
Raja yang terbangun dan sangat syok melihat senjata tajam tepat ada di atas perutnya.
Calvin juga dibekap seorang pria kekar yang masuk dari pintu kamar. Ternyata ada orang lain juga. Badannya sangat berotot dan terlihat besar. Wajahnya juga tampak garang.
"Apa maumu?"
"Kamu."
"Siapa kamu?"
"Aku."
Pria misterius itu membuka topengnya dan dia adalah Revan.
"Re-van." Batin Raja.
Perasaan tak menentu dan rasanya sudah berdebar. Raja merasakan aura dingin sudah merasuki tubuhnya dan semakin susah untuk menggerakan badannya sendiri.
"Kamu ingin membunuhku?"
"Tidak."
"Lalu, apa maumu?"
"Hanya bersenang-senang."
Raja melihat gelagat aneh dari wajah pria yang bernama Revan. Senyuman anehnya, membuat Raja gelisah.
Baru juga tidur sebentar, Raja harus terbangun akibat teriakan. Rasa lelahnya belum sampai terobati dan seketika bangun dengan terkaget. Mungkin, nyawa tidurnya belum terkumpul semua.
Raja yang terduduk di tengah kasur, ia berkata "Terserah maumu. Aku lelah. Aku mau tidur."
"Tuan Muda ini, rupanya tidak punya rasa takut." Ia memamerkan senjata yang dia pegang. Terlihat begitu tajam dan bisa menusuk sampai ke dalam jantungnya Raja.
"Iya, aku lelah sekali. Aku tidak ingin meladeni kamu. Meski kamu seusia Bundaku, aku tidak mau menghormati kamu." Balas Raja dan terlihat tengil.
"Raja, kamu memang angkuh. Pantas saja, putraku Revan selalu mengatakan kalau Raja begitu sombong dan sangat angkuh."
"Owh, jadi kalian sudah kumpul sebagai keluarga? Baguslah, aku ucapan selamat untuk kalian, semoga berbahagia."
Raja dengan rambut yang acak-acakan dan sangat malas meladeni si Revan yang ini.
"Dia lebih menyebalkan dari si mata empat." Batin Raja.
Raja mendongak dan menatap wajah pria itu dengan tatapan santai. Calvin, merasa sesak dalam dadanya. Pria kekar itu masih tetap membekapnya.
Tok Tok Tok
Ada yang datang ke kamar 108 ini, Raja sudah tampak membuka pintu kamarnya.
Calvin yang masih dibekap pria kekar itu,dan sudah di bawa ke balkon bersama Revan.
Revan tampak mengintip Raja yang menerima tamu, dari tempat itu.
"Sayangku. Kamu tidur nyenyak."
El datang bersama Singa. El sengaja mengalungkan kedua tangannya di leher Raja dan membuat Singa cemburu.
Raja mengelus rambut El, ia berkata "Aku masih ingin disini."
"Em, aku bosan. Aku ingin bersamamu."
"Sayangku, tapi bagaimana dengan calon suamimu?" Raja menoleh ke arah Singa. El hanya tersenyum dan Raja kembali bertanya "Apa dia tidak keberatan kalau kamu bersamaku?"
"Emh, aku tidak peduli. Lagian, pesta di aula sudah membosankan. Tidak ada yang menarik. Aku ingin disini bersama kamu."
"Coba kamu tanya dulu sama calon suami kamu." Ucap Raja.
"Aku tidak mau bertanya padanya. Dia juga sudah seperti patung. Aku sampai bingung, kenapa dia sibuk mengawasi orang di sekitarku?"
"Itu namanya perhatian. Dia tidak mau kamu nantinya celaka."
"Terserah saja. Aku tetap mau disini."
"Silakan, aku tidak akan keberatan."
"Yee, ini kamarku. Harusnya, aku yang bilang begitu."
__ADS_1
"Silakan Nona cantik."
El masuk ke kamarnya dan Raja melihat ke arah pintu balkon. Dinding kaca yang tertutup tirai, sudah menghalangi pandangannya.
El mendekati tirai, tangannya meraih tirai besar itu. Raja secepatnya, meraih tangan El dan mendekapnya.
"Raja. Aku ingin melihat gemerlap Ibukota. Pasti sangat romantis." Ucap El.
Singa hanya berdiri di depan pintu kamar itu dan tampak bersedekap. Mengawasi calon istri terkasih, yang bersama Tuan Mudanya.
"Sayang, aku merindukanmu. Aku hanya ingin memelukmu."
"Iya, aku tiga hari tidak bertemu kamu. Aku juga merindukanmu."
El berbisik, "Teruslah begini, biar Singa semakin kesal."
"Sayang, kamu jangan nakal. Nanti kita bisa ditembak Singa." Balasnya.
Revan, Calvin dan pria kekar malah mendengar obrolan dua insan ini.
Mereka hanya bisa menelan saliva dan Calvin semakin kehabisan oksigen. Bukan karena ciuman hangat nan mesra, namun karena bekapan dari pria kekar yang baru saja menyantap sambal terasi.
Wiyuuh, sambal itu dibenci oleh Calvin. Masih mending juga, dari pada tangan bekas cebokan saat pup. Apalagi, pria menawan seperti Calvin selalu menjaga kebersihan dan ia sudah semakin mual, bisa jadi dia sudah pingsan di tangan pria kekar itu.
El yang masih meraih bahu Raja, tampak tersenyum manis. Singa membuang muka saat melihat El menempelkan wajahnya di sebelah bahu kiri Raja.
El yang mengenakan dress warna hitam begitu sexy. Masih memakai highheels, jadi bisa mengimbangi postur badan adik sepupu tampannya ini.
Singa menoleh ke arah bawah, di seberang pintu, ada card.
Singa melihat ke arah dinding. Kunci kamar masih melekat di tempatnya dan kunci kamar itu milik siapa. Singa jadi semakin curiga. Dia melihat ke arah sisi dinding kaca. Sebisa mungkin untuk memfokuskan pandangannya.
"Assh, siall." Singa berlari ke arah kamar sebelah kamarnya El dan memanggil semua rekannya.
"Panda. Periksa hotel. Cepat."
"Oke. Aku akan segera memeriksa." Panda yang masih asyik berdansa dan ia menyudahi aksi manjanya.
Si sexy Panda bergerak cepat dan ia sudah mengedipkan sebelah mata. Tampak pelayan hotel yang mengangguk padanya.
"Singa, aku pergilah ke atap." Ucap Panda.
Raja melepaskan pelukannya dan ia berkata "Sayang, ayo ikut aku."
"Ada apa?"
Raja membuka pintu dan di balik dinding kaca itu, Calvin sudah tergeletak lemas.
Terlihat, darah segar mengalir, menodai kemeja putih Calvin.
"Raja. Calvin kenapa?"
Raja membuka pakaian Calvin dan melihat tusukan yang mengenai pinggangnya.
Raja meraih tubuh Calvin dan merangkulnya. El yang sudah gemetar, membantu menopang lengan tangan Calvin dengan kedua tangannya.
Membaringkan Calvin di atas ranjang, kedua pengawal pribadi Raja sudah mendekat.
"Kalian, bawa Calvin ke tempat aman. Jangan sampai, orang yang di pesta mengetahui kejadian ini."
"Baik Tuan Muda."
Beberapa pengawal sudah mengejar pria berbadan kekar. Singa mengejar Revan dan ternyata tidak terkejar.
"Aaash, kemana perginya."
"Singa kembalilah ke kamar Nona El. Pria itu sudah pergi melalui tangga darurat. Redi sudah mengejarnya." Ucap Panda, ia stay dari layar tablet canggihnya.
Melihat ke sekitar, pelayan hotel itu juga mata-mata yang dari Markas Roberto.
Pria berbadan kekar pergi ke dapur hotel dan tampak mengacaukan dapur. Dia juga membawa senjata tajam.
Kelima pengawal sudah mengepung pria kekar itu.
"Tembak aku kalau berani?" Pria itu malah menantang para pengawal.
Redi sudah baku hantam dengan Revan. Keduanya sama-sama kuat.
__ADS_1
Gerakan tangan dan kaki Redi saat melawan Revan, telihat bak film action. Apalagi, pakaian Redi yang formal dengan setelan jas hitam menawan. Seperti pengawal VIP, yang sedang berkelahi di acara pesta.
Dasshg!
Dugh Dugh. Bugh!
Redi menendang dengan kekuatan kaki kanannya.
Ciiat!!
Dassh!
Buuugh!
Revan tersungkur, tangannya bergerak mengambil pistol yang dia bawa. Redi melihat hal itu, secepatnya bergerak.
Dorr!!
Pistol itu mengarah ke sebuah dinding kaca. Kaca tebal itu jadi retak dan ada peluru yang telah tertanam di tengah.
"Aku tidak akan menyerah."
"Kamu masih sanggup melawan aku?" Redi yang sama kerasnya, apalagi dia sangat mengenal Revan, dia iparnya.
Redi menikahi adik tirinya Revan. Meski dikata ipar, tapi istrinya Redi juga tidak pernah dianggap oleh Revan. Apalagi, status diri Revan yang sudah dinyatakan mati, akibat kecelakaan. Ternyata masih hidup dan kembali untuk membalas dendam.
"Tembak aku!" Gertak Revan.
"Aku tidak ingin mengotori tanganku yang tak berdosa." Balas Redi, menyeringai.
"Rania sangat beruntung. Mendapatkan pria seperti kamu."
"Kamu masih mengingat adikmu? Cuiih, Rania juga tidak akan menganggap kamu sebagai Kakaknya."
Redi masih mencengkeram erat tangan Revan yang memegang pistol dan mengarahkan ke dinding kaca itu.
Revan berkata "Masih ada satu peluru."
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi."
"Redi, kamu harus menghidupi istri dan anakmu."
"Jangan mengancamku!"
"Rania sepertinya, menunggu kamu di ruang pesta. Aku janji, aku tidak akan melukai istrimu."
"Aku tahu targetmu. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi." Tangan Redi semakin kuat dan Revan tahu kalau lengan tangan Redi terluka.
Revan menggigit lengan tangan Redi, yang terluka akibat tembakan dari Madam Marisa.
Aaagrh!!
Redi merasa kesakitan dan pengawal lain sudah mengejar Revan yang pergi.
Di setiap pintu keluar, sudah terjaga oleh para pengawal.
Singa sudah bergerak mengamankan Raja dan El. Mereka bertiga berjalan pergi dari hotel itu.
"Ratu sayang, kamu harus tetap bersama Eyang. Oke." Raja yang menghubunginya dari pengawal.
Panda, bersama Ratu dan Eyang Arjuna.
"Raja bagaimana keadaan kamu?"
"Aku baik-baik saja."
"Kalian mau pergi kemana?"
"Kamu tidak perlu cemas. Kamu harus selalu bersama Eyang. Pengawal akan menjaga kamu."
"Baik. Kamu juga harus berhati-hati."
Suasana pesta semakin mengagumkan. Meski beberapa orang mengetahui tentang baku hantam. Namun, mereka tidak mengatakan peristiwa ini. Mereka tetap membuat suasana semakin romantis.
"Singa, kita mau kemana?" Tanya El dan duduk di sebelahnya.
"Mengantar Tuan Muda pulang ke rumah."
__ADS_1
"Bukannya, ini terlalu resiko."