Permen Kapas

Permen Kapas
Sweet Seventeen


__ADS_3

^^^Setelah, 17 tahun kemudian.^^^


"Raja, selamat ulang tahun."


"Kamu tidak perlu mendatangi aku."


"Memangnya kenapa? Apa kamu malu?"


"Aku tidak malu."


Gadis belia, tampak membawakan sekotak cupcake dan bunga tangan.



"Lain kali jangan datang kemari." Ucap Raja kepada gadis belia itu, yang tidak lain adalah tunangannya.


"Iya, aku mengerti. Lagian, aku cuma sebentar." Balasnya santai.


Ratu Bianca Kaiswaran, putri pertama Kevin dan Micheel. Sosok gadis manis, secantik Mamanya, digadang-gadang sebagai jodohnya Raja.


"Raja." Ucap Ratu yang lembut dan Raja memegang pipinya dengan tatapan manis.


"Kembalilah ke kelasmu. Jangan sampai ada gosip soal kita berdua."


"Lagian, aku tunanganmu. Kenapa kamu masih menutupi tentang hubungan kita?"


"Sssth, jangan banyak bicara. Pergilah, aku akan masuk ke kelasku."


"Oke. Tapi ingat, aku mengawasimu."


"Iya, sayangku. Cuma kamu jodohku." Raja mencubit pipinya dengan gemas.



Ratu duplikat Micheel dan Raja mirip sekali dengan Eyang Arjuna. Playboy cap kadal.


Raja, sosok pria yang berhati dingin. Tidak pernah serius akan hubungan manisnya. Entah bagaimana, dengan tunangannya ini. Yang jelas, Raja sendiri telah menyetujui perjodohan, yang di atur oleh Eyang Arjuna.



"Mas Raja." Panggilan Lionel, yang bikin geli telinga Raja.


Sudah pernah ditegur, jangan panggil Mas bila di sekolah. Adik sepupu ini selalu mengeyel dan sering memanggil Raja dengan sebutan Mas.


"Lionel. Ini buat kamu. Bawa sana ke kelas kamu." Ucap Raja. Tangannya sudah memindahkan semua pemberian Ratu, ke tangan adik sepupu tampan ini.


"Mas, kamu menolak Ratu?" Tatapan Lionel bingung.


"Tidak." Ucap Raja, lalu pergi begitu saja.


"Mas, jangan sampai kamu cemburu, kalau Ratu jalan sama cowok lain." Gumam Lionel.


Lionel tidak ambil pusing, bibirnya tersenyum saat melihat cupcake dan kartu ucapan mesra.


"I Love You. Wwkwk, hiks. Kasian sekali kamu. Ini aku yang makan kue special pemberian darimu." Ucap Lionel senang.


Lionel telah menikmati kuenya. Tadi sempat kesal dengan Maminya, sampai tidak bisa menikmati sarapan paginya. Lionel, sama miripnya dengan Mami Yuna. Karena, sifat dan sikapnya plek ketiplek Maminya, jadi sering beradu mulut dengan Maminya tersayang.


"Heh, makan sambil jalan, nanti keselek." Teguran El, yang melewatinya.


"El, ini aku sarapan cupcakes. Kamu mau nggak?? Sini aku suapin, aaak."


"Aku mau jam olah raga, nanti aku nggak bisa lari." Balasnya tersenyum tengil dan memberikan kiss bye tengilnya.


Anak pertama Nada dan Varell ini, tengilnya mirip sekali dengan Lea remaja. Tidak punya rasa takut dan nekatan.


Semasa hamil, Nada memang tidak menyukai sifat jelek adik cantiknya. Eh, malah nular ke anak kandungnya. Nada, hanya bisa pasrah dan Varell sendiri, juga membebaskan putrinya. Tidak pernah mengekang putri cantiknya ini.



Meskipun, namanya Elmeera yang memiliki arti kemuliaan perempuan. Sayangnya, sikapnya tidak seanggun namanya. Gadis belia yang pecicilan, itu lebih tepatnya.


Di kelas Raja, sosok tampan ini baru masuk ke kelas. Padahal, kelasnya sudah dimulai 15 menit yang lalu.


"Raja Ghazali Mahawira. Kamu mau kemana?" Tanya seorang guru perempuan.


"Saya mau duduk. Apa saya harus berdiri tegap di samping Bu Venna?"


"Kamu berani melawan gurumu?"


Ekspresi Raja tampak senang, dengan wajah tersenyum, Raja menatap Ibu guru cantik nan gemoy ini.


"Kalau saya berani melawan Bu Venna. Saya pasti sudah duduk di sebelah Bu Venna. Tidak perlu duduk di belakang sana."

__ADS_1


Percuma juga, Ibu guru ini membalas omongan Raja.


Bu guru berkata "Sana keluar, ke gudang kamu. Ambil buku paket kamu. Kerjakan halaman 23."


"Siap Bu Venna."


Teman sekelasnya, sudah terbiasa melihat Raja yang begitu. Dua orang teman dekat menatapnya dan memberikan kode, agar Raja tidak pergi.


"Buruan pergi. Saya tidak akan mengajar. Kalau kamu tidak keluar."


Bu guru ini juga malas sekali, bila Raja mengikuti pelajarannya. Karena apa??Kalau tidak bermain musik, Raja malah sibuk mengobrol, merayu dan menggoda teman ceweknya.


"10, 9, 8, 7..."


"Baik. Saya akan keluar." Ucapnya dan meraih tasnya dengan senang. Tatapan Raja kepada cewek berambut sebahu. Kode mata berdekip nan nakal.


"Bu Venna sayang, tadi halaman berapa?"


"Buku paket halaman 23."


"Oke, siap. Laksanakan." Balasnya tengil.


Di kelas lain, Lionel juga masih asyik dengan mencabuti kelopak bunga pemberian Kakak tampannya tadi.


"Lionel Kendra Wardhana." Panggilan guru.


"Iya Pak Frans." Balasnya, berdiri.


"Kenapa kamu berdiri?"


"Pak Frans memanggil saya? Ada apa? Baik, saya akan segera menghapusnya."


Sang guru tampak menggeleng kepala dan Lionel sudah berlari ke depan.


Meraih penghapus dan menghapus tulisan guru tampannya.


Semua murid berteriak, "LIONEL!!!"


"Heii, kenapa kamu menghapusnya?"


"Bukannya Pak Frans menyuruh aku ke depan. Biasanya, aku membersihkan papan tulis ini." Jawabnya santai.


"Sana, bawa tas sama bunga kamu. Pergi ke gudang kamu sana. Belajar disana. Tulis semua yang tadi saya jelaskan."


"Yang mana Pak? Saya tidak tahu."


"Sana, keluar."


"Baik Pak Frans." Lionel pergi.


Di lapangan olah raga. El memainkan bola dengan kasar. Para murid lain, tidak bisa mengimbangi permainan Elmeera.


"Pak saya juga murid Bapak. Kenapa cuma saya yang di usir?? Itu, Sella sama Marla juga main dorong."


"Elmeera. Kamu sudah jago. Bahkan, kelewat jago saat mengoper bola. Jadi, lebih baik kamu yang pergi. Satu jam saja, beri kesempatan untuk temanmu yang lainnya."


"Yah, ini namanya nggak adil dong Pak. Harusnya bukan saya saja, yang lainnya juga dong."


"El, kamu masih ingin mengikuti jadwal saya atau nama kamu harus dihapus dari daftar murid?"


"Baik Pak guruku yang tampan. Saya permisi."


El terlihat mencebikan bibirnya, memberikan kode loser kepada dua temannya itu. Jempol ke bawah dan El keluar lapangan.


Setelah di gudang, markas khusus trio RL.


"Hai guys, aku di keluarin dari lapangan."


El merangkul dua cowok tampan, yang tampak sibuk menulis.


"Kalian dengarin aku nggak sih??!" El sudah kesal dan dua pemuda sibuk.


"Raja."


"Hemms!"


"Marla resek."


"Lawan balik."


"Sok kecantikan, pura-pura jatuh. Aku yang kena teguran."


Raja tak lagi membalas omongannya, El beralih ke Lionel. "Sayang, kamu juga cuekin aku?"

__ADS_1


"Sibuk."


"Sejak kapan kamu rajin menulis?"


"Sejak saat ini, sampai nanti."


"Lionel, aku tahu. Kamu selalu bilang begitu. Aku sampai hafal. 5 menit kamu fokus, itupun paling lama, setelah itu buyar."


Lionel melempar bolpoinnya, dan merasa kesal "Ini gara-gara kamu El."


"Kok gara-gara aku?!"


"Itu, pulpenku jadi ngambek. Harusnya, kamu jangan bilang begitu."


Raja, yang tadinya beneran menulis, jadi mengambar kartun berkepala besar, dan tampak rupa wajah guru gemoy.


"Sadis. Kalau Bu Venna tahu, bisa marah."


"Aku cuma asal menggambar. Memangnya ini mirip Bu Venna?"


"Iya, mirip banget." Jawab El.


"El, kamu loh yang bilang. Kalau aku mah, tiiiiddak."


El mendorong kepala Raja "Sialan kamu. Itu gambar buktinya. Orang lain, juga bakal tahu, kalau itu wajah Bu Venna."


"Sssth! Jangan kenceng-kenceng. Nanti ada yang nguping kita." Ucap Lionel.


"Bukannya belajar. Malah pada ngerumpi disini." Suara Bundanya Raja.


"Bunda."


"El, sebaiknya kita pergi." Bisik Lionel.


"Iya, aku juga takut."


Bunda Lea, berubah wajah tersenyum dan tampak bersedekap, di depan ketiga murid ini.


"Bunda. Eh, Bu Kepala Yayasan." Ucap Raja.


"Raja, Elmeera, Lionel. Silakan lanjutkan."


Bunda pergi dan Raja tersenyum.


Lionel menepuk bahunya "Mas, Bundamu kenapa? Bikin aku semakin takut."


"Owh, itu. Karena hari ini ulang tahunku. Makanya, Bunda hari ini membebaskan aku dari segala aturan yang ada. Baik di sekolah, maupun di rumah." Balasnya.


Elmeera mendekat dan tersenyum tengil "Uwu, pasti dapat kado special. Apa jangan-jangan sudah boleh bawa mobil sendiri?"


"Iya, besok aku akan membawa mobil sendiri."


"Ciee, aku bisa numpang dong."


"Ogah, aku malas harus puter arah."


"Lionel, Raja begitu sama aku." El pura-pura manja dan Lionel memeluknya.


"Sayang, aku saja yang menjemput kamu. Lagian, Masku ini pasti akan menjemput Ayang tunangannya itu."


"Owh iya. Raja kita sudah tunangan ya. Aku jadi lupa. Emh, siapa namanya, aku lupa." El berpura-pura, tidak mengenal tunangannya Raja.


"Si cupu, pindahan dari Glory."


"Aah, benar. Ratu Bianca Kaiswaran."


Raja Ghazali Mahawira, baru menginjak usia ke 17. Sweet seventeen dan hari ini sangat special untuknya. Pemuda yang tampan dan sangat termewahkan.


Hidup mewah sebagai Tuan Muda, yang selalu terjaga dan termanjakan. Hidup dalam aturan Eyang Arjuna dan Raja terlihat patuh padanya.


"Selamat ulang tahun, adikku."


"Mas Raja, Happy birthday."



...TAMAT...


Hallo semuanya.


Mohon maklum, bila ada salah penulisan dalam cerita Permen Kapas, karena othor ini bukan penulis buku. Melainkan hanya menghalu.


Othor percepat ceritanya, di bagian Lea dan Setya.

__ADS_1


Info : untuk cerita 3 RL, diusahakan season kelanjutannya tetap update, tapi suka-suka othor.


Terima kasih, untuk yang tetap setia.


__ADS_2