
"Kakek. Aku kirain siapa?" Tatapan dengan mata berkedip cantik.
"Ini, yang kamu cari?" Sang Kakek tua dan tampak berkacamata menyodorkan berkas profil para pekerja magang.
Masih berada di sisi pintu dan Lea sudah membuka lembaran-lembaran kertas yang tersusun rapi.
"Setya Yuda Wardhana. Bisa jadi benar, ini mirip dengan nama Mas Setya." Batin Lea setelah membaca biodata atas nama Setya Yuda Wardhana.
"Nama ini kenapa nggak asing? Seperti nama Eyang buyutku?" Batin Lea dan jadi senyam-senyum sendiri.
Sang Kakek melihat rona wajah yang aneh dari gadis satu ini. Tidak biasanya, Lea bisa senyam-senyum begitu dan membuat Kakek menjadi takut sendiri.
"Lea, sadar. Lea, apa kamu kesurupan?" Sang Kakek ini, ada-ada saja saat menyadarkan Lea dari lamunannya.
"Iih, Kakek apaan sih?!"
"Kakek pikir kamu kesurupan penunggu hotel."
Wajah itu seolah tidak terima kalau dibilang sedang kesurupan. "Hemm, aku sadar." Lalu Kakek mengusap rambut Lea dan seolah telah berdo'a agar tidak ada roh jahat yang merasuki pikiran Lea.
"Kakek. Ini biar aku simpan dulu."
"Iya. Kakek mau pulang. Jaga diri kamu baik-baik."
"Kakek tenang saja."
"Semua keluarga besar juga sudah pulang. Kamu tadi malah ngilang, dicariin Eyang, Opa sama si Mbah."
"Biarkan saja. Lagian aku juga sering main ke rumah mereka."
Ada beberapa kakek dan nenek yang lainnya. Lea juga sudah biasa dinasehati oleh mereka semua. Apalagi, soal gaya penampilan pakaian Lea, yang selalu terbuka dan membuat mereka semakin was-was.
"Ingat! Jangan terima tamu sembarangan."
"Siap Kakek Shin." Ucapnya dengan gemas dan sang Kakek pergi dari ruangan itu.
Kembali duduk di sofa dan menatap biodata Setya Yuda Wardhana, lalu meletakan lembaran berkas yang lainnya.
"Fotonya keren juga."
"Uuu, bulan lahirnya juga sama kayak aku."
Semakin tersenyum manis, secepatnya Lea menyimpan nomor ponsel yang tertera dalam biodata itu.
"Aku bisa memintanya untuk kerja lagi disini."
"Tapi, aku jadi menjatuhkan harga dirinya sebagai laki-laki."
"Apa aku harus minta maaf lagi?"
"Tapi, nanti Mas Setya malah merasa aku sudah mengganggu dia"
"Huuh!"
Batinnya Lea yang sedang dilema. Ada rasa ingin segera menghubunginya, tapi dari perasaan lainnya seolah melarang dia, agar tidak menghubungi nomor ponsel Setya.
"Setya Yuda Wardhana. Iya benar. Namanya bisa mirip begitu." Lea yang terkekeh sendiri dan mengingat akan silsilah dari keluarga besarnya.
Mbah buyutnya namanya Prasetya Wardana, lalu Opanya Alvaro dan Papanya Arjuna Madaharsa.
Sedangnya dari silsilah lain, ada Yuda Mahatma, lalu jadi Langit Mahatma, terus ke Gaby Aurora Putri, lanjut ke Arjuna Madaharsa.
"Aku akan simpan ini, keburu Yuna datang. Dia biang pengadu. Aku nggak mau kalau Zio sama Papa Mama tahu soal ini." Senyuman manis dari bibir tipisnya itu, membuat pernyataan sendiri.
(Yang penasaran silsilah keluarganya, bisa baca di Novel "Panggil Aku Mas!")
Lanjut lagi saja ya. Soalnya disini tidak akan membahas masalah keluarganya Lea. Tapi, tentang perasaan Lea yang seperti Permen Kapas.
Keesokan harinya di kampus tercinta, sebut saja nama kampusnya, Glory Of University.
"Lea, kamu duluan ke kelas ya. Aku masih ada urusan."
__ADS_1
Lea yang fokus pada layar pintarnya, tak menghiraukannya dan Yuna pergi begitu saja.
Lea bertanya "Mana tugas yang kemarin?"
"Ini." Tangan Lea telah menerima buket bunga cantik berwarna pink. Dia sudah tampak tersenyum dan sang pacar juga meraih tas Lea.
"Kamu, bikin aku jantungan."
"Kenapa? Kamu terpesona sama aku?"
"Emh, lumayan." Jawabnya dan tampak berjalan lagi, sang pacar mengikuti langkah kaki si gadis.
"Tumben tas kamu berat begini?"
"Owh, itu aku bawa laptop."
Zio meraih tangan Lea dan tampak bergandengan mesra mengantar kekasih hati ke ruang kelas kuliah paginya ini.
"Kenapa kemarin pergi? Kamu pergi kemana?"
"Aku pergi ke taman."
"Taman? Kenapa nggak ajak aku?"
"Emh, aku hanya ingin sendirian. Aku lagi happy. Aku nggak mau ada yang gangguin kesenangan aku."
Cukup berasalan manis dan memang itu awalnya. Tapi, malah bertemu dengan saudara tiri pacar tampannya ini.
"Lea, nanti pulang aku anterin kamu ya."
"Aku bawa mobil."
"Biar Yuna aja yang bawa. Aku masih kangen sama kamu."
"Oke."
Sang pria tampan ini, seperti merasa ada hal aneh dari raut wajah kekasihnya, tapi dia tidak banyak berkata, lebih baik diam dari pada nantinya diputusin Lea. Sudah 7 kali putus nyambung, kalau sekali lagi dibilang putus Zio harus siap melupakannya. Semua teman-temannya sudah mengacam Zio, kalau kali ini dirinya tidak bisa meraih hati Lea, harus memupus sudah harapannya. Karena Zio sangat tahu, hanya ketampanannya yang mendominasi untuk diajak pergi bersama dan juga bisa menjadikan pasangan dikala ada pesta tahunan.
"Aku mau ke toilet." Lea meletakan buket di atas meja, lalu pergi.
Zio jadi duduk di kursi itu, ada beberapa mahasiswa yang telah memasuki ruang kelas bahasa asing.
"Seperti biasa. Nantinya Zio sama Lea yang akan mendapatkan predikat couple of the year."
"Aku dengar-dengar, Zio punya gebetan baru dari kalangan seleb."
"Benarkah?"
Lalu ada yang berbisik, "Kemarin aku lihat Lea, ngejar-ngejar cowok di taman."
"Kamu serius?"
"Iya beneran. Aku ada fotonya."
"Cuma foto doang, mana bisa bubarin mereka berdua."
"Semoga saja, mereka putus. Biar gantian yang lain, yang jadi cover majalah kampus."
"Iya juga. Aku heran, mereka berdua selalu tampil keren setiap tahunnya."
"Jelas saja, mereka kompak. Orang mereka beneran pasangan. Coba kita yang dansa sama cowok. Mana bisa seperti dia."
"Yee, aku bisa nyanyi, pasanganku bisa main gitar.
"Kita lihat saja minggu depan."
"Oke."
Ketika para mahasiswa dan mahasiswi lainnya membicarakan couple imut ini, Yuna datang dengan senyumannya.
"Lea kemana?" Tanya kepada Zio.
__ADS_1
Zio yang masih duduk di kursinya Lea menjawab "Lea ke toilet."
Yuna yang duduk di sampingnya dan tampak senyam-senyum bahagia. Sepertinya, memang sedang kasmaran.
"Yuna. Lea semalam tidur jam berapa?"
"Jam 10an. Kalau seingatku begitu. Aku sibuk bikin tugasnya. Jadi nggak merhatiin dia."
"Owh begitu."
"Lea kenapa bohongin aku?" Batinnya yang bertanya-tanya.
Soalnya semalam itu, habis isya' Zio telephone Lea. Lea bilang akan segera tidur dan sudah sangat mengantuk.
Zio yang tampak bermain game dari layar pintarnya, Lea telah kembali ke ruang kelas itu dan tampak tersenyum.
Lea menatap dekat wajah Zio, lalu berkata "Pergilah, aku mau ada kuliah."
"Iya, tapi nanti siang. Aku akan mengantar kamu pulang."
"Iya."
"Aku masih ingin bersama kamu. Kamu duduk disini. Aku dibelakangmu."
"Ini bukan ruang kelas kamu. Bukannya kamu juga ada kuliah pagi?"
"Aku ingin belajar bareng sama pacarku." Jawabnya.
Lea akhirnya duduk di kursinya dan Zio bergeser ke belakang. Memang sering seperti itu, tapi para mahasiswa lainnya juga sudah paham urusan asmara couple imut ini.
Menurut perasaan Lea. Zio itu cowok tampan, imut dan manis. Tipe cowok yang perhatian, lembut dan nyaman bila dijadikan pacar.
Menurut Zio. Lea itu nyenengin, bebas gaya dan banyak tingkahnya. Lalu untuk fisiknya, Zio memang suka pipi cubby, bilangnya nggak bikin bosan. Meskipun, Zio juga ada pacar iseng, itu hanya untuk bikin Lea cemburu kepadanya.
Begitulah, kalau mereka putus dan balikan. Sama-sama cari inceran lain, cuma untuk memanasi. Akhirnya, mereka berdua balikan lagi.
Di kelas bahasa asing dan dosen telah memberikan perkuliahan untuk para mahasiswanya.
"Aku jenuh." Batin Zio yang sudah mulai bosan saat melihat dosen laki-laki, yang mengulas tentang isi novel.
Sang dosen yang seolah mendongeng, membuat Zio sampai tertidur. Yuna melihat ke arah Zio, sempat memotret dan mengirimkan kepada Lea.
"Dasar payah." Guman Lea pelan, saat melihat ke layar ponselnya.
Setelah kelas mata kuliahnya usai dan Zio masih tampak tertidur pulas.
Mahasiswa yang lainnya telah pergi dan Lea mengelus rambut Zio.
"Zio, bangunlah."
"Zio, bangun. Sudah selesai kuliah pagiku."
"Kalau kamu nggak bangun juga. Kita putus!" Tegas Lea.
Seketika Zio mengangkat kepalanya dengan wajah tampak imut, "Honey."
"Sana pergi. Aku masih ada kuliah lagi."
"Aku ikut kamu."
"Nggak bisa."
Lea berjalan pergi meninggalkannya dan Zio juga masih saja mengikuti Lea.
"Kenapa masih ngikutin aku?"
"Aku malas belajar."
"Oke, kalau kamu begitu. Aku sudah mulai fokus kuliah. Aku ingin cepat lulus dan segera menikah."
"Hah?! Menikah?"
Anggukan dari wajah polos Lea dan Zio merasa ada hal aneh.
__ADS_1
"Honey, kamu ingin kita segera menikah?"