Permen Kapas

Permen Kapas
Sang Papa Membuntuti


__ADS_3

Suasana malam di rumah mewah bak istana. Lea yang duduk di ruang makan. Kedua orang tua, Nenek dan Kakek juga telah menatap ke arahnya.


Nenek itu, ibu tiri sang Mama. Tapi, masih ada ikatan darah dari sang Papa. Mau heran tapi ini hanya cerita. Yang mau tahu urusan dapur keluarga Lea. Bisa cari ke novel ABYAZ, di bagian bab terakhirnya.


Balik ke cerita tentang si gadis penyuka Permen Kapas. Tidak biasanya, Lea jadi bermuka masam. Wajah sendu dan tak ada gairah makan. Padahal, sang Mama tercinta sudah meminta koki handalnya, untuk memasak menu kesukaan Lea.


"Sayang, kamu kenapa jadi nggak nafsu makan begitu?" Tanya sang Mama dan tampak duduk di kursi seberang meja.


"Aku cuma lagi bad mood." Jawabnya dan tidak seperti biasanya. Padahal, biasanya kalau bad mood. Dia malah nerocos dan tak henti mengeluh dengan rengekan tidak jelas, yang beginilah, yang begitulah. Tetapi malam ini, Lea sudah terlihat seperti gadis yang alim.


Papa juga memandangi wajah sang tuan putri yang satu ini. Lalu berkata "Kalau bad mood. Lebih baik di rumah dulu. Nggak perlu masuk kuliah, sampai kamu ingin balik kuliah."


"Papa." Lirikan mata istrinya, yang tidak mengharapan hal itu.


Nada mengerti akan perasaan sang adik, ia lalu menyela perkataan kedua orang tuanya "Papa, Mama, Lea hanya menyesali perbuatannya. Biarkan saja. Ini masa transisi Lea, untuk menjadikannya lebih dewasa."


"Menyesali perbuatannya? Apa maksud kamu?" Papa yang semakin penasaran.


"Itu. Kemarin, Lea sudah merusak kue pengantin Nada. Padahal, Lea sendiri yang menyiapkan semuanya buat Nada. Jadinya, Lea merasa ada yang kurang. Lea ingin ikut Nada pergi berbulan madu."


"Lea, kamu mau ninggalin Papa?"


"Tidak. Aku, cuma ingin liburan saja."


"Kalau cuma liburan, sama Papa saja. Gimana?"


"Kemana?"


"Kemana saja, selama kamu senang."


Belum sampai menjawab hal itu, ada panggilan masuk di ponselnya. Ia melihat ke arah ponsel yang tergeletak di dekat piringnya.


"Mas Setya."


Lea mengambil ponsel dan selekasnya pergi menjauh dari meja makan itu. Nada, Varell dan semua yang ada di ruang makan itu, jadi tertuju kepada Lea yang sudah seperti gadis lain. Sangat berbeda dan tidak lagi seheboh seperti biasanya.


"Lea terima telephone dari siapa?" Batin sang Papa yang curiga dan sang Mama juga berfikir kalau Lea sedang ada masalah dalam hubungan asmaranya.


"Apa lagi ribut lagi sama Zio?" Batin sang Mama.


"Semoga Lea tidak jadi ikut." Batin Varell yang gegana, setelah Nada menyetujui permintaan Lea. "Nada, maafin aku. Aku cuma nggak bisa terus-terusan diatur sama Lea."


Setiap kencan, waktu pendekatan mereka. Semuanya, sudah di atur oleh Lea, untuk Kakaknya dan Varell hanya mengikuti arahan dari Lea, sang adik iparnya itu.


"Lea sudah berubah manis. Aku jadi tenang melihatnya." Ucap sang Nenek dengan senyuman.


Sang Kakek Shin juga menganggap hal aneh. Kakek Shin ini, adalah Paman dari Mamanya Lea, beliau ini yang dulunya sering tinggal di hotel.


"Lea bukannya berubah, tapi lagi ada masalah hati." Ucap sang Kakek.


Semua melihat ke arah sang Kakek. Sang Kakek berkata lagi, "Aku berkata benar adanya. Putri kalian itu, sedang berusaha mencari pelayan magang yang kena apes karena ulahnya Lea kemarin."


Mamanya Lea terheran dan bertanya "Paman tahu, siapa pelayan magang yang dicari Lea?"


"Aku tidak tahu. Kemarin itu, ada dua pelayan yang membawa kue pengantin."


Papa mengalihkan kecurigaan, berkata "Mama, palingan Lea hanya ingin meminta maaf."


"Papa, tapi Lea sudah sering berbuat itu sama semua pelayan hotel."


"Lea itu memang usil. Tapi sekarang dia sudah gadis. Pastinya sudah punya rasa malu. Ucapan Nada juga ada benarnya, mungkin masanya Lea menuju dewasa." Ucap sang Nenek.

__ADS_1


"Semoga memang begitu. Nada dulu juga begitu. Nada dulunya sangat sensitif kalau Mama yang melarang Nada. Jadinya, merasa tidak suka kalau Mama yang melarang. Tapi, masa dewasa Nada, sudah bisa mengerti kalau Mama melarang Nada itu, karena Mama sayang sama Nada."


"Benar sayang, Mama Papa dulu masa muda juga begitu. Tapi, Eyang sama Oma kamu. Benar-benar tegas kalau menasehati Mama sama Papa." Kilah sang Mama, boro-boro dinasehati, yang ada membantah saja.


Papa telah membatin, "Aku harus cari tahu sendiri."


"Selama Yuna tidak mengadu, Mama yakin kalau Lea baik-baik saja." Ucap sang Mama ini, yang membebaskan putrinya dan hanya sang Papa yang masih penasaran.


Setelah kembali duduk di meja makan, Lea berkata. "Mama, Papa. Kakek, Nenek. Mbak Nada, Bang Varell. Aku pamit, mau balik ke hotel."


Semua menatapnya dan Lea berkata "Aku lupa, kalau ada tugas kampus. Terus, minggu depan ada pesta tahunan. Papa sama Mama pasti akan datang juga."


"Mbak Nada, aku tidak jadi ikut kalian."


Papanya meminta pengawal untuk menyiapkan helikopter.


Lea lalu pergi ke kamar dan sang Mama mengikutinya. Lea tampak mengambil jaket dan tas ransel kecil.


"Sayang, kamu kenapa buru-buru? Tugas kampus biasanya Yuna yang tangani." Sang Mama telah keceplosan, karena aduan dari Yuna.


"Emh. Tapi, yang ini beda tugas."


Sang Mama yang mencoba bertanya dan tampak rasa gelisah "Sayang, apa kamu ada masalah dengan Zio?"


"Tidak."


"Terus, kenapa kamu bersikap begini sayang? Mama sama Papa cemas."


Lea tersenyum tipis, lalu berkata "Aku cuma lagi latihan peran kalem. Buat acara pesta tahunan, biar chemistry aku sama Zio terlihat memukau."


"Beneran begitu?"


"Iya. Mama tenang saja. Aku sama Zio nggak ada masalah apapun. Kita juga biasa aja."


"Nggak perlu. Aku cuma pulang ke hotel. Untuk apa Papa antar aku?"


"Papa masih ingin bersama kamu."


"Ya udah, kalau Papa maunya begitu." Lea kali ini menurut, dan sang Papa semakin curiga. Mama mengedipkan sebelah mata dan sang Papa tampak menggeleng.


"Mama, aku berangkat dulu." Tampak memeluk sang Mama.


Beberapa saat kemudian, Lea beneran diantar sang Papa. Suasana malam di atas udara, Lea tampak terdiam dan sang Papa telah menatapnya saja.


"Kenapa Lea jadi sangat penurut?" Sang Papa melihat Lea yang terdiam dan tidak seheboh biasanya. Papa satu ini, masih kepikiran dengan sikap putrinya.


Setelah tiba di hotel, sang Papa juga mengantar sampai ke kamarnya.


"Papa tidak pulang?"


"Tidak."


"Ya udah aku masuk dulu. Aku mau ngerjain tugas."


"Iya. Papa juga mau pergi ke kamar."


Lea merasa cemas dengan tatapan sang Papa. Baru kali ini, dirinya berbohong dan membuatnya berdebar kencang.


Yuna melihatnya dan bertanya "Kenapa balik kesini? Bukannya kamu menginap di rumah?"


"Ssetth. Di luar masih ada Papa."

__ADS_1


"Hah??" Tanpa suara terdengar.


Lea berbisik "Aku mau ada urusan. Kamu harus bantuin aku."


"Bantuin apaan?"


"Aku mau ketemuan sama orang."


"Orang?!" Tatapan Yuna yang curiga.


"Sebentar saja. Orangnya ada di bawah."


Yuna bertanya lagi, "Siapa? Cowok?" dan Lea menjawab dengan anggukan kepala saja.


Melihat ekspresi Lea, sepertinya Yuna memang harus membantunya.


"Terus, aku harus gimana?"


"Kamu bisa berbohong."


Yuna menghela nafasnya lembut dan rasanya begitu mengganjal. Kalau Mamanya Lea sudah terbiasa dibohongin, tapi kali ini Papanya Lea. Melihatnya saja sungkan, apalagi membohonginya, rasanya akan sulit.


"Aku takut kalau sama Papa kamu."


"Please, tolongin."


Lea sudah berganti baju dan tampak lebih tertutup, dengan memakai celana jeans panjang serta kaos dibalut jaket jeans.


Yuna yang mengantar sampai lift dan kembali ke kamarnya.


"Duh, kalau aku ditanya macem-macem gimana? Aku nggak bisa bohong."Batin Yuna. Ia yang berjalan kembali dan Lea sudah menuju ke lantai bawah.


Benar yang terjadi, sang Papa tampan sudah berdiri di depan pintu kamar Lea.


"Duh, gawat." Yuna yang berjalan pelan dan mendekat.


"Tuan besar." Suaranya pelan dan Papanya Lea sudah menatapnya.


"Lea di dalam?"


"Tidak, Tuan Besar."


"Lea pergi keluar?"


Yuna yang bingung dan sang Papa satu ini merasa curiga. Tapi, tetap tenang dan masih bisa meredam perasaannya.


Yuna yang berdiri sopan dan menduduk, dia juga sangat takut kepada Arjuna Madaharsa. Meski tidak pernah ada bentakan dan kata kasar yang keluar dari mulutnya. Tapi, Arjuna sekali bertindak sangat menyeramkan.


"Tuan Besar. Saya hanya memenuhi tugas. Nona Lea, hanya ingin bertemu seseorang."


"Bertemu, seseorang?" Suaranya terdengar pelan.


Yuna semakin ketakutan. Menjawab "Cowok barunya Nona."


Menghembuskan nafasnya dan langsung berjalan pergi.


Yuna merasa kesal kepada dirinya sendiri, tampak memukul mulutnya sendiri.


"Lea, maafin aku."


Lea juga sudah sampai di lobby, lalu pergi.

__ADS_1



__ADS_2