
Suara Lean telah meluluhkan perasaan sang Bunda.
Lean kecil ini, tangan kanannya sudah menggandeng tangan sang Bunda dan berjalan pergi meninggalkan Mammi Yuna.
"Apa aku harus punya putra semanis Lean?" Tatapan Mammi Yuna begitu manis.
Tuan Muda kecil ini, selalu bisa menenangkan perasaan Bunda Lea.
"Dari pada ngerumpi. Bunda ikut aku aja."
"Kemana?"
"Ke rumah."
"Cuma ke rumah, Bunda juga bisa pulang sendiri."
"Tapi, aku sudah menjemput Bunda. Mobil Bunda biar Pak Tom saja yang membawa."
Pak Tom yang dimaksud Tuan Muda kecil ini, adalah pengawal pribadinya.
Sang Bunda hanya bisa tersenyum manis di hadapan putra kecilnya ini.
"Sayangnya Bunda makin pinter."
"Aku laki-laki. Kata Ayah, aku juga harus bisa menjaga Bundaku." Ucapnya Lean, dengan logat gemas-gemas manis.
"Baiklah, hari ini Bunda mau bermain sama Lean. Tapi, kita mainannya di rumah saja."
Lean cekikikan sendiri, dia berkata "Bunda, juga harus mandiin aku. Aku masih bau acem. Tadi pagi, aku nggak mau dimandiin Ayah."
"Owh, pantesan bau acemnya sampai tercium sama Mammi Yunna." Sahut sang Tante kesayangan Bundanya.
"Mammi nguping obrolanku sama Bunda?" Sampai mendongak ke atas, menatap wajah Mammi Yuna yang tersenyum padanya.
Bunda Lea berkata "Mammi Yuna nggak boleh begitu. Itu tidak baik."
"Mammi, dengerin nasehat Bundaku."
Mammi Yuna sudah tampak menjewer kedua telinganya sendiri. Mammi Yuna berkata "Mammi minta maaf. Mammi sudah salah. Ini, Mammi sudah diberi hukuman dari Bunda kamu."
"Bunda tidak pernah memberi hukuman menjewer telinga. Kata Ayah, itu tidak baik, namanya menyakiti telinga."
"Terus apa dong hukuman buat Mammi?"
"Mammi sudah minta maaf. Aku sudah memaafkan Mammi. Lain kali, Mammi tidak boleh menguping obrolan orang lain. Itu tidak baik." Ucap Lean dengan gaya tengil dan jari telunjuknya seolah sudah menunjuk-nunjuk gemas seperti Pak Guru yang menasehati muridnya.
Mammi Yuna berjongkok, menjajarkan wajahnya kepada Lean. Mengelus rambut Lean dengan gemasnya.
"Tuan Muda kecil ini pandai sekali. Boleh tidak, Mammi ikut kamu bermain?" Tanya sang Mammi ini, terlihat menggoda.
"Tidak boleh. Aku sudah punya janji sama Bundaku." Lean jadi menoleh ke arah sang Bunda, yang terus menatap putra tampannya ini. Senyumannya manis dan tampak menyengir gemas saat menatap Bundanya.
"Mammi Yuna. Aku, pulang dulu ya. Mau bermain sama Bunda." Ucapan Lean terdengar gemas manis dan tampak mencium tangan Tantenya ini.
"Oke sayang. Tapi, kapan-kapan Mammi juga mau ikutan bermain."
"Siap Mammi. Nanti buat janjinya sama Nona Griz."
"Baik Tuan Muda." Mammi Yuna, perlahan bangkit untuk berdiri. Kemudian, melambaikan tangan kanannya ke arah Lean.
Wajah Mammi Yuna berseri-seri, semangatnya telah kembali setelah bertemu Lean.
__ADS_1
Tuan muda kecil yang menggemaskan dan semua keluarga besarnya sangat menyayangi Lean. Murah senyum dan tidak rewelan.
"Lea sangat beruntung. Memiliki Lean yang menggemaskan." Gumam Mammi Yuna yang kegemesan.
Tuan muda kecil ini sudah duduk di kursinya dan sebelah kanan ada Bunda.
Mobil Alphard hitam dan kedua suster duduk di belakang. Tadinya, sewaktu berangkat ke cafe itu, Pak Tom duduk sebelahnya. Sekarang, sudah berganti Bunda.
"Bunda. Tadi aku memarahi Kak Kai. Tapi, aku sudah minta maaf sama dia." Celotehnya, yang tampak mengadu.
"Kenapa kamu memarahi Kakakmu?"
"Kak Kai tadi menguping di balik pintu ruang kerjanya Bunda. Terus, Kakak juga masuk ke kamar Mas Raja. Padahal waktu sarapan, Ayah bilang kalau Kak Kai tidak boleh masuk ke kamar Mas Raja."
"Tidak apa-apa. Kakak Kai salah, kamu menegur Kakak dan sudah minta maaf. Tapi, tidak boleh marahan sama Kakak. Kakak Kai baru pulang ke rumah dan mau tinggal sama kita."
"Iya. Kata Ayah, Kakak akan tinggal di rumah dan tidak mau ke rumah Eyang lagi."
"Iya, Kakak sekarang sudah besar. Kamu juga tidak boleh menganggu Kakak Kai. Kalau Kak Kai nanti tidurnya di kamar Bunda. Kamu tidak boleh memarahinya. Oke?!"
"Oke, aku tidak akan memarahinya."
"Anak pintar." Bunda Lea mengelus rambut putranya dengan rasa sayang.
Yang di rumah, Kai dan Aull sudah tampak bersama. Kedua tuan putri sedang menikmati massage.
Ruang spa khusus yang terletak di belakang rumah, tampak sebelah kolam renang.
Pijat-pijit cantik, dari pelayan spa yang sudah terbiasa memijat kedua gadis ini.
Dua perempuan yang berusia 30an dan sangat terampil memijat. Bukan hanya massage, tapi juga luluran, manicure, dan creambath ala salon. Ruangan yang seperti salon, memang telah disediakan untuk memanjakan diri, setelah seharian lelah karena aktivitas.
"Mbak Aull sebentar lagi menikah, aku kalau disini bakalan kesepian."
"Tetap saja, aku nggak ada teman." Keluhnya.
"Kamu sekolahnya umum saja di tempat Bunda. Biar punya teman."
"Nggak ah, itu sekolahnya Mas Raja."
"Mas Raja sekarang di kampus, mana pernah ke SMA. Kamu bisa berangkat bareng Zyan."
"Emh, aku sudah terbiasa sekolah di rumah."
Aull paham, ia bertanya "Kamu serius, pacaran sama Gurumu?"
"Mbak Aull. Aku semalam itu, cuma iseng. Lagian, aku juga nggak punya teman."
Aull menoleh ke wajah Kai, tampak senyuman dari wajah cantiknya Aull. Lalu berkata "Kai, kamu bisa menikmati masa remajamu. Bertemanlah dengan yang lain. Jalan ke Mal, shopping bareng, nonton di bioskop."
"Mbak Aull pernah begitu? Sama siapa?" Kai jadi penasaran. Melihat Aull kalem dan hanya sibuk belajar. Pastinya tidak banyak teman.
"Sama Mas Rangga." Jawabnya manis.
Kai sudah menduga, dengan tatapan datar, Kai berkata "Emh, aku pikir sama teman SMA Mbak Aull."
"Hehehe, ya pernah sesekali sama teman sekolah. Tapi, waktu itu ditemani pengawal yang mengawasi dari jauh." Aull jadi terkekeh dan Kai hanya bisa menyengir.
"Emh, apa aku juga harus jalan sama Pak guru tampanku?!"
Kai tampak terpejam dan menikmati pijatan lembut dari Mbak Spa. Sepertinya, Kai sudah membayangkan jalan berdua dengan Calvin. Terlihat senyuman nakalnya, bahkan sampai terlelap manis.
__ADS_1
"Dasar. Selalu saja tertidur." Ucap Aull gemas, melihat adiknya terlelap.
Kai terkadang memang aneh, dia sering kali menghalu manis. Bahkan, ia sampai tertidur pulas.
"Kai."
"Iya Oppa. Kenapa? Apa yang salah dengan wajahku?"
Calvin tampak tersenyum tipis dan jemari tangannya telah mengusap es krim yang menempel di sudut bibir imutnya Kai.
Kai jadi deg-deg-ser saat merasakan sentuhan manis dari guru tampannya itu. Tangan kanannya masih memegang es krim cone rasa vanila. Tangan kirinya tampak memegang lengan guru tampannya.
"Kamu jadi imut." Ucap Calvin.
"Aku imut?!" Tanya Kai dan tampak tersenyum manis.
Kai merasakan getaran manis di dalam dadanya. Entah, apa yang ia rasakan saat ini, sepertinya susah untuk dijelaskan.
"Pak Calvin, setelah ini aku mau ditemani ke salon."
"Ke salon?"
"Iya, aku mau creambath." Jawab Kai dan ia sudah banyak membaca buku tentang romansa manis ketika bersama pacar.
Kai ingin melihat kesabarannya, bila mau menemaninya di salon. Hanya makan es krim dan berbelanja di mal, itu sudah biasa. Kai, masih ingin melihat kesabaran dari teman kencannya ini, yang tidak lain adalah guru bimbelnya.
Bermesraan dan banyak mata melihat ke arah mereka. Kai juga tampak di kawal dan Calvin sudah bagaikan sosok CEO muda, yang mencintai kekasih hati.
Manisssnya.
"Kai, sayang. Bangun nak. Sayang." Suara Bunda terdengar lembut, saat membangunkan tuan putri yang ini.
"Emh, Bunda."
"Sudah adzan dzuhur. Ayo bangun."
"Apa ini sudah siang?"
"Iya, sudah siang. Kamu keenakan dipijitin. Sampai terlelap disini."
Kai yang tampak masih memakai kemben batik. Menatap wajah Bunda dengan senyuman khas darinya. Kedua tangannya seraya meminta untuk diraih Bunda.
Sang Bunda meraih kedua tangannya dan membuat dia terduduk di ranjang spa itu. Tampak mata kantuk tapi dia senang, ternyata masih berada di rumah bersama Bunda.
"Ternyata itu, cuma mimpi." Batin Kai dan saat ini dalam pelukan sang Bunda.
30 menit kemudian.
Di kampus tercinta, Raja menggandeng tangan istri cantiknya. Mereka berdua akan ada kuliah siang.
"Sana masuk ke kelas." Ucap Raja yang telah melepaskan tangannya.
Mereka sudah tiba di depan kelas Ratu dan Marla lagi-lagi melihat mereka.
"Iya, nanti jam 3 sudah selesai."
"Aku juga mau ada kelas. Nanti aku telephone kamu. Kamu tidak perlu cemas, pengawalku selalu berjaga di dekatmu."
"Baik."
Ratu mencium tangan suaminya dan Raja mengecup kening istrinya. Marla semakin hareudang. Banyak mata yang melihat ke arah mereka berdua.
Revan datang mendekat, memanggil "Ratu."
__ADS_1