Permen Kapas

Permen Kapas
Pasangan Tuan Putri


__ADS_3

Lea yang kembali bersama Yuna ke hotel. Meski terlihat semburat manis pada wajah cantiknya Yuna. Lea bisa melihatnya, kalau Yuna menahan dirinya.


Lea yang menatap Yuna. Ekspresi wajah Lea begitu sensitif, "Kamu beneran ingin memiliki Bang Kevin?"


"Entah." Jawab Yuna, yang begitu saja.


"Yunaku sayang. Jawab aku." Pinta Lea serius.


"Kalau iya, apa kamu ingin memberikan Kevin padaku?" Tatapan Yuna yang rada malu-malu meong, tetapi sudah menggebu.


"Haah? Aku pikir kamu hanya iseng saja." Lea bingung.


Yuna berkata "Aku akan menerima dia, dengan sepenuh hati."


"Huh, aku masih tidak suka dengan sikap Bang Kevin yang main serong kanan kiri."


"Memang itu pekerjaannya. Aku akan menerimanya."


Lea jadi tersenyum getir. Lea yang tampak duduk bersandar dan ia meraih ponselnya, kembali menyalakan ponsel itu.


Tadi, Setya sempat telephone Yuna, untuk mengetahui keberadaan sang istri yang begitulah.


Lea sendiri sudah menunjukan sifat aslinya, setelah mereka bertunangan. Setya semakin cemas, soal sikap istrinya yang selalu nekatan. Setya sendiri, sudah diberi mandat, agar bisa menjaga Lea dengan sebaik mungkin.


"Suami kamu tadi cemas. Kamu tidak perlu lagi mengikuti pertemuanku."


"Yunaku sayang. Aku lebih cemas sama kamu dan Bang Kevin. Kalau kamu sampai hamidun, terus Bang Kevin masih sama cewek lain, aku bisa menenggelamkan dia."


"Wwadduh!"


Lea menatap Yuna "Yuna jujurlah. Apa maksudnya kunci apartemen?"


"Aku sudah bilang, aku cuma bantuin bersih-bersih rumahnya saja."


"Kamu beneran, dijadiin pembantu sama dia?"


"Lea sayang, kamu salah menerka saja. Aku yang menawarkan diri. Bukan dia yang menyuruhku. Lagian, Kevin tidak suka dengan orang lain, yang masuk ke tempat tinggal pribadinya." Jawab Yuna.


"Hish, kamu sudah memberikan umpan padanya."


"Apa maksud kamu?" Yuna yang menoleh ke wajah Lea.


Mereka yang berada di mobil dan Yuna mengendarai dengan santai.


"Aku tidak meragukan kamu. Tapi, Bang Kevin itu pria dewasa. Sama yang lain saja, bisa pelukan mesra, gimana kalau berduaan sama kamu." Jawab Lea.


Yuna tersenyum saja, Lea kembali fokus pada ponselnya. Sang suami telah memanggil.


"Hallo suamiku tesayang-sayang, yang tidak berhenti mencariku." Suara Lea yang begitulah dan Setya mulai terbiasa mendengarnya.


"Lea, kamu dimana?" Tanya suaminya, suara itu terdengar kaku.


"Mas Setya, aku lagi jalan pulang ke hotel." Jawab Lea dengan suara gemas.


"Nanti sampai hotel, telephone aku lagi ya." Pinta sang suami rasa es krim. Tidak seperti dengan yang dulu, serasa permen kapas, Imut-imut manis unyu dan menggemaskan sekali.


"Mas Setya, kenapa tidak tidur?" Mengingat di jauh seberang benua masih jam tidur. Semalaman, Setya susah memejamkan mata. Pikirannya melayang jauh ke kota kelahirannya.


"... Sesaat diam saja.


"Mas Setya masih dengarin aku? Hallo Mas Setya."


"Aku mendengarkanmu."


"Mas Setya, kenapa susah tidur?"

__ADS_1


"Aku kepikiran kamu."


"Suamiku tersayang-sayang, aku berubah gemas. Sana bobok lagi."


"Nanggung. Sebentar lagi subuh."


"Ya sudah. Nanti kembalilah tidur dan segeralah raih magistermu. Aku baik-baik saja."


"Iya."


"Ingat! Bobok yang nyenyak."


"Kemarilah."


Mendengar keinginan sang suami, Lea jadi berdebar. Lea langsung menjawab "Maaf, aku tidak bisa menyusul kesana."


"Sebentar saja."


"Nanti aku pikirkan dulu."


"Aku akan menunggumu."


Setelah itu, tidak lama panggilan sudah berakhir. Yuna juga mengerti akan hal itu, dia jadi senyam-senyum hendak menggoda Lea.


"Bu Lea. Eh, Nyonya Setya."


"Apaan sih?!" Lea yang masih menatap layar ponselnya. Ia melanjutkan mengirim pesan manis untuk suaminya.


"Nyonya. Tuan Setya sudah meminta anda untuk segera menyusulnya kesana." Yuna yang pandai menggoda Lea.


"Yunaku sayang. Aku baru sehari masuk kuliahnya."


"Pergilah kesana, soal kuliah aku akan mengaturnya." Yuna yang masih saja menggiring Lea.


Lea menatap Yuna "Sepertinya, kamu sendiri yang ingin berduaan sama Bang Kevin. Makanya kamu ingin mengirim aku terbang kesana. Benar begitu, Yunaku sayang?"


"Kamu ini, sukanya ngomporin aku." Lea yang merasa panas dingin.


"Lebih baik, kamu susul Setya. Dari pada disusul sama yang lainnya. Micheel ambil jatah liburnya, aku khawatir kalau dia tahu Setya udah balik kesana. Dia akan menyusulnya lagi." Ucap Yuna.


Lea mengingat sebuah cerita. Kalau Micheel yang sering mendatangi Setya ketika berada di seberang benua. Bisa saja itu terjadi, apalagi kalau gelap mata dan tidak tahu apa yang akan mereka lalukan, bila nantinya bertemu lagi.


Lea berkata "Yuna, biarkan saja."


Yuna merasa, kalau Lea tidak cemburu dengan masa lalu Setya. Bisa saja, Lea punya cara sendiri, untuk menangani masa lalu suaminya itu. Lagian, Lea sendiri juga punya kenangan romansa mesra dengan pria imut nan manis.


Setibanya di hotel. Sudah sangat sore. Lea langsung mandi dan lanjut untuk beribadah. Yuna yang keluar dari kamar, pergi ke dapur menemui chef menawan, untuk memesan menu makan malam Lea.


"Riko, ngapain kamu disini?" Tanya Yuna.


"Eh, Nona Yuna. Saya sedang menonton film." Jawabnya, terlihat film barat yang menggoda mata pria.


"Memangnya kamu nggak ada kerjaan?" Tanya Yuna.


Riko menyudahi filmnya dan ia berkata "Kerjaan saya sudah selesai Nona Yuna. Saya hari ini shift pagi."


"Ya sana pulang, ngapain masih nongki disini?"


Riko yang duduk di anak tangga, dekat dapur dan pintu samping Hotel. Tempat Lea biasanya keluar masuk hotel.


"Saya malas di kost-an. Sepi, nggak temannya. Apalagi, semenjak Setya pergi jadi semakin sepi."


"Memangnya. Siapa itu, Setya?" Yuna yang berpura saja, tidak mengenalnya.


"Teman kost, dia juga sempat magang disini. Cuma sudah seminggu ini, dia kabur. Nggak ada kabarnya." Jawab Riko yang apa adanya, pria manis berusia 24 tahun. Sudah 3 tahun, bekerja di The Queen's Hotel.

__ADS_1


"Dia yang bantuin kamu antar makanan Lea itu bukan?!" Yuna yang masih gencar saja.


"Iya Nona Yuna." Riko tatapannya unyu gemas juga.


"Memangnya, Setya itu orangnya kayak gimana?" Yuna sok kepo dan perlahan duduk di sebelah Riko.


"Setya orangnya biasa saja. Tapi, dia asyik aja kalau pas lagi ngumpul sama anak-anak yang lain. Apalagi, kalau capek pulang kerja. Setya yang siapin makanan, ambil gitar kita nyanyi bareng-bareng, terus pada ngopi, lanjut begadang."


"Owh, dia pandai main gitar? Terus, apalagi yang kamu tahu soal Setya?"


"Ini, ganteng kan dia?"



Riko yang menunjukan fotonya dan Yuna masih memandangi foto itu. Riko tersenyum, dia merasa kehilangan sang teman yang satu ini.


"Gimana menurut Nona Yuna, dia ganteng tidak?"


"Ya, namanya cowok pasti ganteng." Jawabnya Yuna, dalam batinnya Yuna "Riko, dia Tuan Muda kamu yang sekarang. Bukan Zio. Oke."


"Nona sudah punya pacar?" Tanya Riko, ia tampak senyum.


"Sudah." Jawab Yuna. Terlihat wajah berseri-seri dan Riko bisa juga melihat kebahagiaan Yuna.


"Eh, Riko. Kalau boleh aku tahu. Apa Setya pernah punya kekasih?"


"Soal itu, saya tidak tahu. Setya tidak pernah cerita. Terus, di kost juga tidak ada yang nyamperin dia. Beda sama yang lainnya, yang sering di samperin pacarnya."


"Kamu sendiri gimana? Hayoo, apa jangan-jangan juga disamperin sama cewek."


"Nona bisa saja bercandanya."


"Kalau di kost, ada berapa orang?! Apa cowok semuanya?"


"Semuanya ada 12 pria tampan. Namanya juga kost putra. Pastinya cowok semua Nona Yuna." Riko yang merasa PD. Dia juga pria tampan, makanya Lea memilih Riko buat nganterin menu makannya. Kecuali, kalau Riko libur, ada pelayan utama yang mengantar menu makannya Lea dan Yuna.


"Owh, itu kost khusus cowok." Yuna menepuk bahunya Riko, " Riko, semoga saja, teman kamu itu cepat kembali lagi."


"Iya Nona. Soalnya, barang-barang dia juga masih ada di kost. Apa mungkin dia pulang kampung?"


"Bisa jadi begitu." Yuna yang tampak menyemangati Riko.


Riko berkata "Nona, mau lihat foto-foto Setya selama di kost?"


"Boleh. Mana coba lihat."


Yuna berkesempatan melihat foto Setya. Bisa jadi tameng bila nanti berhadapan dengan Setya. Yuna sebenarnya masih belum menerima Setya sebagai Tuan Mudanya. Ternyata, Setya lebih ngeselin dari Zio.


Baru seminggu bekerja dengan Setya, sudah bikin kepala cenat-cenut. Soalnya, sang tuan putri itu juga masih banyak tingkahnya. Sebenarnya, bukan Setya duluan yang pergi meninggalkannya, tapi Lea yang kabur setelah pernikahannya.


"Ternyata, Setya bisa masak."


"Iya Nona. Baru seminggu, saya sudah kangen masakan dia."


"Wah, Lea bisa kalah telak kalau begini?" Yuna mulai berfikir tentang Setya, yang diam-diam serba bisa.


Belum melihat semuanya, Lea sudah memanggil.


"Oke, aku otw sayang."



Itu Setya lagi ngapain ya?


Jangan-jangan lagi komat-kamit buat melet si Lea. wkwkwk

__ADS_1


Lea saja bilangnya, tersayang-sayang.


__ADS_2