram bagi seorang Yuna, sang asisten pribadi yang sering mengikuti langkah kaki Lea. Tapi kamar mewah ini, sudah membuat malam-malamnya tidur nyenyak.
Lea yang sudah mandi dan hanya lihat Yuna yang tertidur pulas. Sepertinya Yuna sangat lelah setelah mengikuti serangkaian acara pernikahan Nada dan Varell tadi pagi.
Setelah kembali, Yuna melihat Lea yang terngkurap di sofa dan terlihat tampak melihat ke layar tablet. Jari-jari lentik Lea sudah bergerak menelusuri layar pintar miliknya dan Yuna jadi penasaran dibuatnya.
"Tadi kemana? Zio nyariin kamu." Yuna yang ikut duduk di sofa sebelahnya.
Lea berkata "Kamu itu asistenku. Apa asistennya Zio?"
"Aku tidak tahu." Jawabnya ketus dan hari ini Yuna benar-benar membiarkan Lea untuk pergi bebas tanpa dirinya.
"Apa tadi Zio datang ke pesta?"
"Iya."
Mendengar hal itu, Lea jadi ingin mengorek apa saja yang telah terjadi, meskipun dia sempat melihat ke pantauan cctv.
"Yunaku sayang, apa tadi Zio bertemu seseorang selain aku?"
"Mana aku. Aku sibuk mengikuti aturan WO. Aku tadi jadi bridesmaid."
"Terus, Zio kenapa nyariin aku?"
"Iya nyariin kamu. Kamu yang undang dia datang ke pernikahan Mbak Nada."
"Benar juga. Aku malah lupa kalau aku udah undang Zio ke acara resepsi."
Lea meraih ponselnya dan ia juga dari pagi telah meninggalkan ponselnya di meja yang ada di ruangan itu.
Banyak pesan masuk dari Zio dan juga dari beberapa kenalanannya yang lain. Ada pula, beberapa komentar dari para sepupu tampan yang menyayangkan tingkah lakunya.
__ADS_1
"Aaah, brisik." Desisnya saat membaca satu persatu pesan dalam aplikasi layar pintarnya itu.
"Lea, apa Zio punya saudara?"
Degh
Mendengar kata itu, Lea jadi berubah rona dan ia menjawab "Aku tidak tahu."
"Tapi tadi. Zio sempat tanya sama pelayan, kalau dia melihat suadara laki-lakinya di hotel ini."
"Benarkah?"
"Aku cuma mendengarnya saja."
"Berarti, tadi kalian sempat berduaan?" Tatapan serius dari wajah Lea.
Yuna menjawab "Aku hanya melewatinya."
Lea berkata "Aku tidak banyak tahu tentang Zio."
"Kenapa begitu? Kalian sudah lama berhubungan."
"Entahlah, aku sendiri mulai nggak ada rasa."
"Hah? Nggak ada rasa?"
"Sepertinya begitu. Aku sendiri bingung. Aku harus mulai fokus sama kuliahku. Biar aku cepat lulus."
"Iya, benar. Kamu harus rajin kuliahnya. Jangan aku terus yang datang ke kelasmu."
"Kita memang satu kelas."
"Heh, sampai kapan aku berpura-pura menjadi kamu, saat jam kuliah Mr. Fredy??"
"Iya iya, semester ini doang. Mulai bulan depan. Aku akan serius dan segera ambil skripsi. Puas kamu sekarang?"
"Ya, lumayan." Yuna juga meraih ponsel dan ada panggilan masuk. Dia perlahan menyingkir dari hadapan Lea.
"Tumben pakai menjauh segala. Apa dia punya pacar?" Lea yang menatap arah Yuna.
Yuna sepertinya asyik mengobrol dan tidak ingin terdengar oleh Lea. Tapi, Lea malah jadi penasaran dibuatnya.
"Nyebelin. Dia telephonan sama siapa? Pakai ngumpet-ngumpet segala." Lea jadi tersenyum tengil dan membalas beberapa pesan singkat itu dengan perasaan gemas.
"Zio ingin bertemu? Emh, sebaiknya besok saja bertemu di kampus." Gumamnya dan secepatnya membalas lagi pesannya.
Yuna kembali mendekat dan ia berkata "Lea, aku pergi dulu. Aku ada janji sama orang."
"Oke."
"Aku tidak akan lama."
"Iya, sana pergi. Aku tidak akan mengunci asmara kamu."
Yuna tampak tersenyum dan Lea merasa aneh saat melihat Yuna.
"Dasar. Apa dia sedang jatuh cinta?" Batin Lea yang bertanya-tanya, saat melihat Yuna yang tampak menebar kemanisan. Terlihat dari senyuman Yuna, sepertinya memang sedang jatuh cinta.
"Lea. Terima kasih." Batin Yuna seolah yang menari-nari dengan irama cinta pertama.
Tidak lama, ada yang mengetuk pintu kamar hotel itu.
__ADS_1
"Siapa?"