
Cuaca panas di siang hari, membawa perasaan emosi
Dikala melihat mantan kekasih, sudah membawa pengganti
Tidak ada tegur sapa, untuk meraih cinta kembali
Disaat hubungan kasih terpisah, masih tersimpan dihati
Micheel yang duduk bersama sepupu dan saudara lainnya. Ia tampak tidak tenang, saat melihat Setya yang terus saja, berada di dekat perempuan lain.
"Apa hubungan mereka berdua? Begitu cepat, Setya melupakan aku?" Batinnya yang hareudang.
Micheel ini, Kakak sepupu Cherry. Kedua orang tua Micheel, tinggal di luar kota. Sebenarnya, dari keluarga berada, tapi Micheel memang ingin menjadi bintang idola.
Micheel tadinya tinggal bersama kedua orang tuanya. Setelah umur 16 tahun, Micheel ingin menjadi bintang idola.
Setelah, Micheel mendapatkan ijin dari kedua orang tuanya. Micheel, akhirnya pindah ke ibukota dan satu sekolah, yang sama seperti Setya.
Micheel datang ke pesta ini, karena kedua orang tuanya, yang menyuruhnya untuk datang.
Dari ibukota ke kota ini, menempuh perjalanan 2 jam, bila jalan tol lancar.
Tadinya, hanya ingin bersenang-senang di acara sepupunya. Ternyata sedang mendapatkan balasan, dari sang mantan kekasihnya.
"Setya, memang sengaja bikin aku cemburu." Batin Micheel.
Lea yang mendekati Sindi, ia berkata "Bu Sindi. Aku mau tanya."
"Iya, tanya apa?"
Kebetulan, Setya sedang ke toilet. Micheel masih berada di ruangan ini, bersama adik sepupunya.
"Itu ada artis cantik. Dia siapanya Bu Sindi?"
Sindi jadi menoleh ke arah Micheel, yang sedang mengobrol dengan sepupunya.
"Dia, keponakan Papanya Cherry."
"Owh. Keponakan Pak Hermawan."
"Kenapa? Kamu mau minta fotonya?" Tanya Sindi.
Sindi tidak tahu menahu, kalau sosok pemilik Yayasan SMA dan kampus Glory, adalah pemilik agensi dimana Micheel bekerja sebagai bintang terangnya A. J.
"Tidak, aku hanya penasaran saja." Ucap Lea. Terlihat wajah manisnya.
"Lea, sekarang kamu sudah berubah total ya. Penampilan kamu lebih sopan. Terus, sikap kamu juga tidak seperti biasanya." Ujar Sindi.
"Bu Sindi ini gimana sih. Aku sudah dewasa. Masa iya, harus seperti Lea yang suka bikin ulah di sekolah dan selalu mendapat tugas tambahan dari Bu Sindi, karena sering bolos."
Sindi menjewer telinga Lea dengan gemas, ia berkata "Kenapa nggak dari dulu saja, kamu bertemu suami kamu itu. Seandainya begitu, kamu pasti bisa lulus dengan nilai sempurna. Tidak ada nilai merahnya."
"Hehehe, Bu Sindi jangan buka aibku di depan Mas Bojoku. Aku nanti bisa malu."
"Waah, kamu juga sudah punya rasa malu. Dulu-dulu, kemana saja? Apa jangan-jangan arwah kamu tertukar?"
"Amit-amit jabang bayi." Seolah meraih arwah dari kepalanya, menggetokan ke meja makan.
"Bu Sindi bilangnya ngaco. Serem ah."
"Ya aneh saja. Dulu kamu bukan sosok yang begini. Sekarang berubah, jadi punya malu. Eh ini, barusan takut. Dulu kamu tidak begitu." Sindi masih mengejarnya dan belum melepaskan Lea.
__ADS_1
"Namanya juga cinta. Cinta datang tanpa di undang. Terus, aku berubah lebih dewasa berkat cintanya."
"Eeheem, anak muda memang punya cara sendiri. Jadi, kamu beneran sudah menikah??" Selidik Sindi, dikirain tadi omong kosongnya Lea, yang suka heboh dan banyak tingkahnya.
Bilangnya suami istri, dari SMA juga begitu. Apalagi sama Zio dan Rainer. Itu, sudah biasa. Bahkan, di depan gurunya, Lea pernah disuruh praktek menikah. Ajib! Tapi, hanya seperti putri dan pangeran, yang berjalan menuju ke pelaminan. Siapa yang menjadi suami Lea? Pilihan para murid dan guru adalah si jagoan, Rainer.
"Bu Sindi, aku serius. Masa iya, aku ngibul sama Bu Sindi."
"Emmber, dulu saja suka bohong. Bilangnya ke toilet, nggak tahunya nyamperin Zio." Sindi jadi terkekeh gemas.
"Ya itu dulu. Sekarang beda. Ada suami yang nasehatin aku." Balasan Lea manis.
Micheel melihat keakraban Tantenya dan Lea. Lalu, mengalihkan pandangan matanya ke sosok yang baru masuk ke ruangan, ialah sang mantan.
Ekspresi yang menandakan tidak suka. Jari-jemarinya sudah meremas gemas tas tangan yang dia bawa.
"Kak Micheel kenapa?" Tanya Cherry. Anak gadis yang sedang berulang tahun itu, menatap wajah Micheel.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya lagi bad mood." Jawabnya.
"Apa Kakak tidak enak badan?" Tanya sekali lagi, melihat eskpresi dari wajah kakak sepupunya ini.
"Iya, aku cuti panjang. Tapi malah bad mood." Jawabnya lembut.
"Semangat, Kakak harus syuting lagi. Biar aku bisa pamerin sama temanku."
Micheel jadi memeluk gemas adik sepupunya ini.
Perlahan, Micheel kembali melihat ke arah Lea dan Sindi. Bahkan, sekarang sudah ada Setya.
"Cherry, itu yang sama Mama kamu siapa? Kamu tadi juga memeluknya?" Tanya Micheel.
"Itu Kak Lea. Muridnya Mama."
"Kak Micheel kenapa? Apa Kak Micheel kenal sama Kak Lea?"
"Kakak tidak mengenalnya. Tapi, pernah bertemu di kantor. Dia adiknya, teman."
"Owh, Kak Lea memang punya Kakak perempuan. Aku tahu dari Mama. Aku bertemu Kak Lea, waktu ikut Mama mengajar. Kak Lea baik banget, ngajakin aku keliling sekolahnya. Terus, aku dibeliin es krim sama lolypop."
"Iya. Aku melihat, kamu senang bertemu dia."
"Kak Micheel mau kenalan sama dia? Ayo, aku kenalin sama dia."
"Owh, nggak."
Sayangnya, gadis berusia 9 tahun itu sudah lebih dulu menarik tangannya, dan terus berjalan ke arah Lea dan juga Setya.
"Mama, ngobrolin apa sih?! Seru banget kayaknya." Cherry ini, kecil-kecil juga bisa membaca sekitarnya.
Lea menatapnya dengan senyuman ceria dan Micheel merasa canggung, saat berdiri di antara mereka berdua.
"Micheel, kenalin ini Lea. Dulu muridnya Tante Sindi." Sindi merangkul bahu Lea dan mengenalkan padanya.
Cherry berkata "Kak Lea. Ini, Kak Micheel kakak sepupuku dari saudara Papa. Dia ini artis terkenal. Pasti Kak Lea sudah pernah melihatnya di layar kaca."
Lea tersenyum, ia berkata "Iya Cherry sayang. Kak Lea sudah pernah melihat Kakak kamu di film."
Lea menjulurkan tangan kananya lebih dulu, dihadapan sang suami, Lea ingin berkenalan dengan Micheel, sang mantan kekasih suaminya tercinta.
"Aku Allea, biasa dipanggil Lea." Lea tersenyum manis, Setya juga bisa melihat raut wajah istrinya.
__ADS_1
Micheel menjabat tangan Lea di hadapan Setya, sang mantan yang belum bisa dilupakan oleh dirinya.
"Aku Micheel, sepupunya Cherry." Balasnya.
"Senang berkenalan denganmu. Benar apa yang dikatakan Cherry, kamu artis cantik dan pemain film yang hebat." Ucap Lea yang membanggakannya.
"Kamu bisa saja. Aku belum ada apa-apanya. Dibanding artis yang lainnya." Micheel begitu lembut saat berucap kata, tidak seperti Lea yang selalu ceplas-ceplos.
Lea jadi bisa melihat sisi mana yang disukai oleh suaminya. Untungnya saja, the twins sudah dapat membaggakan posisinya di hati seorang Setya.
Meski terkesan konyol, tapi Lea memang begitu adanya.
"Owh iya, ini Kakak ganteng tadi siapa namanya. Aku jadi lupa." Ucap Cherry, karena tadi kembali fokus dengan teman-temannya, jadinya lupa untuk berkenalan langsung.
"Kenalan sendiri dong." Seloroh Lea.
Sindi yang masih berada di situ, ia berkata "Cherry, kamu harus sopan sama suaminya Kak Lea."
Degh!!
Ada yang sudah terbakar api cemburu dan tampak diam tanpa kata. Bahkan, sampai mengalihkan pandangannya, tidak berani menatapnya.
"Hah? Suami? Aku pikir pacarnya Kak Lea yang baru." Mulut gadis kecil ini, hampir seperti Lea yang selalu heboh.
Lea merangkul lengan tangan Setya, ia berkata "Mas Setya, gadis kecil ini mau kenalan sama kamu. Apa kamu mau?"
Setya jadi tersenyum, ia berkata "Aku bersedia, berkenalan dengan tuan putri Cherry."
"Ommmo, Oppa ganteng menatap aku." Bocil kecil ini jadi belagak gemetar saat menjulurkan tangannya.
"Hai, namaku Setya. Suaminya Kakak Lea." Setya tampak tersenyum manis. Menjabat tangan gadis kecil itu.
"Hai juga Oppa. Nama aku, Cherry Raisa Putri Hermawan. Biasanya dipanggil Cherry." Ucapnya centil sekali.
"Oke, Cherry."
"Saranghae Oppa." Semakin genit.
Lea jadi melotot, ia berkata "Cherry sayang, kamu kok berubah genit begini, siapa yang mengajari kamu?"
Sindi tampak tertawa, ia menepuk bahu Lea. "Kamu, yang waktu itu ngajarin dia. Dia sampai tidak lupa sama Rainer."
"Hah? Kamu masih suka sama Rainer??" Lea jadi salah tingkah sendiri.
"Kak Lea, Kak Lea. Sampai sekarang, aku juga masih chattingan sama Rainer Oppa."
Setya menoleh ke istrinya "Kamu ini, ngajarin anak kecil cinta-cintaan."
"Mas Setya salah paham. Aku nggak ngajarin begitu."
Gadis kecil 6 tahun, diajarin panggil Oppa kepada sosok tertampan di sekolahnya.
Micheel jadi semakin melihat kemesraan mereka.
Cherry, meraih tangan Micheel dan menjulurkannya kepada Setya.
"Oppa ganteng, ini Kakak sepupuku."
"Setya."
Mereka berdua, berjabat tangan.
__ADS_1
"Micheel.
Lea juga bisa melihat ekspresi wajah dari kedua orang itu.