Permen Kapas

Permen Kapas
Selingan Baru


__ADS_3

Pagi ini, hujan mengguyur ibukota. Setya yang berjalan dan seseorang dengan mobil mewah menawan, telah melewati dirinya begitu saja.


"Mas Setya." Sekilas menoleh ke arah Setya yang masih berjalan, berlalu pergi. Tidak terlihat lagi, pria kaku dan tampak dingin itu. Mobil itu melaju, memasuki area parkiran hotel.


Setya juga sempat melihat, mobil yang telah melewatinya begitu saja. Setya yang berjalan melewati pintu samping hotel, dan langsung menuju ke dapur.


Zio yang masih berada di dalam mobil, tampak bercermin. Memastikan, wajah yang ia tampilan, akan selalu mempesona di mata Lea.


"Honey."


Zio yang tersenyum dan merasa sudah berbaikan dengan sang pujaan hati. Zio merasa, kalau Lea sudah memaafkan dirinya, Zio juga sangat menyesali perbuatannya itu.


Zio memang tidak sengaja melakukan ciuman mesra itu. Sebuah permainan, yang pada akhirnya menggiring Zio untuk berciuman, dengan gadis cantik yang bernama Clarissa.


Gadis primadona kampus itu, juga sangat mempesona. Gadis yang bernama Clarissa itu, sudah merasakan manisnya kecupan Zio.


Saat ini, Lea memegang lengan tangan Setya. Lea berkata "Zio sudah datang. Aku tidak bisa berlama-lama."


"Kenapa? Kamu cemas?"


"Bukan begitu."


Yuna datang mendekat "Aku hanya berikan waktu 5 menit." Lalu, berjalan pergi.


Meski Zio pacarnya Lea. Tapi, Zio sama sekali tidak tahu dimana ruang kamar Lea. Zio selalu menunggu di restoran.


Yuna tampak menerima panggilan Zio dan menyuruh Zio agar menunggu di restoran.


Lea menarik tangan Setya dan mereka berada di ruangan kamarnya Lea.


"Mas Setya, aku nggak bisa."


"Lea, semalam kita sudah sepakat."


Lea merasa gelisah. Yuna juga sudah memperingkatkan Lea. Pastinya, akan susah menjalani cinta yang baru, apalagi bersama Kakak tirinya Zio.


"Aku memang ingin begitu. Tapi, aku masih ingin bersama Zio."


Setya, meski tampak kaku dan dingin, dia bisa membaca, sorot mata Lea.


Setya mengecup tangan Lea, ia berkata "Aku tidak apa-apa."


"Mas Setya."


"Lea."


Lea berkata "Aku mau ke kampus."


"Iya. Aku juga harus bekerja."


"Mas Setya. Hati-hati."


"Kamu juga, jaga diri kamu."


Setya pergi lebih dulu, menu sarapan hanya alasan saja, dengan semangat ia mengantarnya.


Lea mengambil jus dan meminumnya begitu saja, hawa panas menyerang dan Lea tampak mengipas sekitar wajahnya.


"Aah. Segarnya."


Meski di luar masih hujan. Namun, kecupan Setya sudah menghangatkan dirinya. Sampai masih mengipas-ngipas dengan telapak tangan dan kembali menikmati jus apel favoritenya.


"Zio."


"Mana Lea?"


"Sedang bersiap-siap." Jawab Yuna, dan itu sudah biasa Yuna lakukan. Tetapi, dari raut wajah Yuna. Zio juga bisa menilai wajah itu. Sepertinya, Yuna tidak nyaman bersamanya.


"Kamu kenapa? Kamu suka sama aku?"


Yuna melotot, berkata "Aku suka sama kamu?! Heh, yang benar saja. Aku punya tipe cowok, tidak imut seperti kamu."


"Yuna. Aku punya Kakak menawan. Nanti aku kenalin."


Makjleeb!


Yuna malah jadi pusing.


Yuna mulai menikmati racikan kopi ala master. Kenikmatan dan aromanya, sudah membuatnya lebih rileks.

__ADS_1


Yuna yang bekerja keras dan ia harus menghadapi pria imut yang banyak maunya.


"Zio." Panggilan Lea dengan suara merdu.


Lea langsung memeluknya. Zio yang duduk dan mendapatkan pelukan hangat di pagi yang masih hujan ini.


Lea dengan gemas mengecup pipi Zio. Saat itu juga, Setya melihatnya dari lorong, yang menghubungkan dapur dengan restoran.


"Kamu beneran sudah maafin aku?"


"Aku akan berusaha. Tapi, aku juga bisa berbuat hal yang sama."


"Kamu ingin membalas aku?" Tatapan Zio yang ketar-ketir dan merasa sudah dipermainkan oleh sang pacar.


Lea melepaskan bahunya, dan ia berkata "Aku memang ingin membalas pacar imutku ini."


"Honey." Tatapan meong yang bersalah, sudah mengambil ikan tetangga sebelah rumah.


"Baguslah, kalau kamu jujur. Aku akan coba memikirkan, balasan untukmu."


"Honey, jangan bilang begitu." Tangan Zio yang masih memegang tangan Lea.


Yuna melihat ke layar ponsel, ia berkata "Guys, kalian pergi duluan saja. Aku lupa, tugasnya masih di kamar."


"Oke, kita tunggu di kampus." Ucap Lea dengan gemas.


Zio bangkit dari kursinya dan melihat ke wajah Lea. Memegang tangan Lea "Honey, ayo kita berangkat."


"Tunggu sebentar." Lea mengambil cermin dan liptint. Memulas bibir unyunya dengan liptint warna peach orange.


Kedua orang itu tampak manis. Zio merapikan rambutnya Lea dengan lembut.


Riko melihat Setya yang mematung disisi ruangan, dan tampak bersandar dinding. Riko mendatanginya dan langsung menepuk pundak kanannya.


"Setya."


"Iya."


Wajah Riko sudah berada di sisi bahu, "Jangan bilang, kamu memandangi couple imut itu."


"Memangnya, kenapa?"


Setya membalikan badan dan menatap wajah Riko "Bukannya kamu juga suka menguping pembicaraan mereka."


"Iya, tapi aku tidak memandangi mereka seperti kamu."


"Apa aku tidak boleh menyukai Nona Allea?!"


Setya lantas pergi dan Riko yang menganggap omongan Setya hanya gurauan belaka.


Couple imut itu, terlihat menggemaskan di mata Riko, bahkan ia merasa jadi penggemar pasangan itu.


"Pacarku sudah cantik sekali." Tatapan meong nakal kebelet kencing.


"Heh, tatapan kamu jangan begitu."


"Honey."


Tangan Lea yang mengepal. "Zio."


Mereka, lantas pergi meninggalkan restoran.


Yuna yang berada di kamar, telah mengambil tugas dirinya dan Lea. Sekilas melihat menu sarapan manis untuk Lea, ada kartu ucapan mesra.


"Apa Lea sudah membaca ini?" Yuna lalu menyimpan ke dalam tasnya.


Kartu ucapan yang tersemat di sisi piring kecil dengan setangkai mawar merah yang hendak merekah.


"Kalau Setya berani bermain api. Aku yang akan memadamkannya." Yuna yang berfikir, kalau Setya hanya memainkan perasaan Lea, untuk kepentingan pribadinya saja.


Setibanya di kampus tercinta. Lea yang masih duduk di dalam mobil dan Zio mencoba untuk membujuknya. Sudah ada yang menyebar foto ciuman Zio dengan Clarissa.


"Bagaimana dengan ini? Apa aku harus diam saja. Mereka pasti menertawakan aku. Aku yang tidak bisa menjaga kamu dan aku masih mau saja menjadi pacar kamu. Kamu sudah dijebak mereka semua, tapi kamu masih menurut saja."


"Mereka tidak berniat begitu honey."


"Oke, kamu pilih aku atau Clarissa?"


"Kok jadi Clarissa dibawa-bawa dalam hubungan kita."

__ADS_1


"Kamu ciuman sama Clarissa. Ya harus, aku bawa dia ke dalam hubungan kita. Siapa yang harus aku salahkan? Diriku sendiri. Aku tidak bisa menjaga pacarku, sampai terjerumus ke dalam permainan konyol."


Zio menunduk dan merasa salah. Ia memang terbawa arus para temannya. Tapi, anak laki-laki memang harus begitu, kalau terlalu diam dan patuh dengan pacarnya saja, Zio juga menjadi bahan ejekan, dari kaum pria yang ada di dalam kelompoknya itu.


"Lea."


"Kamu mau kita putus?"


"Lea, jangan bilang begitu."


"Semua akan menatap ke wajahku. Aku akan jadi terkenal lagi gara-gara kamu."


"Apa yang ingin kamu perbuat?"


"Aku harus bersama pria lain. Aku nggak mau imeg buruk menerpa namaku. Kamu yang berbuat, jadi kamu yang harus menanggung semua akibatnya.


"Kamu mau bersama pria lain?" Tatapan Zio yang sudah imut dengan kekanakan.


"Iya. Aku harus bersama pria lain, saat pesta kampus nanti."


"Lalu, aku harus gimana?"


"Tidurlah di rumah.".


"Lea."


"Kamu mau, aku jadi bahan gunjingan mereka semua?" Tatapan Lea dengan tajam dan Zio merasa takut padanya.


Zio berkata dengan suara sendu, "Baik, aku akan jadi penonton saja."


"Lebih baik, tidak usah menonton aku dengan pria lain." Meski suaranya pelan, tapi menyakitkan.


"Kamu akan mengajak siapa?" Tanya Zio dan tatapannya menyedihkan.


"Entah, nanti aku pikirkan."


Hening


Keduanya jadi terdiam dan Lea masih merasa kesal.


"Aku jadi malas ke kampus." Cetus Lea.


Lea merasa, memang harus menyeret Setya ke dalam hubungan mereka berdua.


"Gimana kalau kita jalan saja?" Tatapan meong imut gemas, yang sudah pandai merayu.


Lea yang menjawab dengan suara gemas, "Emh, boleh juga. Aku memang ingin kita berduaan saja. Kamu harus bisa menyenangkan aku."


Zio kembali tancap gas dan Yuna baru datang. Mobil mereka berpapasan di pintu gerbang kampus.


"Itu barusan, mobilnya Zio." Yuna yang sangat mengenal mobil Zio dan ia masih belum mengetahui berita panasnya. Baru saja di upload, komentarnya sudah ratusan.


"Breengseek!!" Yuna dengan cepat menelusuri siapa yang menyebarkan foto itu dengan sengaja.


Bukan Yuna namanya, kalau dia tidak bisa menemukan siapa biang keladi yang sesungguhnya.


"Tommy breengsek." Yuna langsung mencari sosok tampan itu, dan mereka semua sudah menertawakan couple imut.


Komentar dari kalangan mahasiswa di media kampus, tentang mereka.


"Mereka cuma manisnya di cover saja."


"Couple imut apaan, namanya doang. Tapi buktinya, Zio bisa berpaling ke primadona." Ditambah emoticon ngakak.


"Yes. Mereka pisah."


"Wah, berarti benar dong. Lea punya selingan baru, dan Zio sudah bersama sang primadona."


"Siapa selingan Lea?"


"Belum pasti. Tapi aku melihat sendiri kalau Lea ngejar-ngejar cowok biasa di taman."


"Lea jelas kalah sexy dari primadona."


"Zio matanya sudah jeli."


Dalam sekejap, berita hilang dari media kampus.


__ADS_1


__ADS_2