
Singa, menatap wajah Raja. Ia berkata "Saya, dari dulu tidak ingin menikah. Saya menyukai hidup seperti ini."
"Kalau kamu masih ingin jadi pengawal. Menikahlah dengan kesayanganku. Aku akan menjamin, kalau kamu tetap bisa bekerja sebagai pengawalku."
"Tuan Muda. Pernikahan bukanlah suatu perjanjian, melainkan menyatukan dua insan berbeda menjadi satu ikatan. Entah itu dengan cinta, maupun tidak. Pernikahan tetap akan ada hubungan suami istri, dan intim. Apakah, Nona akan mau menerima sentuhan saya?? Saya hanya pengawal pribadi Nona, saya tidak ada pekerjaan tetap, selain menjadi pengawal Nona El. Apa, Nona akan sanggup menerima keadaan saya, untuk menjadi seorang wanita biasa, dan bukan lagi seorang tuan putri?"
"Soal itu, El tidak akan keberatan. Aku hanya ingin tahu. Kamu mau menerima El atau tidak?" Tatapan Raja, tampak serius.
"Saya, akan terus bekerja dengan Tuan Muda."
"Lalu, bagaimana dengan El? Kalau aku mencarikan jodoh lain untuk El. Aku juga tidak akan lagi mempekerjakan kamu. Pengawal pribadiku saja, sudah dua. Kamu bisa kembali ke markas Mr. Roberto kalau kamu mau."
"Tuan Muda. Saya tidak bisa bekerja dengan Papa saya sendiri."
"Kamu harus memilih. Kalau kamu ingin jadi pengawal pribadiku. Emh, kamu harus mau menikahi kesayanganku."
Singa terdiam, lima tahun bekerja dengan Raja. Rasanya lebih nyaman. Ketimbang harus stay di markas dan hanya menunggu panggilan penting.
Apalagi, kalau di sewa Madam VIP. Pekerjaannya hanya menenteng tas belanjaan. Rasanya malah, diperbabukan mereka.
Meski para pengawal itu, adalah para pengawal golden A.M. Namun, yang ada di markas. Bisa di sewa oleh para kalangan elite. Hanya saja, mereka tidak akan dilengkai persenjataan. Ada point penting juga, saat pihak luar menyewa para bodyguard tampan.
Namun, pernah ada yang jadi bentrok. Tidak tahunya, yang menyewa mereka, Madam aneh dan bermusuhan. Akhirnya, dua kubu dari satu kelompok itu jadi saling melindungi Madam yang adu jambak dan adu gigit. Dari situlah, Singa malas dan ingin menjadi pengawal pribadi bagi keluarga Eyang Arjuna.
"El sifatnya memang begitu. Tapi, aku yakin. El akan menerima kamu, apa adanya kamu."
"Tuan Muda, apa yang harus saya lakukan?"
"Cobalah, berkencan dengan El. Perlahan, kalian akan saling mengenal."
"Setiap hari, saya sudah bersama Nona El. Saya sudah mengenalnya."
"Singa, bukan hanya itu. Cobalah, jalan berdua. Tanpa ada batasan pengawal dan Nona. Cobalah, untuk jadi putra Bos Roberto yang gagah dan menawan. Jemput kekasihmu dengan perasaan. Gunakan hatimu, sampai kamu bisa merasakan cinta kamu."
"Saya sudah paham. Saya juga pernah berhubungan dengan gadis lain."
"Baguslah. Aku tidak harus mengajarimu."
Singa menatap ke wajah Raja dengan serius. Dia berkata "Tuan Muda, kalau saya sudah mencintai seseorang, saya tidak akan melepaskannya dan saya orangnya cemburuan. Bisa jadi, Tuan Muda tidak boleh memeluk Nona, bila dia sudah menjadi istri saya."
Raja merasa ada hal aneh, mendengar hal itu hatinya berdersir lembut. Meski dirinya juga akan cemburu bila El bersama Singa, tapi lebih baik El ada yang menjaganya. Apalagi, diriya juga harus fokus dengan istrinya.
"Baik. Kamu boleh menghalangi aku dan Lionel, bila ingin berduaan dengan El."
"Saya akan sepakat, kalau Tuan Muda menerima hal ini. Saya tidak mau ada masalah, yang menyangkut hubungan asmara saya."
"Aku sepakat. Aku juga akan menjelaskan kepada Lionel."
Raja mengulurkan tangan kanannya, dia rela bila Singa yang menjadi suami El. Bukan pria seperti Marvin, maupun Calvin.
"Baik, saya terima kesepakatan ini." Singan meraih tangan Raja, dan keduanya saling berjabat tangan, tampak gentlemen.
Senyuman Raja membuat Singa gelisah. Rasanya, apa yang Singa inginkan sudah keterlaluan, tapi memang begitu adanya. Singa sosok dingin, namun bila sudah mencintai seseorang wanita, dia akan posesif dan cemburuan.
"Aku harap, kamu bisa membahagiakannya."
__ADS_1
Setelah itu, Raja kembali masuk ke ruangan dan Singa telah membiarkan El bersama Tuan Mudanya.
Lionel tampak mengelus rambut El dan gadis itu sudah tampak terpejam. Tangan kanannya, masih memegang erat tangan Lionel.
"Raja, aku mau ke toilet. Aku kebelet."
"Ya sudah, sana pergi. Biar aku yang menjaga El." Balasnya dan Lionel perlahan melepaskan tangannya.
Raja duduk di sebelah ranjang kanan pasien. Kursinya sampai hangat, akan pantat Lionel yang duduk lama, di kursi minimalis itu.
"Sayang, apa kamu ingin pulang ke rumah?" Tanya Raja.
Raja tahu, kalau El hanya merem dan tidak tidur. El perlahan membuka mata.
"Raja." Lirihnya dan menoleh ke wajah adik sepupunya.
"Kamu ingin pulang atau disini? Bunda dan yang lainnya, ada di ruang tunggu. Aku melarang mereka masuk, biar kamu tenang."
"Aku mau di rumah kamu."
"Di rumahku jauh, kalau naik Heli kondisi kamu belum memungkinkan. Aku masih mencemaskan kamu."
Raja telah menerima hasil pemeriksaan dokter. Ada trauma yang tersimpan dalam perasaan El. Nantinya, setiap tidur akan gelisah, bahkan sampai menjerit, berteriak meminta tolong.
Apalagi, bila mengalami hal yang membuat dirinya panik, El pasti akan lemas, seperti tak akan kekuatan, padahal itu hanya kepanikan dalam pikirannya.
"Keluarga kita, akan menjaga kamu. Budhe Nada juga sudah berangkat dari sana. Tapi, Pakde Varell kondisinya belum memungkinkan."
"Pa-pa."
El tahu, kalau Papanya mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Omanya.
"Sayang. Jangan menangis lagi. Aku sedih kalau kamu menangis." Ucap Raja dan ia masih memegang tangan El.
Jermari tangan kanannya, sudah menyeka air mata El. Meski tak ada suara tangisnya, air mata El luruh begitu saja.
"Raja. Jangan tinggalin aku."
"Iya, aku akan disini."
Raja semakin mendekat dan mengelus rambutnya. El menatap wajah Raja. Ia merasa disayang oleh Raja. Semenjak kuliah, El juga sering pergi sendirian tanpa Raja dan Lionel.
"Aku akan menurut. Aku tidak akan membantah lagi." Ucap El.
Raja tersenyum. Meskipun, Raja orangnya semaunya. Tapi, dia masih menurut akan aturan yang Eyang berikan untuk para cucunya.
El sering kali, kabur dari pengawalnya dan pergi sesuka hati. Berbeda dengan Raja, semua dikerjakan kedua pengawalnya.
Bahkan, bila di rumah. Semua asisten memanjakan Raja. Kalau El, dia tidak suka bermanja dengan asisten dan pengawal pribadinya.
"Raja. Peluk aku."
"Tidak."
"Kenapa tidak?"
__ADS_1
"Kamu harus membiasakan diri, untuk tidak aku peluk."
"Kenapa? Apa Ratu melarang kamu memeluk aku?"
Wajah itu sudah terlihat kecewa. Bibir itu imut itu cemberut.
"Bukan Ratu, tapi Singa. Dia pria yang cemburuan. Aku tidak mau, dia ada salah paham sama kamu."
"Singa? Apa maksud kamu?" Tatapan El tidak terima. Raja malah membawa nama Singa, dalam obrolan mereka berdua.
"Aku tahu, kamu menyukai Singa." Jawab Raja dan ia tersenyum manis.
"Aku? Kapan aku menyukainya?" El yang berpura-pura dan tidak mau menantap wajah Raja.
Raja menjawab, "Sayang, sudahlah. Jangan kamu sembunyikan lagi dariku."
"Aku memang tidak menyukainya. Aku nggak suka dia ngintilin aku, kemanapun aku pergi. Aku jadi risih dan nggak bisa bergerak bebas."
"Singa, tadi dia menyelamatkan kamu."
"Aku tahu, para pengawal lain juga menyelamatkan aku."
"El, aku mengerti. Aku hanya ingin kamu bahagia."
"Raja, aku beneran nggak suka sama dia. Usir dia dari pengawal priabadiku. Gara-gara dia, aku sampai terjebak di lift sendirian. Dia nggak mau nekat menerobos pengawalnya Marvin. Sangat menjengkelkan."
"Beneran? Aku harus mengusirnya?"
"Sudahlah, jangan membuat aku lelah. Buruan peluk aku. Aku ingin bobok."
"Ya sudah, ayo kita pulang. Baru berapa hari kamu tidur disini. Kamu tidur disini lagi, ini kasur ada apanya sih?" Raja yang ingin mengalihkan pembicaraan.
"Huh, cuma minta dipeluk doang. Kamu begitu. Ya sudah, nanti jam 7 aku janji kencan sama Marvin di hotel Luxy."
"Huh, jangan mengancam aku begitu."
"Beneran, coba lihat di ponselku."
"Tidak, aku tidak akan mengijinkan kamu kesana. Apalagi, sama Marvin."
"Terus, kenapa kamu malah mendukung Singa?" Tatapan El menyerbu Raja.
"Owh, itu karena kamu yang meminta sama Eyang. Kalau kamu ingin menikah dengan Singa." Jawab Raja, yang telah mencari aman.
"Huh menyebalkan. Mana bisa aku jauh dari kamu. Kalau dia beneran posesif. Lebih baik aku melajang seumur hidup. Aku juga punya perasaan. Mana bisa hidupku terikat akan pria yang posesif."
El cemberut dan ia memposisikan diri untuk duduk tegap. Raja meraihnya dalam dekapan.
"Iya, aku yang salah. Aku sudah bersalah. Aku akan menjaga kalian bertiga."
"Kok bertiga?"
"Ratu, kamu dan Lionel."
"Lionel cowok, buat apa dijagain sama kamu."
__ADS_1
"Tetap saja aku harus menjaga Lionel. Selama di mobil, dia nangis terus. Dia takut, kalau kamu sampai mati dalam keadaan perawan."
"Lionel!!!"