Permen Kapas

Permen Kapas
Sudah Melahirkan


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Menghabiskan waktu di hotel saja dan menunggu waktu kelahiran.


Usia kandungan Lea, sudah menginjak 39 minggu. Lea benar-benar menjaga kehamilannya. Perutnya begitu besar, karena Lea suka makan dan tidak ada pantangan.


Lea sangat menyukai makanan yang berprotein tinggi. Apalagi, seafood dan daging. Selalu menjadi santapannya setiap hari. Bahkan, telur ikan dan salmon, tidak ketinggalan di setiap menu hariannya.


"Sayang. Kamu kenapa?" Tanya sang suami.


"Dari tadi subuh, perutku sudah mules-mules." Jawab Lea.


"Kenapa kamu nggak bilang? Ayo ke dokter." Ucap sang suami.


"Mas Setya yang tenang. Mama sudah OTW sama dokter bawa tim medis. Dokter bilang, aku harus jalan begini, biar tambah pembukaannya." Ucap Lea begitu santai.


Meski, wajah Lea terlihat ceria. Dia menahan mules yang terkadang susah dijelaskan. Proses kontraksinya masih berlanjut, Lea tampak menurut akan nasehat, yang dokter katakan.


Lea ingin sekali melahirkan secara normal di kamar hotel pribadinya. Kemudian, dokter menyarankan, agar Lea selalu mengikuti kelas ibu hamil. Dari senam, belajar mengasi, dan belajar cara merawat bayi. Contohnya, memandikan, mengganti popok, dan cara menggendongnya.


Selama senam, Lea dan Setya selalu memperhatikan arahan dari instruktur.


Saat ini, suami siaga sudah memegang tangan istrinya. Lea yang mengikuti arahan dokter, tampak bersemangat.


"Bunda Lea. Harus semangat." Ucap sang dokter dan ada Mama Beby yang turut menemani putrinya.


Setelah jam siang, Lea yang sudah mengalami kontraksi lagi, tampak mengeluarkan lendir kemerahan.


"Mama." Lea yang baru keluar dari kamar mandi dan meraih tangan Mamanya.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Mama.


"Nggak apa-apa. Aku masih kuat. Cuma aku berdebar." Jawabnya.


"Ayo, kita duduk dulu. Kamu harus istirahat. Tenaganya disimpan untuk nanti." Ucap sang Mama.


Prosesnya terasa panjang, sudah 3 jam menantikan. Hanya keluar flek dan belum lagi menandakan, tanda-tanda pembukaan.


"Kamu tetap ingin bersalinan di sini?" Tanya Sang Mama.


"Iya Mama." Jawab Lea dan wajahnya sudah berubah rona.


Mama Beby berkata "Sayang. Kalau kamu tetap ingin bersalin normal. Kamu harus semangat. Lupakan kecemasan kamu. Kamu harus yakin. Kamu bisa melahirkan secara normal. Mama akan tetap disini, dan menemani kamu.


"Iya Mama." Ucap Lea bersemangat.


Setya sudah membawa sesuatu di tangannya, dan mendekati istrinya.


"Sayang, minum ini. Sari kurma. Kata dokter. Ini akan memacu kontraksinya."


"Iya Mas." Ucap Lea tenang.


Lea lebih patuh, tampak menurut akan ajuran dan saran dokternya. Tidak seperti Lea biasanya, yang melawan dan bertindak sesuka hatinya.


"Mas, jangan jauh-jauh." Pinta Lea, dengan suara yang manja.


"Iya sayang. Aku akan selalu ada disini." Ucap Setya menyemangatinya.


Sudah 3 jam setelah meminum sari kurma, semakin mules dan Lea merasakan kontraksinya bertambah kencang.


"Mas Setya." Tangan Lea, memegang erat lengan tangan sang suami.


Setya berkata "Iya sayang. Sabar ya sayang. Demi bayi kita."


"Iya Mas." Ucap Lea.


Baru pembukaan 4. Lea masih harus sabar menunggu. Dokter melihat Lea yang sudah tampak berkeringat.


Dua suster mendekati Lea dan memasang infus, agar Lea tidak kekurangan cairan. Apalagi, Lea harus punya tenaga untuk melahirkan bayinya nanti.


"Bunda Lea harus semangat." Ucap dokter.


Setya bertanya "Kamu ingin apa? Nonton film? Dengarin musik? Atau? Apa sayang?" Tanya suaminya.

__ADS_1


"Coba Mas Setya mainkan piano, aku mau mendengarkannya." Jawabnya cepat.


"Oke. Aku akan memainkan piano."


Lea yang tadinya di atas ranjang, beralih ke sofa dan ingin melihat suaminya bermain piano.


Di luar kamar ini, barisan keluarga besar sudah menunggu. Kecuali kesayangannya.


Yuna juga sibuk mengurus bayi tampannya, di rumah mertua.


"Zio, gimana keadaan Lea? Apa kamu sudah tahu kabarnya?" Tanya Yuna dan dia tampak duduk di atas ranjang.


Zio yang duduk di sebelah Yuna, berkata "Katanya Mama, baru proses pembukaan. Aku tidak mengerti apa itu."


"Owh, aku juga tidak paham."


Jelas tidak mengerti, Yuna melahirkan di usia kehamilan 36 minggu dan itu karena pecah ketuban. Akhirnya, Yuna melahirkan secara caesar. Bukan hanya karena usia bayi yang baru 36 minggu. Melainkan, terdapat lilitan tali pusar, yang mengharuskan Yuna melahirkan secara caesar.


"Zio, aku cemas. Aku ingin kesana." Ucap Yuna kepada suaminya.


"Mama melarang kamu. Kalau nanti, Lionel nangis gimana? Suster nggak bisa nyusui bayimu." Balas suaminya.


Lionel Kendra Wardhana, nama putra pertama Zio dan Yuna. Nama bayi itu, pemberian Mama Jenny.


"Sampai kapan aku harus berdiam disini dan hanya menuruti kemauan Mama kamu." Ucap Yuna sebal.


Zio memegang tangan istrinya, ia berkata "Kamu harus sabar dulu. Nanti, setelah Lionel satu bulan. Kita pulang kerumah kita sendiri."


"Iya, aku sudah berusaha sabar." Ucap Yuna begitu sebal dan berjalan pergi meninggalkan sang suami.


"Kalian berdua memang sama saja. Untung saja anakku tidak perempuan." Zio yang tidak tahu, harus berpihak kepada Mamanya atau istrinya.


Kembali yang di hotel. Lea yang masih menikmati permainan piano dari suaminya. Lea semakin mules, kontraksinya meningkat, rasanya nano-nano.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Tanya sang suami tercinta.


"Iya Mas, aku baik- baik." Jawabnya.


"Iya Mas. Aku tetap bersemangat."


Lea jadi berdiri dan berjalan-jalan lagi. Setelah mendapat cairan infus. Wajah Lea terlihat lebih segar.


Mama Beby mendekat, membawakan makan untuknya.


"Sayang, sambil menunggu. Kamu harus makan. Biar bertenaga."


"Mama, aku malas." Ucap Lea.


"Sedikit saja. Biar semakin bertenaga, demi bayi kamu juga. Aaak."


Lea menerima suapan dari Mamanya. Perlahan, ia makan dan menikmati alunan musik romantis dari suaminya.


"Aku pasti bisa." Batinnya Lea.


Proses pembukaan yang sangat panjang. Sudah malam dan Lea semakin merasakan kontraksi yang luar biasa.


"Mas, jangan tinggalin aku." Pintanya dan masih memegang tangan suami.


"Sayang, aku tidak akan meninggalkan kamu. Aku akan terus disini. Aku akan selalu bersamamu." Ucap Setya dan masih memegang tangannya.


Sudah pembukaan 8 dan Lea masih menikmati setiap rasa yang ada. Bukan hanya perutnya yang mules, ada rasa dorongan kuat.


Rasa yang tidak bisa dijelaskan, tapi Lea masih menikmati prosesnya. Kontraksi yang semakin meningkat dan semakin sakit rasanya.


"Mas Setya."


"Iya sayang. Aku disini."


"Mas!!" Tangannya memegang erat lengan suaminya.


Setya seraya merangkul istrinya dan mencium hangat pipi istrinya.

__ADS_1


Sudah pembukaan 9, ada cairan yang merembes. Dokter juga sudah melihat, kalau tanda-tanda persalinan semakin dekat.


"Bunda Lea, semangat. Jangan mengejan, sebelum saya instruksi."


"Baik Bu dokter." Ucap Lea. Padahal, dari tadi rasanya sudah ingin mengejan.


Dua orang suster sudah menyiapkan selimut dan handuk bayi. Lalu ada dua bidan yang bersiaga di sebelah Lea. Dokter cantik yang terbiasa memeriksa kehamilan Lea, sudah siap membantu persalinan.


Oweek, Oweeek.


Setelah 15 menit kemudian, tepat jam 9 malam, di tanggal 9 dan bulan 9. Bayi berjenis kelamin, laki-laki telah lahir ke dunia.


"Sayang, kamu berhasil." Setya mencium kening istrinya dengan sepenuh hati.


Lea tampak menangis, ia bahagia setelah mendengar suara tangis bayinya.


"Mas Setya, aku sudah melahirkan."


"Iya sayang. Anak kita tampan."


"Tampan?"


Tidak lama, bayi itu sudah berada dalam dekapan Lea.


"Sayang, bayi kita tampan, seperti harapan kamu." Ucap sang suami.


Lea merasakan gerakan-gerakan kecil dari si bayi tampannya ini.


Oweeek, oweeek.


Bayi itu kembali menangis saat dijauhkan dari Bundanya.


Setelah inisiasi menyusui dini, bayi itu dibawa suster. Eyang Beby, masih menatap cucu keduanya ini.


Yang cucu pertama perempuan dan cucu kedua ini laki-laki. Putri Nada dan Varell sudah berumur 3 bulan.


Bayi perempuan cantik, gemoy, tampak menggemaskan, yang diberi nama Elmeera Radika Madarharsa dan biasa dipanggil baby El. Juga tampak hadir di ruang tunggu keluarga. Semua keluarga besar, telah menantikan kelahiran bayinya Lea.


Bayi tampan yang akan diberi nama Raja, sudah tampak sesi foto new born oleh photografer profesional.


Seorang photografer wanita, menata gaya bayi baru lahir ini. Bayi tampan yang masih terbalut selimut putih dan tampak action.


Begitu menggemaskan, moment persalinan sudah diabadikan, penuh keharuan dan cinta.


"Sayangnya Mama. Selamat menjadi Bunda. Mama bahagia." Ucap Mama Beby dan mencium kedua pipi putrinya.


"Mama, terima kasih sudah melahirkan aku dan sekarang aku bisa merasakan perjuangan Mama saat melahirkan aku." Balas Lea yang sudah menangis. Lea sangat bahagia.


Setelah mendapat perawatan dari bidan dan dokternya. Lea sudah dipindahkan ke tempat tidur yang ada di kamar hotel pribadinya.


Beberapa menit kemudian.


Bayi tampannya, juga sudah tampak di bedong. Begitu menggemaskan dan anteng.


"Rajanya Eyang." Gemasnya Eyang Arjuna, saat menimang cucunya.


"Papa jangan di gendong terus, nanti jadi kebiasaan." Tegur Nada. Padahal, Nada juga ingin menggendongnya.


"Nada, kamu urus bayimu sendiri. Papa masih betah menggendongnya."


"Iih, cuma bentar saja. Mumpung, El lagi bobok." Ucap Nada, yang dari tadi ingin mencuri kesempatan.


Mama Beby mendekat "Papa, Raja harus menyusu dulu. Sudah cukup gendongnya."


"Bentar lagi, ini cuma dipangku begini. Nggak bakal nagih." Bangganya sang Eyang, merasa ada saingan.


"Itu, ditungguin sama suster. Asi Lea sudah bisa keluar."


Sang Eyang tampan ini, akhirnya menyerah dan mengantarkan sendiri cucu tampannya, ke atas pangkuan Lea.


"Raja, Eyang tunggu di depan."

__ADS_1



__ADS_2