
Saling menatap dengan rona berbeda. Lea bisa melihat senyuman aneh dari Zio, dan sang pacar tampan itu telah menganggap omongan Lea barusan serius.
"Kamu, mau kita menikah?"
Lea menjawab "Tidak."
"Tadi kamu bilang begitu."
"Terserah aku mau bilang apa." Lea berjalan pergi dan Zio masih saja membuntuti.
Lea segera memasuki ruang kelas, dan sudah ada dosen di ruangan itu. Sang dosen yang satu ini, sangat tidak suka bila mahasiswa lain, ikut hadir dalam perkuliahannya. Dosen perempuan berusia 40an, tampak wajah tegas dan disiplin. Membuat Zio, tidak berani memasuki ruangan itu.
Setelah Lea masuk, pintu ruangan jadi tertutup rapat. Zio berfikir keras setelah mendengar perkataan Lea tadi.
"Kenapa Lea ingin segera menikah? Aku kekasihnya. Apa Lea menantikan lamaran dariku?"
Zio yang tampak meleleh dan aroma manis permen kapas tampaknya sudah menggoda.
Setelah siang hari dan waktunya Lea istirahat. Setelah selesai sholat dzuhur. Lea pergi ke kantin untuk makan siang. Kantin yang bersih dan tampak modern. Kantin yang sangat luas untuk mereka para mahasiswa kampus itu. Ada kartu mahasiswa yang digunakan untuk memasuki ruangan kantin tertutup itu.
Di kantin itu, makanan bebas ambil dan nantinya mereka juga harus merapikan alat makannya sendiri ke tempat yang telah disediakan. Para mahasiswa dan mahasiswi terlihat tampak antri saat mengambil makanan.
Yuna yang berada di belakang Lea, juga asyik sendiri dengan ponselnya. Tidak lama, Zio yang datang menerobos antrian mahasiswa lain dan sekarang sudah terlihat berdiri di sebelah Lea.
"Honey." Begitu manisnya saat memanggil Lea.
Lea menatapnya garang "Zio, kamu ini sukanya menyerobot antrian orang lain."
"Honey, tadi aku sudah bilang sama dia. Buat antri di dekat kamu."
"Zio, aku cuma ingin makan siang."
"Aku tahu. Aku juga cuma ingin makan siang bareng pacarku." Balas Zio dengan manis. Zio memang selalu saja begitu.
Lea tersenyum tipis dan Yuna masih saja fokus pada ponselnya. Tidak menghiraukan orang lain di sekitarnya.
Setelah beberapa menit dan mereka duduk di satu meja yang sama. Yuna, menatap wajah Zio.
"Kamu harusnya di sana saja." Menunjuk ke meja genk Zio
"Aku sama pacarku. Harusnya kamu yang menyingkir."
Yuna semakin jengkel, ia berkata "Cuma pacar. Bukan suami."
Wah, Zio seolah tertindas. Sepertinya akan naik pitan. Lea hanya menatap mereka berdua yang bagaikan kucing dan anjing. Di setiap suasana bertiga seperti ini, Lea sudah terbiasa akan hal itu dan dia hanya sibuk dengan makan siangnya.
"Aku akan segera melamar Lea." Ucapnya dengan tegas.
Lea tampak menggeleng.
Yuna yang senang, jadi terkekeh. Lalu berkata "Jangan terlalu bermimpi indah. Kamu itu, cuma hiburannya Lea."
Mereka bertiga terdiam dan hanya saling menatap. Lea menatap Zio dengan senyuman tengilnya.
"Honey, Yuna bicara begitu sama aku. Kamu diam saja."
"Aku tadi bilang. Aku cuma ingin makan siang." Jawaban yang polos dari sang pacar cubbynya itu.
Zio merasa telah di serang oleh dua orang gadis, Yuna tersenyum senang melihat kekalahan Zio di siang ini.
Yuna menikmati makan siangnya dan Zio hanya tampak mengaduk-aduk makanannya.
"Zio, makan yang benar. Jangan sampai tersisa. Mamaku sudah menggratiskan makan siang di kantin ini, jangan sampai makanannya jadi mubazir."
"Iya Honey, aku tahu itu." Tatapan yang sok imut.
__ADS_1
Yuna yang melihatnya saja muak.
"Idih, tampang sok imutnya dikeluarin. Bisa-bisanya, Lea punya pacar yang lembek begini?" Batin Yuna saat melihat ekspresi wajah Zio yang kekanakan.
Zio selalu mendengarkan ucapan Lea. Meskipun terkadang Lea sendiri juga merasa gemas padanya. Zio termasuk cowok tertampan dan terkenal di kampus, tapi sama saja seperti Yuna, yang suka mengekor di belakang Lea.
"Heh, Zio." Yuna yang gemas dan ingin sekali berkata pergilah jangan muncul lagi dihadapan kita berdua.
"Iya?"
"Kalau, semisal. Lea menikah bukan sama kamu, gimana?"
Degh!
Lea juga jadi menatap ke wajah Yuna. Zio menatap ke wajah Lea dengan harapan tetap selalu bersama, meski dirinya terkadang membuat jengkel dan seperti bocah ingusan.
"Aku akan selalu bersama Lea. Aku tidak akan mengijinkan orang lain mendekati Lea."
Yuna semakin membelitnya dan berkata "Itu, seperti kemarin. Mbak Nada dan Bang Varell. Mereka itu, dijodohin. Aku sangat mengenal keluarga Lea. Kamu sepertinya, nggak masuk kriteria calon mantu idaman."
Yuna yang pandai membuat api dalam perasaan Zio. Dari kemarin, sang pacar juga menghindar dan sudah berbohong padanya. Apa jadinya, kalau Lea sampai dijodohkan, tadi Lea juga sempat bilang akan segera menikah.
Zio meraih tangan Lea, dengan tatapan yang manis. Bak gula meleleh, yang siap dijadikan permen kapas. Sayangnya, Lea tidak menghiraukan pacar tampannya ini.
"Lea, apa itu benar? Kamu mau dijodohin?"
Lea menjawab "Zio, aku makan dulu ya. Nanti saja ngobrolnya. Kamu juga harus makan."
Lea mencubit lengan Yuna.
"Apaan sih?!" Desis Yuna.
Lea berbisik "Yunaku sayang, hentikan."
Melihat Zio yang tampak terdiam saja, Lea berkata "Ayo makan. Katanya mau makan siang bareng aku."
Lea tersenyum dan mengusap rambut Zio "Makanlah."
"Iya."
Setelah makan siang tadi, Lea kembali mengikuti kelas selanjutnya. Zio sudah tidak lagi mengikutinya. Zio bersama teman-temannya, dan entah apa yang dia rencanakan saat ini. Sepertinya, tentang acara pesta tahunan nanti.
2 jam kemudian
Zio dan Lea sudah berada di dalam mobil. Zio akan mengantar Lea kembali ke hotel.
Beberapa menit berlalu, mereka berdua hanya terdiam tanpa kata. Zio masih saja memikirkan ucapan Yuna, tentang perjodohan Lea.
"Honey."
"Iya."
Sekilas menoleh ke wajah Zio dan jadinya mereka saling menatap.
Zio kembali fokus pada jalan dan bertanya "Kamu beneran mau dijodohin?"
"Aku tidak tahu."
"Tadi Yuna bilang begitu."
"Zio, kamu nggak perlu mikirin ucapan Yuna. Kalian dari dulu memang begitu."
"Tapi, Yuna mengatakan hal benar. Kakakmu sudah dijodohin. Aku takut, kalau kamu juga akan dijodohin sama orang lain. Aku pasti nggak kuat melihat kamu bersanding dengan pria lain."
"Kalau nggak kuat, nggak usah lihat."
"Honey."
__ADS_1
Untung saja jalanan sore ini sudah padat merayap. Ini kesempatan Zio, untuk mengorek tentang sang pacar.
"Honey. Bila nanti kamu dijodohin, kamu mau terima dia?"
"Bisa jadi."
"Lea jangan terima dia." Keluhnya dan merengek seperti anak kecil. Lea sudah terbiasa dengan rengekan manja dari Zio.
Lea malah ingin mengerjainya, dengan berkata "Emh, kalau aku menikah dengan orang lain. Kamu juga bisa menikahi gadis sexy."
"Lea, aku nggak suka kamu bilang begitu."
"Kenapa? Aku tahu, kamu pergi ke club malam sama Revan dan Tommy."
"Honey, itu cuma iseng saja."
"Aku nggak suka."
Zio meraih tangan sang kekasih, lalu berkata "Aku cuma mengikuti ajakan mereka saja. Aku nggak kencan sama perempuan."
"Kamu nggak perlu jelasin, aku sudah tahu."
"Honey, kamu sudah mengenal aku. Aku disana juga nggak minum." Kilahnya.
Seketika itu, Lea mendapat pesan dari Setya. Tampak senyuman tipis nan manis, Zio kembali menoleh ke arah Lea, dan melihat rona berbeda dari wajah sang pacar.
"Kamu chattingan sama siapa?"
"Ada deh, mau tahu aja." Jawabnya gemas.
"Kamu selingkuh dari aku?"
"Tidak."
"Allea!!" Suara itu terdengar tegas.
"Jangan panggil aku begitu."
"Lea, aku juga punya perasaan cemburu."
Zio jadi terdiam dan Lea masih asyik dengan pesan masuknya tadi. Kembali membaca ulang pesan singkat itu.
Lea bahkan menulis dengan nama staff magang. Bukan hanya ada nomor Setya yang dia tulis, ada beberapa nomor para staff hotel, agar Zio tidak bisa melacak ponselnya nanti. Meski, hubungan mereka hanya begitu saja. Tapi, Zio juga sangat posesif.
"Honey, kamu beneran mau tinggalin aku?"
"Tidak."
"Kita disini berduaan. Tapi, kamu malah sibuk chattingan."
Lea meletakan kembali ponselnya ke dalam tas. Menoleh ke arah Zio dengan tatapan manisnya.
Lea bertanya "Zio, boleh aku tanya tentang keluarga kamu?"
"Kamu beneran ingin aku lamar?"
"Bukan begitu. Aku hanya ingin tahu saja. Aku juga jarang banget ke rumah kamu. Aku bahkan belum pernah bertemu Papa kamu."
"Iya. Nanti aku kenalin sama Papa. Kita bisa buat janji sama Papa."
"Memangnya, Papa kamu selalu sibuk bekerja?"
"Iya, Papaku begitu."
"Mama kamu gimana kabarnya? Aku sudah lama nggak bertemu."
Papanya Zio hanya fokus akan dunia kerja dan sang Mama juga sibuk dengan para temannya. Zio, masih ada adik perempuan yang sibuk dengan karirnya, sebagai penyanyi dari sebuah grup girlband.
__ADS_1
"Mama lagi sibuk bikin grup arisan baru."
"Kalau saudara tiri kamu?"