Permen Kapas

Permen Kapas
Makan Malam


__ADS_3

Duduk berhadapan dan saling melempar senyuman


Melihat gerak-gerik permainan yang sudah disiapkan


Kedua orang yang tidak mau kalah dan terus melawan


Memberanikan diri dihadapan keluarga dengan sambutan


"Selamat malam semuanya." Ucap Lea dan menyambut semua tamunya malam ini. "Terima kasih, sudah menyempatkan diri, untuk memenuhi undangan Lea, istri hebatnya Mas Setya yang begini adanya."


Aish, dirinya sendiri dipuji sendiri. Lea tanpa basi-basi berkata ini dan itu. Sampai bilang, ide makan malam ini. Tercetus dari Jenny.


"Terima kasih Tante Jenny, sudah membantu aku, mengatur makan malam ini."


Mama Beby dalam hatinya tertawa, melihat kegemasan putrinya ini.


Mbok yum yang barusan datang, membawa nampan. Mama Jenny langsung berdiri, menyajikan menu pembuka ke meja makan.


Di ruang makan, ada Papa Arjuna, Presdir Hendri. Zio dan Yuna juga turut hadir dalam acara makan malam di rumah Setya.


Nada dan Varell tidak bisa datang, karena Nada tidak enak badan, dari siang tadi kembali mual-mual. Jadinya, tidak bisa mencicipi masakan Lea.


Lea tampil menawan dan terlihat anggun dengan dress lengan panjang dan dibagian bawahnya, model bergaris putih biru. Begitu pula dengan Setya, memakai kemeja putih bergaris biru tua.


Mama dan Papanya juga memberikan pujian manis, untuk putrinya ini.


"Ini masakan kamu?" Tanya Mama Beby. Wajah Mama Beby berseri-seri dan merasa bangga pada putrinya.


Lea berkata "Iya Mama. Ini, berkat bantuan Tante Jenny." Lea dengan gemas, mengedipkan mata kanannya.


Mama Jenny menahan dirinya. Dengan manis, berkata "Putri kamu sangat pintar. Sekalinya diberi contoh, langsung dikerjakan dengan baik dan hasilnya tidak mengecewakan."


"Terima kasih sudah membantu Lea. Kapan-kapan, aku ingin melihatnya. Aku tidak bisa membayangkannya, saat memasak." Ucap Mama Beby.


Mama Jenny tersenyum manis, semanis gula jawa.


Papa Hendri menyela "Kita bisa buat agenda piknik keluarga. Nanti masak bersama dan berlibur di Villa keluarga."


"Bagus juga ide Ayah. Setya sejutu." Ucap Setya dan tampak bersemangat.


Zio dan Yuna hanya tersenyum saja.


"Papa jadi kepingin nambah." Ucap Papa Arjuna. Yang lain baru menyendok, Papa sudah menyantap habis menu pembukanya.


Lea berkata "Owh, tenang Papa. Lea bikinnya banyak." Segera berlari ke dapur. Mama Beby semakin gemas melihat tingkah putrinya ini.


Hidangan pembuka dengan tampilan cantik di sebuah piring sop warna putih. Masakan ini, diberi nama soup of the sun.


Sop matahari khas Solo, dimasak oleh tuan putri Allea. Mengerahkan segala jurus dan kemampuannya, sampai melukai kuku jemari Ibu mertua tiri.


"Papa, ini menu kesukaan Mas Setya. Maaf, kalau aku mengutamakan suamiku." Ucap Lea dengan gemas.


Papa berkata "Sudah jadi kewajiban kamu. Papa bangga. Papa juga sangat menyukainya."


"Eith, jangan sampai kekeyangan. Nanti masih ada menu utama dan penutup." Ucap Lea.


"Baik, Papa akan bersabar." Balasnya.


Lea hanya memberikan sepiring lagi, dan setelah itu menghidangkan menu utamanya.


Jreeng!


"Owh, ini bistik kesukaan Mas Setya." Ucap Zio.


Lea menatapnya "Kenapa? Kamu nggak suka?"


Zio membalas "Aku suka." Tapi setelah itu, dia mingkem. Yuna jadi tersenyum.

__ADS_1


Lea mendekati Yuna "Yunaku sayang, aku tahu kamu nggak suka acar. Aku nggak kasih acarnya."


Mendengar hal itu, Mama Jenny punya kesempatan mengenalnya. Nantinya, akan mencari tahu lebih dalam, tentang menantu barunya.


"Kamu tenang saja. Aku sudah tidak mual-mual." Ucap Yuna.


"Aku sudah bikin asinan mangga harum manis buat bayi kita." Lea begitu gemas dan semua keluarga menatap ke arah Lea.


Lea melihat ke arah mereka "Kenapa menatap aku? Apa aku salah? Anaknya Yuna, juga anakku."


Presdir Hendri tertawa senang, "Bagus kalau begitu. Kalian saudara. Harus akur. Seperti Zio sama Setya."


Zio membatin "Akur apanya. Hems."


Setya membalas "Semoga saja begitu."


Semua kembali menikmati makan malamnya dan menutup hidangan dengan puding buah segar.


Lea berkata "Kalau ini, pudingnya kesukaan Yuna. Habisnya, aku bingung mau bikin apa."


"Mama suka pudingnya, segar. Tidak kemanisan." Ucap Mama Beby.


Perlahan, Zio merengek, "Lea. Apa nggak ada yang khusus buat aku? Aku juga tamu undangan kamu."


Lea berkata "Itu, minuman kamu. Sudah aku bedain sendiri. Apa masih kurang? Memangnya, apa kesukaanmu?"


Semua menatap ke Lea, yang tidak mengenal sang mantan kekasihnya.


"Kenapa, kalian jadi menatap aku?"


Setya berkata "Owh, tidak. Bukan apa-apa."


Yuna salah tingkah, "Lea, aku mau ke kamar mandi."


Kedua orang tua dengan kompak, berkata "Terima kasih untuk makan malamnya. Semuanya enak."


"Mama juga mau ke dapur" Ucapnya Mama.


Presdir Hendri, sudah fokus dengan ponselnya dan tidak menghiraukan menantunya.


Mama Jenny juga sudah pergi, sebelum Zio merengek di depan Lea.


Setya yang saat ini duduk di sebelah istrinya, ia memegang tangan istri gemasnya.


"Sayang, kamu mengundang mereka. Tapi, kamu malah mengutamakan aku." Bisik suaminya.


Lea berkata pelan "Aku tidak tahu. Mamanya Zio sendiri, yang membuat ide ini. Ya mana aku tahu, kalau Zio tidak menyukai menu yang aku hidangkan."


Zio masih saja menatap Lea. Zio menganggap, Lea sudah melupakannya.


Lea menatap Zio, Lea berkata "Zio, aku minta maaf. Aku tidak tahu, kalau kamu tidak suka dengan masakan aku."


"Lagian, aku hanya memasak sekali ini saja." Batin Lea.


"Iya, aku maafin." Balas Zio dan ia kembali menikmati pudingnya. Suka tidak suka, tetap memakannya.


Setya menatapnya "Zio, tidak berubah."



Mama Beby sudah berada di dapur. Tadi meletakan gelas-gelas kotor di atas cucian piring.


"Nyonya, biarkan saya saja." Ucap Mbok Yum. Asisten rumah tangga Mama Jenny. Sengaja membawa kembali pembantunya, karena Setya yang memintanya.


"Tidak apa-apa Bi." Ucap Mama Beby, yang hendak mencuci gelasnya.


Mbok Yum berkata "Nyonya besar tamu Den Setya. Tidak baik mencuci piring di dapur. Silakan Nyonya kembali ke depan."

__ADS_1


Mama Beby akhirnya mencuci tangan, bertanya kepada Mbok Yum, "Bibi sudah lama kerja dengan Jenny?"


"Iya Nyonya. Saya kerja dari Den Setya masih kecil. Saya yang menyiapkan keperluan Den Setya."


"Owh, begitu." Batinnya.


"Bibi juga tinggal disini? Atau pulang ke rumah Jenny?" Tanya Mama Beby.


"Saya kemari kalau Den Setya yang meminta saya datang kemari. Dari tadi pagi, saya sudah disini. Membantu Den Setya bersih-bersih rumah. Ternyata, sebagian kamar sudah dibersihin sama Nona Allea."


"Lea bersih-bersih. Tumben." Batin Mama Beby.


Mama Beby masih menatap wajah Mbok Yum.


Mama Beby semakin penasaran, dan kembali bertanya "Apa tadi masakan Bibi?"


"Tadi Nona Allea yang memasak. Atas bimbingan Nyonya besar. Saya hanya membelanjakan bahan dan menulis resepnya saja. Nona sama Nyonya, juga terlihat akrab, saat memasak bersama."


Jelas akrab, saling menindas itu pasti. Sampai kuku cantik si ibu tiri dan celemek baru milik Lea, kena imbasnya.


"Aku pikir ada peperangan. Ternyata mereka akur. Aku sudah salah mengira." Batin Mama Beby, mengingat beberapa waktu lalu, Mama Jenny yang sangat sinis dan kesal kepada Lea, Yuna dan Keluarganya.


Mama Beby berkata "Bibi Yum, terima kasih. Sudah mau direpotkan Allea. Allea anaknya memang begitu."


"Tidak apa-apa Nyonya. Saya malah senang, apalagi melihat Den Setya bahagia bersama istrinya. Saya merasa lega dan tidak cemas."


"Memangnya, Setya biasanya kenapa? Apa Setya tidak akur dengan keluarganya?"


"Saya dulu, melihat Den Setya yang kesepian, suka menyendiri." Jawabnya.


Mama Beby berfikir, mungkin karena Setya tidak ada Mamanya, jadi merasa kesepian. Tidak seperti Zio, yang masih ada Mama kandungnya.


"Bibi Yum, saya mau ke depan dulu." Ucap Mama Beby.


"Iya Nyonya, silakan." Balasnya tersenyum.


Mama Beby merasa kalau Jenny sudah tidak marah dan mau menerima Yuna sebagai menantu barunya.


Di sebuah lorong, yang menghubungkan kamar mandi. Yuna berjalan melewati ibu mertuanya, Yuna mengerti dan hanya diam tanpa menyapa Jenny.


"Di rumah ini, ada bayangan hitam." Suara itu terdengar pelan.


Degh!


Yuna menghentikan langkahnya dan perlahan membalikan badannya. Yuna menatap Ibu mertuanya, dengan tatapan teduh.


"Apa Nyonya berkata padaku?" Tanya Yuna.


Yuna merasa kalau Mamanya Zio menyakitinya. Apalagi, Mamanya Zio juga tidak mau merestui pernikahannya.


"Aku hanya berkata apa adanya. Bukannya, kamu hanya bayangan Lea." Balasan Jenny, yang seakan berbisa.


Mama mertuanya ini, memulai aksinya. Yuna juga hendak melawannya.


"Nyonya, saya hanya Yuna. Saya memang gadis biasa, tapi saya bukan bayangan Lea." Balasan Yuna.


Yuna pergi dan Mama Jenny mendesah kesal "Wah, pembantu ini pandai sekali. Baru dua hari jadi majikan, dia sudah ngelunjak."


"Apa ini, yang dimaksud Lea?" Batin Yuna.


Yuna kembali ke ruang makan dan menemui Lea.


"Yunaku sayang, aku sudah nungguin kamu." Lea mendekatinya, mengajak ke meja makan.


Lea bersemangat, "Ini, asinan mangga buat kamu."


"Lea, aku tidak suka."

__ADS_1



__ADS_2