
Sebuah janji yang tercipta melukai sahabat kesayangan.
Sebuah kata yang terucap menjawab semua pertanyaan.
Perasaan cinta datang ketika masa lalu tinggal kenangan.
Perasaan pahit telah menghampiri saat melihat kenyataan.
"Kamu gila?!" Yuna menatap Lea.
Lea yang tampak santai, ia berkata "Cinta itu akan tercipta seiring berjalannya waktu."
Yuna berdiri dan berkacak pinggang, ia berkata "Lea sayang, ini nggak akan mungkin terjadi. Aku dan dia, bagaikan api dan air. Kita nggak bisa menyatu."
Lea sambil makan berkata "Kamu mau bilang, kamu apinya dan Zio airnya. Begitu??"
Yuna kembali duduk dan meraih botol air mineral. Lalu setelah minum, sambil menutup botol air minumnya, ia berkata. "Intinya, Zio hanya membantuku. Dia sedang membayar hutangnya malam itu."
"Aku tidak masalah. Aku malah tinggal bilang, kalau Zio sudah menghamili kesayanganku." Ucap Lea dan tampak santai.
Lea makan dengan lahab, dan tidak mempedulikan perasaan Yuna saat ini. Yuna yang baru putus dari Kevin, lalu meminta Zio membayar hutangnya. Tujuannya, hanya untuk memanasi Kevin. Setidaknya, Yuna tidak mau di remehkan orang lain. Tidak mau menangis untuk Kevin.
Padahal ya sama, belum bisa move on. Meski hanya 3 bulan jadian, Yuna sudah membawa perasaan manis manjanya untuk Kevin.
Yuna tampak tidak berselera makan, Lea menyerobot puding vanila dengan topping buah segar.
"Semalam aku tidak nafsu makan, padahal di restoran mewah. Siang ini, aku merasa kelaperan." Ucap Lea dan perlahan menyendok puding milik Yuna.
"Gara-gara kamu, aku jadi tidak nafsu makan." Ketus Yuna.
"Yuna, menurut kamu. Cinta itu apa?" Tanya Lea.
"Cinta, membuat kita bahagia." Jawab Yuna, ia menggigit sendok, dan menatap jauh ke depan, Yuna kembali berkata "Cinta membuat pikiran kita lupa, cinta membuat jantung kita berdebar, cinta membuat perasaan kita nyaman, cinta membuat diri ini menjadi rindu, gelisah dan ingin selalu bersama orang yang kita cintai."
"Cinta itu, satu kata sejuta makna." Pungkas Yuna.
Lea yang tampak menikmati puding, ia berkata "Bagiku, cinta itu kenyataan."
Yuna seketika menoleh ke wajah Lea. "Kenyataan?"
"Benar. Kamu bilang, kamu cinta sama Bang Kevin. Hanya masalah itu, kamu dengan mudahnya melepaskannya, cintamu berubah sandiwara, apalagi dengan si imut." Jawab Lea.
Yuna terdiam, lalu membalasnya "Kamu sendiri gimana? Apa hanya sebuah perjanjian dan komitmen?"
"Kamu benar. Aku dan Mas Setya menikah bukan karena cinta. Bukan karena kita saling mencintai. Tapi, perjanjian."
Yuna terdiam, Lea memegang tangannya, Lea berkata "Pernikahan memang hanya sebuah komitmen, ada banyak perbedaan, dan tidak ada keselarasan. Serasi, bersama, kanan dan kiri. Hanya seperti, sepasang cincin yang melingkari di jari manis kita berdua. Tidak ada artinya cinta, meski tujuan kita sama, yaitu pernikahan."
Yuna berkata dengan suara pelan "Setidaknya, kamu pernah menyukai suami kamu. Aku bahkan tidak menyukainya."
"Entah kenapa, aku terlalu memaksa kamu. Aku hanya berfikir, itu yang terbaik buat kamu." Ucap Lea dan ia melepaskan tangannya, mengambil gelas minumannya dan menyeruputnya.
Yuna berkata "Aku akan mencobanya, selama kamu yang menginginkannya untukku."
"Tidak perlu buru-buru. Anggap saja, ini permainan yang menyenangkan." Balas Lea dan tersenyum aneh.
Yuna menyudahi makan siangnya, ia berkata "Aku benar-benar tidak sanggup untuk makan."
"Aku akan menyuapi kamu." Ucap Lea bersemangat.
Yuna terpaksa makan dan menatap sorot mata Lea. Ada perasaan aneh, dan sekali lagi, Yuna tidak bisa menolak keinginan Lea.
Zio tadinya mau keluar menemani Yuna. Namun, dua pemuda tampan tadi, sudah menghalanginya. Mereka malah dapat meja, berkat genknya Clarissa yang sudah selesai makan siang.
"Lea, apa yang akan terjadi. Bila aku menyetujui keinginan kamu?"
__ADS_1
Lea tersenyum, ia berkata "Kamu akan jadi Nyonya. Sepatu kaca itu, akan membawamu ke istana."
Mendengar hal itu, Yuna semakin gelisah, ia berbedar. Tangannya perlahan meraih sendok yang dipegang oleh Lea. Sudah gemetar dan sulit untuk mengunyah makanan.
"Lea. Aku."
Lea menyeka mulut Yuna, yang terkena saos pedas manis. Lea berkata "Kamu harus percaya sama aku. Aku tidak akan membuatmu menderita. Kamu akan duduk di kursi tertinggi dan disambut para pelayanmu."
"Lea, tapi aku. Aku bahkan tidak berani membayangkan hal itu." Ucap Yuna.
Lea berkata "Sekali ini saja, aku tidak akan lagi memintamu untuk hidup bersamaku."
"Lea, mana bisa aku hidup seperti itu. Aku sudah terbiasa hidup sama kamu dan semua keperluanmu cuma aku yang memahaminya. Kamu mau aku terkurung dalam istana? Lea? Apa maumu?"
Lea menyelipkan rambut Yuna, ke belakang telinga. Lea berkata "Kalau ingin membalas Bang Kevin. Bukan begitu caranya. Bang Kevin orangnya sangat pandai. Kalau kamu hanya bermain licik, dia akan segera mengetahuinya. Yuna, kamu kesayanganku. Aku tahu, kamu sudah hamil."
Degh!
Yuna memalingkan wajahnya, jantungnya berdebar kencang.
Tidak ada dalam benaknya, untuk mengelabuhi Nona kesayangnya. Tangan kanannya meremas sisi dress, yang Yuna pakai saat ini.
Lea membuka ponselnya, ia menunjukan sesuatu yang membuat merinding. Yuna tak sanggup lagi melihat ke gambarnya.
"Lea. Aku bisa jelasin sama kamu."
"Dua kali, kamu membantu Zio. Sampai kapan, kamu menyimpannya dariku??"
Duaaar!!
Yuna menatap Zio yang sudah berada di belakang Lea. Yuna dengan bibir bergetar, ia berkata "Zi, Zi, Zi-o."
Lea meraih badan Yuna yang tak lagi bertopang, "Yunaku sayang. Yuna. Yuna, sadarlah."
Zio mendekat dan Lea berkata "Zio!"
"Bawa Yuna, nanti aku jelasin sama kamu."
"Lea." Tatapan Zio begitu serius.
Lea medecak kesal. "Yuna hamil anak kamu!!"
Degh!
Zio lemas dan tampak tertunduk lemas. Dua sahabatnya juga mendengar. Bahkan, ada beberapa orang yang mendengar perkatan Lea.
"Lea? Aku?"
Lea berkata "Ayolah, bersikap dewasa. Nanti aku jelasin sama kamu."
Setya yang baru datang, telah mendekat "Sayang, ada apa?"
"Mas Setya, tolong panggil ambulan. Yuna pingsan." Jawabnya.
Setya berkata "Iya, kamu yang tenang."
Setya segera menghubungi rumah sakit swasta milik Papa Arjuna dan tidak jauh dari kampus Glory.
Lea masih mendekap Yuna, ia berkata "Yunaku sayang. Bangunlah, jangan bikin aku cemas."
Zio yang sudah menangis, tapi dia sama sekali tidak tahu menahu tentang dirinya sendiri. Apa yang sudah dia perbuat. Bahkan, Yuna sampai hamil anaknya.
Wiiu, wiiu, wiiuuu
Ambulan datang dan Lea menemani kesayangannya. Setya mendekati Zio. Dari tadi hanya berlutut dihadapan Yuna dan Lea. Sampai ambulan datang, Zio juga tidak beranjak pergi dari taman.
__ADS_1
"Ayo ikut aku." Ucap Setya, tangannya mengangkat adiknya untuk berdiri.
"Mas Setya, tolong jelasin sama aku Mas." Pinta Zio, dari tadi sudah berlinang air mata.
"Aku tidak tahu apapun. Ayo, ikut aku ke rumah sakit."
Setya merangkul adiknya dan Zio sudah seperti anak kecil yang dipapah oleh Kakaknya. Kedua sahabatnya, bersiap untuk membututi mereka berdua.
Genk Clarissa sudah mendengar kabar panas, bak api yang sudah membakar seluruh warga Kampus Glory. Beberapa dosen dan pimpinan Yayasan, juga telah mencium kepulan asap.
"Yuna hamil? Anaknya Zio?" Pertanyaan para Mahasiswa dan mereka tampak bergunjing.
Clarissa dan genknya merasa cemas, pernah kala itu mereka bermain-main dan Yuna mendatanginya.
"Guys, gimana kalau waktu itu?"
"Iya, aku takut kalau kita sampai di D.O."
"Kalian tenang saja. Kita bilang saja, itu ulah si Revan dan Tommy." Ucap salah satu dari mereka dan Clarissa hanya terdiam.
Setibanya di rumah sakit swasta. Lea yang masih gelisah, sampai saat ini Yuna belum siuman.
"Bang Arzen."
"Yuna kenapa?"
Lea berbisik ke telinga abangnya dan sang dokter tampan ini, tampak mengerti.
"Baik, aku akan mengurusnya." Balas dokter Arzenio, yang tidak lain adalah Kakak sepupu tertua.
Sekitar 15 menit, Setya dan Zio sudah datang. Mereka berdua mencari Yuna di IGD. Tapi tidak ada pasien yang bernama Yuna.
Jelas saja tidak ada, Yuna sudah dibawa ke ruangan khusus keluarga Arjuna.
Lea menghubungi Setya dari panggilan telephone.
KriingKrrrong!
"Sayang, kamu dimana?" Tanya Setya.
"Aku di ruang rawat inap."
"Yuna diopname?" Suara Setya terdengar kaget, Zio meraih ponsel Kakaknya.
"Ini aku, Zio." Ucap Zio.
"Kemarilah, Yuna di kamar Sakura."
"Baik, aku akan segera kesana."
Zio terihat sendu dan Setya mengambil lagi ponselnya. Setya bertanya "Mereka ada dimana?"
"Mbak Lea membawa Yuna ke ruang Sakura." Jawab Zio, terdengar suara pelan.
Kedua orang itu, bergegas ke ruangan itu. Setelah mereka tiba di depan pintu. Dokter Arzen, keluar dari ruangan bersama suster.
"Bang Arzen." Panggilan Setya merdu.
Dokter tampan dengan senyuman menawan, "Setya, kamu juga datang kemari."
"Iya Bang, aku sama Zio."
Setya menoleh ke samping, Zio tidak ada. Entah kemana perginya.
Dokter tampan itu, menepuk bahu Setya ia berkata "Masuklah. Lea menjaga Yuna sendirian. Temani dia."
__ADS_1
"Baik Bang Arzen. Terima kasih."