
Rainer mendengarkan penjelasan dari Lea, dan ia sedikit mengerti keadaan Lea saat ini.
"Terima ini. Aku memang menyiapkan ini untuk kamu. Anggap saja sebagai hadiah pernikahan kamu." Rainer yang membawakan buket bunga, kotak hadiah dan permen kapas pelangi kesukaan Lea.
"Baik, aku akan menerima ini." Balas Lea dan ia menata hadiahnya itu pada sisi lengan tangannya.
"Aku harap, kamu akan selalu bahagia. Sekalinya, suamimu menyakitimu. Bilang sama aku. Aku akan menghajar dia untukmu." Ucap Rainer dan ia masih duduk di dalam mobil.
"Kenapa aku harus mengadu padamu? Aku bisa menangani masalahku sendiri. Eitz, sepertinya hadiah ini akan menutup mulut mereka." Ucap Lea dan menatap ke arah kerumunan mahasiswa.
Beberapa orang telah pergi ke kelasnya masing-masing.
"Semoga suamimu perhatian. Aku bisa turut bahagia. " Ucap Rainer dengan penuh percaya diri. Lanjutnya "Aku jadi ingin menemui Zio."
Lea hanya tampak tersenyum manis.
Rainer keluar mobil lebih dulu, dan ia membuka pintu sisi kemudi. Lea beranjak keluar dan membawa semua hadiah dari Rainer. Membuat Clarissa semakin penasaran, pada sosok tampan yang satu ini.
"Aku akan mengantarmu."
"Baik."
Rainer, dengan percaya diri. Dengan begitu, dia tidak tampak seperti pria yang sudah ditolak mentah-mentah.
Lea juga memaanfatkan keadaan ini, Zio masih menatap dari kejauhan.
Yuna mendekat "Lea, kamu sudah tidak waras."
"Aku masih waras."
"Aku sempat jantungan."
"Yunaku sayang, tolong bawakan ini." Lea yang memindahkan seluruh bawaannya ke tangan Yuna.
Rainer jadi tersenyum sendiri. Lea yang berjalan lebih dulu, diiringi langkah kaki pria tampan.
"Rainer, aku harus ke kelasku."
"Iya. Sana masuk."
Melihat aula gedung yang megah dan di teras itu ada Zio, terlihat duduk santai di anak tangga.
Lea berjalan dan hanya melewati Zio. Rainer akhirnya mendekati Zio. Revan dan Tommy juga bisa melihat mereka berdua.
"Apa kabarmu?"
"Baik."
Rainer duduk di sebelah Zio. "Aku tidak ingin sok akrab. Aku sudah tahu tentang masalah kalian berdua."
"Baguslah, kalau kamu sudah tahu."
"Kamu beneran cemen?? Kenapa malah merelekan Lea?" Suara itu terdengar pelan, tapi Zio masih bisa mendengarkan suaranya.
"Aku tidak cemen. Aku hanya ingin Lea bahagia." Jawab Zio.
Rainer merangkul bahu Zio, ia berkata "Kamu benar. Tapi aku sudah melihat, kegagalan cinta kamu."
"Husst, jangan mengatakan hal itu."
Rainer semakin mendekat, ia berkata "Zio, kamu terlalu naif. Lea sangat menyayangi kamu. Harusnya, kamu tahu hal itu."
"Aku tahu. Makanya aku merelakannya. Aku memang tidak bisa menjaganya." Ucap Zio.
"Zio. Aku akan mengajarimu bermain dengan gadis-gadis. Jangan bersama Revan. Percayalah sama aku." Ujarnya yang sok menggurui, tapi dia juga hanya bisa bermain-main. Tidak ada perasaan manis akan cinta dari lubuk hatinya.
"Kamu tenang saja. Aku akan menemukan kekasihku sendiri."
"Baiklah. Kapan-kapan datanglah ke tempatku. Kamu jangan terlalu manja sama Revan."
"Siap. Aku akan datang kesana."
"Baguslah kalau begitu. Aku pergi dulu."
Lea yang berjalan, dia ingat betul akan perpisahannya dengan Zio kala itu.
^^^Flashback On^^^
"Yuna bangun."
__ADS_1
"Yuna sudah subuh."
"Aaa.. Lea. Aku masih mengantuk."
"Aku mau pergi. Ada urusan penting."
"Kemana?"
"Ke rumah Zio."
Setelah malam pertemuan dua keluarga. Meski Lea sudah menolak rencana sang Papa dan Presdir Hendri. Tetap saja pertunangan harus segera dilangsungkan.
Lea setelah subuh berangkat ke rumah Zio. Dari semenjak malam pesta kampus. Lea tidak mendapat kabar apapun tentang Zio.
"Zio, lagi-lagi sukanya mengurung diri." Lea yang telah mengendarai mobil. Ia sangat tahu kebiasaan Zio. Selalu mengurung diri, seperti dulu semasa SMA, Zio yang mengurung diri di kamar asrama putra.
Setibanya di rumah Zio. Lea yang telah bertemu Presdir Hendri. Papanya Zio hendak berangkat ke luar kota. Untungnya masih bertemu Lea, yang datang ke rumahnya.
"Selamat pagi Om Hendri."
"Selamat pagi, Lea. Ada apa, kamu pagi-pagi sudah datang kemari?"
"Om Hendri, saya ingin bertemu Zio." Jawabnya dengan wajah gelisah.
"Zio tidak ada di rumah. Dia baru saja ke bandara."
"Ke bandara?" Lea yang terkaget dan ia masih pacarnya. Kenapa tidak ada kabar, malahan pergi begitu saja.
"Baik Om Hendri. Saya mengerti. Saya permisi dulu Om."
"Iya." Presdir Hendri, hanya tersenyum. Melihat tingkah Lea, yang menurutnya memang nekatan.
"Putrinya Arjuna begitu aktif. Bagus juga. Sangat cocok untuk Setya yang keras kepala." Gumamnya dan beliau juga hendak pergi ke bandara. Hanya saja, Zio berangkat lebih dulu.
Lea yang jarang sekali ke bandara dan sekarang sudah satu jam perjalanan. Ia masih terjebak dalam kemacetan lalu lintas Ibukota.
"Zio."
Seketika, mendapat panggilan dari Zio.
"Zio. Kamu mau ninggalin aku?!!"
"Harusnya, kamu sapa aku dulu. Kamu malah marah-marah?"
Lea yang mengemudikan mobil. Mendapat klason dari pengendara mobil, yang ada di belakangnya.
"Hissh, sabar dong. Aku lagi telephone penting."
Lea melajukan mobilnya dan suara Zio terdengar tertawa.
"Kamu ngetawain aku?!"
"Iya. Aku naik taxi di belakang mobilmu."
"Hah?? Yang benar saja?"
"Iya. Tadi Papa telephone aku. Aku jadi nungguin di mini market, lihat mobilmu jadi nyusulin pakai taxi."
"Kurang kerjaan." Lea yang berubah senang."
"Aku mau bicara sama kamu."
"Iya. Aku juga mau ngomongin soal kita."
Mereka bertemu di restoran kopi. Zio akhirnya sudah berada dihadapan Lea.
Lea yang sudah menunggu lebih dulu, dengan wajah sendu, dia tampilkan untuk Zio.
"Zio, sini duduk."
"Iya."
Raut wajah Zio, juga tidak lagi seimut biasanya. Terlihat dari kelopak matanya, yang sepertinya kurang tidur. Wajah itu terlihat lesu dan sedikit pucat.
"Kamu kenapa? Kamu sakit lagi?" Lea yang memegang tangan Zio.
"Tidak. Aku hanya belajar untuk bisa sendirian."
__ADS_1
Mendengar hal itu, Lea jadi kesal. "Zio, apa maksud kamu?"
"Aku sudah mengerti tentang kita."
"Zio. Aku akan berusaha bilang sama Papa dan membatalkan pertunangan itu. Kalau aku tidak datang, pasti juga tidak akan terjadi pertunangan." Lea yang masih bersemangat.
Zio berkata "Aku akan melepaskan kamu. Aku juga ingin hidup tanpa bergantung lagi sama kamu."
Lea berdebar dan ia sudah terlihat berkaca-kaca. Perkataan Zio barusan, juga cukup menyadarkannya. Lea sangat menyayangi Zio, sudah bagaikan saudara seperti Yuna. Tapi, Lea tidak mencintai Zio.
"Zio." Rengekan Lea dan ia sudah menangis.
"Hubungan kita tidak akan berubah. Kita malahan akan jadi saudara." Zio dengan tatapan sendu dan ia juga susah untuk menguatkan dirinya. Gelisah, rasa bersalah, dan sulit melepaskan Lea begitu saja.
"Ucapkan putus. Aku akan menerimanya." Pinta Zio, sudah hilang kendali. Rasanya, lebih baik secepatnya mengakhiri.
"Tidak." Lea yang menangis tersedu-sedu.
"Lea, aku mohon." Pintanya dan Zio juga sudah menangis.
"Aku tidak bisa." Semakin terdengar isak tangisnya, dan tidak ada yang melihat ke arahnya. Karena restoran itu terlihat masih sepi.
"Lea, aku ingin putus denganmu. Aku mohon. Lepaskan aku." Pintanya sekali lagi dan Lea tampak menggeleng.
Sekitar 30 menit. Perlahan Lea bisa membenahi perasaannya. Sudah tidak terdengar lagi, isak tangisnya yang merdu itu.
Lea berkata "Zio, jangan tinggalin aku. Jangan pergi. Aku mohon."
"Aku tidak akan pergi. Tapi, kamu harus putus sama aku."
"Baik, aku mau putus dari kamu. Tapi kamu jangan pergi meninggalkan kota ini. Aku mohon sama kamu."
Zio tersenyum, ia berkata "Kenapa??Kamu susah menatap yang lainnya?"
"Kamu ini. Aku mana bisa jauh dari kamu. Cukup melihatmu tersenyum, membuat aku senang. Jangan lagi mengurung diri di dalam kamar." Lea yang kembali meneteskan air mata.
"Iya. Aku akan jadi dewasa. Asalkan, kamu percaya sama aku, kalau aku bisa dewasa tanpa kamu." Ucap Zio.
Lea menyeka air matanya, lalu berkata "Zio, aku akan berusaha untuk mempercayai kamu. Kamu yang bisa menjaga diri kamu sendiri. Kamu yang akan menjadi pria dewasa. Tanpa aku perintah atau aku ajari. Kamu jangan lagi menuruti perkataanku. Jadilah, diri kamu sendiri. Aku akan mendukung kamu."
"Lea, terima kasih. Kamu selalu ada untuk aku." Ucap Zio.
"Aku juga. Aku sudah terbiasa bersama kamu. Sampai aku sangat menyayangi kamu. Apa kamu tidak merasakan kasih sayangku ini? Hemms?" Tatapan Lea yang seolah menagih akan janji-janji manisnya Zio.
"Aku merasakannya. Sampai aku juga menangis." Zio yang kembali imut dan akhirnya Lea bisa tersenyum.
"Zio, jangan pergi jauh." Pintanya.
"Tidak. Aku cuma mau nyusul Mama. Mama lagi ke rumah Eyang."
"Hah? Cuma mau Ke Surabaya?"
"Iya. Memangnya kamu pikir aku mau kemana?"
"Hish. Tahu begitu aku tidak mengejar kamu."
"Kamu nyesel?!"
"Iya, nyesel. Harusnya aku nggak ngejar kamu. Biar kita nggak putus."
"Benar. Tapi aku nggak mau balikan lagi sama kamu."
"Zio, kamu mencampakan aku?"
"Sepertinya begitu."
"Oke, aku akan menerima ini. Tapi, kamu belajar dari mana semua ini?"
"Dari Mas Setya."
"Owh, jadi kalian sekongkol. Semalam dia juga putusin aku."
"Kamu beneran jadian sama Mas Setya??!" Tatapan Zio, sudah seperti katak yang siap melompat.
Lea mulai berdiri dan ia berkata "Emh, sebenarnya. Hanya."
"Hanya?? Jadi beneran selingkuh di belakang aku? Wah, pantas saja semalam Mas Setya bilang begitu."
"Apa, kita bisa balikan lagi?" Lea yang nyengir.
__ADS_1
"Tidak bisa."
^^^Flashback Off^^^