Permen Kapas

Permen Kapas
Gara-gara Ciuman


__ADS_3

Dentingan jam dinding, menunjukan pukul 10 malam. Bukan seperti kala Cinderella yang hendak pergi melarikan diri di tengah malam pesta.


Seakan waktu telah berhenti berputar. Kedua insan yang saling menatap. Tangan Zio yang masih memegang Clarissa dan Setya masih menemani Lea.


Zio mendorong Clarissa sampai terjatuh dan Revan sigap meraih tangan Clarissa.


"Honey."


Lea tersenyum, ia berkata "Kamu pasti sudah tampil. Ayo kita pulang."


"Iya. Kamu datang buat jemput aku?" Zio yang masih sangat bahagia.


Lea meraih Zio dan memeluknya, Setya hanya sebagai figuran, tampak berdehem.


"Mas Setya." Zio jadi menoleh ke arah Kakak tampannya.


"Iya, aku kesini sama Mas Setya." Ucap Lea dengan senang.


Yuna yang menangis masuk ke dalam ruangan, ia tidak tahu kalau Lea sudah datang ke ruangan itu.


Melihat Yuna menangis, Lea langsung mendekatinya "Yunaku sayang, kamu kenapa nangis? Siapa yang bikin kamu nangis?"


Seketika Kevin datang dan tampak kegelisahan. Zio tadi juga melihat kalau Kevin sudah menarik paksa tangan Yuna.


Zio berbisik kepada Lea "Bang Kevin."


Lea jadi mengerti, baru tiga hari jadian, sudah dibikin nangis. Lea menatap sadis Kevin.


Sebaliknya, Kevin berpura-pura saja tidak tahu apapun, dia dengan cuek duduk di sebelah Micheel.


"Yunaku sayang, ayo kita pulang."


Yuna tak ada suara dan tak lagi seceria tadi sore. Meskipun, Kevin dan Yuna hanya ribut biasa, tapi Yuna berakting. Agar Kevin, tidak lagi mendekatinya.


Mereka bertiga keluar dan Setya masih di dalam ruangan menatap Micheel. Begitu pula dengan Micheel, dia dari tadi sudah menatapnya.


Zio membawakan tasnya Yuna, Lea menoleh ke sekitarnya tidak melihat Setya.


"Zio, aku lupa." Lea tampak heboh.


Zio menatap Lea, dengan penasaran "Apa yang lupa?"


"Mas Setya." Lea melepaskan tangan Yuna dan ia berlari kencang menuju ke ruangan khusus tadi.


Yuna menoleh ke arah Zio "Gandeng aku."


"Aku?"


"Iya siapa lagi? Kakiku terkilir."


"Lea saja nggak pernah manja."


Emh, tetapi Zio dengan manis menuntun Yuna dan ada yang memotret mereka berdua.


Cekreek.


Cekreek.


Cekreek.


Ada saja di tukang photo yang jahil, eits pastinya mahasiswa iseng. Biasanya itu si Tommy. Yang selalu berusaha untuk membuat Zio dan Lea putus.


Lea yang kembali ke ruangan, bukan langsung tertuju kepada Setya, ia berjalan mendekati Kevin.


Kevin berlagak tidak melihatnya dan Lea dengan sengaja menendang kakinya.

__ADS_1


"Sakit."


"Tahu rasanya sakit?"


Si bos tampan ini, jadi turun derajat dimata para bintangnya. Boyband yang terkenal atas kepimpinannya itu, juga jadi melihat ke arah Kevin.


Lea menarik Kevin untuk keluar dari ruangan khusus itu.


"Lea. Sumpah, aku nggak apa-apain Yuna kamu." Tetapi Kevin tidak berani menatap mata Lea.


Lea tidak melepaskan Kevin begitu saja "Bagus. Aku sudah kasih kesempatan malah berani menyentuhnya."


"Aku nyentuh Yuna? Kamu nggak salah ngomong. Itu, pacar kamu yang main cium pacarku. Untung saja, pacar kamu, coba yang lain. Aku giles-giles bibirnya." Tatapan Kevin yang sudah terpojok.


Lea tersenyum, tapi terasa pahit bagi Kevin. "Bang Kevin mau ngegiles-giles bibirnya Zio?"


"Nggak." Susah menatap Lea, dan Lea sudah mengepalkan tangan kirinya.


Lea bertanya "Tadi, niatnya begitu? Terus jadi memaksa ke bibirnya Yuna?"


"Aku tidak mencium Yuna. Aku juga tahu mereka cuma akting."


"Bagus kalau sudah tahu. Aku nggak mau, kalau sampai Bang Kevin bikin Yuna nangis lagi."


"Iya iya. Lagian, aku mana berani bikin Yuna kamu menangis. Itu tadi, Yuna jatuh. Mau aku tolongin udah lari duluan. Kakinya pasti kesleo."


"Kali ini, aku maafin Bang Kevin. Besok-besok masih begitu lagi, nggak bakalan aku maafin Bang Kevin."


"Baik, Nona Allea. Saya minta maaf atas kelalaian saya, dalam menjaga kesayangan anda." Ucap Kevin, perlahan perasaan lega.


Lea kembali ke ruangan khusus tadi.


Lea berjalan mendekat Setya, yang masih saja menatap Micheel. Lea tersenyum, dan meraih lengan Setya.


Lea dengan tatapan manis, bertanya "Mas Setya masih ingin disini?"


"Ayo kita pulang." Ajakan Lea dan Setya tersenyum.


Setya menggenggam tangan Lea dan Micheel jadi menatap mereka berdua.


"Zio dimana?" Tanya Setya, saat mereka berdua keluar dari ruangan khusus.


"Aku meminta Zio, buat anter Yuna duluan. Palingan nunggu di mobil." Jawab Lea dengan santai.


Lea dan Setya yang tampak manis, melewati Kevin begitu saja. Kevin melihat ada wajah baru yang tidak asing.


"Aku sepertinya pernah melihat dia, tapi dimana?" Kevin berusaha mengingat wajah Setya dan ia kembali menoleh ke arah mereka berdua.


"Lea punya Zio. Terus yang ini, siapa lagi?" Kevin tampaknya curiga, karena mereka terlihat mesra ketika berduaan saja.


Kevin kembali ke ruangan tadi, karena masih menunggu Micheel. Acara akan ditutup oleh Micheel sang cinderella, bersama aktor muda terkenal yang berperan sebagai pangeran tampan.


"Bos, tadi siapanya Bos?" Tanya dari salah satu anggota boyband.


"Dia, mantan kekasihku." Jawabnya dengan nada bergurau.


"Kenapa Bos masih takut sama dia??Padahal cuma mantan."


"Yang ini sadis. Sekalinya aku berbuat salah, aku bisa di tendang sejauh mungkin." Pungkasnya dan sangat malas bila menjelaskan soal Lea kepada para idola.


Suasana malam ini memang terkesan konyol. Lea sangat mengingat jelas. Tadi, dirinya mengajak Setya untuk menonton acara pesta di kampusnya. Sayangnya, Setya menolak dengan alasan kerjanya sampai jam 7 malam dan itu memang sesuai keadaan. Lantas, Lea di jemput oleh ke dua orang tuanya dan di ajak pergi ke restoran. Untungnya saja, Lea bawa mobil sendiri, jadinya bisa langsung kabur.


Setya, tadi setelah menerima panggilan dari sang Ayah, ada dua orang pengawal yang menjemputnya. Itu, orang suruhan Ayahnya. Padahal, Setya tadinya ingin pergi sendirian saja.


Di sebuah mobil, Yuna yang terbaring dan merintih kesakitan. Zio ternyata membawanya pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


"Jangan nangis terus." Ujar Zio, karena malas mendengar suara tangisnya Yuna.


"Sakit tahu." Bukannya sakit di kaki, tapi dalam perasaannya. Yuna sangat malu saat jatuh dihadapan seorang Kevin. Meski keduanya sempat ribut, tapi Yuna benar-benar malu, orang rok mekarnya sampai meyingkap. Malunya bukan main.


"Apa jangan-jangan patah tulang?" Zio yang semakin mengada-ngada.


Yuna tidak terima atas ucapan Zio, "Kamu do'ain kakiku patah?"


Tatapan Yuna begitu kesal dan masih terbaring di kursi belakang. Zio sudah bagaikan sopir, yang hendak mengantar majikannya.


"Lea aja, nggak pernah nangis." Ucap Zio dengan nada mengejek.


Yuna dengan kesal berkata keras, "Jangan bandingkan aku sama Lea!!"


"Yee, aku cuma bilang fakta." Zio yang salah dan kalah.


Lea melihat ke sekitar parkiran tidak nampak mobilnya Zio.


Lea menghubungi ponsel keduanya, ternyata tidak aktif. Kedua orang itu lupa, tadi sebelum acara, ponsel mereka dimatikan dan belum sampai mengaktifkan lagi, Lea sudah mendatangi mereka.


Lea menoleh ke arah Setya, "Mas Setya, ponsel mereka mati."


Setya mendekatinya dan berkata "Ini malam minggu. Gimana kalau aku culik kamu?"


"Yes, aku jadi ingin seperti cinderella yang kabur di tengah malam."


"Yah, sekarang sudah hampir jam 11. Percuma, satu jam doang." Keluh Setya dengan bergurau.


"Satu atau dua jam, tapi waktu kita berdua cukup berharga." Lea dengan sikap tengilnya.


Setya semakin menggodanya "Disini ada pesta sampai tengah malam."


Lea berkata "Bilang saja, Mas Setya mau nonton sang mantan."


"Lea." Setya merangkul bahu kiri Lea.


"Oke. Aku akan menemani pangeran tampanku sampai nanti jam 12 teng."


"Dengan senang hati, tuan putri Allea."


Lea memegang lengan tangan Setya dan mereka berdua menuju ke aula.


Saat memasuki ruangan itu, Lea masih merasa santai dan Setya juga tidak terlihat canggung sama sekali.


Tepat di atas panggung, drama untuk penutupan acara sudah dimulai.


Lea dan Setya tampak berdiri saja, kursi sudah penuh, meski ada tiga kursi yang di gabung untuk tidur seorang pemuda.


"Setya." Batin Micheel, saat menatap ke arah penonton.


Otomatis, Micheel bisa melihat Setya dan Lea yang tampak berdiri saja. Bahkan, tangan Lea masih memegang lengan tangan Setya.


Meski tangan Lea tetap mengalung di lengan Setya. Setya memegang tangan Lea dengan manis dan mencium tangan itu. Sepertinya, Setya memang sengaja membuat bara api untuk Micheel.


"Mas Setya nggak boleh begitu." Bisik Lea dan merasa kalau Setya memang sengaja memanasi Micheel.


"Lea."


"Micheel lagi kerja, nggak baik gangguin dia." Cerocos Lea yang sudah tampak seperti biasa.


"Ternyata kamu bawel juga ya."


"Aku memang bawel."


Setya mengingat awal pertemuannya dengan Lea di taman.

__ADS_1


"Lea, cium aku." Pintanya.


__ADS_2