Permen Kapas

Permen Kapas
Allea Merasa Bersalah


__ADS_3

Suasana yang terkesan berbeda, jauh dari bayangan Lea. Tidak ada dalam benaknya, sampai bertemu Setya, apalagi dalam keadaan yang tidak disangka-sangka. Lea yang membuat Setya kehilangan pekerjaan.


"Mas Setya, aku minta maaf. Aku tidak berniat membuat ulah." Lea yang tahu akan situasi ini, sampai dirinya merasa bersalah. Biasanya, tidak ada rasa bersalah kepada seorang pelayan. Apalagi di hotel milik sang Mama.


"Tidak apa-apa. Aku bisa mencari pekerjaan lain."


Lea menoleh sesaat, meski begitu dingin dan kaku. Lea bisa melihat ada sisi sensitif dari seorang Setya Yuda Wardhana.


"Aku tidak tahu, kalau Mas Setya sudah pulang dari sana." Lugasnya dan sudah berubah lebih sopan. Bagaimanapun, pria manis ini adalah Kakak tiri pacarnya, setidaknya harus bersikap ramah padanya.


"Aku turun disini saja."


"Disini?"


Jalan raya sudah terlihat dan mereka telah melewati gerbang utama komplek perumahan mewah itu.


"Terima kasih atas tumpangannya."


"Iya. Sama-sama."


Setya tidak banyak berkata dan Lea merasa dirinya bodoh di depan Setya.


Melihat Setya yang telah menuruni mobilnya dan Lea salah tingkah akan tatapan Setya padanya.


"Pergilah."


"Iya."


Senyuman tipis masih tampak melekat pada wajah manisnya dan Lea dengan perlahan melajukan mobilnya.


Lea masih melihat dari spion mobilnya dan merasa ada hal yang aneh.


"Kenapa Mas Setya sudah di kota ini? Bukannya dia sedang melanjutkan S2?"


Lea yang hanya pernah bertemu saat Setya hendak berangkat ke luar negeri. Lea yang saat itu masih mengenakan seragam putih abu-abu melihat Setya yang menarik koper dari dalam rumah dan hendak di antar oleh sopir untuk menuju Bandara. Lea yang tak sempat berkenalan, tetapi Zio sang pacar mengatakan kalau cowok itu adalah Kakak tirinya. Setelah itu, hanya mengetahui dari Zio, yang mengatakan kalau saudara tirinya begitu pintar dan rajin. Tidak seperti Zio yang banyak kekurangannya. Apalagi soal belajar, bangun tidur pagi saja rasanya begitu enggan. Itulah, perkataan Zio kepada Lea saat mereka masih di SMA.


"Bentar."


"Kenapa, Mas Setya menanyakan kabar Zio sama aku? Apa mereka tidak saling berkabar?"


"Apa yang terjadi? Untuk apa putra Presdir bekerja menjadi pelayan?"


Lea yang masih mengendarai mobil dan menuju pulang ke hotel tercinta. Lea semenjak kuliah, lebih memilih untuk tinggal di hotel. Dengan alasan, kalau jarak hotel dan kampus sangat dekat, biar semakin rajin kuliahnya. Kalau jalan dari rumah ribet, harus naik helikopter. Apalagi kalau jalanan menuju ke ibukota sudah macet, Lea begitu malas kuliahnya.


Lebih dari satu jam, Lea akhirnya tiba di hotel tempatnya untuk bobok cantik.


Lea kembali mengingat saat berjalan masuk ke hotel "Begini, aku disini. Mas Setya dari sana. Tak. Kita tabrakan, tapi aku tidak menghafal wajahnya."


Pesta resepsi pernikahan juga sudah selesai. Lea masuk ke aula. Hanya ada beberapa pelayan yang membersihkan aula itu.


"Aku disini. Tak. Bahuku nyenggol Mas Setya. Sepertinya tadi begitu." Lea yang malah bingung sendiri dan ia berjalan mendekati pelayan utama yang telah mengatur para pelayan acara tadi.


"Nona."


"Iya."


"Ada apa Nona kemari?"

__ADS_1


"Aku mau tanya sama kamu."


"Baik Nona, silakan tanya saja."


Kepala pelayan wanita yang berusia 40an, sudah tampak berdiri dengan tatapan sopan kepada Lea.


"Tadi, aku merusak kue pengantin. Apa kamu tahu soal itu?"


Sang pelayan utama itu, berkata "Nona Allea, saya tidak tahu soal kejadian itu."


"Apa kalian tidak melihat ke cctv?"


"Mohon maaf Nona. Saya tadi hanya sibuk mengawasi disini. Kalau soal itu, pelayan magang itu sudah mendapat teguran dari Tuan besar."


"Kakek??"


"Benar, Nona Allea."


"Baik. Aku mengerti."


Sang Kakek yang sudah tua, tetapi masih sibuk saja mengurusi soal hotelnya. Apalagi, hari ini pernikahan cucu pertamanya.


"Ternyata Kakek. Percuma juga kalau aku berdebat sama Kakek." Gumamnya dan pergi dari ruangan itu. Lea merasa bersalah akan keusilannya tadi. Padahal dia sudah berjanji, akan memberikan pesta yang meriah untuk Nada dan Varell.


Semisal, Lea mengatakan hal tentang kebenaran. Tetap saja, pelayan magang akan diberhentikan, bila ada kelalaian dalam masa magangnya.


"Aku heran. Kenapa bisa Mas Setya kerja disini? Apalagi jadi pelayan hotel." Secepat mungkin langkah kakinya, Lea hendak memasuki ruang kantor hotel dan akan mencari tahu sendiri.


Setya hanya mengatakan kalau dia magang dan untuk sementara waktu. Tetapi, perkataan Setya itu membuat Lea tidak puas, malahan semakin penasaran.


Duduk di depan layar komputer dan mencari data pelamar kerja magang.


"Tidak ada namanya."


Kakek Shin, akhirnya mengetahui kalau cucu usilnya telah mengacak-acak ruang kantornya dan saat ini sudah menuju ke ruang kantor.


"Lea, apa yang kamu lakukan disini?"


"Kakek tidak perlu gangguin aku."


Sang Kakek mendekat dan melihat apa yang Lea lakukan pada komputer yang ada di ruang kantor hotel itu.


"Kamu mencari apa?"


"Data pelayan magang."


"Pelayan magang tidak ada data resmi."


"Apa??"


Lea yang terheran dan merasa kalau kantor hotel milik sang Mama ini managemennya sudah kacau.


"Memangnya, mereka para magang tidak ada surat lamaran dan sebagainya?"


"Mereka hanya di bayar harian. Para pelayan dapur yang mempekerjakan mereka."


"Kakek ijinkan begitu saja?"

__ADS_1


"Kakek hanya memperbolehkan pelayan pembantu, tidak lebih dari itu. Kalau pelayan hotel jelas resmi tercantum di arsip kita."


"Kalau mereka membawa bahaya dalam hotel gimana? Siapa yang akan tanggung jawab? Kakek?"


Tatapan Lea yang seakan tidak terima dan sang Kakek berkata "Sudah Kakek bereskan, dua pelayan magang sudah di berhentikan. Kakek juga tidak tahu ada pelayan tukang kebersihan dapur, bisa jadi pelayan yang masuk ke aula acara Nada."


Lea sudah mengerti, jadi Setya dalam seminggu ini hanya bekerja sebagai pelayan kebersihan dapur. Membuang sampah, mencuci piring dan membantu menjaga kebersihan dapur.


"Kakek, aku mengerti. Tadi aku yang salah. Aku yang menabrak kue pernikahan Mbak Nada. Aku mau mencari data pelayan tadi. Aku mau minta maaf sama pelayan itu."


"Kakek sudah melihat cctv, dia juga begitu lalai saat mengantar kue itu."


"Kakek."


"Sudah, kamu sana mandi. Sudah sore. Kamu pasti belum sembahyang."


"Iya." Lea memang begitu adanya dan baru kali ini merasa bersalah kepada seorang pelayan hotel.


Setiap harinya tidur di hotel dan merasa bebas berbuat apapun, bahkan saat ia merocoki sang koki, juga tidak ada rasa bersalah sedikitpun.


"Apa aku juga harus jadi pelayan dapur? Biar merasakan pekerjaan Mas Setya." Pikiran aneh itu dan Lea sudah berjalan ke arah kamar pribadinya.


Hotel ini sudah bagaikan rumah untuk Lea. Berjalan kesana kemari, dan membuat ulah kepada para pekerjanya. Begitu mengasyikan dan Lea memang bukan sosok Tuan Putri yang lemah lembut dan anggun seperti sang Kakak cantiknya.


"Lea." Suara panggilan itu terdengar tegas.


Lea seketika menoleh dengan perasaan sendu "Papa tidak perlu menasehati aku."


Suara Lea yang terdengar lembut dan sorot mata Lea sudah berubah. Tidak seperti Lea yang biasanya.


Sang Papa mendekat, meredam rasa yang ada, setelah melihat raut wajah sang putri ini, Papa bertanya dengan suara lembut "Kamu dari mana saja?"


"Aku hanya bermain."


"Bermain? Di hari pernikahan Kakakmu?"


"Iya. Aku sudah bersalah."


Sang Papa menjadi heran dibuatnya, kali ini tidak seperti Lea si pembangkang.


"Sayang, Papa cuma khawatir sama kamu."


"Aku baik-baik saja."


"Kamu menangis?"


"Papa."


Ada rasa yang tak biasa dan Lea sudah dalam dekapan sang Papa. Sudah ada air mata dengan suara tangisnya.


"Papa."


"Sayang, kamu kenapa?"


Sang Papa yang tidak mengerti dan sampai saat ini, belum ada yang datang mengadu tentang masalah Lea.


Lea menyeka air matanya dan berkata "Papa. Aku minta maaf."

__ADS_1



__ADS_2