
"Ratu pemberani juga." Gumam Revan.
Siapa yang tidak mengenal tentang Raja. Nama itu sering kali menjadi perbincangan di kampus ini.
Yang pertama, cowok tampan dengan segala pesonanya.
Yang kedua, dari kalangan atas. Bisa terlihat, setiap ke kampus mengendarai mobil sport.
Yang ketiga, suka menggaet gadis cantik nan sexy, lalu mencampakannya begitu saja. Sering kali berkencan, setelahnya pergi dan mengatakan kalau dirinya lupa. Lebih tepatnya, berpura-pura amnesia.
Yang keempat, meski suka berjalan dengan para gadis, Raja tidak mau menyentuhnya lebih dulu. Kecuali main tarik tangannya Ratu dan pernah memakinya di depan umum. Ratu juga hanya terdiam, seperti gadis tertindas.
Yang kelima, Raja tidak pernah mengikuti jam perkuliahan. Hanya absen dan tidur di kelas. Ada seorang pengawal muda, yang mengerjakan semua tugas-tugasnya.
Yang keenam, menurut para mahasiswa kampus. Raja punya kelainan sampai bisa kuliah di kampus ini. Padahal orang kaya, kenapa bisa kuliah di kampus tua, yang lebih tepatnya terdampar.
Yang ketujuh, genk trio RL yang sudah terkenal ulahnya.
Para teman SMAnya memilih kuliah di luar negeri. Hanya karena Eyang Arjuna, Raja harus kuliah di tempat sang Eyang menimba ilmu.
Yups, kampus ini dulunya tempat kuliah Eyang Arjuna. Eyang hanya ingin Raja dan Ratu kuliah disini. Kemudian, dua sepupu Raja juga mengekor, mereka tetap ingin bersama Raja. Meskipun, mereka berdua menentang aturan kedua orang tuanya.
"Masih hujan." Ucap Ratu.
Tangannya menadah dan merasakan tetesan air hujan. Tidak selebat tadi, namun Ratu enggan berlari ke asrama.
"Mau ikut bareng?" Revan yang membawa payu hitam telah menghampirinya.
"Kamu tinggal di asrama putra?"
Revan mengangguk dan tampak senyuman tipis di wajah manisnya itu.
"Ayo bareng."
"Tapi, aku.." Ratu bingung, menoleh ke arah Raja, yang masih menatapnya dari kejauhan.
Ratu memegang gagang payung Revan, "Revan. Aku ikut sama kamu."
Sikapnya yang oneng membuat Revan tersenyum dan Raja tidak senang.
Breemm!
Suara mobil garangnya, menghampiri Raja.
"Mas Raja!!" Teriakan Lionel.
Raja kembali menatap ke arah Ratu, berjalan pergi "Awas saja nanti. Aku akan bikin perhitungan."
Raja menaiki mobil garang itu. Lionel yang mengemudikan mobil sportnya.
"Mas, kamu kenapa?" Tanya Lionel dan dia tidak mengerti sikon.
"Ada kucing garong." Jawab Raja.
"Hah? Kucing garong??" Tatapan Lionel menyelidik ke sekitar jalanan itu.
Raja tampak duduk bersandar, raut wajah dan tingkahnya sudah terlihat malas. Apalagi, Eyang Arjuna sudah menunggu di rumah mereka. Pastinya, akan ditanya soal hubungan dirinya dengan Ratu. Biasanya, Ratunya mau diajak kerjasama. Kali ini, Ratunya sudah jalan sama cowok lain.
Raja dengan ekspresi yang polos, bertanya "Lionel, kalau cewek jalan sama cowok lain, artinya apaan?"
"Kenapa? Apa Ratumu sudah jalan sama cowok lain?" Tanya Lionel dan terlihat fokus mengemudikan mobil.
"Hanya saja, filingku nggak enak." Jawab Raja, yang memang begitu.
Lionel meledek Raja "Tumben amat curiga. Pasti sudah jatuh cinta, rasanya gimana? Deg deg ser?"
__ADS_1
"Bukan itu, aku cuma merasa aneh. Takutnya, itu cowok nggak bener. Si cupu, mana ada nyali kalau sudah cowok berbuat."
"Hust, jangan bilang begitu. Mas Raja nggak boleh menilai orang dari luarnya saja." Ceramahnya Lionel.
"Kamu malah belain dia." Lirikan mata Raja, sudah tidak terima.
"Bukannya membela. Lagian, Ratu juga akan tahu kalau, mana cowok yang aneh. Seperti, cowok di sampingku ini." Lionel memojokan Raja.
"Kalau begitu, aku juga harus tinggal di asrama."
"Hah? Asrama?" Lionel menoleh ke wajah Raja.
"Sesekali, aku harus hidup mandiri."
"Mas Raja, tinggal di asrama tidak enak. Semuanya serba mandiri. Mas Raja nggak bisa bawa pengawal dan asisten. Nanti siapa yang siapain bajunya Mas Raja?"
Raja tersenyum dan memegang lembut bahu Lionel. "Selama ada kamu, aku bisa mandiri."
Tuing!
Aura merinding dan membuat Lionel takut untuk menoleh ke wajah Raja. Lionel berkata "Aku mau ada tugas lapangan. Aku mau magang di kantor Pappi. Aku nggak mau menemani kamu di asrama."
"Tugas magangnya, masih semester depan."
"Iya, tapi aku harus sering-sering pulang ke rumah. Mammi kangen sama aku." Kilahnya Lionel, padahal setiap bertemu sang Mammi, yang ada hanya beradu mulut.
Raja memandangi Lionel dengan tatapan aneh. Lionel berkata "Nanti, kita obrolin dulu sama Ayang El. Kalau dia setuju. Aku juga."
"Bagus, kalian harus mendukung aku."
"Iya, mandiri. Makan minum mandi sendiri." Batin Lionel yang sangat mengenal sepupu tampannya ini.
Eit, sebenarnya sama saja. Lionel juga apa-apa asisten. Lionel mana bisa merapikan tempat tidur dan membersihkan kamarnya.
Kalau untuk mengacak-acak kamar, Lionel biang keladinya, apalagi kalau lagi sebal dengan Mamminya. Setelah itu, dua asisten pribadinya yang mengurus kamar menawannya.
"Eyang." Raja yang mencium tangan kanan sang Eyang.
"Gimana kabar Ratu??" Tanya sang Eyang dan sudah tampak duduk di sofa.
Raja yang duduk berlutut di depannya dan masih memasang wajah berseri dengan senyuman manisnya.
Raja berkata "Harusnya, Eyang tanyain kabarku. Bukannya kabar Ratu."
Raja masih tersenyum dan Lionel mendekat "Eyang. Sudah lama nungguin?"
"Sudah dari tadi siang." Jawab sang Eyang santai, dan Lionel duduk di sebelah kanannya.
Raja malah jadi duduk bersila dan memegang lutut sang Eyang tampannya.
"Eyang, Ratu tidak mau pulang. Aku sudah membujuknya. Tapi, dia malah pergi sama cowok lain."
"Ini maksud kamu?" Sang Eyang lebih dulu mendapatkan photo Ratu.
"Nah, itu Eyang tahu. Aku sudah berusaha dengan sebaik mungkin. Tapi, ya begitu. Dia nggak mau aku jagain, malah milih jalan sama cowok lain." Jawabnya manis dan tangannya perlahan bergerak memijat-mijat kaki sang Eyang.
"Apa maumu?" Tanya sang Eyang. Kalau sudah begitu manis, pasti ada maunya.
"Itu Eyang. Mobil Raja sudah trouble." Raja menatap ke arah Lionel dengan kode "Lionel pasti ngerasain kalau pegang setir."
Lionel berkata "Owh, itu Eyang. Tinggal di service pasti cakep lagi."
Raja menatapnya kesal dan Lionel dengan wajah tersenyum, seolah berkata "Sorry, salah sendiri membawa aku ke hubungan asmaramu. Sampai harus pergi ke asrama."
__ADS_1
Sang Eyang menghembuskan nafas lega, perlahan berkata "Iya, Eyang paham."
Raja semakin senang dan masih terus memijit-mijit kaki Eyangnya.
"Sama itu Eyang. Aku beneran mau jagain Ratu. Makanya, aku mau ajak Lionel tinggal di asrama."
"Mau tinggal di asrama?" Tatapan sang Eyang jadi penasaran.
"Iya Eyang. Itu, biar Ratu nggak bisa lagi main-main sama cowok lain. Aku juga berniat, ingin serius berhungan dengannya."
"Bagus. Kamu sudah bisa bersikap dewasa." Eyang menepuk bahu Raja dengan gemas dan tampak senang.
Lione sudah mati kutu dan tidak ada pembelaan untuk dirinya, El yang baru tiba langsung merabahkan dirinya ke sofa dan bersandar pada bahu sang Eyang.
"Eyang, aku lagi patah hati." Ucapnya dan memeluk batal sofa.
Dua cowok menatap El dan merasa aneh. Tidak biasanya, El bersikap begitu, meski sering kali berlaku manja kepada Eyang tampannya.
"Siapa yang membuat kamu patah hati?"
"Dosenku. Dia sudah beristri. Padahal aku suka." Jawabnya El.
Kedua cowok itu ngakak dan El menoleh ke Raja. Menimpuk kepala Raja dengan bantal sofa.
"Hish, sakit tahu. Ini kepala harus dijaga bukan ditoyorin terus."
"Aku lagi patah hati, kamu asyik menertawakan aku." Ketusnya El.
"Itu, Lionel juga ketawa."
El berkata "Dia kesayangan aku. Dia nggak setega kamu. Sudah menyukai Ratu, tetap saja mencium Marla."
Eyang Arjuna menatap Raja.
Raja yang membela diri "Nggak, siapa juga yang menciumnya. Yang ada, aku dicium paksa sama dia."
Eyang berkata "Dicium paksa?? Berarti kamu sudah menikmati bibirnya Marla?!"
"Ah, nggak. Bukan begitu Eyang."
El berkata "Nah, itu Eyang. Kelakuan Raja setiap di kampus."
El bersikap begitu, soalnya dia tidak suka dengan gadis yang bernama Marla.
Eyang berdiri, kemudian berkata "Raja, kamu harus bisa membawa Ratumu pulang ke rumah ini."
"Eyang, mana bisa begitu. Ratu suka tinggal disana."
Lionel berkata "Mas Raja, semangat. Aku siap membantumu, membawa Ratumu kemari."
El memegang lengan tangan sang Eyang, berkata "Eyang, kalau perlu. Raja jangan dikasih uang dulu. Biar dia mikir, gimana hidup susah tanpa uangnya."
"El, kamu malah komporin Eyang." Raja yang masih berlutut, dihadapan sang Eyang.
"Eyang, lihat ini. Beberapa gadis dibeliin ini itu sama Raja." El memperlihatkan photo-photo para gadis kencanan Raja, yang memiliki barang bermerk mahal.
"Aku nggak begitu. Sumpah. Aku nggak kasih apapun sama mereka."
Lionel menyela "Mas, kamu bisa pelit sama aku. Tapi sama semua cewekmu royal banget. Aku saja nggak punya sepatu merk itu."
"Lionel. Aku mana pernah memberikan barang-barang branded."
El berkata "Kalau kamu nggak modal, mungkin Marla."
"Pergilah ke asrama." Titah Eyang.
__ADS_1