
"Aku takut sama kamu." Jawab Ratu.
Mendengar hal itu, Raja bangkit dan menatap wajah Ratunya.
"Kenapa takut sama aku?"
"Emh, bukan apa-apa." Jawabnya dan beranjak pergi. Ratu berubah salah tingkah sendiri.
Saat ini, sudah jam 4 sore. Rintik hujan kembali menyapa kota ini. Ratu yang berada di balkon manadahkan tangannya.
"Aku suka hari ini." Ucap Ratu.
Raja masih duduk di sofa, melihat Ratu yang tampak senang. Meski tak ada yang istimewa baginya. Saat ini, Ratu telah menolongnya dari hal yang tidak diharapkan.
"Ratu, aku akan terus mengingat hari ini. Terima kasih."
Semburat manis tampak menghiasi wajah tampannya. Raja yang gemas, semakin tersenyum bahagia.
Ting tong ting tong
Raja menoleh ke arah pintu dan segera menghampiri pintu. Kamar hotel nomor 101. Raja dengan wajah tersenyum membuka pintu kamar itu.
"Raja."
"Bunda."
"Bunda mau pulang."
"Kenapa Bunda ninggalin aku?"
"Nanti malam, keluarga Rangga datang dan besok malam acara lamaran adikmu."
"Aku tidak mau pulang." Ucap Raja.
Sang Bunda mengerti, tangan kanannya mengelus rambut putranya dan putra tampannya memiliki postur badan yang tinggi. Untung saja, Bundanya Raja selalu memakai high heels ketika bepergian.
Raja keluar dari kamarnya dan pergi meninggalkan Ratu sendirian. Ia berjalan bersama sang Bunda.
"Aku merestui pernikahan Aull." Ucap Raja dan sang Bunda memegang lengan tangannya.
"Bunda mengerti perasaan kamu. Bunda tidak akan memaksa kamu untuk pulang dan menghadiri acara lamaran adikmu." Balasan Bunda.
Keduanya tampak terdiam dan masih berjalan di koridor kamar hotel ini.
Raja yang bingung, ada rasa gelisah. Ia bertanya "Bunda, sebagai suami. Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan untuk Ratu? Aku belum mengerti."
Sang Bunda merangkul bahunya dan mengelus dadanya. "Disini, di dalam sini. Akan berdebar, saat kamu nanti bersama kekasihmu. Berfikirlah, kalau Ratu itu kekasihmu. Cintai dia dan manjakan dia. Cari tahu, apa kesukaannya dan perhatikan kesehariannya."
"Kekasih?" Tatapan Raja semakin bingung.
"Bunda tahu sayang. Kalau kamu, belum dewasa. Kamu hanya bermain-main dengan para gadis. Tapi, kamu tidak mengerti akan getaran asmara. Ada cinta, yang membuat kamu berdebar ketika bertemu kekasihmu."
"Berdebar?" Tanya Raja semakin aneh.
"Iya sayang, deg-degan. Kamu akan kasmaran dan bisa merasakan rindu ketika tidak bersamanya. Lalu saat bertemu, kamu akan merasa nyaman bila sedang berduaan. Kamu juga bisa cemburu, ketika kekasihmu bersama pria lain."
"Owh, begitu. Aku sudah pernah merasa begitu. Tapi aku tidak jatuh cinta."
"Nanti kamu juga akan mengerti."
"Kalau aku tidak jatuh cinta? Apa aku boleh menyentuhnya?" Tanya Raja, ia masih bingung.
Sang Bunda memperjelas pertanyaannya, "Menyentuhnya? Apa maksud kamu malam pertama?"
Bunda dan Raja saling menatap. Mereka berdua berhenti di depan pintu lift. Raja yang merasa aneh, dia menggaruk lehernya sendiri.
"Hanya saja, aku ingin tahu soal itu." Jawaban Raja polos.
"Bunda paham. Kamu boleh menyentuh istrimu. Asalkan dia menginjinkan kamu menyentuhnya. Kalian juga sudah menikah. Tidak masalah tentang hal itu."
__ADS_1
"Baik. Aku antar Bunda ke depan."
"Ayahmu masih bersama Eyangmu dan mertua kamu." Ucap Bunda.
"Iya, mertua. Om Kevin jadi Pamerku."
"Pamer?" Tatapan Bunda dengan wajah tersenyum. Keduanya masuk ke dalam lift.
"Iya, Papa mertua."
"Kamu ini. Kecil-kecil sudah menikah."
"Aku sudah 20 tahun, tidak apa-apa menikah muda."
Saat Bunda Lea masih memegang lengan putranya dan Raja bahagia.
Setibanya di lantai tengah, pintu lift terbuka.
Degh!!
Revan terbelalak, melihat Raja bersama perempuan dewasa.
"Dia lagi." Batin Revan gelisah.
Raja menatapnya, dengan wajah tersenyum.
Bunda masih gemas dengan putranya dan berkata "Sayang, ingat. Pakai pengaman. Kamu masih kuliah."
Raja menyernyitkan dahi dan menatap sang Bunda. "Bunda, aku sudah dewasa."
Revan mendengar hal itu, membatin "Bunda? Pengaman? di Hotel?"
Revan tidak ingin berfikiran buruk. Tapi, dia sering kali memergoki Raja.
Revan sendiri, menemui Papanya yang sedang meeting di hotel ini.
Pintu lift masih terbuka dan Papanya Revan juga masuk ke dalam. Sosok beruban dan berkacamata.
"Iya Papa. Tapi, aku nanti balik ke asrama."
"Terserah kamu saja."
Revan menoleh ke arah Raja yang masih tampil mesra di mata Revan. "Apa nyonya muda itu kekasih gelapnya Raja?"
Bunda Lea masih terlihat muda sekali. Apalagi, bila berjalan dengan Raja dan Aull, orang banyak mengira kalau Bunda Lea adalah Kakaknya.
Pintu lift terbuka dan tiba di lobby. Papanya Revan keluar lebih dulu. Kemudian, Revan menyusul langkah Papanya.
Bunda masih memegang lengan tangan putranya, berkata "Sayang. Bunda pulang dulu. Jaga diri kamu baik-baik. Bunda sayang kamu. Maafkan Bunda, yang sudah memaksa kamu untuk menikah muda."
"Iya. Aku tidak apa-apa."
Revan ternyata kepo, masih di sekitar lobby dan mendengar obrolan mereka. "Menikah muda? Mereka menikah?"
Revan melipir ke sudut ruangan itu dan di tangannya sudah ada berkas penting.
Melihat Raja berpelukan dengan Bunda Lea. Revan sampai tidak berkedip. Yang ada hanya pikiran negatif tentang teman sekamarnya.
Marla yang tadinya menunggu di lobby. Dia tidak sabaran. Tetap mencari ke ruangan VIP tadi.
"Sial, kemana mereka pergi?"
Saat Marla menoleh ke anak tangga. Ratu sedang berjalan menuruni anak tangga. Tampak seperti putri istana, yang berjalan dengan menawan.
Di ruangan VIP ini, dari sebuah dinding kaca. Marla bisa melihat jelas, kalau yang berjalan itu adalah Ratu.
Marla yang selalu menganggap kalau Ratu ini sosok cupu, ternyata dia suhu. Jurus apa yang dikeluarkan Ratu, sampai Raja mau bersama dia.
__ADS_1
"Dia sama Raja? Ah, nggak mungkin." Gumam Marla, yang telah menganggap kalau Ratu diperlakukan manis. Apalagi, melihat akan penampilan Ratu yang saat ini bak putri dari istana dan sangat berbeda dari kesehariannya yang terlihat cupu.
Marla sendiri, saat di SMA tidak mengenal sosok Ratu. Semenjak di kampus itu. Mereka juga satu jurusan. Marla selalu menganggap kalau gadis ini aneh dan sering kali ditindas oleh Raja.
"Tidak mungkin seperti film." Desis Marla.
Marla mengingat akan drama korea. Yang menceritakan tentang gadis miskin dibully oleh pria kaya. Lalu, dicintai pria yang membully dan menjadikan gadis itu kekasihnya.
"Huh, nggak mungkin. Ini nggak mungkin. Raja nggak mungkin mencintai gadis cupu itu." Kesalnya Marla.
Marla terus saja menatap ke arah Ratu dan saat ini Mama Micheel mendekati putrinya.
"Sayang."
"Mama."
Keduanya saling memeluknya dan Marla sangat syok melihatnya. Artis cantik yang dia gemari, ternyata mengenal sosok Ratu si cupu.
"Dia, sama Madam Micheel. Apa hubungan mereka berdua?"
Marla masih menatap ke arah dua perempuan yang saling berpelukan hangat.
"Mama aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?"
"Sayang, kamu harus menjadi istri yang baik. Kamu harus bisa memikat hati Raja." Sang Mama seperti menasehati.
"Mama. Tapi, aku masih kuliah. Bagaimana kalau aku sampai hamil?"
"Kamu hamil malahan bagus. Ada anak kalian berdua. Kalian akan semakin dekat bila sudah memiliki anak. Seperti Mama dan Papa."
"Tapi, Mama dulu sudah lulus kuliahnya. Kalau aku, masih kuliah."
"Kenapa memangnya? Banyak juga mahasiswi yang hamil dan punya anak. Mereka tidak masalah."
"Mama, pasti orang-orang ngejudge aku hamidun."
"Kalian kuliah di kampus yang sama. Buktikan kalau kalian sudah menikah."
"Mama, aku makin bingung."
Mama melihat ke arah ponsel yang di genggamnya, Mama Micheel berkata "Mama masih ada syuting. Kamu jaga diri baik-baik."
"Mama jangan pergi ninggalin aku."
"Kamu sudah dewasa. Mama masih ada urusan penting."
Sang Mama mengelus pipi Ratu, "Luv you sayang."
"Luv you too Mom." Balasnya Ratu dan bibirnya cemberut. Masih memandangi Mamanya yang berjalan pergi.
"Mama selalu sibuk. Papa juga begitu. Kalian nggak ada yang mau ngertiin perasaan aku." Ketusnya Ratu.
Ratu anak pertama, adiknya laki-laki dan masih SMP. Gaya adiknya, juga sama seperti orang tuanya. Padahal cuma mainan game, tapi bilangnya sibuk.
Mama Micheel yang sudah berada di dalam lift. Marla datang mendekat. Marla memang sengaja mengikutinya.
"Hallo, apa anda Madam Micheel. Bintang film Saat Senja Datang?"
Tatapan Marla yang berbinar dan Mama Micheel menatapnya dengan senyuman.
"Iya, saya Micheel." Jawabnya manis.
"Madam, boleh saya minta foto bersama. Saya fans berat anda."
"Benarkah?!" Mama Micheel yang tadinya memakai kacamata hitam, tampak melepaskan kacamatanya, bersedia berfoto bersama.
"Saya ImcheelFans." Marla menunjukan kartu penggemarnya.
Marla juga sekalian meminta tanda tangan di kartu anggota penggemar.
__ADS_1
Madam Micheel bertanya "Siapa nama kamu?"
"Nama saya, Marla. Saya mahasiswi....