Permen Kapas

Permen Kapas
Mandiri (Mandi Sendiri)


__ADS_3

Sore hari dengan perasaan gemas. Lea tidak jadi menyusul sang suami.


Suaminya ternyata tahu tentang kejadian Lea dan Rainer. Sekarang ini, sudah terbang ke negeri tercinta.



"Heran deh. Siapa yang kasih info sama Mas Setya?" Tanya Lea, kepada Yuna.


"Mungkin adiknya. Zio." Jawab Yuna.


"Yunaku sayang. Zio orangnya nggak ember deh. Apa mungkin, Mas Setya ada mata-mata." Ulasnya.


Mereka berdua, tiduran di atas sofa. Malas beranjak dari kamar pribadinya. Mandi malas, makan tak berselera, Yuna juga takut akan sosok Setya. Apalagi kalau tersenyum, malah membuat Yuna jadi merinding.


"Lea, nanti malam subuh, suamimu sampai sini. Aku sebaiknya cari kamar." Yuna yang bersiap untuk beranjak dari sofa, tangan Lea secepat kilat meraih jaket Yuna.


"Jangan tinggalin aku." Pinta Lea dan tangan kirinya itu, masih memegang erat sisi kanan jaket Yuna.


"Lea, aku harus cari kamar dulu. Aku nggak nyaman kalau suamimu tiba-tiba datang. Tahu sendiri aku sangat malas kalau waktu subuh. Biasanya masih ngorok."


"Kamu ini asistenku, apa asistennya Mas Setya?" Tanya Lea dan beranjak dari sofa. Menatap Yuna, yang tampak diam dan mematung.


"Aku asisten kamu. Aku akan selalu berpihak sama kamu, sayangku." Jawab Yuna dengan wajah gemas.


"Kalau begitu. Tetaplah disini dan tidur di sampingku. Paham." Meski suara itu terdengar lembut, tapi sangat menyiksa perasaan asisten pribadinya.


Yuna dengan bibir manyun unyu, ia berkata "Aku mau pesan makan dulu."


Lea menggeleng dan ia memegang ponsel "Aku bisa telephone Bang Riko."


"Owh, aku ada hal di luar. Ini tadi, Kevin minta aku ketemuan sama dia." Yuna yang masih saja mencari celah untuk kabur.


Lea berkata "Bang Kevin tadi pergi ke rumah Om Jimmy. Dia lagi ada acara keluarga."


"Owh, itu yang aku maksud. Aku harus menemani dia. Aku disuruh nyusul kesana. Iya, begitu."


"Benarkah?" Tanya Lea, meski senyum tetapi sudah membuat Yuna gelisah.


Yuna kembali duduk di sofa dan tidak jadi pergi kemana-mana. Yuna berkata "Lea, aku takut sama suamimu. Dia kalau tanya A-Z. Kadang, aku jadi bingung mau jawab apa. Nanti, kalau dia tanya soal Rainer. Aku ini harus jawab apa? Apa aku bilang saja, Rainer pacar pertama kamu."


Lea yang sudah berkacak pinggang. Lea berkata dengan suara merdu "Iya, kamu bilang saja. Rainer, pacar pertamaku yang susah untuk dilupakan."


Yuna sudah kalah, ia lalu berkata "Baik. Aku akan menemani kamu. Aku tidak akan mencari kamar lain."


Lea kembali rebahan manja di atas sofa. Menatap gambar yang ada di layar ponselnya.

__ADS_1


"Mas Setya tidak akan marah. Tapi, dia hanya akan sedikit kesal padaku. Sama seperti Zio. Aku dulu begitu kalau lagi marahan dan cemburu." Ujarnya, yang tampak santai.


Yuna yang masih gelisah berkata "Misal, kalau Setya marah. Terus kamu dibawa dia pergi ke seberang benua gimana? Apa kamu mau ikut?"


"Tidak mau. Aku suka disini. Aku juga nggak bisa jauh-jauh dari kamu." Jawab Lea begitu jelas dan tanpa berfikir.


"Makanya belajar hidup tanpa aku." Ujar Yuna dan sok menasehati.


Lea membatin, "Kata-katanya, berasa dejavu."


Lea kembali mengingat, "Ah, iya. Aku pernah bilang begitu sama Zio. Kenapa aku malah tidak bisa belajar hidup mandiri??"


Yuna berkata "Lea, kamu kenapa?"


"Kamu benar, aku harus belajar hidup mandiri. Tapi aku masih susah, kalau harus tidur terpisah dari kamu. Apalagi, soal makan, pakaian, dan semuanya kamu yang mengaturku. Aku ini bisa apa tanpa kamu." Bibir Lea jadi cemberut gemas dan menatap Yuna.


"Lea, aku jadi terhura-haru." Yuna yang tampak lebay. Ia malah tersenyum gemas manja.


"Iya, kamu benar. Kamu boleh pergi ke kamar lain. Buat aku latihan tanpa kamu." Eith, Lea hanya omongan saja.


"Kamu mengusir aku?" Tatapan Yuna saat ini, antara senang dan susah-susah gampang. Untuk membiarkan Lea untuk mandiri.


"Sebaiknya aku usir kamu. Agar aku bisa hidup mandiri." Bilangnya begitu lagi, tapi eskpresinya bikin kesel. Raut wajah yang kekanakan dengan bibir unyu gemas.


Yuna mendekat dan memeluk Lea "Sayangku, jangan bilang begitu. Aku juga sudah terbiasa begini. Aku juga, akan susah hidup leluasa tanpa rengekan manja dari kamu."


"Apa kamu bisa mengira-ngira air hangat untuk mandimu?" Tanya Yuna dan tampak penasaran.


"Nanti aku tungguin airnya." Jawab Lea, yang tampak santai.


"Terus, kalau kamu nyiapin baju?"


"Ya aku cari sendiri."


"Kalau ngeringin rambut?"


"Nanti ada Mas Setya."


"Benar juga. Kalian berdua bisa niruin dari serial drama." Yuna dengan senang hati, ia lanjut berkata lagi "Oke, kalau begitu. Aku pergi dulu ya."


"Jangan sekarang. Besok saja. Malam ini, kita makan malam berdua, terus tidur juga satu ranjang, emh lahitannya besok aja deh. Apalagi, nanti Mas Setya datang kemari. Aku pasti akan fokus sama dia. Mana bisa aku nyiapin keperluanku." La dala, endingnya jadi ngelawak. Tuan putri satu ini, memang tidak bisa apa-apa. Bagaimana, nanti hidup di rumah suaminya.


Dalam hati Yuna "Huh, seandainya saja Lea belum menikah. Aku tidak akan merasa kesulitan begini."


Lea meraih tangan Yuna "Yunaku sayang, ini kutekku udah terlepas." Lea memang sangat manja kepadanya.

__ADS_1


"Iya, kan udah mau maghrib biar lepas sekalian. Nanti aku pakaiin lagi." Yuna begitu sabar, sudah seperti Mamanya sendiri. Malahan, Mamanya saja tidak pernah mengurus Lea. Bayinya dulu, yang merawat beby sister, setelah anak-anak beberapa pengawal, sampai seharian menghilang ke tengah hutan. Eh, tahu-tahu baliknya sama Yuna, dan sampai sekarang selalu ingin bersama Yuna.


"Ya udah kelupasin semuanya." Lea begitu manja kepada Yuna.


Bilangnya doang, mau mandiri. Mungkin mandi sendiri. Eh, mandi saja juga disiapin sama Yuna. Doi tinggal nyemplung ke bathtub. Apalagi kalau keramas, sudah seperti creambath di salon.


Yuna sangat menyayangi Lea, apapun dia lakukan untuk menyenangkan Lea. Yuna, sebenarnya sudah lebih tua satu tahun. Demi Lea, ia menunda setahun waktu duduk di bangku SMP dan mereka jadi satu kelas.


Setelah malam tiba. Lea yang terbaring dalam pangkuan Yuna.


"Pilih yang mana kuteknya?" Yuna memperlihatkan barisan kutek di dalam tas khusus.


"Warna nude aja. Lagian buat bobok cantik."


"Emmh, siapa tahu suamimu tiba-tiba berbaring di sampingmu."


Lea menatap Yuna, "Kamu jangan kasih kesempatan sama Mas Setya. Yunaku sayang, kalau dia nyampenya subuh. Aku juga akan bangun duluan."


"Lea, Lea. Namanya juga suami, mau tidur seranjang aja dilarang-larang." Ucap Yuna dan ia mulai memakaikan kutek peel off pada kuku-kuku cantiknya Lea.


"Yunaku sayang. Aku sama dia nikah juga karena Papa. Mau aku bilang itu bukan perjodohan, tetap aja itu ada tulisan hitam di atas putih. Ada perjanjian pra nikah segala macam."


"Emmber, kamu bilangnya ke saudara. Mas Setya itu pilihanmu sendiri. bla bla bla, aku dengerin aja risih." Canda Yuna dan ia jadi terpingkal-pingkal.


"Mau gimana lagi. Aku jadi bahan omongan semua abangku. Mereka juga langsung, nuduh aku ninggalin Zio. Terus, aku bilang aja. Emang awalnya, aku sama Mas Setya itu selingkuh dari Zio. Meskipun, hanya dua minggu, terus bubar. Tapi, perasaan aku beneran Nyata." Balasan Lea, yang sesuai perasaannya.


"Lea, Lea, kamu ini senangnya begitu aku sih emang tidak heran. Kalau kamu biangnya, sampai memperlihatkan sikap konyolmu sama semua sepupumu. Padahal, sepupu kamu semuanya cowok."


"Ya, aku malah bisa ngadu. Bilangnya gini, aku diajarin sama Bang Boyz dan Mas Eza. Jadinya, aku disayang sama Budhe, Pakde dan Om, Tante."


"Kamu yang bandel, eh minta pembelaan."


"Iya dong. Tapi, mereka tahu aku ini ya begini. Makanya, kalau aku nurut sama perjodohan. Mereka semua malahan heran dan nggak bakalan percaya. Ya udah aku bilang aja begitu. Aku main belakang sama Mas Setya. Eh, jadinya Mas Setya dikeroyok sama sepupuku." Lea cekikikan.


"Aku ingat, kamu lari duluan. Setya beneran di keroyok sama sepupumu. Mereka tanya ini itu. Aku diem aja."


"Eh, tapi Bang Boyz ternyata kenal. Mas Setya sama Bang Boyz dulu satu SMP."


"Emang iya?" Yuna yang penasaran. Yuna tahunya, Kevin yang satu SMA sama adik sepupu Lea, yang bernama Boyz.


"Beneran, aku juga tahunya dari Bang Boyz, setelah akad nikah."


"Aku heran. Suami kamu baru satu minggu udah OTW kemari. Terus, disini berapa hari?" Tanya Yuna.


"Ya, mana aku tahu. Kamu yang terima pesan dari Mas Setya. Aku malah nggak dikasih kabar apapun, kalau dia udah berangkat kemari." Jawab Lea.

__ADS_1


Tok tok tok



__ADS_2