Permen Kapas

Permen Kapas
Musuh Mendekat


__ADS_3

"Hai." Balas Ratu, saat sudah menatap Revan.


Raja mendekat ke arah istrinya. Raja bertanya "Ada perlu apa kamu memanggil istriku?"


"Hah, istri??" Revan syok dan tampak wajah membeku. Tatapannya jadi tertuju kepada Raja.


Ratu hanya terdiam dan Raja masih terus menatap Revan, yang mematung dihadapannya.


"Kamu memanggil Ratuku untuk apa? Soal tugas kalian?" Tanya Raja, karena dia tahu kalau Ratu dan Revan satu kelompok dalam tugas mata kuliah kewirausahaan.


"Iya, aku panggil Ratu mau membahas soal tugas. Kemarin sore dia tidak bisa. Jadinya, sore ini aku mau mengajaknya tugas lapangan."


"Emh, sayangnya tidak bisa. Ratuku mau aku ajak pulang ke Jakarta. Kalau bisa, kamu saja yang mengerjakan tugasnya. Nanti, aku kasih uang."


Ratu memegang tangan suaminya, "Sayang, jangan bilang begitu."


"Dia sangat arogan. Pantas saja, kamar asrama jadi berubah semenjak dia tinggal di asrama." Batin Revan, masih menatap wajah Raja.


"Ratuku, aku hanya meringankan tugas beratmu. Tugas beratmu, hanya untuk melayani aku." Ucapan Raja, terdengar oleh semua orang yang ada di sekitarnya.


Ratu hanya terdiam dan memandangi wajah suaminya. Raja kembali menatap Revan.


"Revan, aku tahu kalau Ratuku satu kelompok sama kamu, Rere, dan Bara. Aku mohon sama kamu, ringankan tugas Ratuku. Aku bisa memberikan tempat pembutan tugas yang lebih asyik. Di Jakarta, di Hotel milik keluargaku. Bagaimana? Kamu mau?"


"Sayang, sudahlah. Jangan begitu sama temanku." Ucap Ratu dan kedua tangan Ratu memegang lengan kiri Raja.


"Dia memang sombong." Batin Revan dan semakin bergemuruh.


"Bagaimana??" Tatapan Raja memang terlihat angkuh dan itu sudah biasa bagi seorang Raja, cucu kesayangan Eyang Arjuna.


"Maaf, tapi aku sudah membuat ijin untuk tugas di Restoran dekat sini."


"Dimana?" Tanya Raja dan ia hanya memastikan.


"Di Restoran King's." Jawabnya dan Revan masih menatap Raja.


"King's, cabang dari Jakarta. Itu punya saudaraku. Aku kenal pemiliknya. Aku akan menghubungi dia."


"Rajjaa" Panggilan melengking dari El.


El berlari mendekat dan memeluk lengan sebelahnya. "Raja, kamu mau pulang? Beneran mau pulang ke Jakarta?"


Raja sudah memegang ponsel, hendak menghubungi saudaranya. Tapi El sudah datang dan berbicara padanya.


"Iya, aku mau pulang ke rumah Bunda."


"Aku sama Lionel mau ikut kamu. Boleh??"


"Terserah kalian." Balas Raja dan Ratu masih memegang lengan tangan suaminya.


El memandangi Ratu, dia berkata "Ratu sayang, kamu harus terbiasa hidup sama aku dan Lionel. Oke?! See you."


Ratu hanya terdiam dan Elmeera pergi begitu saja. Singa tetap mengawal El. Raja tampak menggeleng, saat menatap El yang berlari pergi darinya.


"Ini, dia orangnya. Bener, tidak?!"


"Benar. Dia pemilik restoran itu."


Raja tersenyum, ia berkata "Tugasmu akan cepat selesai. Sore ini, belajarlah dengan giat. Aku sudah booking untuk kelompokmu. Ratuku, sama aku mau pergi, bye bye."

__ADS_1


Gaya angkuh nan tengil dari Raja saat tersenyum, membuat Revan begitu jengkel.


Revan meremas map yang dia pegang dan Ratu akhirnya di antar sampai ke kursi yang ada di kelasnya.


"Raja. Aku tidak enak sama yang lainnya." Bisiknya Ratu padanya.


Raja duduk di sebelahnya, dan tangan kanannya memegang Ratu. "Sayang, kamu hanya belum terbiasa."


"Tapi.."


"Sttth. Dosenmu sudah datang. Aku harus pergi. Muuaach." Raja berdiri dan mengecup manis keningnya Ratu.


Raja pergi dengan senyuman dan Revan ternyata masih menunggunya di depan ruangan itu.


"Kalian kejam." Batin Marla yang panas sekali.


Revan mengejar Raja "Raja, bisa kita bicara."


"Apalagi? Aku sudah mengatakan padamu."


"Itu, Ratu beneran istri kamu??" Tanya Revan serius.


Raja jadi menghentikan langkah kakinya dan ia berkata "Ratu memang istriku. Apa yang membuat kamu jadi bertanya soal status Ratuku?"


Revan berdebar dan ada rasa aneh yang terbersit dalam pikirannya. Lalu berkata "Aku menyukai Ratu. Aku ingin menjadi pacarnya Ratu."


"Berani juga dia berkata begitu." Batin Raja. Perlahan, Raja mendekat dan ia memegang bahu kanan Revan. Raja berkata "Ratu istriku. Ratu istriku yang sah di mata hukum dan agama. Apa aku perlu menunjukan buku nikahku kepadamu, Revan putra Presdir Dermawan??"


"Kam-kamu tahu soal aku??" Revan yang terkejut dan menatap Raja tidak seperti biasa.


"Aku tahu. Waktu di hotel. Kamu juga bertemu Papamu. Aku hanya heran, kenapa kamu bisa menjadi begini?"


Raja tersenyum, ia berbisik "Revan, kalau aku jadi kamu. Jangan mau ditindas oleh saudara tirimu. Kamu memiliki kepandaian yang luar biasa. Damian, tidak ada apa-apanya dibanding kamu."


"Raja kamu." Revan yang hendak mengatakan kamu keterlaluan. Tapi, membeku akan sesuatu.


Raja masih berbisik "Aku tahu, siapa Ibumu dan masa lalunya."


Raja lantas pergi dan Revan terdiam saja. Tampak membeku dengan aura dingin yang menyelimuti tubuhnya.


"Siapa Raja? Dia mengenal Ibuku?"


"Tanyakan pada ibumu. Kamu putra kandungnya siapa?" Bisikan tadi, mematikannya.


Revan, putranya Mama Clarissa. Masa lalu yang sebenarnya itu, Revan itu memang bukan putra Presdir Dermawan.


"Aku? Bagaimana dia tahu soal aku?" Batin Revan semakin panas.


Revan sendiri sudah tahu, beberapa tahun yang lalu. Makanya, dia lebih memilih tinggal jauh dari Papanya. Memang benar, Papanya itu seorang Presdir perusahaan konstruksi.


Namun, Revan bukan putra kandung Presdir Dermawan. Yang membuat Revan terkejut adalah, bagaimana Raja mengetahui rahasia keluarga Dermawan, terutama tentang dirinya.


"Apa dia menyelidiki keluargaku?!" Batin Revan.


Revan semakin tidak senang dan apa yang dikatakan Raja tadi, tidak salah. Dia memang hanya berpura-pura culun, dan demi sang Ibu yang melahirkannya ke dunia ini. Revan telah bersiap-siap menjatuhkan putra kandungnya Dermawan.



Raja menyunggingkan bibirnya, ia mendesis. "Sudah begitu, dulu masih berani mendekati Ayahku. Seperti apa sosok Ibunya? Aku lihat, Revan sangat berani. Apa Ibunya juga pemberani?"

__ADS_1


Yups, Mama Clarissa yang sudah hamil, masih saja mencari celah untuk menarik atasannya.


Pada akhirnya, ia malah terjatuh lebih dalam. Memikat Papa Kevin tidak bisa, malah menjebak Ayah Setya.


Padahal, sudah hamil sama teman nakalnya. Namun, teman nakalnya itu telah meninggal karena kecelakaan dan sosok itu pernah menjadi sahabat Pappi Zio, ia adalah Revan. Pemuda tampan yang pernah menjebak Pappi Zio, dalam permainan nakalnya.



Revan, sosok yang pandai dan rajin. Awalnya, ia kuliah di luar negeri. Karena Mama tirinya tidak suka, akhirnya Revan pulang dan kuliah di kota ini.


Mamanya Revan hanya menjadi selir. Meskipun, dalam hubungan resminya, Mamanya Revan juga memiliki putra dengan Presdir Dermawan. Namun, putrnya tidak bisa diandalkan. Hanya Revan, yang bisa diandalkan oleh Presdir Dermawan.


"Apa hebatnya Raja?" Desisnya Revan.


Sore hari, Raja yang sudah tiba di rumah kedua orang tuanya. Sang Ayah masak menu makan malam, kesukaan para putra-putrinya. Padahal, baru pulang kerja malah di suruh ke dapur, memasak daging untuk makan malam nanti.


Raja bersandar kitchen set, sudah tampak memandangi sang Ayah. Tampak mengunyah buah apel hijau.


"Apa Ayah sempat tertarik sama sekretarisnya Ayah?" Tanya Raja memancing.


"Tidak. Memangnya kenapa kamu tanya soal begituan?" Sang Ayah yang sedang membubui daging has dalam, untuk dibuat steak requestnya Zyan.


"Aku hanya penasaran saja, soal sekretaris lama Ayah, yang bernama Clarissa."


"Apa Bunda kamu cerita soal itu?"


"Bunda tidak bilang apa-apa. Hanya saja, aku yang mencari tahu sendiri."


Sang Ayah menatap putranya dan bertanya "Apa yang kamu selidiki?"


"Soal, putranya Clarissa."


"Putranya? Apa kamu menuduh Ayah?"


Raja tersenyum, dan ia berkata "Kalau iya kenapa? Aku cuma penasaran. Apa Ayah juga bisa selingkuh dari Bunda?


Raja tampak cengengesan dan kembali menggigit apel hijau, yang menyegarkan liddah nakalnya.


"Anak nakal, kamu ini bisa-bisanya mencurigai Ayah. Kalau Ayah begitu, mana mungkin adikmu banyak. Ayah bisa-bisa tidak akan pulang ke rumah dan bersama para perempuan di luar sana."


"Emh, aku hanya penasaran. Pria beristri bisa selingkuh. Tapi, aku heran. Kenapa Bunda tidak mau selingkuh dari Ayah?"


"Raja!" Ayahnya melotot, siap-siap mencincang daging.


"Ampun Ayah. Aku cuma bercanda."


Ayah Setya berkata "Anak ini makin bandel. Kamu sudah menikah. Malah mikir yang tidak-tidak. Ingat, kamu juga harus bisa menjaga diri. Perempuan lebih nekatan."


"Memangnya bisa begitu?"


"Bisa saja, kalau dia sudah punya rencana. Apa saja bisa dilakukan mereka."


"Lalu, gimana cara Ayah lepas dari cengkraman Clarissa??"


"Waktu itu. Om Zio datang bersama Bundamu. Ayah, terselamatkan."


"Bukannya ada pengawal?" Raja seolah penasaran.


"Kamu benar, Ayah juga heran. Waktu itu, kenapa pengawal Ayah bisa pergi meninggalkan Ayah?"

__ADS_1


"Bisa jadi, Revan masih hidup."


__ADS_2