Permen Kapas

Permen Kapas
Tidak Sesuai Harapan


__ADS_3

^^^1 minggu kemudian^^^


Setelah 10 hari Lea kabur membawa Yuna pergi. Saat ini, Papa Arjuna dan Zio sudah tiba di desa tempat tinggal mereka bertiga.


"Papa." Lea terkaget, saat mendapati wajah itu berada di hadapannya.


Masih di waktu pagi, ingin berjemur di sekitar tanaman padi. Malah, mendapat tamu tak di undang seperti ini.


"Kamu tidak merindukan Papa?"


Meski usia tak lagi muda. Aktor tampan yang terkenal di masa mudanya. Para penggemar selalu menyebutnya sang Arjuna. Kian berusia, masih tetap mempesona.


Papa Arjuna yang tampil casual dan masih berdiri dihadapan putrinya.


"Aku kangen sama Papa." Lea berjalan mendekat dan memeluk Papanya.


Zio hanya menatap kedua orang itu, terdengar suara dari dalam.


"Sayang." Setya memanggil istrinya dan Lea masih anteng memeluk Papanya.


Setya yang keluar dari dapur menatap ke arah depan. Pintu terbuka dan Lea memeluk Papanya.


"Papa." Batin Setya dan belum melihat kalau Zio juga datang.


Tanpa melepas celemek dapurnya. Setya dengan segera, menghampiri Papa mertua.


"Papa." Panggilnya dan Arjuna tersenyum, Lea masih memeluk Papanya, ternyata sudah menangis.


Setya melihat istrinya menangis dan hanya diam tanpa suara tangisnya. Setelah keluar dari pintu rumah, ia menoleh ke arah adik imutnya.


"Zio." Panggilnya.


"Mas Setya." Zio lebih mendekat.


Setya bertanya "Kamu bawa apaan?"


"Owh, ini perlengkapan menginap disini."


Cleeguk!


Setya salah tingkah sendiri, bagaimana bisa mantan kekasih istrinya juga akan tinggal di rumah minimalis ini. Yang ada, bukannya senang, tapi kepanasan karena cemburu.


Lea perlahan melepas pelukannya, ia menatap Papanya. Lea yang masih menangis, ia jadi merengek manja "Papa, Yunaku milikku. Aku nggak bisa memberikan Yunaku kepada Zio."


Papa memegang pipinya, dengan lembut berkata "Tapi, sekarang Zio lebih berhak atas Yuna. Bukan kamu."


"Aku tahu, tapi aku nggak bisa. Aku nggak mau memberikan milikku kepada Zio." Ucap Lea.


Setya menoleh ke arah istrinya, ia berkata "Sayang, Zio suaminya. Kamu jangan begitu sama Yuna. Kasian bayi yang ada di kandungan Yuna."


"Mas Setya tahu apa tentang aku dan Yuna. Pokoknya, aku nggak akan nyerahin Yuna. Mau sekarang atau selamanya." Lea berlari ke dalam rumah.


"Mas Setya, biarkan saja. Aku bisa tinggal disini." Ucap Zio yang terdengar ringan sekali.


"Aku tidak mau kalau kamu disini. Aku sudah kasih informasi. Kamu yang harus membawa Yunamu pergi dari istriku."

__ADS_1


Papa Arjuna dalam hatinya sudah terkekeh sendiri. Tapi, tetap tenang dalam menghadapi masalah ini.


Tadinya, Setya mencari waktu yang tepat. Sayangnya, semakin hari Yuna semakin bermanja kepada istrinya. Setya nggak bisa menahan dirinya. Akhirnya, memberanikan diri untuk menghubungi Papa mertua, tanpa sepengetahuan istrinya.


Zio yang menggendong ransel dan ada satu koper di samping kanannya. Setya yang tidak basa basi, ingin segera mengusirnya secara halus.


"Zio, kamu sudah jadi suami Yuna. Kamu harus bisa meraih hati istrimu." Ucap Setya, ia tampak menggurui adiknya.


"Makanya itu, aku datang kemari." Balasnya Zio, terdengar begitu santai.


Papa Arjuna menyela, "Setya, kamu tidak menawari Papa kopi buatanmu?"


Setya sampai lupa diri, ia mendekat dan mencium tangan Papa mertua.


"Papa, mari silakan masuk. Saya sebagai koki dapur. Sampai lupa menawarkan kopi kepada tamu."


Zio menatapnya, dan berkata "Koki? Pantas, aku mencium bau bawang."


Setya ingin sekali menggetok kepala adiknya, sayangnya ada Papa mertua.


Papa Arjuna masuk ke ruang tamu dan begitu santai saat melihat ke sekitar ruangan. Ruang tamu minimalis dan tampak rapi.


Senjata makan tuan bagi Setya. Rencananya untuk menjauhkan kesayangan istrinya, gatot.


20 menit kemudian


Tak tak tak tak.


Setya meluapkan emosi di atas talenan. Di dapur minimalis, ia sedang berkutat dengan aneka bahan masakan. Adik dan Papa mertua sedang bersantai di ruang tengah, sambil menikmati siaran TV.


"Yunaku sayang. Aku mohon sama kamu. Jangan mau, kalau diajak ke rumahnya Zio." Ucap Lea.


"Memangnya kenapa? Kamu tadi bilang, aku sudah jadi istrinya Zio, kenapa kamu melarang aku kerumahnya?" Yuna yang masih polos dan tidak banyak mengerti tentang Zio. Apalagi, tentang keluarga barunya itu.


Lea berkata "Meski Zio mencintai kamu, dan Papanya sudah merestui kamu. Tapi, Tante Jenny orangnya tidak sebaik itu. Kamu mengerti?" Tatapan Lea terlihat sangat serius.


Yuna bertanya "Apa Mamanya Zio, tidak suka padaku?"


"Yunaku sayang. Aku mencemaskan kamu. Aku sendiri, tidak ada Ibu mertua. Mas Setya juga tidak menyuruh aku untuk memanggilnya Mama mertua. Jadi, aku tidak menganggapnya sebagai ibu mertuaku. Lagian, Bundanya Mas Setya sudah tiada. Aku hanya percaya sama suamiku."


"Lea, bukannya waktu itu, kita pernah bertemu Mamanya Zio, sepertinya baik-baik saja."


Kedua perempuan itu, duduk di atas ranjang. Saling menatap serius. Lea jadi bingung sendiri, agar Yuna tidak mau datang ke rumahnya Zio. Meski Lea masih berharap, Yuna selalu berada di dekatnya, tapi kalau Zio mengajaknya pergi, Lea bisa apa. Tetap akan kalah dengan suami Yuna.


Lea memeluk Yuna, ia berkata "Pokoknya, selama kamu mau tinggal bersama Zio. Kamu harus berhati-hati sama orang disekitarmu. Termasuk aku. Aku bisa menyakiti kamu."


"Kamu kok ngomongnya begitu. Kamu sudah nggak sayang sama aku?" Yuna seketika melepaskan kedua tangan Lea dan wajahnya berubah masam.


"Yunaku sayang, pokoknya kamu harus bisa jaga diri kamu sendiri. Soal Zio, itu urusan kamu gimana, aku udah tidak peduli. Yang jelas, orang luar bisa menyakiti kamu. Apalagi, kita bakalan tinggal berjauhan, tidak lagi serumah."


"Aku bisa membujuk Zio, untuk tinggal serumah dengan kamu." Ucap Yuna dan dia sama saja dengan Zio. Tidak tahu sikonnya Setya yang sudah diujung tanduk.


"Aku sih, terserah kamu saja. Zio, sekarang lebih berhak atas diri kamu. Aku tidak akan bisa menghalangi kamu." Ucap Lea.


Gimana Setya nggak sensi, dimasa manisnya pengantin baru. Ada saja masalahnya. Baru mengenal dekat istrinya, ternyata Lea banyak cowok yang mengincar. Lalu di kelilingi para sepupu tampan, dan sekarang sang mantan akan tinggal satu atap.

__ADS_1


Mana selama di rumah baru ini, Lea selalu fokus sama bumilnya. Setya hanya bisa menunggu gilirannya.


Sreeng!!


Setya yang menggoreng ikan, tampak ikan berenang di wajan. Tepung crispy membalut ikan yang berukuran besar, dan nantinya akan di siram saos asam manis.


"Aromanya sudah tercium sampai kamar." Ucap Lea gemas manja.


"Bagaimana, Yuna mau pisah dari kamu?" Tanya sang suami ketus.


"Mas Setya, sabar sebentar saja."


Sang suami sudah jadi koki dan sang istri memeluknya dari belakang. Setya sudah menduga, kalau ini pasti akan terjadi padanya.


"Iya, terserah kamu saja." Ketusnya.


"Mas Setya, sepulang nanti. Kita bisa bulan madu. Ya Mas."


Lea menoleh wajah suaminya dan masih memegang pinggang suaminya.


"Mas."


"Hemss."


"Sekali ini saja. Hanya untuk karantina Zio dan Yuna. Kalau sudah tidak ada masalah. Aku akan mengantar mereka ke Jakarta." Ucap Lea yang merayu.


"Baik, aku tidak akan keberatan. Tapi," Setya yang belum selesai berkata, Lea semakin menatapnya serius.


"Tapi apa Mas?" Tanya Lea.


"Kamu jangan perhatiin Yuna lagi. Sekarang sudah ada suaminya. Biar Zio bertanggung jawab sama anaknya."


"Ya makanya itu Mas. Aku ingin lihat, keseriusan Zio. Jadi, sementara waktu, selama Yuna belum mau tidur sekamar sama Zio. Mas Setya harus bisa berbagi kasur dengan Zio." Ucap Lea mengiris dan sangat berharap manis.


Sang suami, dalam hatinya menyesal sudah memberitahu keberadaan mereka kepada Papa mertua. Bukannya bahagia malah tambah derita. Istrinya, yang dia inginkan tidur bersamanya, malah Zio yang akan menemani malam-malamnya.


"Siiaal!" Setya yang sangat kesal, tapi menutupi dengan senyuman manisnya.


"Iya sayang, apapun aku akan lakukan demi kamu. Yang penting, kamu senang. Aku tidak akan keberatan. Zio adikku, aku sangat tahu tentang dia." Ucapnya begitu, dalam hatinya sudah menangis darah.


Zio mana bisa tidur seanteng Setya. Kaki tangannya tak akan henti mendorong Kakaknya. Pernah tidur seranjang berdua, Setya sampai terjatuh ke lantai, karena ulah adiknya.


Lea dengan gemas mencium pipi sang suami, "Terima kasih Mas. Aku jadi makin tercinta-cinta."


"Iya sayang. Sama-sama." Balasnya.


Lea, lalu berkata "Sini, aku bantuin plating."


"Oke., Itu udangnya sudah aku tirisin." Tangan kanannya yang menunjuk ke arah keranjang tirisan stainless. Ada udang goreng tepung kesukaan Lea.


Lea tangan kanannya juga langsung nyomot dan mencicipi masakan sang suami. "Emmh, udangnya gurih. Aku suka banget."


Setya bertanya "Yuna, belum keluar kamar?"


"Belum. Aku masih melarangnya."

__ADS_1



__ADS_2