
Mala petaka yang menghancurkan perasaan seorang Ibu. Bisa dibilang, Karma.
Mama Jenny menatap foto itu, ia berkata "Dia pasti menjebak Zio."
Lea, membalasnya lembut "Tante, Zio sendiri yang melupakan malam pertamannya. Aku sendiri, sempat melihatnya."
"Kamu? Kamu menjebak putraku." Ucapan Jenny, sampai menusuk suami Lea.
"Mama jangan menuduh istriku." Balasan Setya.
Mama Jenny menatap "Kalian berdua pasti sudah sekongkol. Kalian berdua menghancurkan masa depan putraku."
"Mama, yang tenang. Ini, bisa diomongin baik-baik. Kita juga harus tanya sendiri sama Zio." Setya yang berusaha sabagai penengah.
Lea berkata "Zio kabur, berarti dia tidak mau bertanggung jawab. Kalau nantinya sudah terbukti kalau itu anaknya Zio. Aku tidak akan membiarkan Zio mengambil anakku."
Ucapan Lea kesal, Setya menoleh ke arah istrinya "Apa maksudnya anak kamu?"
"Aku akan mengadopsinya. Aku tidak mau anak itu terlantar karena Papa kandungnya menolaknya." Jawaban Lea dan Setya kecewa.
Setya berkata "Sayang, nggak semudah itu kemauanmu. Kita harus cari Zio. Kamu harus sabar, kita sama-sama mencari keberadaan Zio."
"Mas Setya, tadi katanya sama Mas Setya ke rumah sakit. Buktinya, Zio nggak sampai ke kamar Yuna."
Mama Jenny berkata "Sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkan putraku menikahi pembantu kamu."
Mama Jenny meleparkan ponsel Lea. Setya menahan Mamanya yang hendak pergi meninggalkan ruang tamu itu.
Saat ini, Lea dan Setya mencari Zio ke rumah Presdir Hendri. Lea tanpa basa basi langsung membicarakan aib Zio kepada Mamanya Zio.
Lea berkata "Aku tahu, kalau Tante tidak akan semudah itu merestui Zio dan Yuna. Meski aku harus berlutut di depan Tante. Akan aku lakukan sekarang juga. Tapi, aku tidak sudi memohon kepada Tante, apalagi meminta Zio. Jangan sampai Tante Jenny menyesal. Ingatlah, apa yang sudah aku ucapkan sama Tante."
Lea meraih ponsel dan tas selempangnya, kemudian berjalan pergi.
Setya masih memegang lengan tangan Ibu tirinya, ia berkata "Mama, kenapa Mama harus bersi keras menghalangi Lea. Setya tahu, kalau Zio pasti ada di kamarnya."
Setya melangkah ke arah anak tangga, ibu tirinya berkata "Kalau kamu nekat membawa Zio pergi dari rumah ini. Mama anggap, kita bukan keluarga lagi."
"Mama." Setya yang merasa ini salah. Disisi lain, Setya sangat tahu sikap Lea yang selalu nekatan.
"Kamu pilih istrimu, atau adikmu?" Tatapan Mama Jenny begitu terluka. Batin Setya juga tidak tega.
"Mama, aku mohon. Aku hanya ingin mendengar sendiri, dari mulut adikku." Jawaban Setya, menahan sesak.
"Zio tidak bersalah. Istrimu dan pembantunya yang sudah menjebak adikmu."
Setya terduduk di anak tangga dan Mama Jenny pergi bersama tangisannya.
Zio memang berada di dalam kamarnya. Tommy dan Revan menculiknya, atas perintah Mama Jenny.
Revan sudah mengadu kepada Mama Jenny, memutar balikkan fakta, kalau Lea dan Yuna sendiri, yang membuat rencana busuk untuk mengikat Zio. Agar selalu bersama Lea.
Lea yang berada di dalam mobil, hanya terdiam. Sesaat menoleh ke atas lantai dua. Jendela kamar Zio, tampak terbuka lebar.
"Dulu aku berani memanjat pagar asrama. Hanya untuk melihat keadaan kamu. Sekarang, aku tidak sanggup untuk melihat keadaan kamu, Zio."
Setya keluar dari rumah, Lea sudah menatap suaminya yang mendekat.
Membuka pintu mobil, dan Setya telah naik ke kursi samping. Lea sudah duduk di kursi kemudi. Dari tadi, waktu mencari Zio, Lea yang mengendarai mobilnya.
"Sayang, aku saja yang menyetir."
"Tidak mau. Aku ingin begini."
__ADS_1
Setya malah takut kalau istrinya yang menyetir mobil. Dia merasa aneh, dan hanya duduk terdiam.
Setelah mobil ganteng milik Setya berjalan pergi, Lea bertanya "Apa Zio akan baik-baik saja?"
"Kamu memikirkan Zio?" Tanya Setya.
"Aku hanya merasa. Kalau Zio, ingin menemui Yuna. Tapi, Tante Jenny sudah mengurungnya hidup-hidup."
"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Setya, melihat istrinya ngeri-ngeri sedap. Rasanya memang aneh.
"Yuna juga tidak mau menikah dengan Zio. Kalau hanya untuk menyelamatkan nama baik keluarganya." Ucapan Lea, yang terdengar begitu lembut.
"Lalu, apa rencana kamu?" Tanya Setya dan semakin merasa gelisah.
"Aku akan membawa Yuna pergi jauh. Untuk sementara dan aku yang akan menjaga kesayanganku." Jawabnya.
"Kamu mau ninggalin aku?" Tatapan Setya yang semakin terlihat gelisah.
"Hanya untuk sementara. Sampai Yuna melahirkan. Lagian, Mas Setya juga harus kembali ke seberang benua."
"Kamu mengusir aku lagi?" Setya sudah tampak cemberut gemas manja.
"Kali ini saja Mas." Jawabnya.
wusss!
Setiap jalanan sepi, Lea selalu ngegass! Nggak mulut, nggak sikap, nggak fisiknya, semuanya ngegass.
"Kamu beneran, mau jadi ibu asuhnya?" Tanya Setya tampak serius.
"Kalau itu yang terbaik kenapa tidak. Apa Mas Setya keberatan?"
"Aku suami kamu. Apa kamu tidak mau menganggap aku ada?"
"Kalau kamu yang hamil, aku pastinya sayang banget sama kamu."
"Mas, aku minta ijin sama kamu. Aku akan pergi menjaga Yuna dan bayiku."
"Sayang, kamu beneran mau ninggalin aku sendirian?"
"Memangnya, Mas Setya mau ikut?"
"Harusnya, kamu mengajak aku. Bukan ijin begitu. Kalau ijin, aku nggak akan berikan. Apa kamu mau nekat pergi begitu saja?"
"Ya, bisa jadi begitu." Jawabnya.
Kabar kehamilan Yuna, sudah terdengar oleh Papa Arjuna dan Mama Beby. Sayangnya, kedua orang tua itu sudah terlambat. Lea dan Setya sudah membawa Yuna pergi.
Setelah beberapa jam kemudian, mereka tiba di sebuah desa sejuk.
"Yunaku sayang, kita sementara tinggal disini."
"Lalu, kuliah kita gimana?" Yuna yang masih memikirkan pendidikannya.
"Soal itu, urusan gampang." Jawabnya.
Lea sebenarnya, juga kesulitan. Dia sudah memblokir dirinya, semua atm, dan identitas sementara waktu di block. Bahkan, seluler dan jps dalam kalungnya, juga sudah dibuang.
"Mas Setya, aku cek badan kamu." Tangan Lea meraba semua yang melekat pada suami tampannya.
Setya tampak kegelian, saat tangan Lea meraba-r*bba badannya.
"Sayang, aku tidak ada jps."
__ADS_1
"Siapa tahu, Papa pasang sadap di tubuh Mas Setya." Balasnya.
Mereka bertiga, duduk di sofa. Lea membuka tasnya, ia berkata "Kita bertiga, harus bisa hidup dengan uang ini."
Yuna berkata "Kita berempat, bayi ini gimana?" tatapan Yuna merasa aneh.
Lea mengelus perut Yuna, ia berkata "Eh, aku sampai lupa sama si emoy kesayanganku tiada tara."
Setya merasa aneh, ia bertanya "Kita sampai kapan disini?"
"Setahun." Jawab Lea yang begitu adanya.
Setya berkata "Pasti, Papa juga akan segera menemukan kita disini."
"Mas Setya mau ngaduin, ya sudah. Sana pulang. Bilangin Papa."
Yang di rumah Zio, Papa Arjuna dan Mama Beby juga sudah tidak mendapati Jenny. Presdir Hendri berulang kali, menghubungi nomor istrinya tidak bisa.
Zio sudah dibawa pergi Mamanya dengan beberapa bodyguard. Entah kemana, Jenny membawa pergi putranya.
"Jenny sudah gila. Bukannya memecah masalahnya. Malah membuat masalah." Batin Presdir Hendri.
"Tidak bisa dihubungi." Ucap Presdir Hendri.
Mama Beby berkata "Bisa saja mereka ke luar negeri."
Papa Arjuna, "Aku sudah mengerahkan beberapa orang."
"Papa, lalu Lea membawa Yuna kemana? Apa Jenny juga bersama mereka?"
"Aku yakin, mereka pergi terpisah. Dari surat Jenny menyimpulkan. Zio tidak akan bertanggung jawab atas masalah yang ia perbuat, lalu Lea tidak terima dan membawa Yuna pergi bersamanya."
"Nomor Setya juga sudah tidak aktif." Ucap Presdir Hendri gelisah.
Keluarganya telah hancur dalam sehari. Hanya tinggal putrinya, yang masih tinggal di agensi. Jenny tidak mengajaknya untuk pergi bersama mereka.
Apakah Zio tidak memberontak? Pastinya, Zio sudah diberi obat tidur. Tadi saja, di bekap Revan dan Tommy, sampai tidak sadar.
Kembali pada Yuna dan Zio di pagi buta. Lea yang mendapat kabar dari orang suruhannya, untuk mencari kesayangannya. Tersentak kaget saat melihat Yuna dan Zio.
"Apa yang mereka lalukan?" Lea gemetar dan hawa dingin merasuki kekujur tubuhnya. Tertunduk lemas di atas lantai dan menutup mulutnya sendiri. Meski keduanya terbalut selimut tebal dan tidak sadarkan diri. Lea bisa tahu, apa yang sudah terjadi. Lea memegang blazer Yuna.
"Yunaku sayang. Apa yang sudah terjadi padamu??"
Lea yang hendak mendekat. Yuna sepertinya sudah sadar. Ia bergerak dan tangannya memegang keningnya, rasanya begitu pusing. Lea mencoba untuk bersenyembunyi.
Dalam batin Lea sudah menangis, bukan karena Zio mantan kekasihnya. Tapi, itu karena sosok gadis kesayangannya. Ia teman hidupnya, sahabat dan saudara perempuan baginya.
"Aku dimana?"
Yuna yang tersadar akan dirinya sendiri, ia meraih pakaian yang berserakan dan langsung memakainya. Kemudian, pergi dari ruangan kamar di Villa.
Lea masih ngumpet di balik tirai. Yuna pergi meninggalkan ruangan itu, dengan tangisnya.
Lea ingin segera meraihnya, tapi ia sudah tidak sanggup, untuk mendekap kesayangannya.
Foto-foto Lea dapatkan, dari orang yang telah mengancam Lea. Lea sebenarnya sudah tahu, siapa orangnya. Tetapi, selama Yuna diam dan belum bercerita, ia tetap memberikan sejumlah uang, kepada pengirim foto Yuna dan Zio.
Malam itu, terjadi setelah Zio dan Lea putus. Sudah 2 bulan berlalu, di sebuah Villa.
Sebenarnya, waktu ke rumah Kevin. Yuna memang ingin meminta putus baik-baik, tidak tahunya ada hal yang terjadi, malah bisa dijadikan bahan pelampiasan untuk dirinya.
__ADS_1