Permen Kapas

Permen Kapas
Hantu Perawan


__ADS_3

Apartemen mewah di pusat kota Jakarta. Calvin mencium aroma permainan dari Cassandra.


"Bocil ini, rupanya punya nyali juga." Calvin pura-pura tidur pulas. Padahal, jusnya sudah dituang ke botol kosong.


Di dalam ransel Calvin ada botol bekas air mineral, ia curiga kalau keponakan cantiknya bisa berbuat nakal padanya. Seperti tadi pagi, sudah dilarang ke sekolah. Eh, malah Omnya dikasih obat mules. Alhasil sampai siang, Omnya lemes dan tidak bisa bekerja.


Cassandra yang ke sekolah seorang diri, akhirnya malah di anter ayank tampan.


Ciie, Tuan Muda.


"Aku pergi dulu." Ucap Zyan, tanpa suara, dan melangkah kaki dengan pelan tanpa suara sedikitpun.


Cassandra dengan pelan membuka pintu, dan Zyan berjalan keluar.


Cassandra melambaikan tangannya dan Zyan malah kembali, mengecup pipinya Cassandra.


Calvin melihatnya geram dan ia kembali berpura-pura mendengkur pelan.


"Om Calvin kenapa bisa sampai ngorok begitu? Apa yang tadi dilalukan Om Calvin? Padahal tidak bekerja, tapi wajahnya kucel begitu." Batin Cassandra dan kedua tangannya bersedekap.


Cassandra masih memandangi Om tampannya ini. Ia memungut topi yang terjatuh di lantai.


"Haah?? Bau rokok." Cassandra menatap kaget wajah Om tampannya itu. "Apa Om Calvin merokok?" Batin Cassandra.


Cassandra berusaha mencium aroma di sekitar jaket dan wajah Omnya.


"Tidak ada bau rokok. Terus, ini topi siapa? Yuuuh, baunya minta ampun."


Cassandra mengambilnya dan menjatuhkan ke dalam tong sampah.


"Cassandra, pergilah. Aku ingin bersin." Gara-gara Cassandra mengendus ke wajahnya, Calvin jadi merasa gatal di hidungnya.


"Hem, biarkan saja dia begitu. Aku juga lelah. Aku mau mandi."


Cassandra beranjak pergi ke kamarnya dan Calvin tidak bisa bersin. Rasanya nanggung di rongga hidungnya.


Calvin menoleh ke pintu kamar sang keponakan cantiknya, ia mendesis pelan, "Bocah ingusan. Aku akan menghukum kalian berdua."


Tangan kirinya meraih ransel dan pergi dari ruang tamu. Calvin beranjak pergi ke ruang kerjanya.


Ruang kerja yang begitu minimalis. Sudah tampak senyuman menawan, saat tangan kanannya memutar bola dunia.


Pintu rahasia terbuka dan Calvin memasuki ruangan minimalis itu.


Ada kasur dan tampak rapi. Meski terkesan sempit. Tapi, ruangan pribadinya ini sangat menawan.


Mengambil sebuah koper yang terletak di bawah tempat tidur kayu minimalis.


"Marisa. Clarissa. Aku tidak akan memaafkan kalian berdua. Nyawa harus dibayar Nyawa." Ucap Calvin geram. Kedua tangannya tampak mengepal dan ingin segera menghabisi mereka berdua.


Beberapa tahun lalu, kedua perempuan menjalin bisnis dengan seorang single mom. Dia adalah, Ibu dari kekasih Calvin.


Single mom itu, juga turut menjalin bisnis hitam. Sayangnya, tiga tahun lalu Madam Marisa dan Madam Clarissa telah menyingkirkan Madam X. Pada akhirnya, Madam X terlibat hutang yang sangat besar dan semua kekayaannya tidak bisa menutup semua hutangnya. Percuma menyuruh orang, untuk melawan mereka berdua, malah Madam X yang diteror, orang suruhan Madam Marisa.


Akhirnya, peristiwa keji terjadi. Madam X dan putrinya semata wayangnya. Telah ditemukan, dalam keadaan tewas, karena bunuh diri. Tetapi, Calvin tidak percaya kalau kekasihnya mengakhiri hidupnya sendiri.


Calvin telah menyelidiki kasus Madam X. Perlahan, satu persatu bukti sudah dia dapatkan.


"Raja"


"Aku bisa menggunakannya untuk menghukum mereka berdua." Batinnya Calvin.


"Kalian berdua harus menemani kekasihku."


Calvin meraih foto kekasih hati. Tampak senyuman manis di wajah cantiknya. Terlihat manis dan anggun. Pakaian yang dikenakan juga terkesan feminine. Rambut lurus memanjang dan terlihat poni tipis menutupi dahi.


"Aku merindukanmu. Do'aku selalu menyertaimu sayang." Gumam Calvin, air mata beningnya. Seketika menetesi foto kenangan itu.


"Nadia. Aku sangat merindukanmu." Calvin yang terlihat mencintainya dan rasanya begitu sakit. Meski orang lain menghujat kekasihnya karena berita kematian yang bunuh diri. Namun, Calvin tidak percaya akan hal itu. Calvin seolah sudah menutup kedua telinga dan matanya.


Calvin tidak ingin menunjukkan cinta untuk kekasihnya, maupun membalas dendam demi kekasihnya. Calvin hanya ingin membuktikan, kalau kekasihnya sudah dibunuh oleh dua Madam kejam. Yaitu, Madam Marisa dan Madam Clarissa yang sok suci tanpa dosa.

__ADS_1


"Om Calvin. Om. Om Calvin. Kemana perginya? Bukannya tadi dia masih tidur? Apa dia dibawa hantu perawan? Hissh, serem." Ucap Cassandra yang memasuki ruang kerja Calvin.


Setelah mandi, gadis yang beranjak remaja itu telah mencari Omnya. Tadi masih tidur di sofa dan tampak pulas. Saat Cassandra kembali ke ruang tamu. Tidak melihat Om tampannya dan ia juga mencarinya ke kamar. Tidak ada juga di atas kasur dan kamar mandinya.


Cassandra melihat ke seluruh ruang kerjanya dan jadi merinding. "Harusnya Om Calvin buruan menikah. Biar tidak digoda hantu perawan."


"Hiii, serem."


Cassandra berlari dari ruang kerja Omya dan menutup pintu kamarnya dengan kencang. Dia juga mengunci rapat pintu kamar tidurnya itu.


Cassandra yang duduk di tengah kasur menutupi seluruh badannya. Dia jadi menghubungi nomor ponsel Zyan.


"Hallo Ayankku. Baru juga sampai rumah. Kamu sudah kangen aku."


"Zyan aku takut." Ucapnya manja.


"Kamu kenapa? Apa Om Calvin memarahi kamu?" Tanya Zyan.


Zyan duduk dan Nesha sang aspri sudah tampak melepaskan sepatunya Zyan.


"Bukan marah. Tapi, Om Calvin hilang."


"Hah? Hilang?" Zyan terkaget. Sang aspri turut mendengarkan obrolan Zyan yang heboh manja.


"Iya. Tadi, aku tinggal mandi. Eh, waktu aku balik ke sofa depan. Om Calvin sudah nggak ada."


"Kok bisa? Coba kamu cari ke kamar dan ruang kerjanya."


"Sudah. Aku sudah mencarinya."


"Segede itu. Siapa yang akan gendong dia. Apa mungkin, ada hantu terbang?" Zyan yang malah bicara aneh. Sang aspri jadi menahan tawa.


Cassandra berkata pelan "Kata Nenek. Om Calvin disukai hantu perawan."


"Hah? Hantu perawan? Kamu serius?" Zyan yang sudah terbawa suasana. Sang aspri sudah ingin sekali tertawa, tapi tetap menahannya.


Sesudah melepaskan kedua sepatu dan kaos kaki Zyan. Ia memakaikan sandal lantai di kedua kaki Zyan. Nesha lantas pergi ke kamar Zyan menyiapkan baju ganti untuk Tuan Mudanya ini.


"Hiii, serem amat. Aku jadi merinding."


"Makanya aku takut. Aku ngumpet di selimut."


"Iya Ayankku. Kamu disitu saja. Aku akan terus temani kamu dari telephone."


"Beneran? Kamu mau temani aku?"


"Beneran. Tapi, aku ganti baju dulu ya."


"Iya, jangan dimatikan telephonenya."


"Oke. Kamu bisa ngomong dulu sama Nesha."


"Iya."


Zyan yang berjalan ke kamarnya dan berpapasan dengan Kai.


"Ganti baju dulu. Baru pacaran lagi."


"Ye, ini juga mau ganti baju. Sambil nemenin Ayank Cassandra."


"Nemenin, nemenin. Bukannya, tadi kamu pulang siang. Kenapa sore baru pulang? Hayo, pasti ke apartemen Pak Calvin."


"Huh, mau tahu aja urusan orang lain."


Kai bertanya "Itu, Pak Calvin gimana kabarnya?"


"Dia menghilang, dibawa hantu perawan."


Zyan menutup pintu kamarnya dan tidak menghiraukan lagi ocehan Kakaknya.


"Hantu perawan? Emangnya, ada hantu yang begituan?" Kai merasa aneh.

__ADS_1


Kai jadi penasaran, menunggu di depan pintu kamar Zyan. Sang Ayah mendekat dan menepuk bahu putri cantiknya yang satu ini.


"Iiih, Ayah ngagetin aku deh."


"Kamu ngapain disini? Adikmu sudah mau remaja. Dia pasti malu, kalau ganti baju ditungguin begitu."


"Ini pintu kamarnya juga tertutup. Aku nggak gangguin dia. Aku cuma penasaran sama hantu perawan yang membawa Pak Calvin pergi."


"Hantu perawan bawa Calvin pergi?" Ayah Setya jadi ikutan penasaran.


"Kata Zyan, Pak Calvin menghilang, soalnya dibawa hantu perawan."


"Owh, mungkin hantu perawannya anggun, manis, rajin, pintar dan tidak kepoan kayak kamu."


"Ayah nyindir aku?"


"Tidak. Ayah hanya bercanda."


"Hish, menyebalkan. Kenapa semua orang di rumah ini, nggak ada yang mau ngertiin perasaan aku." Ocehnya Kai dan ia berjalan pergi.


"Kai, Kai. Ayah senang, kamu tidak berubah." Guman sang Ayah.


Meski sudah lama, tidak tinggal serumah. Namun, sifat dan sikap putrinya ini, tidak berubah sedikitpun.


Kai memang sosok tuan putri yang baik, anggun dan sopan tutur katanya. Bila, berada di rumah sang Eyang. Kalau sifat aslinya, memang tidak seperti tuan putri. Aslinya Kai itu, garang.


1 jam kemudian.


Raja yang tiba di rumah sakit dan ia sudah melihat wajah kesayangannya.


"El, kamu baik-baik saja??"


"Raja. Aku takut. Aku takut."


Raja memeluknya dengan wajah yang sudah terlihat sendu. Lionel kembali menangis lagi. Padahal, tadi di mobil sudah berhenti menangis dan bisa tertidur pulas.


"Aku takut. Aku hampir mati disana." Ucap El dan kembali menangis.


"Sayang, kamu sudah disini. Kamu akan baik-baik saja."


El yang masih dalam pelukannya, ia berkata "Tadi, aku sempat memanggil kamu. Tapi, kamu tidak datang menjemputku."


"Iya. Aku salah. Aku tidak datang menjemputmu."


"Aku takut sekali."


El yang menangis tersedu-sedu. Lionel bergantian memeluknya. "El, aku pikir kamu akan mati dan pergi meninggalkan aku."


Hiikss hoo hooo,


"Ini, aku masih hidup. Lionel, tadi aku ketakutan."


"Sayangku, aku akan menemani kamu."


"Bohong. Buktinya ninggalin aku."


Lionel berkata "Kamu boleh menyanyi. Aku akan mendengarkan nyanyianmu."


"Nggak mau."


"Ayolah, menyanyi untuk aku."


"Aku tidak bisa menyanyi."


Raja mengajak Singa keluar dan meninggalkan mereka berdua.


"Aku ingin, kamu menikahinya."


Degh!


"Tuan Muda. Saya_,"

__ADS_1


"Aku mohon."


__ADS_2