
"Setya."
"Mama."
Setya terperanjat, saat bertemu Mama mertua. Senyuman menawan, tersemat di wajah cantik Mama mertuanya. Setya tidak berfikir, kalau Mama mertua dari tadi sudah mengamatinya, saat Lea kesal padanya.
"Ayo ke ruangan Mama." Ajak Mama mertua padanya.
Secara kebetulan, Marmernya juga di kampus Glory. Mama mertua baru selesai rapat bulanan, dengan para pimpinan penting kampus Glory.
Sang Mama mertua, juga telihat mengenakan pakaian formal. Tadi, Lea memakai kemeja pink, dibalut blezer hitam menawan. Sekadangkan Mama mertua, mengenakan setelan jas wanita dengan warna broken white.
"Silakan duduk." Mama mertua malah terkesan formal. Setya jadi semakin canggung saat bersamanya. Tidak seperti, ketika bertemu dengan Papa mertuanya.
Setya yang duduk di sofa dan Mama mertua juga terlihat duduk di sofa sebelahnya. Sofa L yang minimalis, di ruangan kantor Mama mertua. Meski jarang sekali ke kantor kampus, tapi Mama Beby selalu menyempatkan diri, untuk hadir di setiap rapat.
"Setya. Kamu mau minum apa? Teh atau kopi?"
"Mama tidak perlu repot." Jawab Setya.
"Kamu, tamunya Mama." Balasan manis dari sang Mama mertua.
Mama mertua yang berusia 50an ini, semakin memancarkan aura kecantikannya.
Meski usia bisa dibilang sudah tua, Mama Beby tetap perempuan cantik jelita tiada tara.
Lea juga mengakui kecantikan Mamanya, bahwa Mamanya begitu cantik jelita. Bahkan, Lea sendiri menganggap kalau dia tidak menuruni Mama Papanya. Mamanya sangat cantik, dan Papanya juga tampan menawan. Tapi, Lea tidak menuruni paras mereka, melainkan sifat dan sikap dari keduanya. Papanya dulu juga playboy cap kampak, sedangkan Mamanya juga nekatan dan susah dinasehati. Karena itu, Lea bersikap begitu adanya, kalau keberanian dan tengilnya sudah keturuan dari Kakek buyutnya.
"Mama, terima kasih." Ucap Setya meski tampak gerogi.
Secangkir kopi racikan Mama Beby, sudah tersaji di atas meja.
"Setya, kita santai saja. Mama cuma ingin, kita bisa mengenal lebih dekat."
"Iya Mama." Setya tersenyum tipis.
Kedua orang yang ada di ruangan kantor utama. Tampak duduk dan berbincang santai. Sang Mama mertua, juga ingin lebih akrab dengan menantu barunya ini. Sepertinya, memang sangat berbeda sikap, dengan menantu dari putri pertamanya. Mama Beby masih merasa cemas dengan Setya, tidak seperti kala menerima Varell. Yang langsung klik dan menyetujui untuk pernikahan putri pertamanya.
"Ini, Mama sudah bereskan." Ucapan Mama mertua terdengar lembut.
Setya yang tersentak kaget. Saat melihat foto-foto dirinya bersama Micheel.
"Mama tidak akan menyalahkan kamu."
Setya hanya terdiam. Tidak ada suara untuk membantah maupun pembelaan.
"Mama tahu, ada masa lalu yang masih kamu jaga. Mama tidak akan marah dan mengatakan kepada Lea. Mama sendiri, berfikir kalau pernikahan kalian terlalu cepat, makanya Mama ingin mengenal kamu." Suara Mama mertua, begitu nyaman. Membuat Setya bisa mendengarkannya, tanpa harus merasa salah dan terpojokan. Sangat berbeda sikap, dengan ayah kandungnya yang bikin panas telinganya.
"Setya, Mama mengerti. Mama dulu juga sama seperti kamu. Papanya Lea, dulu mengencani banyak perempuan. Mama sendiri, menerima Papanya Lea, karena cinta Mama yang kian tumbuh bersemi." Mama mertuanya, begitu elegan saat mengangkat cangkir putih yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Lea dan Nada. Mereka berdua, punya sisi sensitif yang berbeda. Nada tidak nekatan. Meski merasa sakit, tapi Nada hanya terdiam, perlahan dia menangis. Kalau Lea, dia tidak begitu. Meski jarang sekali menangis, dia lebih memilih pergi jauh bila merasa tersakiti."
Mendengar hal itu, Setya jadi mengerti. Dia menatap wajah sang Mama mertua dengan tatapan teduh. Ada arti cinta, yang mudah dimengerti. Seorang Ibu yang mencintai kedua putrinya. Setya bisa turut merasakannya.
"Mama, saya yang salah." Ucap Setya, bersikap sebaik mungkin.
"Tidak ada salah atau benar. Mama hanya bercerita saja. Mama, mengetahuinya bukan dari Papanya Lea. Mama tahu karena Mama menyelediki soal kamu, baik masa lalu dan sekarang ini. Mama minta maaf kalau sudah menyinggung perasaanmu." Ucapan Mama mertua terkesan menusuknya. Tapi, bisa diterima oleh Setya, sosok kaku yang keras kepala.
Setya meraih cangkir kopi yang sudah berkurang uap panasnya. Setya lebih menyukai kopi hangat, dibandingkan dengan kopi panas.
Setelah meninum kopi racikan ala Mama mertua. Setya berkata "Kopi buatan Mama sangat nikmat. Saya sangat menyukai kopi hangat."
"Hangat." Mama Beby tersenyum dan mulai memahami Setya.
Setya kembali meletakan cangkir dengan tatakannya. Satu set cangkir yang tampak berwarna putih. Serta, ruangan kantor dengan desain interior tampak berwarna putih.
Tanpa disadari oleh kedua orang ini. Mereka memiliki persamaan. Mereka menyukai warna putih.
"Mungkin saja, Papanya Lea juga tahu soal kamu dengan Micheel. Tapi, tidak ingin mematahkan hati putrinya." Ucap sang Mama mertua.
Setya berkata "Saya hanya menolongnya, tidak ada maksud yang lainnya."
"Kamu melindungi mantan kekasihmu. Mama harus melindungi kamu dari kabar berita yang akan menyudutkan kamu." Tatapan Mama mertua menyentuh perasaannya.
Setya berkata "Mama. Terima kasih."
"Tidak perlu sungkan. Mama hanya tidak ingin, ada pemberitaan panas. Micheel, salah satu dari kesekian Bintangnya A. J. Papanya Lea, juga sangat profesional bila menangani para Bintangnya. Mama hanya sebagai Ibu, yang tidak mau melihat menantu Mama diberitakan oleh media." Ucapan Mama mertua, meneduhkan perasaan Setya saat ini. Baru kali, ada seorang Ibu yang mau membela dirinya dan tidak menyalahkannya.
Mama Beby dalam hatinya tersenyum. Ternyata, Setya lebih polos dari dugaannya. Tidak salah, kalau Setya memang sebelas, dua belas, dengan saudara tiri yang imut itu. Keduanya, sama-sama masih polos. Tidak mengerti, cara menghadapi Lea.
"Ini undangan. Datanglah bersama Lea. Mama, tidak bisa datang ke pesta itu." Ucap Mama mertua.
Kartu undangan yang terkesan formal, tampak warna silver. Terlihat begitu elegan, dengan bertuliskan pesta VIP.
"Saya tidak menyukai acara pesta." Saat Setya masih memegang undangannya.
"Mama juga jarang sekali datang ke acara pesta. Sesekali, kamu ajaklah Lea. Siapa tahu, akan membuat kalian berdua semakin dekat."
"Saya akan pertimbangkan." Ucap Setya.
"Papanya Lea orangnya nggak sabaran. Kamu jangan salah menerka dia."
"Saya juga hanya memenuhi perintah Ayah." Ucap Setya yang jujur.
"Mama tidak ingin ikut campur masalah kamu dengan Lea. Mama hanya ingin, kalian berdua tetap akur dan tidak ada keributan. Meskipun, kalian tetap saja akan ribut-ribut kecil." Mama Beby, yang sudah merasakan pahit manisnya, dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Meski bergelimang harta, dan hidup bahagia. Tetap saja, ada keributan antara dirinya dengan sang suami. Perbedaan pendapat itu pasti ada. Apalagi tentang masalah kedua putrinya. Mereka berdua punya cara sendiri-sendiri, untuk membahagiakan kedua putrinya.
"Kamu ternyata malah bisa sabar. Tidak seperti Papanya Lea. Dia suka kopi panas membara. Katanya, sensasi aroma kopinya lebih nikmat."
__ADS_1
Setya tersenyum, ia berkata "Saya juga hanya ingin menunggu waktu yang tepat. Saya tidak ingin membuatnya marah atau menyakiti perasaannya."
"Bagus kalau begitu. Mama jadi tahu, kamu pria seperti apa."
"Saya banyak kekurangan. Tidak seperti Zio, yang pandai merangkai kata."
"Percuma juga, kalau hanya sekedar ucapan, tidak akan mempengaruhi perasaan Lea."
Mama Beby semakin gemas. Kalau mengingat Zio juga berusaha keras, untuk menyenangkan perasaan Lea.
Sampai sekarang, Mama Beby juga masih memperhatikan si imut Zio. Apalagi setelah tahu, kalau Rainer datang ke kampus. Mama Beby mengajak Zio, makan siang bersama.
...Foto masa muda Papa Arjuna dan Mama Beby....
Aktor tampan yang mencintai tuan putri tertukar. Bisa kalian baca di ABYAZ.
Kampus Glory di siang hari.
Setelah pagi tadi, berbincang hangat dengan sang Mama mertua. Setya tampak menunggu istrinya, di lobby gedung.
Sudah ada beberapa warga kampus Glory, yang tampak melihat Setya.
Ada beberapa mahasiswa yang penasaran. Ada pula yang mengingat Setya, saat di malam pesta kampus.
"Bukannya, dia yang bersama Lea?" Bisikan, dari seorang gadis berkacamata bundar.
"Iya ya. Aku sepertinya pernah bertemu dia."
Lalu, tidak lama ada lagi yang menatap Setya. Saat lewat di depan Setya. Dia, gadis yang melihat Lea mengejar Setya di taman.
"Eh, cowok itu yang aku maksud. Dia yang dikejar-kejar sama Lea waktu di taman."
"Benarkah?"
"Benar. Aku tidak lupa sama wajahnya."
"Wah, apa jangan-jangan dia nungguin Lea."
"Bisa jadi begitu."
"Aku makin penasaran."
Gadis itu, menarik tangan sahabatnya, ia berkata "Aku sudah lapar. Nanti masih ada kelas siang."
"Sama, aku juga begitu. Tapi, aku malah jadi penasaran. Apa hubungan dia sama Lea?"
__ADS_1
Ekspresi saat melihat Lea, yang berjalan menuruni anak tangga. Untungnya, Zio berbeda gedung jurusan, jadi tidak melihat sang Kakak, yang berubah lola saat menatap Lea.
"Kenapa masih disini?" Batin Lea.