Permen Kapas

Permen Kapas
Bertengkar Mesra


__ADS_3

"Mau kemana?" Tanya sang suami kepada Lea. Setelah, melihat Lea tampil menawan dengan pakaian ala CEO.


Setya dan Lea, saat ini sedang berada di ruangan musik.


Setya, hobby sekali bermain musik.


Tadi, telah dituduh sebagai pria mesum dan tak bermoral. Setya hanya bisa meluapkan perasaannya melalui sebuah lagu ciptaannya sendiri. Lagu itu, dia nyanyikan dengan sepenuh hati dan jari-jarinya begitu terampil saat memainkan piano.


"Mas Setya, aku mau kampus." Jawab Lea dan tampak santai. Tidak ada lagi wajah masam, yang menatap sinis sang suami tampannya.


"Aku akan mengantar kamu." Ucap Setya dengan sungguh-sungguh. Setya memang berniat, untuk selalu ada di dekat istri gemasnya.


Lea mengalungkan tangannya ke leher sang suami, dengan gemas mengecup pipi kanan suaminya.


Lea yang sudah meninggalkan jejak lipstik di pipi kanan suaminya, dengan suara manja nan gaya tengil, Lea berkata "Mas Setya tidak cemas, kalau Micheel sampai melihat kita? Kalau aku sih, tidak apa-apa. Tapi, gimana dengan Micheel?"


Setya mengulum senyuman, ia berkata "Aku hanya mengantar jemput istriku. Untuk apa aku mencemaskan orang lain."


"Beneran?"


"Lea sayang. Aku akan mengantar kamu."


Lea tersenyum gemas, ia jadi senang. Lea berkata "Kalau begitu. Mas Setya harus antar jemput aku setiap hari."


"Iya. Kamu istriku. Sudah jadi tanggung jawabku, untuk selalu ada di dekatmu."


"Oowh, senangnya hatiku saat bersamamu." Balasnya tengil.


"Sayang, kamu sudah tidak marah lagi sama aku?" Tanya Setya.


Lea menjawab dengan manis, "Aku tidak marah. Aku hanya tidak suka kalau sudah banding-bandingkan."


"Sayang, siapa yang membandingkan kamu? Malahan, kamu yang menuduh aku begitu saja. Aku bukan pria mesum. Aku tidak sengaja menyentuhmu. Namanya suami istri tidur disatu ranjang, apa saja bisa terjadi."


"Aaa. Mas Setya. Jangan bilang begitu." Lea yang memegang dada suaminya, dalam sejenak menyandarkan kepalanya.


Nyees!


Memeluk suami dengan bahagia. Apalagi, Lea sangat menyukai aroma parfum yang dipakai Setya saat ini. Wanginya, sama persis yang di kasur kos-kosan itu.


Perlahan, saling menatap dalam kenyamanan.


Lea berkata "Ayo berangkat. Aku nanti bisa terlambat."


"Siap." Balasnya dan segera mungkin menyiapkan mobil gantengnya.


Lea tampak bersedekap cantik dan ia terlihat lebih dewasa saat mengenakan pakai formal. Soalnya, Yuna sudah memberikan resep rahasianya.


Selama perjalanan ke kampus. Lea terus saja melihat ke wajah suami tampannya.


"Jangan lihatin aku begitu." Setya yang hanya fokus mengemudi, tapi rasanya malu bila dilihatin terus menerus. Lea juga tidak berkedip saat menatap sang suami.

__ADS_1


"Memangnya kenapa Mas? Aku cuma melihat kegantengan wajah suamiku. Apa aku salah?" Lea yang memang begitu adanya, ada cara sendiri untuk menekan suaminya. Lea masih nekat saja. Peperangan batinnya belum berakhir manis.


"Sayang, aku juga bisa malu." Jawab Setya yang terdengar polos.


Lea yang masih terus menatap Setya, nyerocos, "Mas Setya melet aku ya? Kok aku jadi sampai tersayang-sayang sama Mas Setya. Padahal, sebelum aku bertemu Mas Setya. Tidak ada dalam kamus cintaku, aku benar-benar jatuh cinta. Apalagi, sama pria dingin seperti Mas Setya ini."


"Aku melet kamu? Kamu bilang aku pria dingin?? Pagi tadi juga dibilang pria mesum yang tak bermoral. Sayang, aku nggak apa-apain kamu. Aku mana ngerti soal dukun atau pelet-peletan. Kamu ini, pikirannya sudah kelewat sesat." Ucapan Setya tegas.


"Mas Setya sayang. Buktinya, aku nyium aroma parfum Mas. Aku jadi makin cinta. Aku sampai tertidur nyenyak di kost, juga karena aroma itu, bikin aku nyaman banget. Bawaannya kepingin peluk, apa itu nggak ada jampi-jampi peletnya?" Balasan Lea gemas.


"Parfum? Yang mana?" Tanya Setya.


"Yang sekarang ini. Aku suka wanginya. Aromanya persis sama yang tercium di sprei kasur kos-kosan." Jawab Lea dengan gemas.


"Owh, ini parfum dari Zio. Sudah lama banget. Jarang aku pakai." Ucapnya dan tampak aneh rasanya, malah jadi bawa nama Zio segala. Sepintas, Setya tersenyum dan meraih tangan istrinya.


"Aaah." Desahnya.


Setya jadi melepaskan tangan Lea. Ia juga terkaget, saat mendengar ******* manja dari istrinya.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Setya.


"Pantas saja aku suka aromanya. Aku yang pilihin parfum itu. Saat Zio minta temani aku, cari hadiah buat Kakaknya." Seketika, Lea menatap serius wajah suaminya dan merasakan hal aneh.


"Kamu yang pilihin?" Tanya Setya, malah jadi penasaran.


"Mas Setya sebenarnya. Waktu itu, sekitar satu tahun yang lalu. Zio ngajak aku ke mall, sebelum Zio nyusul Mas Setya kesana. Aku yang pilih parfum sama topinya. Pantas saja, aroma ini tidak asing. Aku suka. Aku sempat ingin Zio memakai itu, tapi dia nggak suka. Apa Mas Setya tidak suka? Sampai sudah lama tidak habis-habis parfumnya?"


Lea jadi senyam-senyum dan tangan Lea sudah di cium lembut oleh sang suami tampannya.


"Sayang, aku suka pilihan kamu."


"Baguslah, nanti aku belikan lagi."


Setya jadi berkata "Meski Zio adikku, aku juga bisa cemburu."


Mendengar perkataan sang suami. Lea jadi semakin berdebar. Sepertinya, perasaan Setya untuk dirinya semakin nyata.


"Aku juga. Aku bahkan membayangkan Mas Setya dengan Micheel. Apalagi, kalian sering bertemu di seberang benua. Disana tidak ada orang tua. Apa yang sudah kalian pernah lakukan??"


Meski rasanya akan sakit hati bila mendengarnya, setidaknya Lea akan bisa menerima kenyataan, bila sang suami yang bercerita.


"Aku dan Micheel. Hanya sekedar ciuman. Tidak lebih dari itu. Sama seperti kamu dan Zio." Jawab Setya yang tampak santai.


"Iya Mas. Aku mengerti. Aku hanya tidak ingin, ada masalah diantara kita berdua. Baik masa lalu, maupun masa depan kita."


Setya berkata "Sayang, kalau kamu ingin tahu tentang aku. Kamu bisa tanyakan langsung sama aku. Sedetail mungkin, aku akan ceritakan sama kamu. Apalagi, kita sudah menikah. Aku juga tidak mau ada masalah diantara kita berdua."


"Baik Mas." Balasan Lea lembut.


Setya juga ingin mencairkan suasana, meski dia terkesan kaku dan dingin. Setya kalau sudah cinta, tidak akan dia lepaskan begitu saja.

__ADS_1


Setya bertanya "Kamu ingin aku seperti apa?"


"Emh, aku suka Mas Setya yang begini adanya." Jawaban Lea kurang memuaskan.


"Begini adanya?? Ganteng itu saja?" Setya yang hendak menggoda istrinya.


Lea cemberut gemas, ia berkata "Mas Setya, aku sudah cemburu sama Micheel."


Setya kembali meraih tangannya "Sayang, aku mengerti perasaanmu."


"Cepat lupakan dia. Aku hanya cemas. Kalau, aku tidak akan sanggup selamanya bersama kamu."


"Sayang, jangan bilang begitu." Pinta Setya.


Saat Lea sedang gundah gulana lagi, sudah sampai di pintu gerbang kampus Glory.


Setya berkata "Sayang, aku sudah berusaha untuk melupakannya. Aku janji, aku akan menghapus semua kenanganku bersamanya."


"Mas Setya, kenangan masa lalu itu tetap ada. Sama aku dengan Zio, juga begitu. Tapi, cinta baru juga harus tertanam pada hatimu." Balasan dari Lea menyakitinya.


Lea dengan kesal ia melepas seatbelt dan membuka pintu samping begitu saja. Tanpa pamit dan mengucap kata manis, dia sudah keluar dari mobil Setya.


"Allea." Setya yang merasa sudah dicampakan, tampak menunduk diatas setiran mobil.


Bagaimana bisa, dua nama telah terukir dalam hatinya dan jelas-jelas dia sudah mencintai Lea. Tetapi sampai sekarang, egonya masih menghalangi.


Setya masih menganggap, menikah dengan Lea karena perjodohan. Saat mereka berselingkuh, Lea hanya ingin mengenalnya lebih dekat. Sedangkan Setya, hanya menghibur batinnya yang terluka.


Setya mengejar istrinya "Sayang. Aku bisa jelasin sama kamu."


"Nggak ada yang perlu dijelasin."


"Oke, kalau kamu mau marah silakan. Ayo kita pulang saja."


"Kenapa pulang? Aku juga mengatakan hal yang sebenarnya. Mas Setya juga nggak perlu jelasin sama aku."


Lea menghempaskan tangan suaminya. Mereka di depan gedung kampus utama. Tampak sepi, tapi seseorang mengamatinya.


"Susah benar ini mulut buat bilang cinta." Keluhnya dalam hati.


Setya pergi dan merasa tidak ada harapan manis untuknya.


Janur kuningnya saja sepertinya belum kering, tapi pasangan pengantin baru ini sudah bertengkar mesra.


Lea yang terbiasa menerima panggilan darinya, saat suaminya itu masih berada di seberang benua. Lea terkadang juga ingin mengatakan tentang mantan. Tapi, ia mencoba untuk mengatakan hal manis manja saja.


Tidak ada, perkataan yang menyinggung soal para mantan dan masa lalu mereka berdua. Tapi, saat ini malah membahas mantan terindahnya.


"Lea, kenapa terlambat?" Tanya Yuna dengan berbisik.


"Yunaku sayang, ayamku mati digigit tikus besar. Aku sibuk mengurusnya." Jawab Lea berbisik.

__ADS_1


Yuna menyimpulkan, kalau Lea dan Setya bertengkar.


__ADS_2