
Semoga bab sebelumnya lolos. Sudah 2x ditolak. 😌 Othor mainnya kalem. Nggak bringasan. Tetap Ditolak halus.
Malam gelap menyikap selimut tebalnya.
Menjerat dengan segenap jurus mautnya.
Melupakan semua masalah dalam batinnya.
Mengeliat indah saat menyerukan namanya.
"Yunaku sayang. Darling. Sadarlah." Ucapnya.
Mata Zio sudah terbelalak, saat melihat Yuna yang memakai lingerie, dan menari errootiis di hadapannya.
Cleeguk.
Zio yang mengambil minuman, dan langsung meneguknya. Memandangi paras indah Yuna yang menggoda dirinya.
"Darling. Stop!"
Datang tanpa mengetuk pintu dan salahnya Zio, pintu kamarnya tidak di kunci. Begitu datang di ranjangnya, menyingkap selimut Zio dengan garangnya.
Zio yang terbangun dari tidurnya, hanya menatapnya saja. Yuna malah menari sexxy di depan suami imutnya ini.
"Imut, kenapa kamu semakin tampan??!"
"Darling. Stop!" Ucap ya lagi.
Yuna semakin bringas dan merayap ke ranjang suaminya. Zio jadi menjauh, dan Yuna semakin merayunya.
"Help me." Zio merasa kegelian, saat tangan Yuna meraba pahanya.
Yuna bertanya "Kamu tidak tergoda?"
"Kamu masih normal?!" Zio melotot dan mencubit kencang tangan Yuna.
"Aauh, sakit tauk." Yuna menebas tangannya dan memukul dadanya.
Zio menatap lekat wajah istrinya, ia berkata, "Cepat pakai kimono kamu."
Yuna menarik selimut Zio dan menelangkupkan ke badannya.
Yuna berkata "Aku lebih baik hamil beneran, dari pada disuruh minum racun."
"Racun?? Siapa yang mau meracuni kamu?" Tanya Zio dengan tegas.
"Mama kamu. Dia ngasih aku ramuan pahit banget, sampai aku pusing. Dari pada setiap hari aku harus meminum ramuan itu, lebih baik kamu hamili aku."
"Kamu sudah gila. Apa kamu lupa perjanjian kita berdua??"
"Zio, aku tahu. Tapi, Mama kamu kalau ngoceh sudah keterlaluan." Balasnya.
Yuna semakin kesal dan merasa gagal saat memikat Zio.
Zio memegang pipinya "Aku sayang sama kamu. Seperti aku menyayangi Lea. Kamu harus sabar."
"Aaa.. Sampai kapan kita harus hidup bersama Mama kamu?" Gertak Yuna kesal.
"Mamaku memang begitu. Kamu bisa melawannya, Lea bisa melawannya. Kamu juga harus bisa." Ucap Zio.
"Kamu enak, dia Mama kamu. Aku, dimata dia, cuma menantu sialan." Ucapnya dan merasa sebal.
Zio meraih Yuna dan memeluknya "Aku minta maaf. Aku yang salah."
"Aku sudah maafin kamu. Aku juga salah." Balas Yuna.
Zio yang tersenyum, ia berkata "Untung saja kamu cuma di depan aku. Coba di depan Revan atau Tommy. Kamu bisa dilahab mereka."
"Apa aku tidak sexy, dimata kamu?" Tanya Yuna.
"Kamu sexy, tapi aku tidak suka." Jawab Zio yang terlalu jujur.
Zio melepaskan pelukannya, ia berkata "Pakai kimononya, sini. Bobok sama aku."
"Aah, ogah." Balasnya dan berlari meraih kimono merahnya.
Zio berkata "Kemarilah, aku tidak akan memakan kamu."
Yuna sibuk memakai kimono dan mengikatnya rapi.
__ADS_1
"Yunaku sayang. Darling. Kemarilah." Panggilnya lagi, dan Yuna tidak menghiraukannya.
Zio mendekatinya dan berkata manis, "Kamu mau minum ramuan gila lagi? Atau tidur bersama aku?"
Yuna menoleh ke wajahnya, ia berkata "Imut, aku akan menurut sama kamu. Bukan berarti, aku sudah jatuh hati sama kamu."
"Aku juga, meski aku akan meniduri kamu, aku belum tentu menyukaimu." Liciknya perkataan si imut.
Yuna merangkul bahu, ia berbisik "Imut, kalau aku kilaf, jangan salahkan aku."
Zio memegang pinggang Yuna, ia berkata "Kalau aku menerkam kamu, kamu jangan memarahiku."
"Deal!"
"Oke!"
Keduanya naik ke ranjang dan tidur berdua.
"Zio, ingat. Jangan tendang aku." Peringatnya.
"Iya, iya. Kamu pasti sudah diberi tahu sama Mas Setya."
"Apa kamu lupa?? Kita pernah tidur bertiga. Kamu juga menerobos batas tidur kita. Untungnya saja aku yang disebelahmu, bukan Lea."
"Aku??" Zio belagak amnesia. Tampak anteng memeluk gulingnya.
"Huft, menyebalkan."
Zio membuang gulingnya ke lantai, ia meraih Yuna dalam pelukannya. "Oke, udah nggak ada batas lagi. Kalau begini, aku nggak akan lupa. Kalau aku tidur sama kamu."
"Iya, tapi tangan kamu sudah menyentuh tubuhku." Desissnya. Yuna merasa kalau Zio memanfaatkannya.
"Beneran, aku nggak akan lupa. Ayo bobok." Ucap Zio santai.
Yuna menoleh ke wajah Zio, ia jadi bertanya "Sebesar itukah cinta kamu buat Lea?"
"Sudahlah, jangan dibahas. Ayo bobok. Pelukan."
"Aku tidak kasian sama kamu. Aku hanya peduli." Ucap Yuna.
Zio merasa kalau Yuna sudah bawel, ia menatap lekat wajah Yuna. Zio berkata "Kamu istriku. Percayalah sama aku."
Yuna menatap wajah itu, dan sorot mata Zio memang terlihat begitu. Ada rasa yang susah untuk diungkapkan.
"Darling, kalau kamu tidak bobok. Aku akan menghamili kamu."
"Kamu berani??"
"Aku tidak mau meladeni kamu."
Zio memejamkan kedua matanya dan Yuna memegangi bulu mata yang lentik itu.
Wajah imut Zio, bibir imut Zio, hidung mancung Zio, pipi, dahi dan dagu. Sudah seperti dalam karakter anime.
"Imut, aku juga menyayangi kamu."
Yuna memeluknya dan merasakan debaran jantung Zio.
Zio tersenyum dan memeluk Yuna dalam kehangatan malamnya.
"Imut, kamu ingat nggak sih. Malam pertama kita?" Tanya Yuna.
"Jangan dibahas lagi. Ayo bobo."
"Kamu beneran lupa, seperti aku?"
"Aku ingat. Aku sadar." Jawab.
Yuna mendorongnya, ia menatap Zio "Kamu gila?? Kamu memperkosa aku?"
"Aku tidak begitu. Kamu merayuku."
Yuna bingung dan salah tingkah sendiri, seingat dirinya, memang awalnya Yuna yang menjelajahi wajah Zio.
"Ah, aku beneran lupa." Tolaknya.
Zio meraihnya kembali dan membuat Yuna tidur dalam dekapan mesra.
__ADS_1
"Aku yang salah. Aku beneran sudah tergoda. Aku kilaf." Balasnya.
"Kenapa kamu tidak meninggalkan aku?" Tanya Yuna, yang masih penasaran.
"Aku nggak mau kalau kamu sampai dilahab Revan atau Tommy. Lebih baik, aku yang menjaga kamu dari mereka berdua." Jawabnya.
"Kamu bilang menjaga?? Kenapa tidak membunuh aku sekalian??" Cebiknya kasar.
"Aku sudah minta maaf, kamu juga sudah memaafkan aku." Balasnya.
"Aku yang harusnya menjaga kamu." Ucap Yuna dan merasa salah.
"Kamu saja tidak bisa melindungi dirimu sendiri." Ucap Zio gemas.
"Eh, tapi yang malam sebelumnya. Aku yang menolong kamu dari rayuan mak lampir di club."
"Iya, iya, aku sudah tahu."
Yuna berkata "Jagain aku terus. Sampai nyawamu menjadi taruhannya."
"Kenapa harus nyawaku sebagai imbalannya??"
"Aku sudah menolong kamu. Tapi, kamu merenggut kesucianku."
"Aku menolongmu. Kalau tidak begitu, kamu pasti sudah digilir Tommy dan Revan. Kamu mau seperti itu??" Terang Zio.
Yuna merasa memang begitu faktanya, "Aku jadi kepingin nangis."
"Sudah jangan menangis. Kamu bilang, kamu tidak menyesal. Semua kamu lakuin demi Lea. Ya sama, aku menjaga kesayangan Lea. Sudah, jangan nangis. Aku sayang kamu. Mmmuuaach."
Zio mengucup gemas pipinya Yuna.
Yuna beneran menangis, tanpa ia sadari air mata bening mengalir begitu saja. Kedua tangannya memeluk erat suaminya.
"Jangan tinggalin aku."
Zio membalasnya "Siapa yang mau ninggalin kamu. Kalau aku nggak sayang kamu. Waktu itu sudah aku tinggalin kamu di Villa."
"Jahat banget ngomongnya. Sudah mirip sama Mama kamu." Ucap Yuna.
"Aku putranya, ya sama. Masa aku harus mirip yang lain. Tapi, Mamaku nggak galak kayak kamu. Cuma, Mamaku masih bingung, apalagi aku harapannya satu-satunya. Tahu-tahu, aku berbuat begitu, dan menghancurkan harapan Mamaku. Makanya, aku membiarkan Mamaku ikut kemari. Dari pada aku dibawa kabur lagi. Mendingan, aku ajak Mamaku."
"Dassar, anak Mama." Ucap Yuna.
"Mamaku, Mama kamu juga Darling."
"Aku cuma merasa aneh saja. Aku akan coba membiasakan diri."
Zio merasa Yuna sudah lebih tenang dan bisa menerima keadaannya.
"Aku mau ke kamar mandi." Ucap Yuna dan ingin membasuh wajahnya.
Air mata yang luruh sudah meredam perasaannya. Meski sakit dan merasa kecewa, setidaknya dirinya sudah menerima keadaannya saat ini.
Yuna yang beranjak ke kamar mandi dan Zio tampak mengikutinya.
"Kenapa mengikuti aku?"
"Aku mau pipis." Jawab Zio.
Yuna melotot, ia berkata "Ya udah sana. Aku mau ke wastafel."
Berduaan di kamar mandi. Yuna merasa biasa saja. Ini bukan pertama kalinya melakukan kekonyolan dengan Zio. Pernah berciuman di depan orang banyak. Zio cuma buang air kecil dan tempatnya tidak terlihat, meski mereka dalam satu ruangan.
"Imut, pasti banananya juga imut."
Zio ternyata mendengar hal itu, saat ia melewati Yuna. Zio berkata "Apa kamu mau mencobanya?"
"Imut, aku hanya bercanda." Jawabnya.
"Bananaku tidak seimut yang kamu bilang." Zio sedikit sensi.
Yuna berkata "Aku hanya melihat wajahmu yang imut. Mirip boneka bananaku."
Zio ke arah wastafel, "Sana pergi tidur. Kalau nggak, aku suruh kamu makan banana milikku."
Yuna menunduk dan melihat ke arah celana pendek Zio, "Emh, imut. gemees."
"Beneran? Mau makan bananaku??" Tatapan Zio semakin sensi.
__ADS_1
Yuna menjawab "Lain kali saja."