Permen Kapas

Permen Kapas
Niat Jelek Saudara


__ADS_3

"Lionel, lihat mereka." Ucap El yang melihat pengantin baru itu, memasuki area gedung fakultas ekonomi.


"Aku malas melihatnya." Balas Lionel dan ia merangkul bahu El.


"Raja mengabaikan aku." Ucap El dan Lionel melihat ke wajahnya El. Menarik dagunya El, Lionel berkata "Aku tidak akan mengabaikanmu."


El melepaskan tangan Lionel dari bahunya. Lalu berkata "Aku bisa ke kelasku sendiri."


"Elmeera sayang."


El tampak cemberut, berkata "Baiklah. Temani aku. Jangan tinggalin aku."


Semua yang melihat Raja, tersenyum getir. Apalagi, Revan sewaktu keluar dari asrama, begitu berjalan ke depan. Melihat Raja menggandeng Ratu. Perasaannya berubah aneh.


"Siapa kekasihnya?" Revan tadi juga bingung. Dari kemarin sudah memergoki Raja yang bergonta-ganti pasangan, dari muda sampai tua. Apalagi, soal Lionel. Yang dikiranya kekasih gelap Raja.


Di sebuah mobil mewah, sosok tampan nan menawan menatap ke arah El, yang berjalan melewati depan mobilnya.


"Abang, tumben anterin aku ke kampus." Ucap Marla dan ia tidak mau keluar mobil saat Raja masih menggandeng mesra si cupu, dan batin Marla sudah berubah panas dingin.


"Adikku sayang. Ini namanya perhatian." Sang Abang, mengelus rambut Marla.


Marla menghempas tangan abang tampannya dan berkata "Hanya saja, filingku merasa tidak enak. Pasti, Abang ada motif lain. Iya-kan?!"


"Emh, adikku ini memang pintar. Aku memang ada hal lain." Jawab sang Abang tampan ini. Matanya, sudah menatap El dan bibir itu tampak menyungging tipis.


"Jangan bilang, Abang naksir sama mahasiswi di kampusku." Ketusnya Marla.


Kemarin, sempat mendengar kalau ada mahasiswa kampus yang sedang membuat tugas di kantor majalah abangnya.


Marla melihat ke wajah Abangnya, dan ternyata Abangnya tidak menghiraukan perkataannya, Marla mencubit lengan kiri Abangnya, "Hayo, Abang ngaku deh. Siapa gadis yang Abang incar?"


"Adikku yang cantik ini, memang tidak sabaran." Ucapnya gemas dan Abangnya tahu, semalaman Marla menangis. Ia bertanya "Siapa yang membuat kamu menangis? Aku akan memarahinya."


"Emmh!" Tatapan Marla yang sudah memastikan. Tampak wajah sendu dan ia menoleh ke arah Ratu.


"Dia." Tunjuk Marla dengan jemarinya.


Abangnya menatap ke arah Raja, dia bertanya "Maksud kamu, Raja?!"


"Bukan Raja, tapi Ratu. Aku tidak suka dengannya, apalagi dia merebut Raja dari adikmu ini."


Sang Abang menoleh ke arah Marla, dan ia bertanya "Kamu pacaran sama Raja?"


"Emh, iya. Aku pacaran sama dia." Jawab Marla dengan percaya diri. Karena, selama dua tahun terakhir ini, Marla yang lebih mendominasi perkencanan Raja. Apalagi kalau Raja gabut.


"Owh, jadi gadis itu merebut Raja dari kamu?" Pertanyaan sang Abang dan celutuknya, "Cantik juga."


"Iih, Abang malah bilang dia cantik. Dia itu oneng. Anaknya ngeselin. Aneh, gaya dia itu juga katrok, sok cantik, cupu. Bla... bla.. bla..." Ucapnya, semua kejelekan di limpahkan pada Ratu.


Abangnya bertanya "Apa yang harus aku lalukan padanya?"


"Hamili dia, terus tinggalin." Jawaban Marla.


Abangnya mengelus rambut Marla, "Kamu jangan terlalu kejam. Itu tidak baik."

__ADS_1


Marla menatap wajah Abangnya, ia bertanya "Tumben Abang bilang begitu? Apa Abang sudah tobat?"


Marla sangat tahu, kelakuan Abangnya ini. Mana mungkin, Abangnya punya perhatian baik. Apalagi, kepada rival adiknya.


"Marla sayang, tapi kalau sampai menghamili. Berarti aku tanam benihku sendiri. Aku juga punya hati, apalagi sama darah dagingku sendiri."


Marla cemberut, matanya sudah tampak berkaca-kaca. "Pokoknya, aku mau Raja. Gimana caranya, Abang pisahin si cupu itu dari Rajaku."


"Marla sayang, masih banyak cowok yang lain. Buat apa kamu bersikap begini sama Raja?" Sang Abang, masih mengelus rambut adiknya.


"Aku dulu, hanya ingin memisahkan Raja dari Elmeera. Tapi, aku jadi suka beneran sama Raja."


"Elmeera, siapa dia?" Tanya sang Abang dan berpura-pura saja.


"Itu, gadis yang duduk di kursi taman sama cowok manis. Itu cowok namanya Lionel. Raja, El, sama Lionel. Dari SMA selalu bersama, mereka menyebut dirinya Trio RL. Makanya, aku tidak suka sama El, cewek yang terkenal di SMA. Dari situ, aku ingin misahin El dari Raja. Raja selalu memperhatikan El. Setiap hari Raja bersama El, dari berangkat ke sekolah sampai pulang. Raja selalu memperhatikan El. Apalagi, setiap di kantin. El selalu diperhatikan Raja, makan saja sampai disuapi sama Raja. Aku jadi makin kesal sama El."


"Kamu masih kesal sama El?" Tatapan sang Abang berubah penasaran.


Marla menjawab "Iya, aku benci banget sama El. Sekarang ada lagi si cupu. Lihat itu, El pasti juga patah hati. Raja juga sudah berpaling darinya."


"Marla sayang, kamu jangan begitu. Nanti, kamu jadi perhatian sama El. Itu, buktinya kamu memperhatikannya."


"Abang, semua orang juga tahu. Lihat saja itu, Raja menggandeng Ratu, tapi orang-orang melihat ke arah El, yang di campakan sama Raja."


"Bukannya mereka itu, saudara?" Jelas Sang Abang.


"Abang tahu dari mana, kalau mereka itu saudara?" Tanya Marla.


Abangnya menjawab, "Ya filing saja."


"Mereka bukan saudara. Mana ada saudara yang tampil mesra dan selalu memanggil sayang." Ucapnya Marla yang sebal.


Sewaktu semasa di SMA, El selalu mengatakan kalau Raja dan Lionel sahabat kecilnya. Sampai saat ini, El masih mengatakan hal itu, bila ada yang bertanya kepadanya. Setiap hari, dua cowok itu selalu berada di dekatnya dan tidak terpisah.


Abangnya berkata dan masih menatap El dari dalam mobilnya ini. "Seperti kita. Aku sama kamu."


"Misal iya. Aku yakin mereka bukan saudara kandung. Masak iya, saudara seumuran. Kalaupun kembar sepasang, rasanya nggak mungkin." Marla tetap pada pemikirannya sendiri.


"Bisa saja begitu. Nanti Abang cari tahu dulu, tentang El." Ucap Abangnya.


Marla berdecak kesal, "Kok malah El. Si cupu gimana? Harusnya target Abang itu, si cupu."


"Iya, tapi kamu bilang. Awalnya dari El. Ya semuanya. Raja sama El dulu, baru itu cewek barunya Raja. Kamu santai dong." Ucap Abangnya, terlihat lembut.


Marvin, kakak kedua Marla. Dia, itu Bos kejam pimpinan kantor majalah Ziie Ziie dan semalam dia sudah mengawasi rumahnya Raja.


"El sama Raja, sepupuan. El tinggal di rumah Raja. El selalu bersama Raja. Menarik juga." Batinnya Marvin dan merasa tertantang.


Sosok kejam dan suka bermain manis saat bersama perempuan dewasa. Pria menawan dan berusia 27 tahun, sudah 2 tahun ini menjabat sebagai pimpinan di kantor majalah Ziie Ziie milik Mamanya.



"Sudah, jangan menangis lagi. Sana, belajar." Ucap sang Kakak.


Marla masih terus menatap Raja yang memperlakukan Ratu dengan manis.

__ADS_1


"Aku malas. Aku mau pulang saja."


"Hei, aku sudah jauh-jauh antar kamu kemari. Aku tetap disini. Sampai kuliahmu selesai."


"Tapi aku nggak bisa. Apalagi, jadwal pagi ini sekelas sama dia."


"Siapa? El?" Tanya sang Abang.


"Bukan El. Tapi si cupu."


Marla kembali ngambek, kalau sudah begitu. Abangnya juga bingung. Kalau pulang, dia sudah terlambat ke kantor. Apalagi, Marla suka mengadu sama Mamanya dan mengatakan, Abangnya yang satu ini tidak perhatian.


"Oke, ayo pulang. Aku juga bisa tidur di rumah."


Marla masih menoleh ke arah Raja sampai mobil itu bergerak pelan.


"Abang, Stop!"


"Apa lagi?"


"Lihat deh. Raja nyamperin El."


"Huh." Marvin juga sebal sendiri sama Marla, yang suka main perintah.


Marvin menyandarkan kepalanya dan menatap wajah El yang terlihat muram.


Saat ini, Raja berjalan mendekati El dan Lionel.


"Sayang, gimana keadaan kamu?" Tanya Raja.


El terdiam saja dan Lionel juga tidak mempedulikannya. Raja semakin mendekat dan melepaskan tangan El, yang berpegangan pada lengan Lionel.


Raja duduk di antara mereka berdua. El yang berada di sisi kanannya dan Lionel duduk di sebelah kirinya, sudah tampak membuang muka.


"Kalian berdua marah sama aku?" Tanya Raja dan kedua pengawalnya berdiri jauh dari mereka bertiga.


Raja mengelus rambut El, seperti mengelus kucing kesayangan, "El sayang, gimana keadaan kamu? Aku mencemaskan kamu."


"Buat apa kamu peduli sama aku?! Bukannya sekarang, ada Ratu yang harus kamu perhatikan?! Lagian, aku sudah tidak penting lagi buat kamu."


Raja membalasnya lembut, "Siapa bilang tidak penting. Kemarin, aku telephone kamu. Tapi, kamu matikan panggilanku?"


"Kapan?! Aku nggak merasa begitu?" El berusaha mengingat-ingat. Kemarin siang, El rapat dengan teman kelompok dan juga Bos kantor majalah Ziie Ziie, sepertinya waktu itu.


"Benar, aku butuh kamu. Aku nggak ada teman waktu akad nikah kemarin."


Lionel mendengarkan saja, ia masih membuang muka masamnya.


Raja merangkul bahu Lionel, ia berkata "Lionel, kemarin aku juga menghubungi kamu. Tapi, aku belum sampai bicara. Kamu bilang. Masku sayang, sorry banget. Aku lagi sibuk sama cewek baruku."


Raja berubah cemberut, mereka berdua teguh.


"Sorry."


Keduanya, masih ngambek.

__ADS_1


"Ayolah."


__ADS_2