Permen Kapas

Permen Kapas
Kami Mencintaimu


__ADS_3

"Yunaku sayang." Lea yang duduk di sofa dan memeluk gemas bantal berbentuk permen kapas panjang lonjong warna warni bagai pelangi.


"Ada apa?" Yuna yang langsung duduk di sebelah kanannya.


"Tolong kamu siapin, semuanya. Besok, pulang dari kuliah. Aku mau nyusul suamiku kesana." Ucap Lea, yang sudah tampak gemas-gemas manja.


Yuna tersenyum manis semanis permen kapas kesukaan Lea. Yuna berkata, "Baik Nona Allea Gita Madaharsa. Saya akan segera menyiapkan semuanya."


Yuna serasa mendapat kesejukan, ia sementara waktu bakalan lepas dari Setya. Bagaimana tidak pusing, dari pagi subuh sudah calling dan Yuna yang menjawabnya, lalu chat ke ponsel Yuna.


[Yuna, apa istriku sudah bangun?]


[Yuna, apa istriku baru sholat? Kenapa telephone dariku tidak diangkat?]


[Yuna, apa istriku sudah sarapan?]


[Yuna, apa istriku baik-baik saja?]


[Yuna, apa kalian masih berada di luar? Jam berapa kalian pulang?]


[Yuna, jangan lupa bunga yang aku kirim, ambil di lobby.]


[Yuna, apa istriku menyukai bunganya?]


Bla bla bla, itu membuat Yuna sangat malas. Pacarnya saja, jarang sekali chat ke nomor pribadinya. Palingan bertemu di apartemen atau di kantornya. Karena itulah, Yuna memilih Kevin yang cuek bebek, meskipun kalau cemburu siap menghajar saingannya.


Sedangkan dulunya, si imut palingan cuma tanya sewajarnya, tidak seperti Setya.


Contohnya begini, selama Lea menjalin asmara dengan si imut Zio.


[Haii Yuna, kenapa My Honey tidak balas pesanku? Apa dia sedang tidur?]


Yups, seperti itu saja. Makanya, asisten satu ini sempat marah waktu Lea menjalin hubungan dengan dua pria sekaligus. Awalnya Setya biasa saja, tapi setelah bertunangan, dia semakin gencar dan Yuna yang harus menjawab semua pertanyaannya.


"Itu jangan. Terlalu terbuka." Ucap Lea yang tinggal tunjuk, membuat sang asisten priabinya ini semakin bingung, saat memilih pakaian yang harus dibawa Lea.


Itu nggak, itu nggak, itu jangan. Seperti itu terus, saat packing baju ke dalam koper besar.


"Ya udah, nggak usah bawa baju."


"Terus, aku harus pakai apa Yunaku sayang?"


"Udah ini aja, sexy. Biar mata suamimu tidak jelalatan sama yang lain." Ketus Yuna, yang bingung saat packing.


Lea berkata "Jangan dong. Kalau aku pakai begituan. Apa kata dia. Aku juga nggak mau tidur di apartemennya. Aku harus tidur di hotel. Ingat, kamu harus cari hotel yang nyaman."


"Iya, iya. Rempong amat sih Buk. Lagian, cuma seminggu doang. Kenapa nggak nginep aja di apartemennya Setya?"


"Meskipun, aku sama Mas Setya sudah menikah. Aku sama dia sudah janji, nggak ada hubungan suami istri. Kecuali nanti, kalau aku udah lulus kuliahnya."


"Setahun itu juga cepat loh, Bu Lea." Yuna yang mengedipkan sebelah mata dengan tapapan manis manja, lalu jadi tertawa riang gembira.


Lea kesal, dari tadi di panggil Bu Lea sama asisten manis manja ini "Yunaku sayang. Meski setahun itu cepat. Setidaknya, aku bisa pacaran."


"Eeeh, kamu mau pacaran lagi?"


"Iya."


"Lea sayang, sadar. Kamu sudah bersuami."


"Aku sadar. Makanya aku mau pacaran dulu sama suamiku." Ucap Lea dengan gemas.


"Yee, aku pikir kamu bakal selingkuh lagi sama yang lain."


"Gimana mau selingkuh. Setiap waktu, dia calling aku. Kamu sendiri juga paham."


"Bukan paham lagi. Kepalaku langsung nyut-nyutan kalau Tuan Muda Setya sudah memanggil."


"Nanti, habis isya kita beli baju dulu aja kali ya. Jangan yang terbuka. Aku harus cari yang kalem."

__ADS_1


"Oke, siap."



Yuna melihat hal aneh dari Tuan Putri biasa ini dan langsung merangkul lengan Lea, "Lea, tadi kamu bilang kita mau ke Mall. Kenapa malah ke store fashion Mama kamu?"


"Mulai saat ini, aku harus mencintai produk sendiri. Seperti, aku mencintai Mas Setya."


"Maksud kamu, produk lokal?"


"Iya, seperti suamiku, dia juga buatan lokal." Lea semakin manis.


Yuna malah menggoda. "Baguslah. Mulai sekarang, kamu harus beli baju-baju brand Beby Fashion."


"Eits, jangan bilang-bilang sama Mama."


"Kenapa? Pastinya Mama kamu bakalan senang." Yuna langsung mengeluarkan ponsel.


Lea yang berjalan-jalan, menelusuri toko fashion, milik Mamanya. Yuna tidak lupa untuk memotretnya.


Cekreek


Cekreek


Cekreek


Kirim langsung ke Nyonya besar. Yuna memberikan caption, Nona Lea beli baju.


Yang di rumah mewah bak istana, baru saja membuka pesan itu. Kebetulan yang disana baru selesai makan malam.


"Papa, lihat ini." Sang istri yang tampak memperlihatkan foto putri mereka. Lea berbelanja di store fashion miliknya.


"Gimana? Mama sudah mengerti maksudnya Papa. Walaupun Lea tidak berubah, setidaknya dia mengerti keadaan suaminya."


Sang Mama berkata "Ini baru awal saja. Papa jangan kesenangan begitu."


"Mama juga hanya bisa mendo'akan kebahagiaan putri kita. Mama ingin, Lea tetap dengan tingkah lakunya. Yang usil, gemesin dan nekatan." Bilang saja, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. Mama Beby juga begitu, nekatan dan susah dinasehatin.


Sang suami berkata lembut "Yuna sudah bilang sama Papa. Besok malam, Lea mau terbang nyusul Setya."


"Papa kasih ijin?" Tatapan Mama tidak senang.


Papa memeluk istrinya "Mama, pasti Papa berikan ijin. Biarkan Lea pergi, nyusulin suaminya."


"Tapi Mama mau ikut. Mama nggak tega." Widih, Mama Beby mau ikutan. Gimana nanti anaknya mau pacaran.


"Mama, biarkan saja. Ada Yuna yang temani Lea. Dia tidak sendirian." Papa Arjuna juga ada-ada saja, waktu Yuna mengabari, malah Yuna diperintah untuk ikut serta bersama putrinya. Yang tadinya mau bersantuy, tetap saja harus bekerja.


"Papa, Mama jadi cemas. Dulu saja Mama kuliah di seberang sana, juga ditemani Mama Abyaz, sampai lulus kuliahnya masih ditemani."


"Yah kan dulu Mama belum menikah, sekarang Lea sudah jadi istri. Mama di rumah sama Papa. Kita jangan mengganggu mereka."


"Siapa juga yang mau gangguin!"


Tatapan istrinya tercinta semakin kesal, dan sang Papa akhirnya menyerah.



Kembali pada mereka berdua, yang shopping baju dan aksesoris perempuan.


"Gimana? Bagus tidak?" Tanya Lea yang mencoba blouse motif bunga-bunga.


"Beneran deh Bu Lea. Pantes, jadi Ibuk-ibuk." Jawab Yuna yang telah menyindir halus.


Lea kembali ke ruang ganti dan lanjut berganti lagi ada tunik seperti kemeja panjang warna pinky.


Secepat mungkin keluar dari ruang ganti, "Yunaku sayang, gimana kalau yang ini? Oke?"


"Ya, lumayan." Jawab Yuna tampak datar.

__ADS_1


Lea kembali ke ruang ganti, sudah ada 9 baju yang Lea ambil. Tapi, Yuna selalu bilang tidak cocok dan lumayan.


Lea kembali ke menatap Yuna, dari sisi ruang ganti. Dia hanya mengeluarkan bagian kepalanya saja.


"Yunaku sayang. Tolong carikan baju buat aku. Yang warna pastel, terus simple, pokoknya yang berlengan."


Tadinya, heboh sendiri main ambil dan akhirnya kembali meminta sang asisten, untuk memilihkan fashion yang cocok untuknya.


"Siap Nona Allea."


"Hissh, jangan panggil aku begitu."


Yuna gerak cepat memanggil dua pelayan untuk membantu dia. Tidak butuh waktu yang lama. Yuna sudah mendapatkan beberapa baju yang cocok untuk tuan putri Allea.


"Ini Nona Allea. Silakan anda coba."


Bibir Lea sudah menggerutu sendiri dan Yuna menutup rapat ruang ganti itu.


"Lea, Lea. Kamu sudah menikah atau belum. Tetap saja membutuhkan aku." Gumamnya.


Yuna merasa, Lea sama sekali tidak berubah. Dirinya juga sudah terbiasa hidup dengan Lea. Dari kecil, hingga dewasa ini, mereka berdua tetap sama seperti dulu.


^^^Keesokan harinya di kampus.^^^


Pagi-pagi setelah berita jomblo tampan mencuat ke warga kampus Glory.


Revan dan Tommy, membuat audisi untuk calon pacar Zio. Duo jomblo edan itu, memang sebenarnya suka mencari perhatian dari para kaum hawa di kampus Glory.


"Lewat."


"Kamu tidak cocok."


"Zio tidak akan suka kamu."


"Tidak cocok."


"Lumayan. Pergilah ambil nomor."


Barisan perempuan itu juga hanya ingin meraih kesempatan, agar bisa sepopuler Lea dan Clarissa.


"Gilaaa. Revan dan Tommy masih saja suka iseng."


"Lea, kamu takut tersaing sama mereka?" Tanya Yuna ,yang melihat para gadis berlomba-lomba untuk meraih hati Zio.


Zio hanya duduk di teras yang cukup jauh dari dua jomblo tampan itu dan tidak peduli dengan perbuatan mereka berdua.


"Aku tidak takut tersaingi. Lagian, ini kesempatan Zio bersenang-senang."


Yuna hendak menggodanya, "Kalau Clarissa gimana?"


"Yunaku sayang. Biarkan saja, aku tidak peduli." Jawab Lea.


Jeng-jreeng.


Wuss!


Breemm Breemmm!


"Lea, aku datang."


Barisan mobil sport nan keren terlihat memasuki parkiran.


Para gadis jomblo warga kampus Glory, jadi teralihkan semua. Yang tadinya mengantri jadi bubar.


Mereka semua berlari mendekat ke arah parkiran, untuk melihat siapa yang datang.


"Lea, We Love You." Spanduk cinta membentang sempurna.


__ADS_1


__ADS_2