
Pria tampan ini, tidak mau kalah. Tahu saja kalau tuan putri istana membawa makanan untuknya.
"Kakakku yang ini. The best." Pujiannya.
"Emmber." Balas Kai.
Lionel jadi duduk di sebelah Kai. Kai yang masih memegang lengan kiri Raja, sudah menyiapkan makan siang Lionel dan juga El. Sayangnya, El sedang ada tugas di luar, bersama teman kelompoknya.
"Kai, tumben kamu datang kemari?" Tanya Lionel kepada Kai. Dia selalu memanggil Kai, karena Kai tidak mau dipanggil Kakak olehnya.
"Emh, aku cuma kangen sama Masku. Apalagi, dia sudah mau menikah. Nanti aku susah memeluknya lagi." Ucap Kai begitu manis dan Lionel yang sudah paham, akan niat nakal Kai terhadap Raja.
"Raja menikahi Ratu. Nggak mungkin, kalau Ratu cemburu."
"Ya, bukan Kak Ratu yang cemburuan. Aku juga bisa cemburu, kalau Masku ganteng ini sama cewek lain." Senyuman Kai, terlihat mematikan.
Lionel tak lagi berkata ini itu, dia dengan cepat menikmati udang asam manis dan cumi goreng tepung kesukaannya. Kai juga tahu apa kesukaannya Lionel. Memang sepertinya, Kai sengaja membawa itu. Agar Lionel mau berpihak padanya.
"Aku sudah selesai makan. Aku masih ada kuliah. Aku juga belum sholat dzuhur." Ucap Raja.
"Yah, Mas Raja mau ninggalin aku."
"Kamu bilang ada kelas musik. Sana pulang."
"Tapi, aku masih kangen."
"Hish. Bilang aja, mau ngerecoki aku."
Kai tahu. Kalau sebenarnya, Raja ada janji sama Ratu di mal terdekat.
"Ya sudah, sana pergi. Semoga Kak Ratu menerima kamu." Juteknya.
Raja tidak meladeni omongannya, Kai berubah kesal. Karena sang Kakak pergi begitu saja. Kai pandai bilangnya, itu tadi rendang buatan Eyang putri. Harus di makan sampai habis.
Kai menatap Lionel "Kamu juga sih, kesininya telat."
"Kenapa jadi ketus sama aku?!" Lionel bingung akan sikap Kai.
"Aku mau pulang." Ketus Kai dan manyambar tasnya.
"Yah, ini mau dibawa lagi."
"Iya, sudah selesai makan siangnya."
"Kai. Kamu tega sama aku."
"Pengawal. Rapikan ini. Ayo kita pulang."
Lionel mengambil hak miliknya dan dua pengawal secepatnya merapikan meja makan.
Lionel menatap Kai yang berjalan pergi.
"Sungguh! Tuan putri berhati tega."
Yang di mal, sudah menunggu.
"Tumben, dia membuat janji di tempat terbuka."
Sudah lebih dari setengah jam, Ratu menunggu kedatangan Raja. Padahal, jarak mal dengan kampusnya tidak jauh. 5 menit berkendara mobil, juga akan sampai di mal mewah itu.
"Hai, kamu disini." Ucap Revan.
"Iya, kamu juga bisa disini?" Balasnya Ratu, dengan senyuman ceria.
Revan duduk di seberang meja dan menatap Ratu. Dia berkata "Teman kelompok yang lain, sudah sepakat untuk tugas kita di restoran king's. Makanya, aku kesini mau menemui managernya dulu."
__ADS_1
Ratu tersenyum dan Revan bertanya "Kamu sendirian? Kamu ada janji juga?"
"Emh, iya. Aku lagi nungguin seseorang." Jawab Ratu jujur. Gaya Ratu yang begitu unyu, malah membuat Revan senang.
"Kalau gitu, aku pergi dulu." Ucap Revan dan dia murah senyum.
Ratu membalasnya dengan ramah "Oke."
Saat ini juga, Raja melihat dari kejauhan.
"Tuan Muda. Saya sudah mengawasi Nona Ratu. Bukan dia yang salah. Cowok itu yang menghampiri Nona Ratu." Ucap pengawal pribadi Raja.
Dua cowok tampan dengan gaya beken. Selalu mengawasi Raja dan Ratu. Mereka juga, menyamar sebagai mahasiswa teladan.
"Kalian bisa pergi. Aku ingin berdua dengan Ratuku." Ucap Raja.
"Baik Tuan Muda."
Raja yang sudah tampil menawan dan memakai kacamata. Ada sensasi manis, saat membawa tas boneka warna putih.
"Sayaaangku." Suara Raja yang menyapa Ratunya. Ratu melihatnya tampak berbeda.
Kalau sudah bersikap begitu, Ratu hafal sekali. Apapun permintaan Raja, harus dikabulkan oleh sang Ratu.
"Apa maumu?! Aku masih ada kelas siang."
Raja sudah tersenyum manis dan terlihat memakai kacamata. Tampaknya, sudah mengikuti gaya Revan.
"Aku mau kita menikah." Ucap Raja dan tidak mau basa basi. Lagian, ada mulut berbisa yang sudah memberitahu sang Ratu.
"Aku tidak mau. Aku malah ingin membatalkan perjodohan kita." Jawab Ratu dan tatapannya begitu serius.
"Ratu, aku tahu. Kamu pasti akan mengatakan begitu." Balas Raja.
Pelayan mendekat dan Raja telah memesan minuman. Mereka tampak santai.
Ratu tampak menikmati minumannya dan ia berkata "Aku harus balik ke kampus."
"Silakan pergi. Aku bisa sendiri." Ucap Raja dan ia bermain dengan tas boneka.
Sama-sama diberi kacamata, dan Ratu jadi tidak tega melihatnya.
"Aku mengerti perasaannya. Tapi, aku tidak mau menikah tanpa cinta."
Ratu menatap Raja, ia memanggilnya "Raja."
"Iya." Raja menatapnya, dari sorot matanya, terlihat keseriusan seorang Raja. Bahkan, tampak tersenyum tipis padanya.
"Kamu, yakin ingin menikahi aku?" Tanya Ratu, ingin keseriusan.
"Boleh aku jujur?" Balasnya dan saling menatap.
Ratu mengangguk dan berkata "Iya. Aku malah suka kalau kamu berkata yang sebenarnya."
"Sejujurnya. Aku sendiri juga bingung. Aku masih 20 tahun. Kalau aku menikahi kamu. Aku tidak tahu, nantinya akan bagaimana, apakah pernikahan kita langgeng, atau akan ada perpisahan."
Suara Raja terdengar sendu dan Ratu bisa melihat sorot mata yang sudah rapuh.
"Sama, aku hanya ingin menikah dengan cinta. Dengan adanya cinta, pasti aku akan bahagia." Balas sang Ratu dan Raja mendengarkannya.
Raja berkata "Aku tidak masalah soal cinta. Hanya saja, aku sendiri tidak bisa menjaga diriku sendiri. Bagaimana nanti setelah menikah. Apa aku bisa menjaga kamu."
Minuman Raja datang dan tampak senyuman, "Terima kasih." Ucapnya kepada pelayan.
"Ratuku, kamu sudah makan belum?" Tanya Raja dengan suara manis.
"Belum, aku nungguin kamu." Jawab Ratu dan benar adanya.
__ADS_1
"Maaf, aku sudah makan. Kai datang membawakan makanan." Balas Raja dan merasa tidak enak hati. Tapi, Raja tampak biasa saja. Dia tidak merasa canggung ketika bersama Ratunya.
Ratu berkata dengan manis, "Tidak masalah. Aku bisa makan sendiri."
"Mau makan apa? Aku pesenin." Raja sebenarnya selalu memperhatikannya, tapi Ratu menganggap itu hal biasa.
"Nanti saja. Aku mau balik ke kampus." Tampak cemberut gemas. Bibirnya dari tadi sudah manyun manja.
"Sebentar saja. Aku ingin bersama kamu." Pinta Raja dan tangan sudah memegang punggung tangan Ratunya.
Ratu mengingat, kuliah siang ini tidak terlalu penting. Dia lalu berkata "Baik. Siang ini, aku bisa bolos. Lagian, aku juga belum pernah bolos."
"Ratu, aku ingin bersenang-senang. Kamu harus temani aku." Pintanya, tampak wajah yang begitu manis.
"Iya. Aku akan menemani kamu." Balasnya Ratu tampak wajah bersemangat.
Di saat Ratu menikmati makan siangnya, Raja bermain sendiri.
"Poppoiku, nanti kamu tinggal sama Ratuku ya. Ingat! jangan nakal. Jangan ngompol. Jangan nangis, selama kita berpisah." Ucap Raja, kepada tas karakternya.
Ratu tidak meladeninya dan hanya menikmati makan siangnya saja.
Dari kejauhan, Revan melihat mereka berdua. Revan membatin "Jadi dia, seseorang yang ditungguin sama Ratu."
Revan hanya menatapnya saja dan kembali melihat jadwal kuliahnya siang ini.
"Tidak penting. Aku bisa bolos." Gumam Revan, lalu pergi.
Setelah menikmati makan siangnya, Ratu menatap wajah Raja, ia berkata "Ayo kita jalan berdua. Aku tidak mau berlama-lama disini."
"Kamu ingin kemana?" Tanya Raja.
"Kemana saja, yang penting kita berdua. Aku tidak suka, kalau pengawalmu terus saja mengikuti kita."
Raja memegang tangan Ratu, ia berkata "Oke. Ayo kita pergi."
Raja meraih tangan Ratu dan menggandengnya. Raja akan segera membawanya pergi berdua.
Kedua pengawal, sudah membayar tagihannya dan tetap saja mereka mengawasi langkah kaki Raja.
"Raja, kita mau kemana?" Tanya Ratu dan masih bergandengan manis.
Revan ternyata masih di mal itu, dan kembali melihat kedekatan Raja. Bukan hanya Kevin, Marla juga ternyata sudah mengikuti Raja.
"Dia? Raja menggandeng tangannya? Bukan, menariknya kasar?" Batin Marla kesal.
Biasanya, Raja terlihat menarik bagian pergelangan tangan. Kali ini, tampak jari-jemari tangan yang menyatu.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Gumam Marla, percaya diri.
Raja yang pergi bersama Ratu. Mereka tampak menaiki taxi. Karena, Raja tidak membawa mobilnya. Tadi, datang juga menaiki taxi berwarna hitam. Selama tinggal di asrama, kehidupan Raja diharuskan apa adanya.
Baru kali ini, duduk berdekatan dan Raja malah menyandarkan kepalanya ke bahu Ratu.
"Aku sedih. Tapi, aku tidak ingin bersedih."
Ratu bertanya "Kenapa kamu tidak mau dilangkahi Aull? Apa masalahnya?"
"Ratuku, kamu tidak tahu saja gimana perasaan aku. Aku dari bayi, hidup terpisah dari Bunda. Karena ada Aull. Terus, Aull selalu mendapat posisi terbailnya. Aull bisa lulus duluan. Aku masih di SMA. Sekarang, dia sudah bergelar sarjana dan mau menikah."
"Kamu, kekanakan." Ucap sang Ratu.
Raja meraih tangannya Ratu yang ada cincin tunangan mereka. Melihat lagi cincin yang ia sematkan.
"Ratu, apa kamu mau menikah denganku?" Tanya Raja.
__ADS_1
Ratu berkata......