Permen Kapas

Permen Kapas
Di Hotel Luxy


__ADS_3

Satu minggu kemudian. Ada acara resepsi pernikahan Aull dan Rangga, di Hotel mewah nan menawan, yang ada di ibukota.


Ballroom hotel Luxy terlihat menawan, dengan dekorasi bunga-bunga nuansa putih kebiruan, suasananya begitu romantis.


Acara resepsi pernikahan malam ini ialah, standing party.


Sedangkan, acara akad nikah, sudah berlangsung kemarin, mengusung ritual adat Jawa. Bahkan, ada acara temu manten. Kedua mempelai mengenakan busana adat Jogja dengan riasan paes ageng. Aull mengenakan kebaya beludru warna hitam dan Rangga juga tampak memakai beskap bludru warna hitam, sampai manglingi.


Yuks, kita beralih ke sosok Raja. Sepertinya, Raja tidak menikmati acara pesta malam ini.


"Sayang."


Ratu mendekati suaminya, yang tampak tidak berselera. Wajah datar dan hanya duduk di sebuah kursi yang ada di sudut ruangan itu. Yang lain tampak berdiri, menikmati pesta dengan menyanyi, dan berdansa. Ada pula yang menikmati perjamuan, dengan sajian menu barat.


Raja tidak beranjak pergi dari kursinya, setelah tadi selesai mengantarkan adiknya masuk ke aula pesta.


"Ada apa?" Tanya Raja.


"Bunda nyariin kamu. Kita harus foto keluarga."


"Iya."


Raja yang terlihat malas, namun demi sang Bunda dan adiknya ia menuruti semua aturan acara pernikahan adiknya. Bahkan, sudah dari tiga hari lalu,


Sewaktu siraman Raja membopong adiknya. Acara pengajian, Raja juga tampak menemani adiknya. Kemarin pagi, akad nikah sampai temu manten, Raja juga harus mendampingi adik cantiknya. Selanjutnya, malam ini. Raja harus menggandeng adiknya, saat memasuki aula.


Cekrek


Beberapa gambar sudah diambil oleh photografer profesional. Tampak gaya formal dan juga gaya bebas.


"Bunda, boleh aku keluar sebentar?"


"Kamu mau kemana?"


"Aku masih di hotel ini. Aku cuma mau istirahat. Aku lelah, dari kemarin aku sudah mengikuti ritualnya."


"Terserah kamu saja. Ingat, jangan pergi jauh. Semua pengawal juga sedang berpesta."


"Siap, Bundaku sayang."



Raja tadinya ingin mengajak Ratu pergi bersamanya. Namun, istrinya terlihat ceria, saat menemani para Eyang.


Raja yang berjalan seorang diri, ada sosok tampan yang mengikutinya.


Raja merasa ada yang mengawasinya. Terlihat gerak gerik orang itu. Rasanya begitu jengkel bila diawasi.


Saat di lorong kamar hotel dan terlihat sepi. Raja menoleh ke belakang, tidak terlihat siapapun.


"Aneh, perasaan ada yang mengikuti aku."


Raja berjalan lagi dan sesampainya di depan pintu kamar El. Raja membuka pintu dengan kunci yang ia pegang.


Raja kembali menoleh dan tidak ada siapapun di koridor kamar ini.


"Mungkin, hanya perasaanku saja."


Raja masuk ke dalam dan tiba-tiba seseorang mengikuti dirinya, masuk ke dalam kamar El.


"Aku tahu, kamu dari tadi mengawasiku."


"Aku tidak menyangka, kamu selalu waspada."


Calvin tanpa basa basi, duduk di sofa. Gaya pria menawan, memakai setelan jas warna hitam keren, lengkap dengan dasi.


Raja perlahan duduk di sebuah kursi, ia bertanya "Apa maumu?"


"Kamu, ternyata pandai membaca pikiranku."


"Tidak perlu basa basi. Aku lelah, aku ingin beristirahat."

__ADS_1


"Em, Lelah. Tidur di kamar sepupu??"


"Tidak perlu mengurusi urusan pribadiku."


"Santai. Aku juga tidak tertarik. Akan masalah romansa pribadi kamu."


Raja menggeleng dan sebenarnya malas. Namun, ia tetap ingin mendengarkannya.


"Cepat katakan, apa keinginan kamu?"


"Aku mau, Madam Marisa dan Madam Clarissa. Jatuh dan lenyap."


"Waah gila! Sepertinya, aku harus memasuki masalah romansa pribadi kamu."


"Kamu sudah dewasa. Jadi, aku tidak perlu menceritakan romansa pribadiku."


"Calvin, buanglah pikiran jahatmu. Kamu hanya akan mengotori masa depanmu."


"Aku tidak masalah. Aku hanya ingin mereka jatuh dan mereka harus merasakan yang Nadia rasakan."


"Bu Nadia sudah pergi, kamu harus bisa merelakan kepergiannya."


"Kamu dulu, bukannya juga tertarik dengan pacarku."


"Omong kosong." Raja menganggap kalau Calvin sudah gila.


Sebenarnya, yang dikatakan Calvin tidak salah, Raja memang pernah mengagumi guru barunya. Sewaktu, Raja masih dibangku SMA. Sosok guru yang cantik dan anggun. Lembut tutur katanya dan selalu mempesona ketika mengajar.


Karena itu, Calvin yang tadinya sudah bekerja di perusahaan Papanya. Dia malah menjadi seorang guru. Calvin tidak bisa melepaskan bayangan sang kekasih hati, meski sudah lama pergi meninggalkan dunia ini.


"Kamu benar. Bu Nadia, memang guru yang baik. Aku hanya terpesona dan kagum padanya."


"Lalu, apa kamu percaya kalau kekasihku bunuh diri?? Hah? Kamu percaya??" Tatapan Calvin berubah seperti serigala.


Raja menjawab "Aku juga tidak percaya. Aku juga tidak sanggup mendengar omongan orang lain tentang Bu Nadia."


"Raja, bantu aku. Aku mohon sama kamu."


"Aku tahu, kamu sedang menyelidiki perusahaan MM, dan Madam Clarissa."


"Emh, jadi pria itu kamu?"


"Iya, aku. Aku yang menggiringmu."


"Nanti, aku coba pikirkan. Aku lelah, aku beneran sudah lelah."


"Lelah? Kamu beneran ingin disini? Itu adikmu menikah, kamu malah ingin tidur di kamar El??"


Raja melepaskan kedua sepatu pantofel hitamnya dan membuka jas hitam yang masih membalut kemeja putihnya.


Melemparkan ke sembarang tempat dan melonggarkan dasi. Lalu, membuka kancing kerah kemeja putihnya.


Raja, langsung menjatuhkan badannya ke atas ranjang.


"Kamu ingin menemani aku??" Tanya Raja dan dia sudah ada di tengah tempat tidur.


Raja menatap ke atas langit-langit kamar ini dan Calvin menatapnya dari sofa yang tidak jauh dari tempat tidur mewah itu.


"Kenapa tidak tidur di kamarmu sendiri?" Calvin jadi kepo sendiri.


Raja tersenyum, ia menjawab "Ternyata, kamu mirip sekali sama Kai."


"Kai, adikmu yang menyebalkan itu?"


"Iya, murid kesayanganmu. Gadis Kepo."


"Aku tidak kepo, hanya saja merasa aneh. Kamu selalu bersama El. Aku tidak mau menaruh curiga antara kamu dengan El."


"Owh, karena itu. Kamu jadi menolak perjodohanmu dengan El."


"Bukan itu. Aku sudah mengatakan. Aku punya masa lalu dengan Nadia."

__ADS_1


"Calvin, kalau kamu mencintainya. Kamu harus bisa merelakannya. Seperti aku."


"Hah? Kamu begitu?" Tanya Calvin.


"Tidak juga. Kamu tidak akan paham."


"Jangan bilang, kamu mencintai El."


Raja tersenyum, "Aku memang mencintai El. Tapi, bukan sepeti bayanganmu."


"Maksudmu?"


"Semenjak aku tahu, kalau aku dijodohin. Aku sudah membuang rasa cinta untuk perempuan. Aku sampai saat ini, tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta."


"Wah, kamu lebih gila dari aku? Lalu, bagaimana dengan istrimu?"


"Emh, Ratu keponakanmu. Kamu jangan ember. Tapi, Ratuku selalu memahami aku. Dia mengerti, kalau aku belum mencintainya."


"Tapi, yang aku lihat. Kalian berdua serasi, romantis dan Ratu bahagia." Calvin jadi semakin penasaran dan ia mendekati raja. Meraih kursi yang ada di dekatnya dan duduk di sebelah tempat tidur mewah itu.


"Meskipun aku belum merasakan getaran cinta untuknya. Aku hanya berusaha untuk menjadi suami yang baik. Aku menjaganya, dan memperlakukan dia sebagai istri. Aku harus bisa memperhatikannya dan memanjakannya. Tanpa aku sadari, aku sangat menyayanginya, dia sudah seperti El, yang aku sayang."


"Bagaimana bisa hubungan seperti itu tanpa cinta? Aneh rasanya."


Calvin bertanya "Kalau, hubungan suami istri di atas ranjang, bagaimana?"


"Naluri laki-laki akan muncul dengan sendirinya. Aku pria normal."


Raja jadi senyam senyum, membuat Calvin jadi meradang sendiri.


"Sudahlah, tidak perlu pamer. Aku hanya ingin melakukan dengan cinta. Meski Nadiaku sudah tiada."


"Hii, hantu perawan." Goda Raja.


"Kamu jangan ikutan mengolok aku. Aku juga pria normal."


"Makanya lupakan, kalau tidak bisa lupa. Coba jalani masa depanmu dengan yang lainnya, tapi jangan sama Kai. Aku tidak akan menyetujui hubungan kalian."


"Kai sebenarnya imut. Dia juga perhatian."


"Aku bilang jangan, malah tertantang."


"Tidak. Aku tidak ingin begitu. Aku masih banyak urusan penting, yang harus aku selesaikan. Aku belum ingin merasakan itu."


"Move on."


"Kamu benar. Aku harus move on."


"Pergilah, aku ingin tidur."


"Baik, aku tunggu jawaban kamu."


Calvin bangkit dari kursinya dan sudah melangkahkan kaki. Raja berkata "Soal itu, aku akan pikirkan. Aku ada masalah dengan seseorang yang bernama Revan. Dia masa lalu Madam Clarissa."


Degh!


Mendengar hal itu, Calvin membalas "Kerja yang bagus. Aku pergi dulu."


"Calvin, berhati-hatilah dengan Madam Marisa."


"Kamu tenang saja. Aku bisa menjaga diriku."


Calvin pergi meninggalkan seorang diri di kamar El. Raja yang terbaring dan rasanya begitu lelah.


El, Lionel dan keluarga besarnya masih berpesta di aula. Raja tidur seorang diri. Tidak ada yang menganggunya. Baik pengawal dari markas Roberto dan pengawal pribadinya, menikmati acara pesta malam ini.


Seseorang telah menyelinap dari balkon kamar. Entah siapa dia. Orangnya tidak terlihat jelas, wajahnya memakai topeng dan kedua tangannya sudah memegang senjata tajam.


Calvin tak enak firasat, dia tadi hanya pergi dan sudah mengganjal pintu, dengan kartu kamarnya sendiri.


"Raja awas!!!" Teriakan Calvin.

__ADS_1


Raja terkaget.


__ADS_2